Pages

  • Home

travel beauty

Sinergi Lintas Generasi Bersama YDBA
Perjalanan Qisbelin dari Bontang Hingga Mendunia

Memori masa kecil saya penuh dengan aroma ikan goreng dan kuah rujak yang menggugah selera. Tempat tinggal saya dekat laut, jadi seafood adalah bagian dari kehidupan sehari-hari. Ibu saya selalu menyediakan kerupuk ikan di rumah. Mulai dari berbagai bentuk, berbagai rasa. Saya dan saudara-saudara langsung senang makan kerupuk ikan yang gurih dan renyah, disiram kuah rujak. Perpaduan gurih, pedas, dan nagih membuat camilan ini selalu ludes tak bersisa.

Itulah mengapa ketika saya mencoba Amplang Kuku Macan Qisbelin untuk pertama kali, memori itu langsung kembali. Rasanya familiar, tapi ada sesuatu yang berbeda, yakni ada kualitas, ada cerita dibaliknya. Dan ini membuat saya ingin tahu lebih dalam tentang produk dari Bontang, Kalimantan Timur, ini.

Kesempatan itu datang saat Trade Expo Indonesia 2025 berlangsung di ICE BSD Tangerang, Oktober lalu. Saya datang dengan tujuan melihat bagaimana produk UMKM Indonesia dibawa ke panggung yang lebih besar, dari lokal hingga internasional. Dan di booth Qisbelin, saya bertemu langsung dengan Handrini Rahayuningtyas, pemilik dan pendiri Qisbelin. Dalam percakapan singkat kami, saya menyadari bahwa cerita Qisbelin adalah lebih dari sekadar kisah sukses satu UMKM. Ini adalah cerita tentang sinergi lintas generasi bagaimana ibu, anak muda, institusi pembinaan, dan komunitas UMKM bersinergi untuk mengakselerasi pertumbuhan UMKM dari lokal hingga global.


Nama Qisbelin: Cerita Pribadi Dibalik Sebuah Brand

Pertanyaan pertama saya bukan tentang omzet atau penjualan. Saya bertanya tentang nama. Karena bagi saya nama bukan sekadar label, tapi nama punya makna dan punya cerita.

“Qisbelin adalah perpaduan nama Qis dan Abelian,” Handrini menjelaskan dengan hangat. “Qis adalah panggilan sayang untuk ayah saya, dan Abelian adalah nama angkatan saat saya kuliah.” Handrini melanjutkan dengan mata yang berbinar, "Ayah saya adalah seorang wartawan. Di setiap akhir beritanya, selalu ada 'kis'. Itu adalah signature ayah saya. Sebagai anak perempuan, saya sangat mengagumi ayah. Saya ingin Qisbelin juga melanglang buana seperti berita yang dibuat ayah saya menjangkau banyak orang, membawa pesan, memiliki dampak." Aspirasi itu tercermin dalam setiap elemen Qisbelin, bahkan dalam logonya. Di logo Qisbelin, ada lambang mata pena yang mewakili wartawan, warisan dari ayah saya. Dan ada lambang kurva tak hingga di balik huruf 'b', melambangkan harapan saya bahwa mulai dari produknya, penjualannya, inovasinya, semuanya tak terhingga. Qisbelin harus mendunia. Itulah mengapa brand saya tetap bernama Qisbelin, sementara perusahaannya adalah PT Qisbelian Snack Indonesia. Nama itu adalah doa, mimpi, dan legacy yang ingin saya teruskan", ungkap Handrini.

Jadi nama ini bukan sekadar kreasi di atas kertas. Ini adalah perpaduan memori keluarga dengan ambisi masa depan. Handrini membawa nama ayahnya, membawa kenangan masa kuliah, dan membuatnya menjadi identitas bisnis yang personal dan unik.

Sinergi Lintas Generasi Bersama YDBA
Handrini Rahayuningtyas, owner Qisbelin

“Lalu mengapa Amplang Kuku Macan?” saya tanya lagi. Handrini tersenyum. “Karena bentuk amplangnya memang menyerupai kuku macan, tajam dan melengkung. Nama ini membuat produk mudah diingat.” Dan benar, ketika orang mendengar “Amplang,” yang terlintas adalah “Amplang Kuku Macan Qisbelin,” bukan sekadar amplang biasa. Itu adalah kekuatan branding yang ternyata Handrini pelajari dalam perjalanan bisnisnya.

Dari percakapan singkat tentang nama ini, saya semakin yakin bahwa dibalik satu produk lokal ada banyak cerita: cerita keluarga, cerita daerah, cerita aspirasi, dan cerita perjalanan panjang orang yang membuatnya.


Dari Impian Karyawan Hingga Menemukan Peluang Sendiri

Cerita Handrini dimulai dari tempat yang tidak terduga. Dia adalah lulusan Matematika, punya gelar, punya ilmu, punya rencana hidup yang jelas. Dia ingin bekerja di perusahaan besar, mendapat gaji tetap, kehidupan yang terukur. Membantu usaha amplang ibu? Itu hanya sambil menunggu lamaran kerja diterima. 

Tapi hidup tidak selalu mengikuti rencana di atas kertas. Beberapa kali melamar pekerjaan tidak membawa hasil. Di tengah ketidakpastian itu, ada satu momen yang mengubah segalanya. Handrini menemani ibunya ke acara Asosiasi Makanan dan Minuman (ASMAMI) Bontang. Di sana, dia ditunjuk menjadi sekretaris ASMAMI. Dan Ketua ASMAMI memberinya tantangan sederhana yang powerful: “Jika kamu ingin aktif di organisasi dan dunia usaha, kamu harus punya produk sendiri.”

Kalimat itu seperti percikan. Tiba-tiba amplang bukan lagi usaha ibu itu adalah peluang dan tantangan untuk Handrini sendiri. Dia mulai serius mengembangkan amplang, menciptakan formula yang lebih baik, proses produksi yang lebih konsisten. Dan dari sana, Amplang Kuku Macan Qisbelin lahir.

Disini kita bisa melihat sinergi pertama: sinergi antara generasi tua (ibu dengan pengalaman dan dedikasi) dan generasi muda (Handrini dengan inovasi dan visi baru). Inilah yang dimaksud dengan lintas generasi. Bukan menggantikan, tetapi melanjutkan dan mengembangkan.


Ketika Kail Lebih Berharga dari Ikan: Filosofi YDBA yang Mengubah Qisbelin

Produk ada. Nama brand ada. Tapi Handrini tahu itu tidak cukup. Dia butuh pengetahuan tentang bagaimana menjalankan bisnis yang sesungguhnya, tidak hanya membuat dan menjual, tapi mengelola, berkembang, dan bersaing.

Pada tahun 2018, Handrini mengenal Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) melalui program pembinaan LPB PAMA Bessai Berinta Bontang. Dan di sini, perjalanan transformasi Qisbelin benar-benar dimulai. YDBA memiliki filosofi yang berbeda dari model pembinaan konvensional. Mereka tidak datang dengan uang tunai dan berkata, “Ini untuk kamu, semoga sukses.” Sebaliknya, YDBA bekerja dengan prinsip: “Berikan kail, bukan ikan.”

Filosofi ini bukan sekadar slogan. Ini adalah cara kerja mereka. Dalam pembinaan YDBA, Handrini tidak menerima suntikan modal besar atau peralatan gratis. Yang dia terima adalah pengetahuan, pendampingan, dan sistem bekal untuk menangkap peluang sendiri. Handrini belajar manajemen produksi, keuangan, pemasaran digital, dan branding. Dia belajar memilih ikan tenggiri yang tepat, takaran adonan yang konsisten, proses penggorengan yang menghasilkan amplang sempurna. Dia belajar tentang packaging yang menarik, storytelling produk, dan cara berkomunikasi dengan konsumen.

Penerapan 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin) di area produksi bukan sekadar teori. Handrini benar-benar menerapkannya. Hasilnya? Area produksi lebih efisien, kualitas terjaga, sistem lebih rapi. Untuk usaha kuliner seperti Qisbelin, ini sangat penting. Konsumen memang melihat amplang yang dikemas rapi, tapi yang tidak terlihat adalah proses di belakangnya yang dijaga ketat agar produk tetap berkualitas dan konsisten.

Branding juga berkembang. Sebelumnya, amplang hanya “camilan lokal” tanpa identitas kuat. Tapi dengan bimbingan YDBA, amplang menjadi “Amplang Kuku Macan Qisbelin” produk dengan cerita, identitas visual, dan sesuatu yang membuat konsumen ingat.

Berikan kail bukan ikan bukan memberikan solusi instan, tapi memberikan kemampuan untuk menemukan solusi sendiri. Ini adalah bentuk sinergi kedua: sinergi antara UMKM dan institusi pembinaan yang percaya pada proses pertumbuhan yang berkelanjutan.


2022: Saat Qisbelin Dinyatakan Sebagai UMKM Mandiri

Proses pembinaan YDBA tidak terjadi dalam semalam. Ada pembelajaran bertahap, ada eksperimen, ada perbaikan. Perjalanan dari usaha rumahan menjadi UMKM yang terkelola dengan baik membutuhkan waktu.

Pada tahun 2022, empat tahun setelah bergabung dengan program pembinaan YDBA, Handrini mengikuti asesmen UMKM PAMA INDO. Hasilnya? Qisbelin dinyatakan naik kelas menjadi UMKM Mandiri. Status UMKM Mandiri bukan hanya label administratif. Ini adalah pengakuan bahwa Handrini sudah memiliki kemampuan untuk mengelola bisnis dengan standar yang tepat, mulai dari manajemen produksi, keuangan, SDM, pemasaran, hingga lingkungan dan CSR.

Yang lebih penting, menjadi mandiri bukan berarti berjalan sendiri tanpa dukungan. Ini berarti memiliki kemampuan untuk terus berjalan meski pendampingan suatu saat berakhir. Handrini sudah punya fondasi yang kuat untuk membuat keputusan, menjaga kualitas, mencari pasar, dan mengarahkan bisnisnya sendiri.

Tapi perjalanan tidak berhenti di sini. Justru tantangannya makin besar. Bbagaimana mempertahankan kualitas? Bagaimana memenuhi pesanan dalam jumlah besar? Bagaimana membawa produk lokal tanpa kehilangan identitasnya? Handrini punya satu jawaban sederhana: “dengan terus melangkah.”


Dari Bontang ke Italia, Australia, dan California

Perlahan tapi pasti, Amplang Kuku Macan Qisbelin mulai menjelajahi pasar di luar Bontang. Pada akhir 2023, produk ini dikirim ke Italia. Kemudian November 2024, sekitar 80 kilogram dikirim ke Australia. Dan pada 18 Februari 2025, 1.000 pcs Amplang Kuku Macan dikirim ke California, Amerika Serikat.

Menembus pasar internasional bukan sekadar soal “produk enak.” Di baliknya ada persiapan usaha yang dibangun sedikit demi sedikit, menjaga kualitas, memperbaiki kemasan, memenuhi kebutuhan produksi, memahami pasar, dan terus belajar. Handrini membuktikan bahwa produk dari daerah punya kesempatan untuk menjelajah jauh dan tetap membawa identitas dari tempat asalnya.

Bahkan pada TEI 2025, Qisbelin menjadi satu dari 23 UMKM unggulan yang dipilih dari seluruh Indonesia. Ini bukan kebetulan. Ini adalah hasil dari kerja keras, konsistensi, dan ekosistem yang tepat.


Sinergi Yang Mengubah Segalanya: Peran YDBA Dibalik Sukses Qisbelin

Sinergi Lintas Generasi Bersama YDBA
Owner Qisbelin menandatangani MoU, Amplang Kuku Macan siap ekspor ke Amerika

Jika saya hanya menghitung angka omzet, jumlah ekspor, penghargaan, cerita Qisbelin mungkin terlihat seperti kisah sukses yang sudah selesai. Tapi yang lebih penting adalah memahami ekosistem di baliknya.

Ada pelaku usaha yang mau belajar. Ada institusi pembinaan yang memberikan pengetahuan tanpa membuat ketergantungan. Ada komunitas UMKM yang saling membuka jaringan. Ada pameran yang mempertemukan produk dengan pasar. Semuanya tidak berdiri sendiri, itulah mengapa kata “sinergi” terasa begitu penting.

Pada 2025, YDBA mencatat 2.030 UMKM aktif dibina, menciptakan 4.674 tenaga kerja, dengan fasilitasi pembiayaan mencapai Rp684 miliar dan fasilitasi pemasaran mencapai Rp4,9 triliun. Angka itu besar, tapi yang lebih besar adalah cerita di baliknya. Berapa banyak pemilik usaha yang akhirnya berani mengambil keputusan? Berapa banyak yang berani mencari pasar lebih luas? Berapa banyak yang memahami bahwa mengelola usaha bukan hanya membuat produk?

Dalam kasus Qisbelin, Handrini tidak hanya menerima pembinaan, dia juga menjadi instruktur bagi UMKM lain, mengajarkan strategi pemasaran dan teknik produksi amplang. Siklus sinergi lintas generasi ini terus berlanjut: dari UMKM yang dibina, menjadi UMKM mandiri, lalu mentor bagi UMKM berikutnya. Ini adalah akselerasi yang sesungguhnya.


Dari Sebungkus Amplang, Saya Belajar Arti Sinergi 

Sinergi Lintas Generasi Bersama YDBA
Saya dan Amplang Kuku Macan Qisbelin 

Sebelum bertemu Handrini, saya hanya mengenal Amplang Kuku Macan sebagai camilan khas Kalimantan. Sekarang, setiap kali mendengar nama Qisbelin, yang terbayang adalah perjalanan lengkapnya: seorang perempuan yang menemukan jalannya sendiri, usaha keluarga yang berkembang menjadi brand, proses pembinaan yang berkelanjutan, filosofi “berikan kail bukan ikan” yang hidup, hingga pasar Italia, Australia, dan California.

Itulah wajah UMKM Indonesia yang sebenarnya. Tidak selalu dimulai dengan sesuatu yang besar. Kadang dimulai dari dapur rumah, resep keluarga, keberanian mencoba, satu produk. Lalu perlahan berkembang karena ada kesempatan untuk belajar dan ada ekosistem yang mendukung.

Qisbelin mengingatkan saya bahwa menjadi mandiri bukan berarti tidak membutuhkan siapa-siapa. Justru dengan sinergi yang tepat, sebuah UMKM bisa mendapatkan bekal untuk kemudian berdiri lebih kuat dengan kakinya sendiri. Dan ketika sudah berdiri, perjalanan itu tidak harus berhenti. Bisa diteruskan, bisa dibagikan, bisa menjadi inspirasi bagi yang lain.

Selama 46 tahun, YDBA telah membuktikan bahwa sinergi lintas generasi antara usaha keluarga, generasi muda, institusi pembinaan, dan komunitas UMKM adalah kunci untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif. Kisah Qisbelin adalah salah satu dari ribuan kisah yang lahir dari komitmen YDBA untuk memberdayakan UMKM Indonesia. Di setiap cerita sukses seperti ini, kita melihat visi YDBA yang nyata: UMKM Indonesia yang mandiri, berkembang, dan siap bersaing di tingkat global.

Terima kasih, Handrini. Terima kasih, Qisbelin. Terima kasih, YDBA. Kalian telah menunjukkan bahwa dengan kail yang tepat, UMKM Indonesia bisa menangkap peluang yang jauh lebih besar dari yang pernah dibayangkan. 







Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
Makanan Kucing
7 Tanda Makanan Kucing yang Benar-Benar Cocok (dokumen pribadi) 

Guys, pernah nggak sih kalian beli makanan kucing baru, terus melihat si meong langsung menyantap habis dalam sekali makan? Rasanya lega banget, kan? Pasti pikiran kalian sama kayak saya, "Wah, pasti ini makanannya pas nih!" 

Eits, tunggu dulu! Tidak semua kucing yang lahap makan berarti makanannya cocok untuk tubuhnya, lho. Percaya nggak? Yuk kita bahas sama-sama!

Mengapa Sih Penting Pilih Makanan Kucing yang Tepat?

Sebelum kita masuk ke 7 tandanya, kita perlu paham dulu kenapa nih memilih makanan yang tepat itu penting.

Makanan bukan hanya soal mengenyangkan kucing saja. Apa yang dimakan si meong berpengaruh banget ke kesehatan bulu dan kulit, sistem pencernaan, berat badan ideal, juga energi dan aktivitas. Memilih makanan kucing itu kayak memilih makanan untuk keluarga kita sendiri. Kita nggak bisa asal pilih, dong!

Makanan Kucing yang Tepat
Pentingnya Memilih Makanan yang Tepat untuk Kucing (dokumen pribadi) 
Makanan kucing yang cocok untuk kucing kesayangan biasanya makanan yang mampu memenuhi kebutuhan nutrisi sesuai dengan umurnya. Bisa diterima dengan baik oleh tubuhnya, dan mendukung kesehatan fisik serta aktivitas sehari-hari. 

Setiap kucing itu punya kebutuhan yang berbeda-beda:

- Anak kucing (kitten) butuh nutrisi untuk pertumbuhan

- Kucing dewasa butuh nutrisi untuk jaga kesehatan tubuh

- Kucing dengan aktivitas tinggi mungkin butuh energi lebih

Makanya, saat pilih makanan, perhatiin deh apakah makanan itu punya nutrisi lengkap dan seimbang sesuai tahap kehidupan kucing kamu.

7 Tanda Makanan Kucing Cocok dengan Kucing Peliharaan Kamu

Gimana sih cara tau kalau makanan sudah cocok? Ini dia 7 tandanya:

1. Bulu Terlihat Sehat, Lembut, dan Berkilau 
Ini yang paling mudah dilihat! Kucing yang makan makanan yang pas biasanya punya bulu yang bersih dan rapi, lembut saat disentuh, dan berkilau alami (natural shiny!)

Sebaliknya, kalau bulu kucing terlihat kusam, mudah patah, atau rontok berlebihan, itu bisa jadi sinyal ada yang nggak pas. Mengapa? Protein dan asam lemak (Omega 3 & 6) dalam makanan itu yang jaga kesehatan bulu dan kulit. Jadi kalau makanannya punya nutrisi lengkap, bulu si meong pasti cakep!

2. Kulit Tetap Bersih dan Sehat
Selain bulu, perhatiin juga kulitnya, ya! Kulit kucing yang sehat itu biasanya bersih tidak banyak ketombe, tidak ada iritasi atau ruam aneh, terlihat normal (tidak mengeras atau bersisik)

Memang sih, masalah kulit nggak selalu dari makanan. Bisa dari lingkungan, parasit, atau penyakit tertentu. Tapi makanan tetap punya peran penting dalam jaga kesehatan kulit melalui nutrisi yang tepat.

3. Pencernaan Berjalan Lancar 
Coba deh sering-sering perhatikan apakah kucing kamu sering mual atau diare tanpa alasan jelas? Itu salah satu tanda kucing mungkin nggak cocok dengan makanannya.

Kalau makanan pas, kucing umumnya jarang muntah, jarang diare atau sembelit, dan pencernaannya stabil. Tapi kalau mau ganti makanan, jangan dadakan! Campur makanan lama sama makanan baru secara bertahap (minimal 3-5 hari). Tujuannya biar sistem pencernaan si meong punya waktu adaptasi.

4. Feses Berbentuk Normal dan Sehat
Mungkin terasa rada menjijikkan, tapi cek kotoran kucing itu penting banget! Feses kucing yang normal biasanya padat, nggak terlalu keras atau terlalu lembek. Selain itu feses mudah dibersihkan, dan warnanya konsisten. 

Kalau feses berubah terus-menerus (bentuk, warna, atau frekuensi), itu bisa indikasi ada masalah dengan makanannya.

5. Berat Badan Tetap Ideal 
Makanan yang tepat seharusnya membantu kucing jaga berat badan ideal. Gimana cara tau berat badan kucing sudah ideal?
- Ikuti panduan pemberian makan di kemasan makanan
- Amati secara berkala berat badan si meong
- Perhatiin Body Condition Score (BCS) kucing

Setiap kucing punya kebutuhan energi berbeda. Ada yang metabolismenya cepat, ada yang lambat. Jadi, panduan di kemasan itu hanya acuan. Kamu tetap perlu pantau dan sesuaikan porsinya.

Makanan Kucing
Setiap Kucing Punya Kebutuhan Energi Berbeda (dokumen pribadi) 
Berat badan yang terjaga menunjukkan makanan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan kucing.

6. Kucing Tetap Aktif dan Penuh Energi 
Kucing yang makan makanan tepat biasanya aktif bermain, suka melompat dan menjelajahi rumah, interaktif dengan pemiliknya, dan nggak terlihat lesu. 

Tentu, tingkat aktivitas setiap kucing beda. Ada yang natural lebih santai. Tapi kalau tiba-tiba ada perubahan signifikan (jadi malas padahal biasanya aktif), itu perlu diperhatiin!

7. Nafsu Makan Baik Tapi Tetap Terkontrol
Nih, poin penting yang sering terlewat! Banyak orang yang salah kira kalau kucing lahap makannya berarti makanannya pasti cocok. Kenyataannya, nafsu makan yang bagus cuma bukan indikator satu-satunya! Ada kucing yang menyukai rasa makanan, tapi kondisi tubuhnya nggak optimal. Ada juga yang butuh waktu adaptasi dengan makanan baru sebelum akhirnya lahap menyantap makanan. 

Jadi, nafsu makan harus dinilai bersamaan dengan indikator lain seperti bulu, kulit, pencernaan, berat badan, dan energi. Dengan begitu, kamu dapat gambaran lengkap tentang cocok atau tidaknya makanan untuk si meong.

Kapan Harus Ganti Makanan Kucing?

Nggak semua perubahan pada kucing berarti makanannya nggak cocok. Misalnya rontok bulu bisa karena pergantian musim atau stres, perubahan nafsu makan sesekali belum tentu karena makanan. 

Tapi kalau kamu lihat beberapa tanda tidak biasa terus-menerus, seperti: gangguan pencernaan berulang (muntah, diare, sembelit), berat badan berubah tanpa alasan jelas, dan kondisi kulit dan bulu semakin menurun ada baiknya evaluasi ulang makanan yang diberikan atau konsultasi dengan dokter hewan, ya!

Tips Mengubah Makanan Kucing dengan Benar 

Kalau memang perlu ganti makanan, jangan lupa lakukan transisi bertahap seperti ini:

1. Hari 1-2: Campur 75% makanan lama + 25% makanan baru
2. Hari 3-4: Campur 50% makanan lama + 50% makanan baru
3. Hari 5-6: Campur 25% makanan lama + 75% makanan baru
4. Hari ke-7: Makanan baru 100%

Cara ini membantu sistem pencernaan kucing adaptasi dengan lebih nyaman. Plus, pastiin makanan pengganti tetap punya nutrisi lengkap dan seimbang sesuai usia dan tahap kehidupan kucing kamu, ya!

Nutrisi yang lengkap dan seimbang adalah fondasi kesehatan kucing yang baik. Jadi, pastiin makanan pilihan kamu punya kandungan protein, taurine, Omega 3 & 6, vitamin, dan mineral sesuai kebutuhan kucing. 

Makanan Kucing BOLT
Salah Satu Makanan Favorit Kucing-kucing Saya di Rumah 
Salah satu opsi yang bisa kamu pertimbangkan adalah BOLT Cat Food. Mereka punya pilihan untuk kucing dewasa dan untuk induk plus anak kucing, keduanya dengan formulasi nutrisi yang balanced. Kandungannya lengkap banget: protein, taurine, Omega 3 & 6, vitamin, sama mineral, semua yang kucing butuh dalam satu produk.

Kelebihannya, produk ini juga kasih feeding guide yang jelas di kemasan, jadi kamu nggak confused tentang berapa banyak yang harus dikasih. Tapi seperti yang udah kita bahas, itu cuma baseline. Kamu tetap bisa sesuaikan porsi berdasarkan berat badan kucing, how active mereka, dan kondisi tubuh mereka secara keseluruhan. Pendekatan ini bikin proses memilih makanan jadi lebih personal dan efektif.


Keterangan lengkapnya bisa juga kamu baca di akun Instagram @boltpetfoodid, Tiktok BOLT dan Facebook BOLT Pet Food Indonesia.

Langsung aja beli BOLT di Pet Shop terdekat atau Official Store CPPETINDO di E-Commerce kesayanganmu, biar lebih sat set, kamu bisa klik link berikut beli BOLT di sini.

Semoga artikel ini membantu kamu merawat si meong dengan lebih baik, guys! Kucing yang sehat adalah kucing yang bahagia. 

Punya pengalaman memilih makanan kucing? Share di kolom komentar, ya!













Share
Tweet
Pin
Share
10 Comments

Personal Presence
Personal Presence

Pernah nggak sih, bertemu seseorang untuk pertama kalinya dan langsung terasa... nyaman? Bukan karena dia cantik, populer, atau berbicara banyak. Tapi ada sesuatu yang membuat kita berpikir, "Orang ini enak diajak ngobrol. Saya senang ketemu dia."

Sebaliknya, saya juga pernah ketemu orang yang sangat pintar, berpengalaman, bahkan berprestasi luar biasa. Tapi entah kenapa, setiap kali interact dengan mereka, saya malah merasa tegang. Bukan karena mereka jahat, cuma ada energi yang nggak klik.

Nah, dari pengalaman-pengalaman kayak gini, saya kerap bertanya pada diri sendiri, "kok bisa ya, emang bedanya apa sih?"  Jawabannya ternyata ada di satu konsep yang sering diabaikan, yakni personal presence.

Presence Bukan Sekadar Cantik atau Pintar

Rabu, 12 Agustus 2026 saya mengikuti workshop yang diadakan oleh Komunitas ISB dengan tema The Power of Presence: Building Confidence Through Personal Grooming and Effective Communication. Workshop diadakan di Nutrihub Jakarta menghadirkan narasumber Mam Dr. Elke Alexandrina dan Mam Latifa Ramonita, M. I. Kom, di moderatori oleh Teh Ani Berta selaku founder Komunitas ISB.  

Personal Branding
Teh Ani Berta (tengah) dan para narasumber 
Personal presence bukan tentang penampilan fisik atau gelar yang kita punya. Kalo itu sih, semua orang cantik, pintar, dan berprestasi udah bisa otomatis membuat orang nyaman. Padahal nggak, kan?

Personal presence adalah kombinasi dari empat hal: gimana kita tampil, gimana kita bersikap, gimana kita berkomunikasi, dan yang paling penting gimana orang lain merasa waktu interact sama kita.

Konsep ini saya dapati dari materi "The Power of Presence" oleh Dr. Elke Alexandrina, M.Sc., yang menjelaskan bagaimana presence adalah perpaduan sempurna antara appearance, attitude, communication, dan confidence.

Dr. Elke Alexandrina
Dr. Elke Alexandrina, M.Sc - Lecturer Of LSPR
Itu dia bedanya. Bukan cuma tentang kita, tapi tentang mereka, dan apa yang mereka rasakan. Konsep ini jadi semakin relevan di era sekarang, karena presence kita nggak cuma ada di dunia nyata. Sebelum bertemu kita secara langsung, orang udah bisa "berkenalan" dengan kita melalui Instagram, LinkedIn, blog, TikTok, atau platform digital lainnya. 

Jadi presence itu sebenarnya... seperti aura yang kita bawa kemana-mana, baik offline maupun online.

Percaya Diri Dimulai dari Clarity, Tahu Apa yang Mau Kita Sampaikan

Banyak orang mengira confident itu berarti berbicara banyak, tidak terlihat gugup, atau selalu punya jawaban untuk setiap pertanyaan. Seperti personality type yang tegas, vocal, dan selalu "on". Honestly? Itu pemahaman yang terlalu sempit.

Saya suka banget dengan materi Mam Latifa yang melihat confidence dari sudut pandang lain, yaitu: clarity, preparation, dan presence.

Clarity berarti kita tahu persis apa yang mau disampaikan. Apa pesan utamanya. Siapa yang mendengarkan. Dan kenapa mereka perlu peduli. Preparation berarti kita udah siap untuk itu. Dan presence berarti kita benar-benar hadir dalam percakapan itu, nggak cuma fisik, tapi mental dan emosional.

Coba tanya diri sendiri sebelum nulis konten atau berbicara:
- Apa pesan utama saya?
- Siapa yang akan mendengarkan?
- Dan kenapa mereka perlu pedulii? 
Tiga pertanyaan ini mencakup apa yang sebut 3C of Confident Communication: Content, Context, dan Connection.

Personal Branding
Suasana workshop di Nutrihub Jakarta 
Bagian yang paling menarik buat saya adalah "connection" . Karena komunikasi bukan hanya tentang apa yang kita katakan. Tapi juga tentang apakah orang lain punya alasan untuk mendengarkan kita. Misalnya, saat saya membuat konten di Instagram atau blog. Saya punya banyak hal yang pengen dibagikan. Tapi kalau semuanya cuma berkutar pada "saya, saya, saya", lama-lama followers juga akan kehilangan alasan untuk stay. Di situ personal branding bermain peran.

Personal Branding Bukan Tentang Self-Promotion

Personal branding itu sering disalahpahami sebagai "terus-menerus promote diri", "showcase achievement setiap hari", atau "create a perfect persona yang sebenarnya bukan kita." Tapi nggak, sih.

Personal branding lebih sederhana dari itu. Ini tentang:
- Apa yang kita perjuangkan
- Apa yang kita ketahui
- Apa yang kita pedulikan
- Bagaimana kita komunikasikan semua itu kepada orang lain

Kalau harus dijelaskan personal branding dengan bahasa paling sederhana, personal branding adalah alasan mengapa orang mengingat kita. Dan alasan itu nggak perlu berupa profesi atau pencapaian gemilang. Bisa karena cara kita berbagi ilmu, cara kita bercerita, sudut pandang unik kita, humor kita, atau bahkan cara kita membuat orang merasa didengarkan. Itu lebih powerful dari seribu achievement yang kita post.

Jangan Takut Bercerita dengan Cara yang Manusiawi

Saya notice bahwa orang nggak selalu terhubung dengan sesuatu yang sempurna. Justru kita lebih mudah relate dengan cerita yang manusiawi yang punya pengalaman nyata, emosi yang genuine, dan pembelajaran yang bisa dibawa pulang.

Jadi waktu kita bikin konten, jangan selalu nunggu cerita yang "wah" atau extraordinary. Pengalaman sederhana bisa menjadi cerita. Kegagalan bisa menjadi cerita. Hal yang dulu kita anggap sepele bisa menjadi pembelajaran yang valuable. Yang penting adalah: apa yang bisa orang pelajari dari cerita itu?

Saat bikin caption atau menulis artikel,  ciba pakai struktur ini:

Hook → Value → Personal Touch → Call-to-Action

Jadi daripada buka dengan:
"Hari ini saya ingin bercerita tentang..."

Lebih baik mulai dengan sesuatu yang bikin orang penasaran:
- Sebuah pertanyaan yang relatable
- Sebuah pengakuan yang mengena
- Sebuah pernyataan yang kontras
- Sebuah pelajaran yang unexpected

Contohnya:
"Saya terlihat produktif. Tapi sebenarnya..."

Satu kalimat aja orang udah pengen tahu lanjutannya, kan?

Presence Bukan Hanya Tentang Kata-Kata, Ini Tentang Apa yang Orang Rasakan

Bayangkan gini: kita udah punya pesan yang bagus, kita tahu siapa audiens kita, kita juga udah belajar storytelling yang menarik. Tapi saat berbicara, kita terlalu cepat, jarang kontak mata, postur tubuh tertutup, atau sibuk memikirkan apa yang mau dikatakan sampai lupa mendengarkan. Pesan yang bagus apapun bisa kehilangan kekuatannya.

Kenapa? Karena komunikasi nggak terjadi cuma lewat kata-kata. Cara kita berdiri, cara kita melihat orang lain, ekspresi wajah, gesture tangan, bahkan nada suara kita semuanya ikut menyampaikan pesan.

Body language sering berbicara lebih dulu daripada mulut kita.

Latifa Ramonita
Latifa Ramonita, M.I.Kom - Lecturer Of LSPR
Saya sendiri merasa yang dipaparkan Mam Latifa ini sangat relevant, terutama saat berbicara di depan orang lain. Kita sering takut ada "jeda" dalam berbicara karena khawatir orang akan berpikir kita nggak tahu apa yang mau dikatakan.

Padahal? Berbicara sedikit lebih lambat, mengambil napas, kemudian melanjutkan itu sebenarnya membuat pesan terdengar lebih jelas dan lebih percaya diri.

Kemampuan Mendengarkan Sama Pentingnya Seperti Berbicara

Ada satu hal yang kadang sering terlupakan, yakni kemampuan mendengarkan. Kita terlalu sibuk ingin terlihat menarik, ingin poin kita didengar, ingin kesan yang bagus sampai lupa bahwa membuat orang lain merasa didengar itu jauh lebih berkesan.

Waktu kita mendengarkan dengan penuh perhatian, tidak memotong percakapan, dan memberikan respons yang menunjukkan bahwa kita benar-benar memahami lawan bicara kita sebenarnya kita sedang membangun sesuatu yang sangat berharga: rasa dihargai dan dipercaya. Itu adalah foundation dari presence yang kuat.

4 Pilar yang Sebenarnya Membentuk Presence Kita

Kalau saya ringkas, personal presence itu dibangun dari empat pilar. Dan interestingnya, keempat pilar ini saling berkaitan bukan berdiri sendiri.

1. Purpose (Tujuan)

Kita perlu tahu siapa diri kita, nilai apa yang kita bawa, dan apa tujuan dari setiap interaksi. Ini adalah fondasi. Orang bisa merasakan kalau kita tahu arah kita.

2. Presentation (Presentasi)

Bagaimana kita menampilkan diri sesuai dengan situasi termasuk bagaimana kita merawat diri, memilih pakaian, postur, dan penampilan keseluruhan. Ini bukan tentang mahal atau fashionable, tapi tentang terlihat rapi, sesuai konteks, dan menunjukkan bahwa kita menghargai diri sendiri dan orang lain.

Saya pribadi percaya bahwa personal grooming adalah bentuk penghargaan. Kita merawat diri bukan hanya untuk aesthetic, tapi karena kita respect sama orang yang akan kita temui.

Cukup tanya: "Hari ini saya akan bertemu siapa? Berada di situasi apa? Dan apa kesan yang ingin saya tinggalkan?"

3. Personality (Kepribadian)

Karakter yang kita tunjukkan kepada dunia. Apakah kita autentik, ramah, sopan, empati, dan menghargai orang lain? Ini yang membuat orang betah dengan kita.

4. Powerful Communication (Komunikasi yang Kuat)

Kemampuan menyampaikan pesan dengan jelas, percaya diri, dan mau mendengarkan. Ini bukan tentang menjadi orator yang hebat. Ini tentang bisa menyampaikan apa yang penting dengan cara yang bisa dimengerti dan dirasakan orang lain.

Kalau dipikir-pikir, keempat pilar ini saling support. Kita bisa berpakaian sangat rapi dan fashionable, tapi kalau cara berbicara kita membuat orang nggak nyaman, presence tetap akan terasa kurang. Atau sebaliknya kita mungkin nggak pakai designer outfit, tapi ketika hadir dengan percaya diri, ramah, mampu mendengarkan, dan tahu apa yang ingin disampaikan, orang bisa merasakan energi positif dari kita.

Presence yang kuat bukan tentang kesempurnaan. Ini tentang konsistensi dan authenticity.

Digital Presence: Aura Kita di Dunia Online

Sekarang, sebelum bertemu seseorang secara langsung, kita udah bisa melihat Instagram mereka, membaca LinkedIn mereka, menonton video mereka, atau baca artikel yang pernah mereka tulis. Artinya, digital presence bisa menjadi pertemuan pertama kita dengan seseorang. Ini penting banget! 

Sebagaimana dijelaskan dalam materi "Effective Communication & Digital Presence" oleh Mam Latifa Ramonita, M. I. Kom., digital presence terbentuk dari apa yang kita katakan, apa yang kita tunjukkan, apa yang kita bagikan, dan bagaimana kita berinteraksi dengan orang lain.

Feed media sosial kita sebenarnya bukan sekadar kumpulan foto dan video random. Caption yang kita tulis, komentar yang kita berikan, cara kita merespons orang lain, topik yang sering kita bahas, bahkan hal-hal yang sengaja kita tidak bagikan, semuanya ikut membentuk persepsi orang terhadap siapa kita.

Personal branding dan personal presence di dunia online dan offline harus punya benang merah yang sama. Bukan berarti semuanya harus terlihat sempurna atau kita harus become someone else.

Justru sebaliknya. Kita hanya perlu tanya sama diri:
- Apa yang ingin saya dikenal karena hal itu?
- Cerita apa yang ingin saya bagikan?
- Nilai apa yang ingin saya bawa?
- Bagaimana saya ingin orang merasa setelah berinteraksi dengan saya?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini akan membentuk cara kita share di social media, cara kita respond ke comments, dan content yang kita buat. 

Confidence Bukan Bawaan Tapi Dibangun

Terakhir, yang paling saya ingat pesan dari oara narasumber: kita nggak harus menjadi orang yang paling percaya diri, paling cantik, paling populer, atau paling sempurna untuk memiliki presence yang kuat.

Confidence bukan sesuatu yang tiba-tiba muncul. Ini dibangun dari:
- Persiapan yang matang
- Latihan berkali-kali
- Keberhasilan-keberhasilan kecil
- Lalu perlahan-lahan, kita semakin berani mencoba hal yang lebih besar

Setiap kali kita berhasil berkomunikasi dengan jelas, setiap kali orang merasa didengarkan oleh kita, setiap kali kita hadir dengan autentik itu adalah brick yang membangun confidence kita. Dan presence yang kuat adalah hasil akumulasi dari brick-brick tersebut.

Nutrihub Jakarta, Community Space yang Mendukung Kegiatan Workshop Personal Presence 

Nutrihub Jakarta adalah community space dari Nutrifood yang dirancang untuk para creator, entrepreneur, dan siapa aja yang punya ide seru untuk dikembangkan bareng. Lokasinya di Jalan Gandaria V dengan fasilitas yang modern dan nyaman, mulai dari pencahayaan bagus, workspace yang spacious, sampai area buat meeting atau podcast recording. Yang paling enak? Kalo kamu ngadain event atau workshop di sini, pihak Nutrihub menyediakan free refreshments dari produk-produk mereka yang berkualitas. Jadi peserta kamu bisa enjoy acara sambil mencoba produk sehat dari Nutrifood.

Nutrifood
Dian Kartika, Area Marketing Executive PT. Nutrifood Indonesia 
Di kesempatan yang sama hadir mba Dian Kartika, Area Marketing Executive PT. Nutrifood Indonesia, yang membedah berbagai mitos seputar kesehatan sekaligus menjelaskan bagaimana Nutrifood berkomitmen dalam mengedukasi masyarakat tentang pentingnya gaya hidup sehat dan asupan nutrisi yang tepat.

Kesimpulannya

Pada akhirnya, presence bukan tentang membuat orang berkata, "Wah, orang ini luar biasa hebat." Presence yang sesungguhnya adalah ketika setelah bertemu atau berinteraksi dengan kita, orang pulang dengan perasaan: "Saya senang pernah bertemu dengannya." Itu dia. Cukup itu. Itu sudah lebih dari cukup.

Di situlah sebenarnya kekuatan sebuah presence bukan pada achievement-nya, tapi pada bagaimana kita membuat orang lain merasa dihargai.

Nutrihub Jakarta
Foto bareng narasumber dan peserta workshop di Nutrihub Jakarta 

Terima kasih banget kepada narasumber yang telah berbagi insights yang mendalam tentang personal presence dan komunikasi digital. Artikel ini adalah interpretasi personal dan pengembangan dari konsep-konsep yang telah saya pelajari, dengan harapan dapat memberikan manfaat kepada teman-teman yang membaca blog saya. 

Bagaimana dengan kamu? Apa yang ingin orang ingat tentang dirimu? Share di kolom komentar, yuk!







 









Share
Tweet
Pin
Share
2 Comments
Older Posts

Hello! I’m Tuty Queen

Hello! I’m Tuty Queen

Follow Me

  • instagram
  • facebook
  • twitter
  • pinterest

Cara Mudah Membuat eBook di Canva

Cara Mudah Membuat eBook di Canva

Seedbacklink

Seedbacklink affiliate

Design Anti Ribet Cuma Pakai Canva

Design Anti Ribet Cuma Pakai Canva

Total Pageviews

Categories

  • Asuransi
  • Canva
  • Dompet Dhuafa
  • Film
  • Food
  • Lingkungan
  • NPD
  • Sport
  • aplikasi
  • beauty
  • ekonomi
  • fashion
  • finance
  • halal lifestyle
  • health
  • hotel
  • kuliner
  • lifestyle
  • teknologi digital

Blog Archive

  • ►  2014 (6)
    • ►  November 2014 (6)
  • ►  2015 (37)
    • ►  March 2015 (1)
    • ►  May 2015 (3)
    • ►  June 2015 (5)
    • ►  October 2015 (3)
    • ►  November 2015 (7)
    • ►  December 2015 (18)
  • ►  2016 (167)
    • ►  January 2016 (11)
    • ►  February 2016 (16)
    • ►  March 2016 (21)
    • ►  April 2016 (15)
    • ►  May 2016 (11)
    • ►  June 2016 (16)
    • ►  July 2016 (6)
    • ►  August 2016 (7)
    • ►  September 2016 (10)
    • ►  October 2016 (20)
    • ►  November 2016 (18)
    • ►  December 2016 (16)
  • ►  2017 (176)
    • ►  January 2017 (12)
    • ►  February 2017 (14)
    • ►  March 2017 (11)
    • ►  April 2017 (16)
    • ►  May 2017 (14)
    • ►  June 2017 (14)
    • ►  July 2017 (6)
    • ►  August 2017 (21)
    • ►  September 2017 (10)
    • ►  October 2017 (20)
    • ►  November 2017 (15)
    • ►  December 2017 (23)
  • ►  2018 (171)
    • ►  January 2018 (9)
    • ►  February 2018 (13)
    • ►  March 2018 (17)
    • ►  April 2018 (18)
    • ►  May 2018 (16)
    • ►  June 2018 (9)
    • ►  July 2018 (6)
    • ►  August 2018 (18)
    • ►  September 2018 (13)
    • ►  October 2018 (17)
    • ►  November 2018 (13)
    • ►  December 2018 (22)
  • ►  2019 (108)
    • ►  January 2019 (11)
    • ►  February 2019 (3)
    • ►  March 2019 (5)
    • ►  April 2019 (1)
    • ►  May 2019 (13)
    • ►  June 2019 (6)
    • ►  July 2019 (11)
    • ►  August 2019 (17)
    • ►  September 2019 (10)
    • ►  October 2019 (10)
    • ►  November 2019 (11)
    • ►  December 2019 (10)
  • ►  2020 (64)
    • ►  January 2020 (6)
    • ►  February 2020 (8)
    • ►  March 2020 (8)
    • ►  April 2020 (5)
    • ►  May 2020 (6)
    • ►  June 2020 (1)
    • ►  July 2020 (4)
    • ►  August 2020 (12)
    • ►  September 2020 (5)
    • ►  October 2020 (2)
    • ►  November 2020 (3)
    • ►  December 2020 (4)
  • ►  2021 (63)
    • ►  January 2021 (5)
    • ►  February 2021 (3)
    • ►  March 2021 (5)
    • ►  April 2021 (4)
    • ►  May 2021 (3)
    • ►  June 2021 (1)
    • ►  July 2021 (2)
    • ►  August 2021 (3)
    • ►  September 2021 (4)
    • ►  October 2021 (10)
    • ►  November 2021 (11)
    • ►  December 2021 (12)
  • ►  2022 (67)
    • ►  January 2022 (2)
    • ►  February 2022 (7)
    • ►  March 2022 (10)
    • ►  April 2022 (12)
    • ►  May 2022 (5)
    • ►  June 2022 (5)
    • ►  July 2022 (5)
    • ►  August 2022 (3)
    • ►  September 2022 (5)
    • ►  October 2022 (4)
    • ►  November 2022 (3)
    • ►  December 2022 (6)
  • ►  2023 (49)
    • ►  February 2023 (3)
    • ►  March 2023 (4)
    • ►  April 2023 (2)
    • ►  May 2023 (7)
    • ►  June 2023 (3)
    • ►  July 2023 (7)
    • ►  August 2023 (3)
    • ►  September 2023 (7)
    • ►  October 2023 (4)
    • ►  November 2023 (5)
    • ►  December 2023 (4)
  • ►  2024 (29)
    • ►  January 2024 (1)
    • ►  February 2024 (3)
    • ►  March 2024 (8)
    • ►  April 2024 (2)
    • ►  May 2024 (1)
    • ►  June 2024 (5)
    • ►  July 2024 (2)
    • ►  August 2024 (2)
    • ►  September 2024 (3)
    • ►  October 2024 (1)
    • ►  November 2024 (1)
  • ►  2025 (39)
    • ►  January 2025 (4)
    • ►  February 2025 (3)
    • ►  March 2025 (1)
    • ►  April 2025 (1)
    • ►  May 2025 (2)
    • ►  June 2025 (8)
    • ►  July 2025 (10)
    • ►  August 2025 (7)
    • ►  September 2025 (1)
    • ►  October 2025 (1)
    • ►  December 2025 (1)
  • ▼  2026 (10)
    • ►  January 2026 (1)
    • ►  March 2026 (1)
    • ►  April 2026 (2)
    • ►  June 2026 (2)
    • ►  August 2026 (2)
    • ▼  September 2026 (2)
      • Kucing Lahap Makan Belum Tentu Sehat! Ini 7 Tanda ...
      • Sinergi Lintas Generasi Bersama YDBA: Perjalanan Q...

Contact Form

Name

Email *

Message *

Member of

Member of
Seedbacklink



Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates