![]() |
| Press Conference BesTeam (Bestian Sama Yatim) |
Sudah beberapa hari sejak saya hadir di peluncuran Program BesTeam (Bestian Sama Yatim) dari Dompet Dhuafa, tapi ada satu cerita yang masih terus saya ingat sampai sekarang, cerita dari Rahmad Gustav Kurniawan Lubis. Biasanya, setelah liputan event, saya cuma ingat garis besarnya. Tapi yang ini beda, mungkin karena ceritanya kerasa dekat dan apa adanya.
Acara digelar di ANTARA Heritage Centre, Jakarta, tanggal 18 Juni 2026 dipandu oleh Aiman Ricky. Sebelum masuk ke sesi inti, panggung dibuka dengan penampilan anak-anak yatim penerima manfaat Dompet Dhuafa. Mereka membacakan puisi dan menyanyikan lagu tentang harapan dan cita-cita. Saya duduk di barisan tamu, memperhatikan satu per satu wajah mereka, dan yang terlintas di kepala saya waktu itu sederhana saja, anak-anak ini sebenarnya nggak beda jauh dari anak-anak lain pada umumnya, sama-sama punya mimpi, sama-sama ingin didengar. Bedanya cuma jalan yang mereka tempuh dimulai lebih awal dengan kehilangan.
![]() |
| Performance anak-anak yatim penerima manfaat Dompet Dhuafa |
Di tengah acara, giliran Rahmad naik panggung. Ia adalah alumni penerima Youth Ekselensia Scholarship (YES) Dompet Dhuafa, salah satu program beasiswa yang sudah berjalan cukup lama. Rahmad cerita bagaimana dukungan pendidikan yang ia terima dulu bukan cuma soal biaya sekolah, tapi juga soal pendampingan yang konsisten, ada orang yang menanyakan progres belajarnya, ada ruang untuk konsultasi, ada lingkungan yang percaya bahwa ia bisa berkembang.
Dari situ, ia perlahan menjangkau hal-hal yang sebelumnya terasa jauh dari jangkauannya, termasuk kesempatan dan jaringan yang sekarang ia punya. Cara ia bercerita tenang, tanpa dibumbui kesedihan berlebihan, justru itu yang bikin pesannya nyangkut. Buat saya, cerita Rahmad jadi bukti paling konkret bahwa pendampingan jangka panjang itu benar-benar bisa mengubah arah hidup seseorang, bukan cuma jargon di atas kertas.
![]() |
| Aiman Ricky dan Ahmad Gustav Kurniawan Lubis (alumni penerima Youth Ekselensia Scholarship Dompet Dhuafa) |
Dari cerita itu juga saya jadi lebih paham kenapa Dompet Dhuafa memilih nama BesTeam untuk program terbarunya. Kata “Bestian” mengacu pada sosok sahabat yang hadir dan menemani, sementara “Team” menggambarkan kolaborasi banyak pihak yang bergerak bersama untuk satu tujuan yang sama. Jadi BesTeam bukan sekadar nama program bantuan, tapi semacam ajakan supaya masyarakat mengambil peran sebagai pendamping, bukan cuma penyumbang sesaat. Filosofi ini juga yang membedakan BesTeam dari program-program santunan pada umumnya, fokusnya bergeser dari “memberi lalu selesai” menjadi “menemani sampai mereka benar-benar siap berdiri sendiri.”
![]() |
| Widodo A, Ketua BesTeam 2026 |
Komitmen itu kemudian diterjemahkan ke dalam empat nilai utama: Best Heart, Best Mind, Best Future, dan Best Impact. Keempat nilai ini diwujudkan lewat berbagai program seperti Beasiswa Yatim, Kesehatan Anak Yatim, Yatim Berdaya, Gemilang Anak Indonesia Timur, hingga Bright Generation. Programnya beragam, tapi benang merahnya sama, memastikan anak-anak yatim punya akses yang setara di bidang pendidikan, kesehatan, dan pengembangan diri. Sampai hari ini, pendampingan yang dijalankan Dompet Dhuafa sudah menjangkau lebih dari 23.842 anak yatim di berbagai daerah Indonesia, dan 1.239 di antaranya tercatat sebagai penerima beasiswa pendidikan. Angka-angka ini buat saya bukan sekadar statistik, tapi gambaran berapa banyak “Rahmad-Rahmad” lain yang sedang dalam proses yang sama.
![]() |
| Teuku Wisnu di sesi talk show tentang program BesTeam |
Selain sesi cerita Rahmad, ada juga talkshow yang menghadirkan beberapa narasumber, termasuk Teuku Wisnu, Herdiansyah (Wakil Ketua Pengurus Yayasan Dompet Dhuafa, dan Elizabeth Driemirda (General Manager Gramedia Regional D), dengan Aiman Ricky tetap memandu jalannya diskusi. Dari semua yang disampaikan, satu pesan dari Teuku Wisnu yang paling nempel buat saya, “kepekaan terhadap anak yatim di sekitar kita nggak selalu butuh momen atau aksi besar, cukup dimulai dari hal-hal kecil yang dilakukan secara konsisten”. Kalimat sederhana, tapi rasanya relevan buat siapa pun yang dengar, termasuk saya.
![]() |
| Kolaborasi Dompet Dhuafa dan Gramedia lewat program Happy Family Coloring |
Satu hal lagi yang saya suka dari acara ini, ada kabar baik soal kebutuhan sekolah anak yatim dan dhuafa. Dompet Dhuafa berkolaborasi dengan Gramedia lewat program Happy Family Coloring bertajuk “Menyebarkan Harapan Melalui Alat Tulis Sekolah ke Seluruh Penjuru Negeri”. Lewat program ini, masyarakat diajak ikut berpartisipasi menyiapkan paket alat tulis sekolah untuk anak-anak yatim dan dhuafa di berbagai wilayah, sekaligus jadi cara sederhana menanamkan nilai berbagi sejak dini di lingkungan keluarga sendiri. Buat saya, kolaborasi semacam ini menarik karena melibatkan sektor yang mungkin nggak langsung terpikir kalau ngomongin filantropi, tapi dampaknya kerasa langsung ke kebutuhan paling dasar anak-anak buat belajar.
![]() |
| Penyalaan Lentera Harapan bersama adik-adik yatim |
Menjelang penutupan, ada satu momen yang cukup membekas, prosesi simbolis penyalaan Lentera Harapan. Anak-anak yatim berdiri berdampingan dengan para narasumber dan mitra yang hadir, menyalakan lentera bersama-sama sebagai simbol harapan yang terus dijaga.
![]() |
| Saya meneruskan amanah Dompet Dhuafa untuk membagikan School Kit kepada anak yatim di sekitar lingkungan tempat tinggal saya |
Buat saya pribadi, cerita Rahmad jadi pengingat bahwa BesTeam bukan sekadar program dengan nama yang catchy. Di balik nilai-nilai dan data yang disampaikan, ada proses panjang yang nyata, dan ada kemungkinan yang terbuka kalau pendampingan dilakukan dengan konsisten. Lewat BesTeam, Dompet Dhuafa mengajak kita semua untuk ambil bagian dalam proses itu, jadi sahabat yang hadir buat anak-anak yatim Indonesia, supaya makin banyak cerita seperti Rahmad yang bisa lahir dari sana.







































