Bali Sea Safari Cruise

 jepretan Ono Sembunglango B ali again... kali ini dapat undangan dari teman untuk dinner di  ...

 jepretan Ono Sembunglango
Bali again... kali ini dapat undangan dari teman untuk dinner di Sea Safari Cruise di daerah Tanjung Benoa Bali. Nggak mau melewatkan kesempatan undanganpun diterima tiket pesawat diextend deh. Untungnya hotel tempat saya menginap tidak begitu jauh hanya 15 menit menggunakan taxi. Begitu nyampe di lokasi banyak cruise-cruise yang lagi bersandar dan kami langsung masuk ke kapal Sea Safari yang dituju. Masuk ke kapal ini mengingatkan kembali film bajak laut karena semua orang yang masuk di sini diwajibkan memakai perlengkapan ala bajak laut. Lumayan ramai karena banyak rombongan dari Jakarta juga yang sedang tour ke Bali dan dinner di sini


before boarding

We Are The Pirate
Acara dimulai jam 18.00 sebenarnya tapi kami harus check in jam 17.00. Pada saat check in layaknya hotel kita disambut dengan welcome drink jus segar . Kemudian kita dibagikan slayer juga boarding pass. Sambil menunggu kapal boarding saya manfaatkan untuk jalan-jalan mengitari kapal dan masuk ke dalam anjungan kapal. Kapal ini bukan seperti cruise-cruise luar yang mewah tapi ini Phinisi Cruise seperti kita ketahui Phinisi sendiri adalah kapal tradisional Indonesia bagian dari kerajinan suku Bugis di Sulawesi Selatan yang dikenal sebagai pelaut dan pedagang nusantara dimana kapal ini digunakan untuk berlayar pada zaman dahulu.  Saat memasuki anjungan kapal saya bertemu dengan pak kapten dan saya lupa namanya. Seperti biasa saya tidak mau melewatkan kesempatan untuk foto-foto dan tentu saja pinjam topi sang kapten. Syukurnya ini kapten baik dan nggak susah diajak komunikasi. 
di dalam ruangan kapten, jepretan Ono Sembunglango
jepretan Ono Sembunglango
Tepat pukul 18.00 kapalpun berangkat. Sambil berlayar acara hiburan pun dimulai di atas kapal. Live music dengan biduan dan pemain organ dengan kostum pirate mampu menghidupkan suasana. Peserta mulai ikut bernyanyi bahkan berjoged bersama. Saya bahkan nggak mampu menahan tawa saat bapak-bapak yang begitu semangatnya berjoged, menghilangkan kepenatan dan melupakan deadline pekerjaan sepertinya.
bersama dophi (teman yang mengundang saya dan suami)
Senja mulai turun. Saatnya dinner sambil menikmati sunset yang begitu indah. Saya memilih mengambil foto-foto sunset terlebih dahulu, sayang rasanya dilewatkan begitu saja apalagi kapal-kapal kecil pencari ikan juga menuju arah pulang disaat matahari akan tenggelam. Momen yang tak terlupakan. 

sunset, jepretan Ono Sembunglango
Untuk dinner saya memilih seafood ada cumi-cumi, ikan dan udang. Udang disajikan dalam bentuk tusukan ala sate yang dipadukan dengan bawang bombai dan paprika. Dijamin pengen nambah kalau sudah nyobain (padahal emang doyan).


sate udang
Setelah dinner selesai acara dilanjutkan dengan belly dance dan atraksi fire dance. Tentu saja ini menarik perhatian peserta malam itu. Penari perut dan api. Bahkan beberapa peserta mengikuti tarian belly dance. Acara menjadi tambah seru saat crew kapal membuat games memasukkan paku yang diikat tali kedalam mulut botol dan yang berhasil menyelesaikan games akan mendapatkan hadiah dari crew Sea Safari Cruise. Tampak peserta begitu antusias berusaha memasukkan paku. Malam itu penuh dengan canda dan tawa.

g a m e s
jepretan Ono Sembunglango

jepretan Ono Sembunglango
bersama para penari "belly dance" jepretan Ono Sembunglango
Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 20.00 acara selesai dan kapal sudah kembali bersandar. Para peserta tampak saling mengucapkan salam perpisahan dan bertukar kartu nama bahkan ada salah satu peserta yang memang dari awal sudah ngobrol dan saling bertukar cerita mengajak saya dan suami untuk bertandang ke rumahnya. Sayangnya tiket pesawat sudah tidak bisa diextend lagi. Tapi next time kalau ke Bali lagi saya pasti mampir.

phinisi cruise jepretan Ono Sembunglango




Ollie's Journal

Mba Ollie berkisah bahwa buku ini adalah buku yang sangat personal baginya karena buku ini mengisahkan tentang kehidupannya sendiri dalam mencari makna cinta dalam perjalanan yang dilakukannya di 11 kota di 11 negara, seperti Ubud, New York, Alexandria, dan lain-lain. Dari 11 orang yang ditemuinya di perjalanan-perjalanan itu, Mba Ollie belajar tentang makna cinta dari berbagai macam perspektif manusia.

Hari ini, saya bahagia bisa membaca bagian pertama dari buku tersebut. Buku ini buat saya sangat menarik. Dengan konsep travelogue, buku ini ditulis dengan gaya bercerita yang mampu mengajak pembaca seperti membaca curhatan dari sang penulis, Mba Ollie. Saya pun merasa sedang dicurhati olehnya. Dalam buku ini, traveling diungkapkan dengan gaya lain. Bukan hanya spot-spot wisata dan pengalaman penulis selama melakukan perjalanan saja yang dituliskan. Melainkan, penulis juga mengisahkan makna kehidupan yang dia dapatkan dari sebuah perjalanan. Dan tentunya makna cinta dan kebahagiaan yang lain pun dia temukan dalam setiap perjalannya.

Mba Ollie menuliskan bahwa perjalanan-perjalanan yang dilakukannya mampu menyembuhkannya dari masa lalu dan luka yang masih membekas sebelumnya. Tapi, kalau boleh menambahkan, menuliskannya pun tak berarti mengingatkan akan luka lama. Menuliskannya pun menyembuhkan. Karena ketika kita menuliskannya, kita mampu menyadari bahwa ada hal baik lain yang kita dapat. Dan karena memang menulis itu pun menyembuhkan.
- See mor
Mba Ollie berkisah bahwa buku ini adalah buku yang sangat personal baginya karena buku ini mengisahkan tentang kehidupannya sendiri dalam mencari makna cinta dalam perjalanan yang dilakukannya di 11 kota di 11 negara, seperti Ubud, New York, Alexandria, dan lain-lain. Dari 11 orang yang ditemuinya di perjalanan-perjalanan itu, Mba Ollie belajar tentang makna cinta dari berbagai macam perspektif manusia.

Hari ini, saya bahagia bisa membaca bagian pertama dari buku tersebut. Buku ini buat saya sangat menarik. Dengan konsep travelogue, buku ini ditulis dengan gaya bercerita yang mampu mengajak pembaca seperti membaca curhatan dari sang penulis, Mba Ollie. Saya pun merasa sedang dicurhati olehnya. Dalam buku ini, traveling diungkapkan dengan gaya lain. Bukan hanya spot-spot wisata dan pengalaman penulis selama melakukan perjalanan saja yang dituliskan. Melainkan, penulis juga mengisahkan makna kehidupan yang dia dapatkan dari sebuah perjalanan. Dan tentunya makna cinta dan kebahagiaan yang lain pun dia temukan dalam setiap perjalannya.

Mba Ollie menuliskan bahwa perjalanan-perjalanan yang dilakukannya mampu menyembuhkannya dari masa lalu dan luka yang masih membekas sebelumnya. Tapi, kalau boleh menambahkan, menuliskannya pun tak berarti mengingatkan akan luka lama. Menuliskannya pun menyembuhkan. Karena ketika kita menuliskannya, kita mampu menyadari bahwa ada hal baik lain yang kita dapat. Dan karena memang menulis itu pun menyembuhkan.
- See more at: http://www.restyamalia.com/2015/09/passport-to-happiness-by-ollie.html#sthash.sD64YNwh.dpuf

You Might Also Like

4 komentar

  1. Bikin ngiriii... keren banget mbak. Jadi pengen, tapi kayanya berat diongkos. hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Enggak terlalu mahal kok mbak Anis ntr kalo mau kesana japri aku aja mbak

      Hapus
  2. wah asyiik banget tuh jadi mupeng euy

    BalasHapus