![]() |
| Personal Presence |
Pernah nggak sih, bertemu seseorang untuk pertama kalinya dan langsung terasa... nyaman? Bukan karena dia cantik, populer, atau berbicara banyak. Tapi ada sesuatu yang membuat kita berpikir, "Orang ini enak diajak ngobrol. Saya senang ketemu dia."
Sebaliknya, saya juga pernah ketemu orang yang sangat pintar, berpengalaman, bahkan berprestasi luar biasa. Tapi entah kenapa, setiap kali interact dengan mereka, saya malah merasa tegang. Bukan karena mereka jahat, cuma ada energi yang nggak klik.
Nah, dari pengalaman-pengalaman kayak gini, saya kerap bertanya pada diri sendiri, "kok bisa ya, emang bedanya apa sih?" Jawabannya ternyata ada di satu konsep yang sering diabaikan, yakni personal presence.
Presence Bukan Sekadar Cantik atau Pintar
Rabu, 12 Agustus 2026 saya mengikuti workshop yang diadakan oleh Komunitas ISB dengan tema The Power of Presence: Building Confidence Through Personal Grooming and Effective Communication. Workshop diadakan di Nutrihub Jakarta menghadirkan narasumber Mam Dr. Elke Alexandrina dan Mam Latifa Ramonita, M. I. Kom, di moderatori oleh Teh Ani Berta selaku founder Komunitas ISB.
![]() |
| Teh Ani Berta (tengah) dan para narasumber |
Personal presence bukan tentang penampilan fisik atau gelar yang kita punya. Kalo itu sih, semua orang cantik, pintar, dan berprestasi udah bisa otomatis membuat orang nyaman. Padahal nggak, kan?
Personal presence adalah kombinasi dari empat hal: gimana kita tampil, gimana kita bersikap, gimana kita berkomunikasi, dan yang paling penting gimana orang lain merasa waktu interact sama kita.
Konsep ini saya dapati dari materi "The Power of Presence" oleh Dr. Elke Alexandrina, M.Sc., yang menjelaskan bagaimana presence adalah perpaduan sempurna antara appearance, attitude, communication, dan confidence.
![]() |
| Dr. Elke Alexandrina, M.Sc - Lecturer Of LSPR |
Itu dia bedanya. Bukan cuma tentang kita, tapi tentang mereka, dan apa yang mereka rasakan. Konsep ini jadi semakin relevan di era sekarang, karena presence kita nggak cuma ada di dunia nyata. Sebelum bertemu kita secara langsung, orang udah bisa "berkenalan" dengan kita melalui Instagram, LinkedIn, blog, TikTok, atau platform digital lainnya.
Jadi presence itu sebenarnya... seperti aura yang kita bawa kemana-mana, baik offline maupun online.
Percaya Diri Dimulai dari Clarity, Tahu Apa yang Mau Kita Sampaikan
Banyak orang mengira confident itu berarti berbicara banyak, tidak terlihat gugup, atau selalu punya jawaban untuk setiap pertanyaan. Seperti personality type yang tegas, vocal, dan selalu "on". Honestly? Itu pemahaman yang terlalu sempit.
Saya suka banget dengan materi Mam Latifa yang melihat confidence dari sudut pandang lain, yaitu: clarity, preparation, dan presence.
Clarity berarti kita tahu persis apa yang mau disampaikan. Apa pesan utamanya. Siapa yang mendengarkan. Dan kenapa mereka perlu peduli. Preparation berarti kita udah siap untuk itu. Dan presence berarti kita benar-benar hadir dalam percakapan itu, nggak cuma fisik, tapi mental dan emosional.
Coba tanya diri sendiri sebelum nulis konten atau berbicara:
- Apa pesan utama saya?
- Siapa yang akan mendengarkan?
- Dan kenapa mereka perlu pedulii?
Tiga pertanyaan ini mencakup apa yang sebut 3C of Confident Communication: Content, Context, dan Connection.
![]() |
| Suasana workshop di Nutrihub Jakarta |
Bagian yang paling menarik buat saya adalah "connection" . Karena komunikasi bukan hanya tentang apa yang kita katakan. Tapi juga tentang apakah orang lain punya alasan untuk mendengarkan kita. Misalnya, saat saya membuat konten di Instagram atau blog. Saya punya banyak hal yang pengen dibagikan. Tapi kalau semuanya cuma berkutar pada "saya, saya, saya", lama-lama followers juga akan kehilangan alasan untuk stay. Di situ personal branding bermain peran.
Personal Branding Bukan Tentang Self-Promotion
Personal branding itu sering disalahpahami sebagai "terus-menerus promote diri", "showcase achievement setiap hari", atau "create a perfect persona yang sebenarnya bukan kita." Tapi nggak, sih.
Personal branding lebih sederhana dari itu. Ini tentang:
- Apa yang kita perjuangkan
- Apa yang kita ketahui
- Apa yang kita pedulikan
- Bagaimana kita komunikasikan semua itu kepada orang lain
Kalau harus dijelaskan personal branding dengan bahasa paling sederhana, personal branding adalah alasan mengapa orang mengingat kita. Dan alasan itu nggak perlu berupa profesi atau pencapaian gemilang. Bisa karena cara kita berbagi ilmu, cara kita bercerita, sudut pandang unik kita, humor kita, atau bahkan cara kita membuat orang merasa didengarkan. Itu lebih powerful dari seribu achievement yang kita post.
Jangan Takut Bercerita dengan Cara yang Manusiawi
Saya notice bahwa orang nggak selalu terhubung dengan sesuatu yang sempurna. Justru kita lebih mudah relate dengan cerita yang manusiawi yang punya pengalaman nyata, emosi yang genuine, dan pembelajaran yang bisa dibawa pulang.
Jadi waktu kita bikin konten, jangan selalu nunggu cerita yang "wah" atau extraordinary. Pengalaman sederhana bisa menjadi cerita. Kegagalan bisa menjadi cerita. Hal yang dulu kita anggap sepele bisa menjadi pembelajaran yang valuable. Yang penting adalah: apa yang bisa orang pelajari dari cerita itu?
Saat bikin caption atau menulis artikel, ciba pakai struktur ini:
Hook → Value → Personal Touch → Call-to-Action
Jadi daripada buka dengan:
"Hari ini saya ingin bercerita tentang..."
Lebih baik mulai dengan sesuatu yang bikin orang penasaran:
- Sebuah pertanyaan yang relatable
- Sebuah pengakuan yang mengena
- Sebuah pernyataan yang kontras
- Sebuah pelajaran yang unexpected
Contohnya:
"Saya terlihat produktif. Tapi sebenarnya..."
Satu kalimat aja orang udah pengen tahu lanjutannya, kan?
Presence Bukan Hanya Tentang Kata-Kata, Ini Tentang Apa yang Orang Rasakan
Bayangkan gini: kita udah punya pesan yang bagus, kita tahu siapa audiens kita, kita juga udah belajar storytelling yang menarik. Tapi saat berbicara, kita terlalu cepat, jarang kontak mata, postur tubuh tertutup, atau sibuk memikirkan apa yang mau dikatakan sampai lupa mendengarkan. Pesan yang bagus apapun bisa kehilangan kekuatannya.
Kenapa? Karena komunikasi nggak terjadi cuma lewat kata-kata. Cara kita berdiri, cara kita melihat orang lain, ekspresi wajah, gesture tangan, bahkan nada suara kita semuanya ikut menyampaikan pesan.
Body language sering berbicara lebih dulu daripada mulut kita.
Saya sendiri merasa yang dipaparkan Mam Latifa ini sangat relevant, terutama saat berbicara di depan orang lain. Kita sering takut ada "jeda" dalam berbicara karena khawatir orang akan berpikir kita nggak tahu apa yang mau dikatakan.
Padahal? Berbicara sedikit lebih lambat, mengambil napas, kemudian melanjutkan itu sebenarnya membuat pesan terdengar lebih jelas dan lebih percaya diri.
Kemampuan Mendengarkan Sama Pentingnya Seperti Berbicara
Ada satu hal yang kadang sering terlupakan, yakni kemampuan mendengarkan. Kita terlalu sibuk ingin terlihat menarik, ingin poin kita didengar, ingin kesan yang bagus sampai lupa bahwa membuat orang lain merasa didengar itu jauh lebih berkesan.
Waktu kita mendengarkan dengan penuh perhatian, tidak memotong percakapan, dan memberikan respons yang menunjukkan bahwa kita benar-benar memahami lawan bicara kita sebenarnya kita sedang membangun sesuatu yang sangat berharga: rasa dihargai dan dipercaya. Itu adalah foundation dari presence yang kuat.
4 Pilar yang Sebenarnya Membentuk Presence Kita
Kalau saya ringkas, personal presence itu dibangun dari empat pilar. Dan interestingnya, keempat pilar ini saling berkaitan bukan berdiri sendiri.
1. Purpose (Tujuan)
Kita perlu tahu siapa diri kita, nilai apa yang kita bawa, dan apa tujuan dari setiap interaksi. Ini adalah fondasi. Orang bisa merasakan kalau kita tahu arah kita.
2. Presentation (Presentasi)
Bagaimana kita menampilkan diri sesuai dengan situasi termasuk bagaimana kita merawat diri, memilih pakaian, postur, dan penampilan keseluruhan. Ini bukan tentang mahal atau fashionable, tapi tentang terlihat rapi, sesuai konteks, dan menunjukkan bahwa kita menghargai diri sendiri dan orang lain.
Saya pribadi percaya bahwa personal grooming adalah bentuk penghargaan. Kita merawat diri bukan hanya untuk aesthetic, tapi karena kita respect sama orang yang akan kita temui.
Cukup tanya: "Hari ini saya akan bertemu siapa? Berada di situasi apa? Dan apa kesan yang ingin saya tinggalkan?"
3. Personality (Kepribadian)
Karakter yang kita tunjukkan kepada dunia. Apakah kita autentik, ramah, sopan, empati, dan menghargai orang lain? Ini yang membuat orang betah dengan kita.
4. Powerful Communication (Komunikasi yang Kuat)
Kemampuan menyampaikan pesan dengan jelas, percaya diri, dan mau mendengarkan. Ini bukan tentang menjadi orator yang hebat. Ini tentang bisa menyampaikan apa yang penting dengan cara yang bisa dimengerti dan dirasakan orang lain.
Kalau dipikir-pikir, keempat pilar ini saling support. Kita bisa berpakaian sangat rapi dan fashionable, tapi kalau cara berbicara kita membuat orang nggak nyaman, presence tetap akan terasa kurang. Atau sebaliknya kita mungkin nggak pakai designer outfit, tapi ketika hadir dengan percaya diri, ramah, mampu mendengarkan, dan tahu apa yang ingin disampaikan, orang bisa merasakan energi positif dari kita.
Presence yang kuat bukan tentang kesempurnaan. Ini tentang konsistensi dan authenticity.
Digital Presence: Aura Kita di Dunia Online
Sekarang, sebelum bertemu seseorang secara langsung, kita udah bisa melihat Instagram mereka, membaca LinkedIn mereka, menonton video mereka, atau baca artikel yang pernah mereka tulis. Artinya, digital presence bisa menjadi pertemuan pertama kita dengan seseorang. Ini penting banget!
Sebagaimana dijelaskan dalam materi "Effective Communication & Digital Presence" oleh Mam Latifa Ramonita, M. I. Kom., digital presence terbentuk dari apa yang kita katakan, apa yang kita tunjukkan, apa yang kita bagikan, dan bagaimana kita berinteraksi dengan orang lain.
Feed media sosial kita sebenarnya bukan sekadar kumpulan foto dan video random. Caption yang kita tulis, komentar yang kita berikan, cara kita merespons orang lain, topik yang sering kita bahas, bahkan hal-hal yang sengaja kita tidak bagikan, semuanya ikut membentuk persepsi orang terhadap siapa kita.
Personal branding dan personal presence di dunia online dan offline harus punya benang merah yang sama. Bukan berarti semuanya harus terlihat sempurna atau kita harus become someone else.
Justru sebaliknya. Kita hanya perlu tanya sama diri:
- Apa yang ingin saya dikenal karena hal itu?
- Cerita apa yang ingin saya bagikan?
- Nilai apa yang ingin saya bawa?
- Bagaimana saya ingin orang merasa setelah berinteraksi dengan saya?
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini akan membentuk cara kita share di social media, cara kita respond ke comments, dan content yang kita buat.
Confidence Bukan Bawaan Tapi Dibangun
Terakhir, yang paling saya ingat pesan dari oara narasumber: kita nggak harus menjadi orang yang paling percaya diri, paling cantik, paling populer, atau paling sempurna untuk memiliki presence yang kuat.
Confidence bukan sesuatu yang tiba-tiba muncul. Ini dibangun dari:
- Persiapan yang matang
- Latihan berkali-kali
- Keberhasilan-keberhasilan kecil
- Lalu perlahan-lahan, kita semakin berani mencoba hal yang lebih besar
Setiap kali kita berhasil berkomunikasi dengan jelas, setiap kali orang merasa didengarkan oleh kita, setiap kali kita hadir dengan autentik itu adalah brick yang membangun confidence kita. Dan presence yang kuat adalah hasil akumulasi dari brick-brick tersebut.
Nutrihub Jakarta, Community Space yang Mendukung Kegiatan Workshop Personal Presence
Nutrihub Jakarta adalah community space dari Nutrifood yang dirancang untuk para creator, entrepreneur, dan siapa aja yang punya ide seru untuk dikembangkan bareng. Lokasinya di Jalan Gandaria V dengan fasilitas yang modern dan nyaman, mulai dari pencahayaan bagus, workspace yang spacious, sampai area buat meeting atau podcast recording. Yang paling enak? Kalo kamu ngadain event atau workshop di sini, pihak Nutrihub menyediakan free refreshments dari produk-produk mereka yang berkualitas. Jadi peserta kamu bisa enjoy acara sambil mencoba produk sehat dari Nutrifood.
![]() |
| Dian Kartika, Area Marketing Executive PT. Nutrifood Indonesia |
Kesimpulannya
Pada akhirnya, presence bukan tentang membuat orang berkata, "Wah, orang ini luar biasa hebat." Presence yang sesungguhnya adalah ketika setelah bertemu atau berinteraksi dengan kita, orang pulang dengan perasaan: "Saya senang pernah bertemu dengannya." Itu dia. Cukup itu. Itu sudah lebih dari cukup.
Di situlah sebenarnya kekuatan sebuah presence bukan pada achievement-nya, tapi pada bagaimana kita membuat orang lain merasa dihargai.
![]() |
| Foto bareng narasumber dan peserta workshop di Nutrihub Jakarta |
Terima kasih banget kepada narasumber yang telah berbagi insights yang mendalam tentang personal presence dan komunikasi digital. Artikel ini adalah interpretasi personal dan pengembangan dari konsep-konsep yang telah saya pelajari, dengan harapan dapat memberikan manfaat kepada teman-teman yang membaca blog saya.
Bagaimana dengan kamu? Apa yang ingin orang ingat tentang dirimu? Share di kolom komentar, yuk!



































