Pages

  • Home

travel beauty

Personal Presence
Personal Presence

Pernah nggak sih, bertemu seseorang untuk pertama kalinya dan langsung terasa... nyaman? Bukan karena dia cantik, populer, atau berbicara banyak. Tapi ada sesuatu yang membuat kita berpikir, "Orang ini enak diajak ngobrol. Saya senang ketemu dia."

Sebaliknya, saya juga pernah ketemu orang yang sangat pintar, berpengalaman, bahkan berprestasi luar biasa. Tapi entah kenapa, setiap kali interact dengan mereka, saya malah merasa tegang. Bukan karena mereka jahat, cuma ada energi yang nggak klik.

Nah, dari pengalaman-pengalaman kayak gini, saya kerap bertanya pada diri sendiri, "kok bisa ya, emang bedanya apa sih?"  Jawabannya ternyata ada di satu konsep yang sering diabaikan, yakni personal presence.

Presence Bukan Sekadar Cantik atau Pintar

Rabu, 12 Agustus 2026 saya mengikuti workshop yang diadakan oleh Komunitas ISB dengan tema The Power of Presence: Building Confidence Through Personal Grooming and Effective Communication. Workshop diadakan di Nutrihub Jakarta menghadirkan narasumber Mam Dr. Elke Alexandrina dan Mam Latifa Ramonita, M. I. Kom, di moderatori oleh Teh Ani Berta selaku founder Komunitas ISB.  

Personal Branding
Teh Ani Berta (tengah) dan para narasumber 
Personal presence bukan tentang penampilan fisik atau gelar yang kita punya. Kalo itu sih, semua orang cantik, pintar, dan berprestasi udah bisa otomatis membuat orang nyaman. Padahal nggak, kan?

Personal presence adalah kombinasi dari empat hal: gimana kita tampil, gimana kita bersikap, gimana kita berkomunikasi, dan yang paling penting gimana orang lain merasa waktu interact sama kita.

Konsep ini saya dapati dari materi "The Power of Presence" oleh Dr. Elke Alexandrina, M.Sc., yang menjelaskan bagaimana presence adalah perpaduan sempurna antara appearance, attitude, communication, dan confidence.

Dr. Elke Alexandrina
Dr. Elke Alexandrina, M.Sc - Lecturer Of LSPR
Itu dia bedanya. Bukan cuma tentang kita, tapi tentang mereka, dan apa yang mereka rasakan. Konsep ini jadi semakin relevan di era sekarang, karena presence kita nggak cuma ada di dunia nyata. Sebelum bertemu kita secara langsung, orang udah bisa "berkenalan" dengan kita melalui Instagram, LinkedIn, blog, TikTok, atau platform digital lainnya. 

Jadi presence itu sebenarnya... seperti aura yang kita bawa kemana-mana, baik offline maupun online.

Percaya Diri Dimulai dari Clarity, Tahu Apa yang Mau Kita Sampaikan

Banyak orang mengira confident itu berarti berbicara banyak, tidak terlihat gugup, atau selalu punya jawaban untuk setiap pertanyaan. Seperti personality type yang tegas, vocal, dan selalu "on". Honestly? Itu pemahaman yang terlalu sempit.

Saya suka banget dengan materi Mam Latifa yang melihat confidence dari sudut pandang lain, yaitu: clarity, preparation, dan presence.

Clarity berarti kita tahu persis apa yang mau disampaikan. Apa pesan utamanya. Siapa yang mendengarkan. Dan kenapa mereka perlu peduli. Preparation berarti kita udah siap untuk itu. Dan presence berarti kita benar-benar hadir dalam percakapan itu, nggak cuma fisik, tapi mental dan emosional.

Coba tanya diri sendiri sebelum nulis konten atau berbicara:
- Apa pesan utama saya?
- Siapa yang akan mendengarkan?
- Dan kenapa mereka perlu pedulii? 
Tiga pertanyaan ini mencakup apa yang sebut 3C of Confident Communication: Content, Context, dan Connection.

Personal Branding
Suasana workshop di Nutrihub Jakarta 
Bagian yang paling menarik buat saya adalah "connection" . Karena komunikasi bukan hanya tentang apa yang kita katakan. Tapi juga tentang apakah orang lain punya alasan untuk mendengarkan kita. Misalnya, saat saya membuat konten di Instagram atau blog. Saya punya banyak hal yang pengen dibagikan. Tapi kalau semuanya cuma berkutar pada "saya, saya, saya", lama-lama followers juga akan kehilangan alasan untuk stay. Di situ personal branding bermain peran.

Personal Branding Bukan Tentang Self-Promotion

Personal branding itu sering disalahpahami sebagai "terus-menerus promote diri", "showcase achievement setiap hari", atau "create a perfect persona yang sebenarnya bukan kita." Tapi nggak, sih.

Personal branding lebih sederhana dari itu. Ini tentang:
- Apa yang kita perjuangkan
- Apa yang kita ketahui
- Apa yang kita pedulikan
- Bagaimana kita komunikasikan semua itu kepada orang lain

Kalau harus dijelaskan personal branding dengan bahasa paling sederhana, personal branding adalah alasan mengapa orang mengingat kita. Dan alasan itu nggak perlu berupa profesi atau pencapaian gemilang. Bisa karena cara kita berbagi ilmu, cara kita bercerita, sudut pandang unik kita, humor kita, atau bahkan cara kita membuat orang merasa didengarkan. Itu lebih powerful dari seribu achievement yang kita post.

Jangan Takut Bercerita dengan Cara yang Manusiawi

Saya notice bahwa orang nggak selalu terhubung dengan sesuatu yang sempurna. Justru kita lebih mudah relate dengan cerita yang manusiawi yang punya pengalaman nyata, emosi yang genuine, dan pembelajaran yang bisa dibawa pulang.

Jadi waktu kita bikin konten, jangan selalu nunggu cerita yang "wah" atau extraordinary. Pengalaman sederhana bisa menjadi cerita. Kegagalan bisa menjadi cerita. Hal yang dulu kita anggap sepele bisa menjadi pembelajaran yang valuable. Yang penting adalah: apa yang bisa orang pelajari dari cerita itu?

Saat bikin caption atau menulis artikel,  ciba pakai struktur ini:

Hook → Value → Personal Touch → Call-to-Action

Jadi daripada buka dengan:
"Hari ini saya ingin bercerita tentang..."

Lebih baik mulai dengan sesuatu yang bikin orang penasaran:
- Sebuah pertanyaan yang relatable
- Sebuah pengakuan yang mengena
- Sebuah pernyataan yang kontras
- Sebuah pelajaran yang unexpected

Contohnya:
"Saya terlihat produktif. Tapi sebenarnya..."

Satu kalimat aja orang udah pengen tahu lanjutannya, kan?

Presence Bukan Hanya Tentang Kata-Kata, Ini Tentang Apa yang Orang Rasakan

Bayangkan gini: kita udah punya pesan yang bagus, kita tahu siapa audiens kita, kita juga udah belajar storytelling yang menarik. Tapi saat berbicara, kita terlalu cepat, jarang kontak mata, postur tubuh tertutup, atau sibuk memikirkan apa yang mau dikatakan sampai lupa mendengarkan. Pesan yang bagus apapun bisa kehilangan kekuatannya.

Kenapa? Karena komunikasi nggak terjadi cuma lewat kata-kata. Cara kita berdiri, cara kita melihat orang lain, ekspresi wajah, gesture tangan, bahkan nada suara kita semuanya ikut menyampaikan pesan.

Body language sering berbicara lebih dulu daripada mulut kita.

Latifa Ramonita
Latifa Ramonita, M.I.Kom - Lecturer Of LSPR
Saya sendiri merasa yang dipaparkan Mam Latifa ini sangat relevant, terutama saat berbicara di depan orang lain. Kita sering takut ada "jeda" dalam berbicara karena khawatir orang akan berpikir kita nggak tahu apa yang mau dikatakan.

Padahal? Berbicara sedikit lebih lambat, mengambil napas, kemudian melanjutkan itu sebenarnya membuat pesan terdengar lebih jelas dan lebih percaya diri.

Kemampuan Mendengarkan Sama Pentingnya Seperti Berbicara

Ada satu hal yang kadang sering terlupakan, yakni kemampuan mendengarkan. Kita terlalu sibuk ingin terlihat menarik, ingin poin kita didengar, ingin kesan yang bagus sampai lupa bahwa membuat orang lain merasa didengar itu jauh lebih berkesan.

Waktu kita mendengarkan dengan penuh perhatian, tidak memotong percakapan, dan memberikan respons yang menunjukkan bahwa kita benar-benar memahami lawan bicara kita sebenarnya kita sedang membangun sesuatu yang sangat berharga: rasa dihargai dan dipercaya. Itu adalah foundation dari presence yang kuat.

4 Pilar yang Sebenarnya Membentuk Presence Kita

Kalau saya ringkas, personal presence itu dibangun dari empat pilar. Dan interestingnya, keempat pilar ini saling berkaitan bukan berdiri sendiri.

1. Purpose (Tujuan)

Kita perlu tahu siapa diri kita, nilai apa yang kita bawa, dan apa tujuan dari setiap interaksi. Ini adalah fondasi. Orang bisa merasakan kalau kita tahu arah kita.

2. Presentation (Presentasi)

Bagaimana kita menampilkan diri sesuai dengan situasi termasuk bagaimana kita merawat diri, memilih pakaian, postur, dan penampilan keseluruhan. Ini bukan tentang mahal atau fashionable, tapi tentang terlihat rapi, sesuai konteks, dan menunjukkan bahwa kita menghargai diri sendiri dan orang lain.

Saya pribadi percaya bahwa personal grooming adalah bentuk penghargaan. Kita merawat diri bukan hanya untuk aesthetic, tapi karena kita respect sama orang yang akan kita temui.

Cukup tanya: "Hari ini saya akan bertemu siapa? Berada di situasi apa? Dan apa kesan yang ingin saya tinggalkan?"

3. Personality (Kepribadian)

Karakter yang kita tunjukkan kepada dunia. Apakah kita autentik, ramah, sopan, empati, dan menghargai orang lain? Ini yang membuat orang betah dengan kita.

4. Powerful Communication (Komunikasi yang Kuat)

Kemampuan menyampaikan pesan dengan jelas, percaya diri, dan mau mendengarkan. Ini bukan tentang menjadi orator yang hebat. Ini tentang bisa menyampaikan apa yang penting dengan cara yang bisa dimengerti dan dirasakan orang lain.

Kalau dipikir-pikir, keempat pilar ini saling support. Kita bisa berpakaian sangat rapi dan fashionable, tapi kalau cara berbicara kita membuat orang nggak nyaman, presence tetap akan terasa kurang. Atau sebaliknya kita mungkin nggak pakai designer outfit, tapi ketika hadir dengan percaya diri, ramah, mampu mendengarkan, dan tahu apa yang ingin disampaikan, orang bisa merasakan energi positif dari kita.

Presence yang kuat bukan tentang kesempurnaan. Ini tentang konsistensi dan authenticity.

Digital Presence: Aura Kita di Dunia Online

Sekarang, sebelum bertemu seseorang secara langsung, kita udah bisa melihat Instagram mereka, membaca LinkedIn mereka, menonton video mereka, atau baca artikel yang pernah mereka tulis. Artinya, digital presence bisa menjadi pertemuan pertama kita dengan seseorang. Ini penting banget! 

Sebagaimana dijelaskan dalam materi "Effective Communication & Digital Presence" oleh Mam Latifa Ramonita, M. I. Kom., digital presence terbentuk dari apa yang kita katakan, apa yang kita tunjukkan, apa yang kita bagikan, dan bagaimana kita berinteraksi dengan orang lain.

Feed media sosial kita sebenarnya bukan sekadar kumpulan foto dan video random. Caption yang kita tulis, komentar yang kita berikan, cara kita merespons orang lain, topik yang sering kita bahas, bahkan hal-hal yang sengaja kita tidak bagikan, semuanya ikut membentuk persepsi orang terhadap siapa kita.

Personal branding dan personal presence di dunia online dan offline harus punya benang merah yang sama. Bukan berarti semuanya harus terlihat sempurna atau kita harus become someone else.

Justru sebaliknya. Kita hanya perlu tanya sama diri:
- Apa yang ingin saya dikenal karena hal itu?
- Cerita apa yang ingin saya bagikan?
- Nilai apa yang ingin saya bawa?
- Bagaimana saya ingin orang merasa setelah berinteraksi dengan saya?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini akan membentuk cara kita share di social media, cara kita respond ke comments, dan content yang kita buat. 

Confidence Bukan Bawaan Tapi Dibangun

Terakhir, yang paling saya ingat pesan dari oara narasumber: kita nggak harus menjadi orang yang paling percaya diri, paling cantik, paling populer, atau paling sempurna untuk memiliki presence yang kuat.

Confidence bukan sesuatu yang tiba-tiba muncul. Ini dibangun dari:
- Persiapan yang matang
- Latihan berkali-kali
- Keberhasilan-keberhasilan kecil
- Lalu perlahan-lahan, kita semakin berani mencoba hal yang lebih besar

Setiap kali kita berhasil berkomunikasi dengan jelas, setiap kali orang merasa didengarkan oleh kita, setiap kali kita hadir dengan autentik itu adalah brick yang membangun confidence kita. Dan presence yang kuat adalah hasil akumulasi dari brick-brick tersebut.

Nutrihub Jakarta, Community Space yang Mendukung Kegiatan Workshop Personal Presence 

Nutrihub Jakarta adalah community space dari Nutrifood yang dirancang untuk para creator, entrepreneur, dan siapa aja yang punya ide seru untuk dikembangkan bareng. Lokasinya di Jalan Gandaria V dengan fasilitas yang modern dan nyaman, mulai dari pencahayaan bagus, workspace yang spacious, sampai area buat meeting atau podcast recording. Yang paling enak? Kalo kamu ngadain event atau workshop di sini, pihak Nutrihub menyediakan free refreshments dari produk-produk mereka yang berkualitas. Jadi peserta kamu bisa enjoy acara sambil mencoba produk sehat dari Nutrifood.

Nutrifood
Dian Kartika, Area Marketing Executive PT. Nutrifood Indonesia 
Di kesempatan yang sama hadir mba Dian Kartika, Area Marketing Executive PT. Nutrifood Indonesia, yang membedah berbagai mitos seputar kesehatan sekaligus menjelaskan bagaimana Nutrifood berkomitmen dalam mengedukasi masyarakat tentang pentingnya gaya hidup sehat dan asupan nutrisi yang tepat.

Kesimpulannya

Pada akhirnya, presence bukan tentang membuat orang berkata, "Wah, orang ini luar biasa hebat." Presence yang sesungguhnya adalah ketika setelah bertemu atau berinteraksi dengan kita, orang pulang dengan perasaan: "Saya senang pernah bertemu dengannya." Itu dia. Cukup itu. Itu sudah lebih dari cukup.

Di situlah sebenarnya kekuatan sebuah presence bukan pada achievement-nya, tapi pada bagaimana kita membuat orang lain merasa dihargai.

Nutrihub Jakarta
Foto bareng narasumber dan peserta workshop di Nutrihub Jakarta 

Terima kasih banget kepada narasumber yang telah berbagi insights yang mendalam tentang personal presence dan komunikasi digital. Artikel ini adalah interpretasi personal dan pengembangan dari konsep-konsep yang telah saya pelajari, dengan harapan dapat memberikan manfaat kepada teman-teman yang membaca blog saya. 

Bagaimana dengan kamu? Apa yang ingin orang ingat tentang dirimu? Share di kolom komentar, yuk!







 









Share
Tweet
Pin
Share
No Comments

Ekonomi Sirkular Indonesia
Cara Bank Sampah Induk Bersinar Membangun Ekonomi Sirkular Indonesia
Coba ingat-ingat, jam berapa terakhir kali kamu membuang sampah pagi ini? Mungkin sisa kulit bawang, bungkus kopi sachet, atau botol plastik bekas air mineral. Kita melakukannya nyaris tanpa pikir panjang lempar ke tempat sampah, ikat plastiknya, taruh di depan rumah, selesai. Habis urusan. Padahal, kebiasaan kecil ini justru titik awal dari sesuatu yang jauh lebih besar: ekonomi sirkular Indonesia.

Saya sendiri setiap Kamis dan Minggu pagi mengumpulkan sampah rumah untuk dikutip petugas kebersihan RT komplek rumah.  Kadang saya pun kerap bergumam, ke mana sebenarnya sampah itu pergi? Dan yang lebih penting, apa jadinya kalau ternyata sampah yang kita anggap “selesai urusan” itu justru baru memulai perjalanan menjadi sesuatu yang jauh lebih berharga?

Pertanyaan itu yang menggerakkan saya untuk menulis tentang apa yang sedang dibangun oleh Bank Sampah Induk Bersinar di Bandung. Sebuah gerakan yang menurut saya layak jadi contoh nyata bagaimana ekonomi sirkular Indonesia bisa tumbuh bukan dari kebijakan di atas kertas, tapi dari kebiasaan sehari-hari di rumah tangga.

Dari Tabungan Sampah ke Gerakan Pemberdayaan Masyarakat

Ekonomi Sirkular Indonesia
Menabung Sampah Jadi Uang di Bank Sampah Induk Bersinar (foto: Bank Sampah Induk Bersinar)

Berdiri sejak 2014, Bank Sampah Induk Bersinar awalnya barangkali terdengar sederhana: tempat warga menabung sampah, lalu ditukar jadi uang. Konsep semacam ini sudah cukup umum di banyak daerah. Tapi yang membuat saya tertarik menuliskan ini adalah bagaimana Yayasan Solusi Bersinar Indonesia (YSBI), di bawah kepemimpinan Indari Mastuti, mengubah cara pandang terhadap bank sampah itu sendiri.

Sampah, dalam pandangan mereka, bukan lagi masalah yang harus dibuang secepatnya, melainkan sumber daya yang bisa menggerakkan banyak hal sekaligus: ekonomi keluarga, pendidikan lingkungan, ketahanan pangan, sampai pemberdayaan masyarakat di level akar rumput. Ini bukan cuma soal bank sampah sebagai tempat transaksi, tapi sebagai titik masuk untuk membangun kesadaran kolektif tentang pengelolaan sampah berbasis masyarakat. 

Ekonomi Sirkular Indonesia
Sudah 547 BSU yang Bergabung dalam Jaringan Yayasan Solusi Bersinar Indonesia (foto: Bank Sampah Induk Bersinar)

Dan buktinya bukan cuma wacana. Sampai pertengahan 2026, sudah ada 547 Bank Sampah Unit (BSU) yang bergabung dalam jaringan ini, tersebar di berbagai wilayah Kabupaten dan Kota Bandung. Targetnya makin ambisius: 1.000 BSU aktif. Bayangkan, itu berarti seribu titik di mana warga biasa bukan korporasi besar, bukan pemerintah pusat jadi motor penggerak perubahan.

Oxbow: Kalau Ekonomi Sirkular Punya Ruang Kelas

Bagian yang paling menarik perhatian saya justru rencana jangka panjangnya: kawasan Oxbow di Kabupaten Bandung yang disiapkan menjadi semacam “ruang kelas raksasa” untuk ekonomi sirkular Indonesia. Saya menyebutnya begitu karena konsepnya memang mirip laboratorium hidup tempat orang bisa datang, melihat langsung, dan belajar bagaimana sampah diproses dari titik penerimaan sampai jadi produk baru.

Ekonomi Sirkular Indonesia
Ada Ruang untuk Edukasi Lingkungan dan Pelatihan Warga dalam Mengelola Sampah (foto:Bbank Sampah Induk Bersinar)

Yang membuatnya makin lengkap, kawasan ini tidak berdiri sendiri. Ada tiga elemen yang saling mengunci: Bank Sampah Induk Bersinar sebagai pusat pengelolaan sampah, Local Education sebagai ruang edukasi lingkungan dan pelatihan warga, serta Lumbung Mandiri yang mengolah sisa organik menjadi kompos, pakan ternak, hingga produk pertanian bernilai tambah. Alurnya jadi utuh dari sampah rumah tangga, diproses, lalu kembali lagi ke masyarakat sebagai sampah bernilai ekonomi dalam bentuk yang sama sekali baru.

Konsep ini juga tidak muncul dari ruang hampa. Tim YSBI sempat belajar langsung ke Living Lab Telkom University untuk melihat bagaimana kawasan pendidikan, riset, dan pengabdian masyarakat bisa berjalan beriringan. Menurut saya, langkah ini penting, banyak inisiatif sosial berhenti di semangat baik tanpa mau belajar dari model yang sudah teruji lebih dulu.

Sekolah: Titik Awal yang Sering Terlewat

Satu hal yang menurut saya paling strategis dari gerakan ini adalah masuknya edukasi lingkungan ke sekolah-sekolah. Kita sering berpikir isu sampah itu urusan orang dewasa, padahal kebiasaan memilah sampah dan memahami konsep ekonomi sirkular jauh lebih mudah tertanam kalau dimulai sejak anak-anak masih duduk di bangku sekolah.

Ekonomi Sirkular Indonesia
Anak-anak Harus Dibiasakan Memilah Sampah Sejak Kecil, Karena Sampah Bukan Hanya Urusan Orang Dewasa (foto: Bank Sampah Induk Bersinar)

Rencana membentuk Bank Sampah Unit Sekolah bukan sekadar program tempelan. Kalau berjalan konsisten, sekolah bisa jadi pusat edukasi sekaligus contoh nyata bagi lingkungan sekitarnya. Anak-anak yang terbiasa memilah sampah sejak kecil, besar kemungkinan akan membawa kebiasaan itu pulang ke rumah masing-masing dan pada akhirnya menular ke orang tua mereka juga.

Kolaborasi Lima Arah: Karena Sampah Bukan PR Satu Pihak

YSBI juga menginisiasi apa yang mereka sebut Pentahelix Indonesia Bersinar, yakni kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan media. Gerakan ini merupakan bagian dari upaya membangun Ekonomi Sirkular Indonesia melalui Pentahelix Indonesia Bersinar. Saya pribadi sepakat dengan pendekatan ini. Persoalan sampah di Indonesia terlalu besar untuk diselesaikan satu pihak saja. Butuh regulasi dari pemerintah, riset dari kampus, investasi dari dunia usaha, gerakan dari komunitas, dan penyebaran informasi dari media. Semuanya berjalan bersamaan, bukan sendiri-sendiri.

Jadi, Mulai dari Mana?

Kalau ditanya apa yang bisa kita ambil dari cerita Bank Sampah Induk Bersinar ini, jawabannya sederhana: ekonomi sirkular Indonesia tidak harus dimulai dari proyek besar bernilai miliaran rupiah. Ia bisa dimulai dari kebiasaan memilah sampah organik dan anorganik di dapur rumahmu sendiri, dari keputusan untuk ikut bank sampah di lingkungan RT, atau sekadar mulai bertanya: “sampah ini sebenarnya bisa jadi apa, ya, kalau tidak langsung dibuang?”

Bank Sampah Induk Bersinar sudah membuktikan bahwa dari 547 unit kecil, bisa lahir gerakan pemberdayaan masyarakat yang menyasar ribuan rumah tangga. Dan mungkin, rumah kita bisa jadi salah satu titik berikutnya.





Share
Tweet
Pin
Share
20 Comments

BesTeam
Press Conference BesTeam (Bestian Sama Yatim) 

Sudah beberapa hari sejak saya hadir di peluncuran Program BesTeam (Bestian Sama Yatim) dari Dompet Dhuafa, tapi ada satu cerita yang masih terus saya ingat sampai sekarang, cerita dari Rahmad Gustav Kurniawan Lubis. Biasanya, setelah liputan event, saya cuma ingat garis besarnya. Tapi yang ini beda, mungkin karena ceritanya kerasa dekat dan apa adanya.

Acara digelar di ANTARA Heritage Centre, Jakarta, tanggal 18 Juni 2026 dipandu oleh Aiman Ricky. Sebelum masuk ke sesi inti, panggung dibuka dengan penampilan anak-anak yatim penerima manfaat Dompet Dhuafa. Mereka membacakan puisi dan menyanyikan lagu tentang harapan dan cita-cita. Saya duduk di barisan tamu, memperhatikan satu per satu wajah mereka, dan yang terlintas di kepala saya waktu itu sederhana saja, anak-anak ini sebenarnya nggak beda jauh dari anak-anak lain pada umumnya, sama-sama punya mimpi, sama-sama ingin didengar. Bedanya cuma jalan yang mereka tempuh dimulai lebih awal dengan kehilangan.

BesTeam
Performance anak-anak yatim penerima manfaat Dompet Dhuafa

Di tengah acara, giliran Rahmad naik panggung. Ia adalah alumni penerima Youth Ekselensia Scholarship (YES) Dompet Dhuafa, salah satu program beasiswa yang sudah berjalan cukup lama. Rahmad cerita bagaimana dukungan pendidikan yang ia terima dulu bukan cuma soal biaya sekolah, tapi juga soal pendampingan yang konsisten, ada orang yang menanyakan progres belajarnya, ada ruang untuk konsultasi, ada lingkungan yang percaya bahwa ia bisa berkembang.

Dari situ, ia perlahan menjangkau hal-hal yang sebelumnya terasa jauh dari jangkauannya, termasuk kesempatan dan jaringan yang sekarang ia punya. Cara ia bercerita tenang, tanpa dibumbui kesedihan berlebihan, justru itu yang bikin pesannya nyangkut. Buat saya, cerita Rahmad jadi bukti paling konkret bahwa pendampingan jangka panjang itu benar-benar bisa mengubah arah hidup seseorang, bukan cuma jargon di atas kertas.

BesTeam
Aiman Ricky dan Ahmad Gustav Kurniawan Lubis (alumni penerima Youth Ekselensia Scholarship Dompet Dhuafa)

Dari cerita itu juga saya jadi lebih paham kenapa Dompet Dhuafa memilih nama BesTeam untuk program terbarunya. Kata “Bestian” mengacu pada sosok sahabat yang hadir dan menemani, sementara “Team” menggambarkan kolaborasi banyak pihak yang bergerak bersama untuk satu tujuan yang sama. Jadi BesTeam bukan sekadar nama program bantuan, tapi semacam ajakan supaya masyarakat mengambil peran sebagai pendamping, bukan cuma penyumbang sesaat. Filosofi ini juga yang membedakan BesTeam dari program-program santunan pada umumnya, fokusnya bergeser dari “memberi lalu selesai” menjadi “menemani sampai mereka benar-benar siap berdiri sendiri.”

BesTeam
Widodo A, Ketua BesTeam 2026

Komitmen itu kemudian diterjemahkan ke dalam empat nilai utama: Best Heart, Best Mind, Best Future, dan Best Impact. Keempat nilai ini diwujudkan lewat berbagai program seperti Beasiswa Yatim, Kesehatan Anak Yatim, Yatim Berdaya, Gemilang Anak Indonesia Timur, hingga Bright Generation. Programnya beragam, tapi benang merahnya sama, memastikan anak-anak yatim punya akses yang setara di bidang pendidikan, kesehatan, dan pengembangan diri. Sampai hari ini, pendampingan yang dijalankan Dompet Dhuafa sudah menjangkau lebih dari 23.842 anak yatim di berbagai daerah Indonesia, dan 1.239 di antaranya tercatat sebagai penerima beasiswa pendidikan. Angka-angka ini buat saya bukan sekadar statistik, tapi gambaran berapa banyak “Rahmad-Rahmad” lain yang sedang dalam proses yang sama.

BesTeam
Teuku Wisnu di sesi talk show tentang program BesTeam

Selain sesi cerita Rahmad, ada juga talkshow yang menghadirkan beberapa narasumber, termasuk Teuku Wisnu, Herdiansyah (Wakil Ketua Pengurus Yayasan Dompet Dhuafa, dan Elizabeth Driemirda (General Manager Gramedia Regional D), dengan Aiman Ricky tetap memandu jalannya diskusi. Dari semua yang disampaikan, satu pesan dari Teuku Wisnu yang paling nempel buat saya, “kepekaan terhadap anak yatim di sekitar kita nggak selalu butuh momen atau aksi besar, cukup dimulai dari hal-hal kecil yang dilakukan secara konsisten”. Kalimat sederhana, tapi rasanya relevan buat siapa pun yang dengar, termasuk saya.

BesTeam
Kolaborasi Dompet Dhuafa dan Gramedia lewat program Happy Family Coloring

Satu hal lagi yang saya suka dari acara ini, ada kabar baik soal kebutuhan sekolah anak yatim dan dhuafa. Dompet Dhuafa berkolaborasi dengan Gramedia lewat program Happy Family Coloring bertajuk “Menyebarkan Harapan Melalui Alat Tulis Sekolah ke Seluruh Penjuru Negeri”. Lewat program ini, masyarakat diajak ikut berpartisipasi menyiapkan paket alat tulis sekolah untuk anak-anak yatim dan dhuafa di berbagai wilayah, sekaligus jadi cara sederhana menanamkan nilai berbagi sejak dini di lingkungan keluarga sendiri. Buat saya, kolaborasi semacam ini menarik karena melibatkan sektor yang mungkin nggak langsung terpikir kalau ngomongin filantropi, tapi dampaknya kerasa langsung ke kebutuhan paling dasar anak-anak buat belajar.

BesTeam
Penyalaan Lentera Harapan bersama adik-adik yatim

Menjelang penutupan, ada satu momen yang cukup membekas, prosesi simbolis penyalaan Lentera Harapan. Anak-anak yatim berdiri berdampingan dengan para narasumber dan mitra yang hadir, menyalakan lentera bersama-sama sebagai simbol harapan yang terus dijaga.

BesTeam
Saya meneruskan amanah Dompet Dhuafa untuk membagikan School Kit kepada anak yatim di sekitar lingkungan tempat tinggal saya

Buat saya pribadi, cerita Rahmad jadi pengingat bahwa BesTeam bukan sekadar program dengan nama yang catchy. Di balik nilai-nilai dan data yang disampaikan, ada proses panjang yang nyata, dan ada kemungkinan yang terbuka kalau pendampingan dilakukan dengan konsisten. Lewat BesTeam, Dompet Dhuafa mengajak kita semua untuk ambil bagian dalam proses itu, jadi sahabat yang hadir buat anak-anak yatim Indonesia, supaya makin banyak cerita seperti Rahmad yang bisa lahir dari sana.







Share
Tweet
Pin
Share
No Comments

Buku Ublik
Kumpulan puisi yang awalnya hanya potongan-potongan puisi berserak di Facebook Ono Sembunglango akhirnya jadi Buku UBLIK 

Ada yang bilang, orang paling jujur dalam hidupmu adalah pasanganmu. Mereka tahu betul kelebihan dan kekuranganmu tanpa perlu basa-basi. Mungkin itulah alasan mengapa suami saya, Ono Sembunglango, meminta saya untuk menjadi editor sekaligus pembuat layout buku kumpulan puisi pertamanya, Ublik.

Bukan karena tidak ada orang lain yang bisa. Tapi karena ia percaya pada kemampuan saya menulis, dan pada "tangan" saya dalam desain. Yeah, jujurly saya happy banget saat itu. Tentu saja yang terlintas dalam pikiran ingin membuat layout buku yang nggak flat tapi berwarna. 

Tentang Ublik

Buku Ublik
Ono Sembunglango membaca salah satu puisi dari Buku UBLIK di Taman Ismail Marzuki
Ublik adalah kata dalam bahasa Jawa untuk lampu teplok, lampu sederhana berbahan bakar minyak tanah yang dulu menemani malam-malam gelap sebelum listrik menjadi hal yang lumrah. Nama yang sederhana, tapi sarat makna. Sebagaimana isi bukunya puisi-puisi yang lahir dari keresahan, kepekaan, dan harapan bahwa di tengah kegelapan selalu ada nyala yang menuntun.

Diterbitkan oleh Media Cendekia Muslim pada Juli 2024, Ublik adalah kumpulan puisi pertama suami saya Ono Sembunglango. Di dalamnya suami saya menyentuh banyak hal tentang kota yang tergesa-gesa, tentang sisi-sisi marjinal yang sering kita abaikan, tentang Palestina, dan tentang puisi itu sendiri. Ya, salah satu tema besar dalam Ublik adalah pertanyaan yang sudah diperdebatkan para penyair dan kritikus sastra dunia selama berabad-abad apakah puisi telah mati?

Peran Saya: Editor dan Pembuat Layout

Buku Ublik
Sesi kelas Bedah Desain Buku UBLIK di Canva
Ketika Mas Ono meminta saya terlibat dalam proses pembuatan buku ini, saya tidak langsung mengiyakan dengan ringan. Mengedit tulisan orang lain itu tanggung jawab besar apalagi tulisan suami sendiri. Saya harus jujur, tapi tetap menjaga rasa. Saya harus teliti, tapi tetap menghormati suara asli sang penyair.

Proses editing bukan sekadar memeriksa ejaan dan tanda baca. Lebih dari itu, saya harus memastikan setiap puisi "bernafas" dengan benar bahwa pilihan kata, jeda, dan susunan baris tetap setia pada maksud penulisnya. Untungnya untuk ejaan kata baku dalam puisi menganut Lisensia puitika (atau lisensi puitis) yaitu hak istimewa yang digunakan oleh penulis untuk secara sengaja menyimpang dari kaidah tata bahasa konvensional, fakta, atau ejaan. 

Jadi dari beberapa ejaan di buku ini tidak sesuai kaidah tata bahasa, tapi justru terasa asyik jika dibaca berulang-ulang. Saya jadi semakin memahami makna dari ejaan yang tidak berkaidah tadi. 

Sementara untuk layout, saya menggunakan Canva. Bagi sebagian orang mungkin terdengar sederhana, tapi justru di situlah tantangannya bagaimana membuat tampilan buku yang estetis, nyaman dibaca, dan mampu menguatkan isi puisi tanpa mengganggu maknanya. Setiap halaman adalah keputusan desain bagaimana tipografi, spasi, tata letak. Puisi sangat memerlukan ruang untuk bernafas secara visual.

Yang Paling Berkesan

Membaca puisi suami sendiri berulang kali, dalam proses editing adalah pengalaman yang tidak bisa saya gambarkan dengan mudah. Ada momen di mana saya berhenti, meletakkan layar, dan sekadar diam. Karena ada baris-baris yang terasa sangat dekat. Ada keresahan yang saya tahu persis dari mana asalnya. Kadang kerap ada perasaan muncul, "jangan-jangan ini puisinya ditulis untukku!". Hihi.. kadang melow kadang malu. 

Dan ada beberapa judul yang terus membekas, yakni "Puisi Telah Mati" dan "Badai Al Aqsa". Saya sempat menanyakan ke suami kenapa Puisi Telah Mati dibuat sampai 4 kali. Sebegitu panjangnya kah kegelisahan akan puisi itu sendiri? Ironis memang menulis tentang kematian puisi, tapi melakukannya dengan penuh semangat. Mungkin justru itulah jawabannya, selama masih ada yang mau menuliskannya, puisi tidak akan pernah benar-benar mati.

Belum lagi puisi tentang Bab Palestina. Sambil mendesain layout dada pun bergemuruh dan air mata menggantung.  Pikiran jauh melayang dan terbayang-bayang nasib saudara-saudara di sana. 

Ublik untuk Semua

UBLIK
UBLIK: Kumpulan Puisi Ono Sembunglango 
Jika kamu merindukan puisi yang tidak melulu soal cinta yang berani menyentil, yang peka terhadap sekitar, yang tidak takut berbicara tentang kemerdekaan, sungai yang tercemar, Corona, dan Palestina, Ublik mungkin adalah buku yang kamu butuhkan.

Buku ini diterbitkan oleh Media Cendekia Muslim (ISBN: 978-623-8691-180) dan sudah bisa didapatkan. Kamu bisa beli disini ya 😊




Share
Tweet
Pin
Share
No Comments

Financial
Kartini modern melek digital & finansial

Dari Takut Angka hingga Merasa Cukup, Saatnya Perempuan Indonesia Benar-Benar Melek Finansial

Jujur, ada momen di mana saya merasa sudah cukup kok dengan cara mengelola keuangan saya selama ini. Gaji masuk, bayar ini-itu, sisanya ditabung. Selesai. Tapi entah kenapa, ada perasaan yang mengganggu di sudut hati feeling bahwa ada yang kurang, ada yang salah, tapi saya memilih untuk mengabaikannya. Denial? Mungkin iya.

Sampai kemarin, 21 April 2026 tepat di Hari Kartini, saya mengikuti webinar "Literasi Tinggi, Risiko Rendah: Kartini Modern, Melek Finansial" yang diselenggarakan oleh Female Digest bersama para sponsor yang sudah mendukung acara yang insightful yakni Tropicana Slim, Nutrifood, Wardah Beauty, dan Paragon Corp. Webinar selama dua jam bersama Kak Dedek Gunawan (Financial Planner & Founder PBP), Kak Diana Anggraini (Dosen LSPR), dan Kak Ruth Ninajanty (Community Development Manager Female Digest) yang benar-benar membuka mata dan mengubah mindset.

Literasi Finansial
Webinar "Literasi Tinggi, Risiko Rendah"

Mengapa Perempuan Wajib Melek Finansial?

Ini bukan sekadar tren. Ini soal survival. Kak Dedek membuka sesi dengan data yang cukup mengejutkan sekaligus bikin saya manggut-manggut karena memang relate banget. Ternyata, ada tujuh alasan mendasar mengapa perempuan justru lebih butuh literasi keuangan dibanding siapapun.

Pertama, biaya hidup perempuan lebih tinggi dari lelaki. Pernah dengar istilah pink tax ? Pink tax merupakan fenomena di mana produk-produk untuk perempuan sengaja dibanderol lebih mahal dari produk serupa untuk laki-laki. Shampoo, alat cukur, bahkan pakaian. Biaya hidup kita memang lebih tinggi, bukan karena gaya hidup mewah, tapi karena sistem yang memang begitu.

Melek Finansial
Kak Dedek
Kedua, biaya hidup makin meningkat, kenaikan gaji kita kalah lari dari inflasi. Merasa gajinya naik tapi kok makin nggak cukup? Ya, itu bukan perasaanmu saja. Perlu banget sadari apa yang menjadi kebutuhan bukan keinginan, meskipun keinginan membeli yang nilainya receh tapi kalau terus berulang bisa mengganggu keuangan.

Ketiga, dan ini yang paling menohok.  Karir perempuan itu sering on-off. Ada yang berhenti saat hamil, ada yang cuti panjang karena mengurus anak atau orang tua. Lalu ketika ingin kembali ke dunia kerja, usianya sudah tidak semuda dulu dan lapangan kerja semakin sempit.

Keempat, gaji terhenti sebelum pensiun jadi sulit cari kerja lagi. Ini realita yang jarang dibicarakan tapi sering dialami. Banyak perempuan yang terpaksa berhenti bekerja di usia produktif, entah karena ikut suami pindah kota atau prioritas keluarga lainnya.

Kelima, berhenti bekerja tidak ada penghasilan. Berbeda dengan laki-laki yang umumnya memiliki karir yang lebih linear, perempuan sering kali menghadapi momen dimana ia harus memilih karir atau keluarga. Dan ketika pilihan jatuh pada keluarga, penghasilan pun ikut terhenti.

Keenam, mayoritas perempuan yang mengelola keuangan keluarga. Mulai dari belanja dapur sampai biaya sekolah anak hingga keputusan menabung semuanya sering kali ada di tangan kita. Ironinya justru perempuan yang paling jarang dapat edukasi finansial yang memadai.

Ketujuh, tingkat harapan hidup perempuan lebih tinggi daripada lelaki. Secara statistik, tingkat harapan hidup perempuan lebih tinggi dibanding laki-laki. Artinya, hidup lebih lama berarti kita butuh dana yang lebih besar untuk masa tua. Siap? Yakinlah, tanpa perencanaan keuangan sejak dini , masa tua yang panjang bisa berubah jadi berkah bukan beban.

Inilah mengapa perempuan tidak bisa menunda literasi finansial sedetikpun. Karena perempuan yang sudah membangun fondasi finansial sejak dini tidak akan panik.

6 Kesalahan Keuangan yang Tanpa Sadar Sering Kita Lakukan

Setelah mendengar poin-poin itu, Kak Dedek lanjut membahas kesalahan umum dalam mengelola keuangan. Dan saya? Saya diam-diam menghitung sudah berapa banyak yang saya lakukan. Ternyata... lebih dari yang saya mau akui.

1. Takut Angka
Banyak dari kita yang merasa keuangan itu rumit, penuh rumus, dan bikin pusing. Lalu akhirnya memilih untuk tidak tahu daripada pusing memikirkannya. Padahal literasi finansial bukan soal jago matematika, ini soal kebiasaan dan mindset. Kalau kamu bisa belanja bulanan dan menghitung kembalian, kamu sudah punya bekal dasarnya.

2. Nanti Aja Kalau Udah Ada Uangnya
Ini jebakan paling klasik sekaligus paling banyak memakan korban. Menunggu momen yang tepat untuk mulai menabung atau investasi, padahal momen itu tidak akan pernah datang kalau kita tidak menciptakannya sendiri. Mulai dari Rp10.000 pun, yang penting mulai.

3. Terlalu Perfeksionis
Mau mulai investasi tapi nunggu paham dulu semua istilahnya? Nunggu kondisi market yang ideal? Nunggu gaji naik dulu? Akibatnya, tidak pernah mulai sama sekali. Perfeksionisme dalam finansial bukan kehati-hatian, itu penundaan yang berbiaya mahal.

Kesalahan keuangan yang sering kita lakukan

4. Takut Investasi
Trauma dengan cerita investasi bodong, takut rugi, takut salah pilih instrumen, semua itu wajar. Tapi ketakutan yang tidak dikelola justru membuat uang kita diam di tempat dan nilainya terus tergerus. Kuncinya: mulai dari instrumen yang paling rendah risikonya, kenali dulu sebelum masuk lebih dalam.

5. Merasa Menabung Saja Sudah Cukup
Ini yang paling banyak dilakukan, termasuk aku dulu. Merasa sudah bertanggung jawab karena rajin menabung. Padahal uang yang hanya disimpan di rekening tabungan biasa, nilainya justru tergerus inflasi setiap tahun. Menabung itu perlu, tapi tidak cukup untuk masa depan yang kita impikan.

6. Tidak Punya Perencanaan Keuangan
Hidup mengalir begitu saja tanpa tahu uang pergi ke mana, tanpa target yang jelas, tanpa strategi. Kak Dedek mengingatkan bahwa melek finansial artinya perencanaan keuangan. Mau ke mana uang kita? Bagaimana caranya? Kapan targetnya? Tiga pertanyaan sederhana yang jawabannya bisa mengubah hidup kita.

Fondasi Dulu, Investasi Kemudian

Sebelum bicara investasi, ada dua fondasi yang wajib dipunya, yaitu: dana darurat, dan asuransi. Dua hal ini adalah jaring pengaman supaya ketika hal tak terduga terjadi, kita tidak harus menjual investasi kita di harga yang rugi.

Dan satu pesan yang saya catat dengan huruf besar: JANGAN IKUT-IKUTAN. Kalau kita punya teman memiliki investasi di saham lagi cuan, bukan berarti itu cocok untuk kita saat ini. Harus mengenal profil risiko terlebih dahulu.

3 Tombol Kendali yang Wajib Kamu Pegang

Nah, ini bagian yang paling saya suka dari sesi Kak Diana. Sebagai akademisi komunikasi, beliau melihat literasi keuangan dari sudut yang berbeda bahwa di era digital ini, godaan finansial datang dari mana-mana, dan kita butuh kendali yang konkret, bukan sekadar niat.

Paylater
Kak Diana
Kak Diana menyebutnya tiga tombol kendali literasi digital. Tiga kebiasaan sederhana yang kalau konsisten dilakukan, bisa menyelamatkan dompet sekaligus ketenangan pikiran kita.

Tombol Pertama: Tahan 24 Jam Sebelum Membeli. 
Ketemu barang lucu di marketplace jam 11 malam, langsung mau checkout? Tahan dulu. Tunggu 24 jam. Karena sebagian besar pembelian impulsif kita lahir dari emosi sesaat bosan, stres, atau tergoda flash sale. Setelah 24 jam, kalau masih mau beli, berarti memang butuh. Kalau sudah lupa, berarti itu hanya keinginan yang lewat. Sesederhana itu, tapi efeknya luar biasa untuk cashflow bulanan.

Tombol Kedua: Sistem Pisah Rekening.
Ini bukan hal baru, tapi banyak yang belum melakukannya secara konsisten. Kak Diana menyarankan untuk memisahkan rekening berdasarkan fungsinya: rekening untuk kebutuhan sehari-hari, rekening tabungan yang tidak boleh diusik, dan rekening untuk investasi. Ketika uang sudah dipisahkan sejak awal, kita tidak perlu bergantung pada willpower untuk tidak menghabiskannya. Sistemnya yang bekerja untuk kita.

Tombol Ketiga: Kunci Tautan Mencurigakan.
Di sinilah angle digital literacy Kak Diana benar-benar terasa. Di era sekarang, kejahatan finansial tidak selalu datang dalam bentuk penipuan konvensional. Phishing, link palsu berkedok promo investasi, hingga aplikasi bodong yang mencuri data perbankan. Semuanya mengancam lewat layar ponsel. Kak Diana mengingatkan untuk tidak sembarangan mengklik tautan, apalagi yang datang dari nomor tidak dikenal atau beriming-iming hadiah fantastis. Karena kehilangan akses ke rekening bisa jauh lebih menyakitkan dari sekadar impuls belanja.

Tombol Kendali Literasi Digital
Tiga tombol ini terdengar simpel, tapi percayalah dalam praktiknya, butuh kesadaran penuh untuk menekannya setiap hari.

Perempuan sebagai Perisai Keluarga

Ini adalah bagian yang paling membuat saya merinding. Di penghujung sesinya, Kak Diana menutup dengan sebuah pernyataan yang langsung saya catat tebal-tebal di buku catatan saya. "Perempuan yang melek literasi digital adalah perempuan yang berdiri sebagai perisai, melindungi keluarganya dari risiko yang tidak terlihat." Kalimat sederhana, tapi beratnya luar biasa.

Selama ini kita sering membayangkan "pelindung keluarga" dalam gambaran yang fisik dan konvensional. Tapi Kak Diana mengingatkan bahwa di era digital ini, ancaman terbesar justru yang tidak kasat mata alias penipuan online, investasi bodong, kebocoran data, hingga jebakan hutang yang datang dalam kemasan yang tampak menarik. Dan siapa yang paling sering berada di garis terdepan menghadapi semua itu? Perempuan. Ibu yang belanja online untuk kebutuhan keluarga. Istri yang mengelola rekening bersama. Perempuan yang menerima pesan WhatsApp mencurigakan lalu tanpa sadar mengkliknya.

Maka melek literasi digital bukan lagi pilihan. Ini adalah bentuk perlindungan nyata untuk orang-orang yang kita cintai. Ketika kita tahu cara mengenali tautan berbahaya, ketika kita disiplin memisahkan rekening, ketika kita tidak tergesa-gesa dalam keputusan finansial, kita sedang membangun tembok pelindung yang kokoh untuk keluarga kita. Berdiri sebagai perisai. Bukan karena kita kuat tanpa batas, tapi karena kita cukup bijak untuk belajar sebelum bahaya datang menghampiri.

Mulai dari Langkah Terkecil

Pesan penutup dari Kak Dedek yang paling membekas. Investasi itu seperti bayi yang baru belajar makan. Tidak langsung bisa makan nasi goreng, mulai dari yang paling lembut, paling mudah dicerna. Pilih investasi yang risikonya relatif rendah dan sangat cocok untuk pemula, misalnya reksa dana. Yang penting: mau memulai dan konsisten. Dan jangan biarkan hutang konsumtif menghalangi kita untuk memulai berinvestasi.

Kartini modern bukan hanya perempuan yang cerdas dan mandiri secara emosional,  tapi juga perempuan yang berani melek finansial dan digital. Karena di balik setiap keputusan keuangan yang bijak, ada masa depan yang lebih tenang. Dan di balik setiap perempuan yang melek literasi, ada keluarga yang terlindungi.

So, gimana para Kartini modern? In this economy, sudah siap berdiri sebagai perisai untuk keluargamu?





Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
Older Posts

Hello! I’m Tuty Queen

Hello! I’m Tuty Queen

Follow Me

  • instagram
  • facebook
  • twitter
  • pinterest

Cara Mudah Membuat eBook di Canva

Cara Mudah Membuat eBook di Canva

Seedbacklink

Seedbacklink affiliate

Design Anti Ribet Cuma Pakai Canva

Design Anti Ribet Cuma Pakai Canva

Total Pageviews

Categories

  • Asuransi
  • Canva
  • Dompet Dhuafa
  • Film
  • Food
  • Lingkungan
  • NPD
  • Sport
  • aplikasi
  • beauty
  • ekonomi
  • fashion
  • finance
  • halal lifestyle
  • health
  • hotel
  • kuliner
  • lifestyle
  • teknologi digital

Blog Archive

  • ►  2014 (6)
    • ►  November 2014 (6)
  • ►  2015 (37)
    • ►  March 2015 (1)
    • ►  May 2015 (3)
    • ►  June 2015 (5)
    • ►  October 2015 (3)
    • ►  November 2015 (7)
    • ►  December 2015 (18)
  • ►  2016 (167)
    • ►  January 2016 (11)
    • ►  February 2016 (16)
    • ►  March 2016 (21)
    • ►  April 2016 (15)
    • ►  May 2016 (11)
    • ►  June 2016 (16)
    • ►  July 2016 (6)
    • ►  August 2016 (7)
    • ►  September 2016 (10)
    • ►  October 2016 (20)
    • ►  November 2016 (18)
    • ►  December 2016 (16)
  • ►  2017 (176)
    • ►  January 2017 (12)
    • ►  February 2017 (14)
    • ►  March 2017 (11)
    • ►  April 2017 (16)
    • ►  May 2017 (14)
    • ►  June 2017 (14)
    • ►  July 2017 (6)
    • ►  August 2017 (21)
    • ►  September 2017 (10)
    • ►  October 2017 (20)
    • ►  November 2017 (15)
    • ►  December 2017 (23)
  • ►  2018 (171)
    • ►  January 2018 (9)
    • ►  February 2018 (13)
    • ►  March 2018 (17)
    • ►  April 2018 (18)
    • ►  May 2018 (16)
    • ►  June 2018 (9)
    • ►  July 2018 (6)
    • ►  August 2018 (18)
    • ►  September 2018 (13)
    • ►  October 2018 (17)
    • ►  November 2018 (13)
    • ►  December 2018 (22)
  • ►  2019 (108)
    • ►  January 2019 (11)
    • ►  February 2019 (3)
    • ►  March 2019 (5)
    • ►  April 2019 (1)
    • ►  May 2019 (13)
    • ►  June 2019 (6)
    • ►  July 2019 (11)
    • ►  August 2019 (17)
    • ►  September 2019 (10)
    • ►  October 2019 (10)
    • ►  November 2019 (11)
    • ►  December 2019 (10)
  • ►  2020 (64)
    • ►  January 2020 (6)
    • ►  February 2020 (8)
    • ►  March 2020 (8)
    • ►  April 2020 (5)
    • ►  May 2020 (6)
    • ►  June 2020 (1)
    • ►  July 2020 (4)
    • ►  August 2020 (12)
    • ►  September 2020 (5)
    • ►  October 2020 (2)
    • ►  November 2020 (3)
    • ►  December 2020 (4)
  • ►  2021 (63)
    • ►  January 2021 (5)
    • ►  February 2021 (3)
    • ►  March 2021 (5)
    • ►  April 2021 (4)
    • ►  May 2021 (3)
    • ►  June 2021 (1)
    • ►  July 2021 (2)
    • ►  August 2021 (3)
    • ►  September 2021 (4)
    • ►  October 2021 (10)
    • ►  November 2021 (11)
    • ►  December 2021 (12)
  • ►  2022 (67)
    • ►  January 2022 (2)
    • ►  February 2022 (7)
    • ►  March 2022 (10)
    • ►  April 2022 (12)
    • ►  May 2022 (5)
    • ►  June 2022 (5)
    • ►  July 2022 (5)
    • ►  August 2022 (3)
    • ►  September 2022 (5)
    • ►  October 2022 (4)
    • ►  November 2022 (3)
    • ►  December 2022 (6)
  • ►  2023 (49)
    • ►  February 2023 (3)
    • ►  March 2023 (4)
    • ►  April 2023 (2)
    • ►  May 2023 (7)
    • ►  June 2023 (3)
    • ►  July 2023 (7)
    • ►  August 2023 (3)
    • ►  September 2023 (7)
    • ►  October 2023 (4)
    • ►  November 2023 (5)
    • ►  December 2023 (4)
  • ►  2024 (29)
    • ►  January 2024 (1)
    • ►  February 2024 (3)
    • ►  March 2024 (8)
    • ►  April 2024 (2)
    • ►  May 2024 (1)
    • ►  June 2024 (5)
    • ►  July 2024 (2)
    • ►  August 2024 (2)
    • ►  September 2024 (3)
    • ►  October 2024 (1)
    • ►  November 2024 (1)
  • ►  2025 (39)
    • ►  January 2025 (4)
    • ►  February 2025 (3)
    • ►  March 2025 (1)
    • ►  April 2025 (1)
    • ►  May 2025 (2)
    • ►  June 2025 (8)
    • ►  July 2025 (10)
    • ►  August 2025 (7)
    • ►  September 2025 (1)
    • ►  October 2025 (1)
    • ►  December 2025 (1)
  • ▼  2026 (8)
    • ►  January 2026 (1)
    • ►  March 2026 (1)
    • ►  April 2026 (2)
    • ►  June 2026 (2)
    • ▼  August 2026 (2)
      • Sampah Bernilai Ekonomi: Cara Bank Sampah Induk Be...
      • Cara Membangun Personal Presence yang Membuat Oran...

Contact Form

Name

Email *

Message *

Member of

Member of
Seedbacklink



Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates