Alergi Yang Berlarut Menghambat Tumbuh Kembang Anak

J angan sepelekan kalau anak kita tiba-tiba terkena serangan asma, apalagi membiarkan kondisinya...

alergi protein susu sapi

Jangan sepelekan kalau anak kita tiba-tiba terkena serangan asma, apalagi membiarkan kondisinya berlarut, karena ini menjadi salah satu penyebab terhambatnya tumbuh kembang anak. Kekurangan oksigen yang terlalu lama akibat asma yang diderita anak akan menyebabkan gangguan otak, sedangkan perkembangan otak yang tidak baik akan menyebabkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak. Parahnya lagi serangan asma yang berulang dapat mengakibatkan kerusakan paru. Ternyata penyebab asma pada anak salah satunya disebabkan alergi protein susu sapi yang dikonsumsinya. Terkadang kita sebagai orang tua kurang aware akan hal ini tanpa menelusuri atau mencari tahu apa penyebabnya. Padahal kita harus menghindari alergen atau pemicu alerginya. Upaya untuk mencegah penyakit dari sejak dini sangat diperlukan, diantaranya dengan cara memberikan nutrisi awal yang tepat.

#Nutritalk Jakarta
Kamis, 24 Maret lalu saya mengikuti acara Nutritalk mengenai "Gizi di Awal Kehidupan: Dasar-dasar dan Pedoman Praktis Optimalisazi Tumbuh Kembang Anak dengan Alergi Protein Susu Sapi" di Hotel Double Tree, Cikini yang diadakan oleh SARIHUSADA... Talkshow #Nutritalk ini menghadirkan dua orang narasumber yakni Dr. Rini Sekartini dan Dr. Budi Setiawan. Nutritalk kali ini membahas mengenai pentingnya menyadari faktor risiko alergi pada anak, mengenai gejala-gejala alergi dan menyadari peran penting nutrisi yang tepat di awal kehidupan bagi optimalisasi tumbuh kembang anak dengan alergi protein susu sapi. Oh ya ada 2 booth yang disediakan di acara ini yaitu Booth 1000 Hari Pertama Kehidupan dan Booth Allergi Care.


Di Booth 1000 Hari Pertama Kehidupan kita dijelaskan mengenai pentingnya periode 1000 hari pertama kehidupan dimana anak tumbuh dengan pesat dan berkembang secara signifikan. Bersamaan dengan tahap pertumbuhan, otak, sistim pencernaan dan sistim daya tahan tubuh juga sedang mengalami tahap perkembangan. 1000 hari pertama kehidupan merupakan periode emas penentu kesehatan anak di masa depan. Disini sangat dianjurkan untuk pemberian ASI (Air Susu Ibu) eksklusif di 6 bulan pertama kehidupan dan dilanjutkan dengan MP ASI ( Makanan Pengganti Ais Susu Ibu) hingga 2 tahun, agar anak mendapatkan nutrisi yang optimal.
alergi protein susu sapi
sumber : Sarihusada
Apa itu Nutrisi Awal Kehidupan? DR. Dr. Rini Sekartini, SpA (K)-Konsultan Tumbuh Kembang Anak RSCM Jakarta menjelaskan nutrisi awal kehidupan yaitu nutrisi yang diterima anak sejak dalam kandungan sampai usia dua tahun, memiliki peran sangat besar pada kualitas tumbuh kembang anak dan tingkat kesehatan pada usia dewasa. Namun ada asupan nutrisi tertentu pada awal kehidupan yang sebenarnya mengandung gizi yang dibutuhkan untuk mendukung tumbuh kembang yang optimal, tapi tidak bisa ditoleransi oleh anak-anak dengan risiko alergi. Anak-anak dengan risiko alergi protein susu sapi akan memberikan abnormal terhadap asupan nutrisi yang mengandung protein susu karena interaksi antara satu atau lebih protein susu dengan satu atau lebih mekanisme kekebalan tubuh. Pada awal kehidupan, asupan nutrisi yang mengandung protein susu sapi dapat berupa MPASI, makanan seimbang, maupun ASI dari Ibu yang mengonsumsi nutrisi yang mengandung protein susu sapi.

Anak itu bukan miniatur orang dewasa loh ya. Dr. Rini mengatakan pertumbuhan dan perkembangan otak anak dan dewasa itu berbeda. Anak itu identik dengan tumbuh (tambah besar) dan kembang (tambah pintar). Perkembangan anak merupakan aspek besar terdiri dari gross motor (motor kasar) seperti lompat dan motorik halus seperti menulis. Faktor tumbuh kembang anak dipengaruhi oleh gen dan lingkungan, dan yang paling berperan besar adalah lingkungan. Kebutuhan dasar tumbuh kembang anak adalah biologis, kasih sayang dan stimulasi. Dan masing-masing kebutuhan dasar itu harus dibagi sama rata 100 persen agar anak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. 

Dalam hal penanggulangan risiko anak alergi juga tidak sama pada anak. Obat yang diberikan pada anak belum tentu cocok diberikan pada anak. Sekali lagi sebagai orang tua kita harus lebih cerdik mengidentifikasi gejala alergi pada anak. Sebesar apapun risiko alergi pada anak, penangan sedini mungkin sangat diperlukan. Cara mencegah anak agar tidak memiliki risiko alergi adalah dengan cara cegah paparan alergi dan berikan nutrisi yang tepat kata Dr. Rini. Bagi anak yang terkena alergi dibutuhkan nutrisi yang dapat menekan tingkat alergi, aman dan memenuhi semua zat gizi.
Pada Booth Allergi Care, dijelaskan mengenai gejala alergi protein susu sapi. Ternyata 1 dari 25 anak mengalami alergi protein susu sapi. Gejala-gejala itu mucul pada kulit, saluran nafas dan saluran cerna. Pada kulit gejala alergi ditandai dengan munculnya bentol merah dan gatal, terkadang bentol merah ini berisi cairan juga kulit kering dan gatal. Pada saluran cerna ditandai dengan gejala muntah, kolik, diare dan buang air besar yang disertai dengan tinja yang berdarah. Sedangkan pada saluran nafas, gejala alergi ditandai dengan bersin-bersin disertai gatal di hidung, hidung tersumbat, ingus encer, batuk yang berulang, gejala asma (sesak napas dan napas berbunyi). Risiko alergi anak akan semakin tinggi apabila terdapat riwayat alergi pada keluarga.




Apa sebenarnya alergi itu? Profesor. DR. Dr. Budi Setiawan, SpA (K), MKes-Konsultan Alergi Imunologi Anak Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran memaparkan mengenai alergi. Alergi adalah reaksi yang menyimpang dari normal terhadap rangsangan zat dari luar tubuh1,9 - 4,9 persen anak-anak di dunia mengidap alergi yang disebabkan oleh protein susu sapi. Anak-anak memiliki risiko alergi apabila orang tua nya memiliki riwayat alergi. Apabila orang tua memiliki riwayat alergi, maka anak memiliki risiko alergi 40-60 persen. Apabila orang tua memiliki riwayat alergi dan manifestasi yang sama, maka anak memiliki risiko alergi 60-80 persen. Bahkan anak dengan orang tua yang tidak memiliki riwayat alergi saja pun anak bisa mengalami alergi sebesar 5-15 persen. Sebesar apapun risiko alergi yang dimiliki anak, penanganan sedini mungkin perlu dilakukan, sehingga anak terhindar dari dampak jangka panjang alergi dan tumbuh kembang tidak terhambat. Kalau kita melakukan pencegahan secara optimal, anak tidak akan terganggu pertumbuhannya.  

Harus bisa membedakan antara pencegahan dan pengobatan pada alergi. Pencegahan dilakukan sebelum terjadi penyakit alergi. Sedangkan pengobatan dilakukan apabila anak sudah mengidap alergi dan sudah dipastikan melalui diagnosa dari dokter. Kalau sudah dipastikan anak mengidap alergi harus dicari pemicunya. Pemicu timbulnya alergi berasal dari telur, susu sapi, kacang-kacangan, seafood dan gandum. Tetapi kita juga mesti berhati-hati dalam menentukan penyebab alergi, bisa saja alergi tersebut disebabkan oleh tungau di dalam rumah, karena tungau ini hidupnya memang di dalam rumah. Nah, seorang anak yang punya bakat alergi apabila tinggal di lingkungan yang mendukung, secara otomatis akan menimbulkan alergi lain.
Dhavy, ponakan saya yang alergi terhadapt protein susu sapi-muncul bentol merah berisi cairan dan gatal. Sekarang dhavy konsumsi susu soya

Beberapa cara pencegahan agar anak tidak berisiko alergi adalah:  
  • Saat hamil hingga menyusui usahakan ibu jangan diet makanan. Ibu dapat makan apa saja walaupun ada beberapa kemungkinan makanan tersebut berisiko menyebabkan alergi. 
  • Pemberian ASI eksklusif, namun jika anak tidak dapat ASI maka sebaiknya minum susu formula protein terhidrolisis parsial. 
  • Ibu hamil sebaiknya menjauhi asap rokok dan merokok. Banyaknya racun yang terkandung di rokok tentunya bisa mengganggu janin dan juga ibu. 
  • Kenali alergi sejak dini melalui skin prick test, ini penting untuk mengetahui pemicu alergi. 
  • Pemberian makanan padat nutrisi dengan porsi seimbang ,namun hindari makanan yang memicu timbulnya alergi. Cari nutrisi yang sama pengganti dari bahan makanan lain. Yang terpenting beri nutrisi yang mengandung karbohidrat,vitamin , mineral, lemak dan protein. 
  • Jangan memberikan antibiotik pada anak tidak pada tempatnya atau berlebihan karena dapat menyebabkan anak yang bakat alergi. Hati -hati juga dalam pemberian antibiotik pada 2 tahun pertama kehidupan. 
  • Pemberian MPASI di usia bayi 6 bulan, jangan memberikan MPASI terlalu cepat atau lambat. 
  • Pemberian Vaksin, disini vaksin juga berperan penting agar tidak memicu alergi. 
  • Hindari segala pemicu alergi.
alergi protein susu sapi
rantai protein menjadi lebih pendek, ukuran massa moleku lebih kecil
Yang paling penting mesti kita ingat, anak-anak dengan risiko tinggi alergi karena riwayat orang tua diperlukan pengawasan yang lebih intents, tujuannya untuk memastikan tumbuh kembang anak yang optimal. Pengawasan yang dilakukan berupa sering memantau dan mengenali gejala alergi yang terjadi, mengenali alergen pemicu dan melakukan intervensi nutrisi. Intervensi nutrisi bisa dengan memantau asupan nutrisi pada anak dan menggantinya dengan nutrisi yang lebih mudah dicerna. Ikatan Dokter Indonesia (IDAI) merekomendasikan pemberian nutrisi dengan protein terhidrolisis parsial sebagai salah satu langkah praktis dalam upaya intervensi nutrisi bagi anak dengan faktor risiko tidak toleran protein susu sapi, karena proteinnya lebih mudah dicerna oleh anak. Protein terhidrolisis parsial adalah hasil teknologi yang memotong panjang rantai protein menjadi lebih pendek dan memperkecil ukuran massa molekul protein sehingga protein akan lebih mudah dicerna dan diterima oleh anak.

Akan tetapi apabila anak sudah untolerant terhadap protein susu sapi, nutrisi dengan protein terhidrolisis parsial tidak efektif digunakan lagi, alternatifnya adalah dengan memberikan formula dengan isolat protein kedelai. Selain terjangkau, protein pada susu kedelai adalah pilihan aman karena dapat di toleransi dengan baik dan rasanya juga enak. Menurut Dr. Budi, sejumlah penelitian telah membuktikan bahwa pola pertumbuhan, kesehatan tulang dan funsi metabolisme, fungsi reproduksi, endokrin, imunitas dan sistem saraf dari anak-anak yang mengonsumsi formula dengan isolat protein kedelai tidak berbeda secara signifikan dengan anak-anak yang mengonsumsi susu sapi, jadi sebagai orang tua kita tidak perlu khawatir kalau anak kita tidak bisa mengonsumsi susu sapi.

Mencegah lebih baik dari mengobati, jangan biarkan alergi terus berlarut pada anak karena risikonya perdampak pada masa depannya. Kenali gejala-gejala alergi yang timbul pada anak, dan segera konsultasikan ke dokter agar di diagnosa untuk memastikan apakah anak kita mengidap alergi yang disebabkan protein susu sapi atau hanya memiliki risiko alergi saja sehingga kita tahu langkah apa yang akan diambil dan penanganan yang tepat.
alergi protein susu sapi pada anak
yuk, hitung risiko alergi pada anak kita


You Might Also Like

7 komentar

  1. wah lengkap banget , trims sharingnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama mbak Tira, terima kasih sudah membaca :-)

      Hapus
  2. Saya bookmark postingannya. Penting buat saya baca berulang-ulang. Makasih, Mbak ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah, thanks mbak...senang bisa berbagi :-)

      Hapus
  3. bagus banget nih kak, izin share yah, sekalian bookmark :)

    BalasHapus
  4. silahkan...terima kasih, semoga bermanfaat

    BalasHapus