Pages

  • Home

travel beauty

Skin Longevity
Wardah Skin Longevity Clinic,  SPAC8, ASHTA District 8, SCBD

Pengalaman mengikuti perjalanan perawatan kulit yang ternyata tidak hanya bicara soal skincare.

Selama ini, kalau membicarakan kesehatan kulit, hal pertama yang terlintas di pikiran saya biasanya adalah skincare. Mulai dari sabun pembersih wajah, serum, pelembap, sampai sunscreen. Rasanya, selalu ada saja produk yang menarik untuk dicoba. Namun, ketika mendapat undangan dari Seedbacklink sebagai Seedbacklink KOC untuk menghadiri Wardah Skin Longevity Clinic, saya justru mendapatkan perspektif yang sedikit berbeda.

Acara yang berlangsung di SPAC8, ASHTA District 8, SCBD, Jakarta, ini bukan sekadar tempat untuk mengenal produk perawatan wajah. Wardah mengajak pengunjung memahami kesehatan kulit melalui pendekatan yang lebih menyeluruh. 

Diperkenalkan sebagai klinik pertama dari ParagonCorp di Asia Tenggara, Wardah Skin Longevity Clinic mengusung tema Reveal Your Lifestyle Rituals for Lasting Skin Health. Sebuah konsep yang mengingatkan saya bahwa kondisi kulit tidak hanya dipengaruhi oleh apa yang kita aplikasikan ke wajah, tetapi juga oleh kebiasaan sehari-hari. Di sinilah saya mulai mengenal istilah skin longevity.


Skin Longevity, Bukan Sekadar Urusan Awet Muda

Mendengar istilah skin longevity, mungkin sebagian dari kita langsung membayangkan perawatan untuk menjaga wajah tetap muda. Padahal, konsep ini memiliki cakupan yang lebih luas.

Skin longevity berfokus pada upaya menjaga kesehatan dan fungsi kulit dalam jangka panjang. Artinya, bukan hanya memperhatikan tampilan kulit hari ini, tetapi juga memahami apa yang dibutuhkan kulit agar tetap sehat seiring bertambahnya usia.


Skin Longevity
Workshop meracik skincare


Dalam sesi penjelasan workshop di Skin Longevity Expert, saya menangkap satu hal menarik: kesehatan kulit berkaitan erat dengan gaya hidup. Ada tiga aspek yang menjadi perhatian, yaitu Eat, Move, dan Rest. Bagaimana kita makan, seberapa aktif tubuh bergerak, serta bagaimana kita memberikan waktu untuk beristirahat, semuanya menjadi bagian dari pembahasan.

Konsep tersebut kemudian diperkenalkan melalui lima protokol yang dirancang untuk membantu pengunjung memahami kondisi kulit dan kebiasaan yang mendukung kesehatannya.


1. Personalized AI Skin Longevity Analyzer: Mengenal Kondisi Kulit Lebih Dekat

Perjalanan saya dimulai dari Wardah Personalized AI Skin Longevity Analyzer. Di sini, pengunjung bisa mendapatkan gambaran mengenai kondisi kulit melalui teknologi analisis yang dipadukan dengan informasi tentang gaya hidup.

Tidak hanya memeriksa kondisi kulit, prosesnya juga melibatkan pertanyaan seputar enam aspek kehidupan, yaitu tidur dan pemulihan, nutrisi, stres, aktivitas fisik, kesehatan pencernaan, serta lingkungan, termasuk paparan sinar UV, panas, dan polusi.

Skin Longevity
Personalized Skin Analysis

Hasil analisis tersebut dirangkum dalam Advanced Skin ID Blueprint yang dilengkapi dengan Skin Longevity Score. Menurut saya, bagian ini cukup menarik karena mengajak kita melihat kesehatan kulit dari sudut pandang yang lebih luas. Terkadang, kita terlalu fokus mencari tahu produk apa yang cocok, padahal belum tentu memahami faktor lain yang ikut memengaruhi kondisi kulit.

Dengan mengenali kondisi kulit dan kebiasaan sehari-hari, kita bisa mulai memahami perawatan yang lebih sesuai dengan kebutuhan masing-masing.


2. Move Protocol: Pentingnya Tubuh yang Aktif

Selanjutnya, saya memasuki Move Protocol. Sesuai namanya, protokol ini mengajak pengunjung melihat hubungan antara aktivitas fisik dan kesehatan tubuh melalui pemeriksaan komposisi tubuh.

Awalnya, saya sempat bertanya-tanya, apa hubungannya komposisi tubuh dengan kesehatan kulit? Ternyata, aktivitas fisik merupakan salah satu bagian penting dari gaya hidup sehat. Tubuh yang aktif mendukung sirkulasi darah dan berbagai proses metabolisme yang juga berperan dalam menjaga kesehatan secara keseluruhan.

Hal ini membuat saya menyadari bahwa merawat kulit seharusnya tidak berhenti pada rutinitas di depan cermin. Ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk mendukung kesehatan kulit, termasuk membiasakan diri bergerak. Tidak harus langsung melakukan olahraga berat. Aktivitas sederhana yang dilakukan secara konsisten juga bisa menjadi langkah awal.


3. Eat Protocol: Ketika Kesehatan Pencernaan Ikut Dibicarakan

Bagian berikutnya membawa saya pada pembahasan mengenai hubungan antara makanan, pencernaan, dan kondisi kulit. Dalam Eat Protocol, pengunjung diperkenalkan dengan istilah gut-skin axis, yaitu hubungan antara kesehatan saluran pencernaan dan kulit.

Skin Longevity
Kondisi kulitmu sekarang menjawab bagaimana kesehatan pencernaanmu


Topik ini cukup menarik karena selama ini kita mungkin lebih sering menghubungkan makanan dengan berat badan atau kesehatan tubuh secara umum. Padahal, pola makan dan kondisi pencernaan juga dapat berkaitan dengan kesehatan kulit.

Ada satu momen yang cukup saya ingat ketika seorang pengunjung bertanya kepada ahli gizi tentang makanan yang perlu diperhatikan untuk menjaga kesehatan kulit. Jawabannya mengarah pada gula dan pentingnya memperhatikan konsumsinya.

Skin Longevity
Konsultasi pentingnya memilih makanan untuk nutrisi kulit


Pembahasan ini terasa relevan dengan kebiasaan makan sehari-hari. Apalagi, makanan dan minuman manis sering kali menjadi bagian dari rutinitas tanpa terlalu kita pikirkan.

Bukan berarti kita harus langsung menghindari semua makanan favorit. Namun, pengalaman ini mengingatkan saya bahwa menjaga kesehatan kulit juga bisa dimulai dari kebiasaan makan yang lebih seimbang.


4. Rest Protocol: Memberi Tubuh Waktu untuk Memulihkan Diri

Dari semua penjelasan mengenai protokol, Rest Protocol menjadi salah satu bagian yang paling berkesan. Di sini, pembahasannya berfokus pada tidur, pemulihan, dan pengelolaan stres. Pengunjung juga diajak mengenal konsep circadian rhythm dan brain-skin axis melalui pengalaman immersive soundscape.

Pengalaman ini membuat pembahasan tentang istirahat terasa lebih dekat. Sebab, tidur dan pemulihan sering kali menjadi bagian dari gaya hidup yang mudah terabaikan, terutama ketika aktivitas sehari-hari sedang padat. Jadi kualitas istirahat merupakan salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam menjaga kesehatan kulit. Kurang tidur dapat berdampak pada kondisi kulit, misalnya membuat wajah terlihat lebih kusam.

Tidur sekitar delapan jam sering digunakan sebagai acuan umum bagi orang dewasa, meskipun kebutuhan setiap orang dapat berbeda. Saya jadi teringat bahwa kesibukan bekerja, menulis, dan membuat konten terkadang membuat waktu istirahat harus menyesuaikan jadwal yang tidak selalu teratur.

Dari sesi ini, saya belajar bahwa merawat diri tidak selalu harus menambah sesuatu ke dalam rutinitas. Terkadang, justru ada kebiasaan yang perlu diperbaiki, salah satunya memberikan tubuh waktu istirahat yang cukup.


5. Face Gym Treatment: Perawatan sebagai Bagian dari Perjalanan

Setelah melewati berbagai tahapan yang membahas kondisi kulit dan gaya hidup, perjalanan ditutup dengan Face Gym Treatment. Protokol ini menjadi bagian perawatan wajah dalam rangkaian Holistic Skin Longevity Protocol yang diperkenalkan Wardah.

Bagi saya, penempatan perawatan wajah di tahap akhir terasa menarik. Sebelum sampai pada sesi ini, pengunjung sudah diajak memahami berbagai aspek yang berkaitan dengan kesehatan kulit. Dengan begitu, perawatan wajah tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari pendekatan yang lebih menyeluruh.

Pengalaman ini juga mengingatkan saya bahwa setiap orang memiliki kondisi dan kebutuhan kulit yang berbeda. Karena itu, memahami kebutuhan kulit sendiri menjadi langkah yang tidak kalah penting sebelum menentukan jenis perawatan yang akan dilakukan.


Lebih Mengenal Kulit, Lebih Memahami Diri Sendiri

Mengikuti Wardah Skin Longevity Clinic memberi saya pengalaman yang berbeda dari kunjungan ke acara kecantikan pada umumnya. Lima protokol yang diperkenalkan membuat saya melihat bahwa kesehatan kulit bukan hanya tentang produk yang digunakan setiap hari. Ada banyak faktor lain yang ikut berperan, mulai dari pola makan, aktivitas fisik, kualitas tidur, hingga lingkungan tempat kita beraktivitas.

Skin Longevity
setelah semua di cek, tim Wardah merekomendasikan skincare yang cocok untuk kondisi kulit kita


Tentu saja, bukan berarti setelah mengikuti satu rangkaian acara, semua kebiasaan bisa langsung berubah. Namun, setidaknya ada beberapa hal yang bisa mulai diperhatikan dalam keseharian. Saya pulang dengan pemahaman baru bahwa perawatan kulit tidak harus selalu dimulai dengan mencari produk terbaru. Mengenali kondisi kulit, memahami kebiasaan sehari-hari, dan melakukan perawatan yang sesuai juga merupakan bagian dari perjalanan menjaga kesehatan kulit.

Terima kasih kepada Seedbacklink yang telah mengundang saya sebagai Seedbacklink KOC, serta tim Wardah yang menghadirkan pengalaman edukatif melalui Wardah Skin Longevity Clinic.

Wardah Skincare
Goodiebag dari journey ke Wardah Skin Longevity Clinic 

Bagi yang ingin mengetahui lebih lanjut tentang program ini, informasi mengenai Wardah Skinverse dapat ditemukan melalui website Wardah Skinverse.







Share
Tweet
Pin
Share
No Comments

Sinergi Lintas Generasi Bersama YDBA
Perjalanan Qisbelin dari Bontang Hingga Mendunia

Memori masa kecil saya penuh dengan aroma ikan goreng dan kuah rujak yang menggugah selera. Tempat tinggal saya dekat laut, jadi seafood adalah bagian dari kehidupan sehari-hari. Ibu saya selalu menyediakan kerupuk ikan di rumah. Mulai dari berbagai bentuk, berbagai rasa. Saya dan saudara-saudara langsung senang makan kerupuk ikan yang gurih dan renyah, disiram kuah rujak. Perpaduan gurih, pedas, dan nagih membuat camilan ini selalu ludes tak bersisa.

Itulah mengapa ketika saya mencoba Amplang Kuku Macan Qisbelin untuk pertama kali, memori itu langsung kembali. Rasanya familiar, tapi ada sesuatu yang berbeda, yakni ada kualitas, ada cerita dibaliknya. Dan ini membuat saya ingin tahu lebih dalam tentang produk dari Bontang, Kalimantan Timur, ini.

Kesempatan itu datang saat Trade Expo Indonesia 2025 berlangsung di ICE BSD Tangerang, Oktober lalu. Saya datang dengan tujuan melihat bagaimana produk UMKM Indonesia dibawa ke panggung yang lebih besar, dari lokal hingga internasional. Dan di booth Qisbelin, saya bertemu langsung dengan Handrini Rahayuningtyas, pemilik dan pendiri Qisbelin. Dalam percakapan singkat kami, saya menyadari bahwa cerita Qisbelin adalah lebih dari sekadar kisah sukses satu UMKM. Ini adalah cerita tentang sinergi lintas generasi bagaimana ibu, anak muda, institusi pembinaan, dan komunitas UMKM bersinergi untuk mengakselerasi pertumbuhan UMKM dari lokal hingga global.


Nama Qisbelin: Cerita Pribadi Dibalik Sebuah Brand

Pertanyaan pertama saya bukan tentang omzet atau penjualan. Saya bertanya tentang nama. Karena bagi saya nama bukan sekadar label, tapi nama punya makna dan punya cerita.

“Qisbelin adalah perpaduan nama Qis dan Abelian,” Handrini menjelaskan dengan hangat. “Qis adalah panggilan sayang untuk ayah saya, dan Abelian adalah nama angkatan saat saya kuliah.” Handrini melanjutkan dengan mata yang berbinar, "Ayah saya adalah seorang wartawan. Di setiap akhir beritanya, selalu ada 'kis'. Itu adalah signature ayah saya. Sebagai anak perempuan, saya sangat mengagumi ayah. Saya ingin Qisbelin juga melanglang buana seperti berita yang dibuat ayah saya menjangkau banyak orang, membawa pesan, memiliki dampak." Aspirasi itu tercermin dalam setiap elemen Qisbelin, bahkan dalam logonya. Di logo Qisbelin, ada lambang mata pena yang mewakili wartawan, warisan dari ayah saya. Dan ada lambang kurva tak hingga di balik huruf 'b', melambangkan harapan saya bahwa mulai dari produknya, penjualannya, inovasinya, semuanya tak terhingga. Qisbelin harus mendunia. Itulah mengapa brand saya tetap bernama Qisbelin, sementara perusahaannya adalah PT Qisbelian Snack Indonesia. Nama itu adalah doa, mimpi, dan legacy yang ingin saya teruskan", ungkap Handrini.

Jadi nama ini bukan sekadar kreasi di atas kertas. Ini adalah perpaduan memori keluarga dengan ambisi masa depan. Handrini membawa nama ayahnya, membawa kenangan masa kuliah, dan membuatnya menjadi identitas bisnis yang personal dan unik.

Sinergi Lintas Generasi Bersama YDBA
Handrini Rahayuningtyas, owner Qisbelin

“Lalu mengapa Amplang Kuku Macan?” saya tanya lagi. Handrini tersenyum. “Karena bentuk amplangnya memang menyerupai kuku macan, tajam dan melengkung. Nama ini membuat produk mudah diingat.” Dan benar, ketika orang mendengar “Amplang,” yang terlintas adalah “Amplang Kuku Macan Qisbelin,” bukan sekadar amplang biasa. Itu adalah kekuatan branding yang ternyata Handrini pelajari dalam perjalanan bisnisnya.

Dari percakapan singkat tentang nama ini, saya semakin yakin bahwa dibalik satu produk lokal ada banyak cerita: cerita keluarga, cerita daerah, cerita aspirasi, dan cerita perjalanan panjang orang yang membuatnya.


Dari Impian Karyawan Hingga Menemukan Peluang Sendiri

Cerita Handrini dimulai dari tempat yang tidak terduga. Dia adalah lulusan Matematika, punya gelar, punya ilmu, punya rencana hidup yang jelas. Dia ingin bekerja di perusahaan besar, mendapat gaji tetap, kehidupan yang terukur. Membantu usaha amplang ibu? Itu hanya sambil menunggu lamaran kerja diterima. 

Tapi hidup tidak selalu mengikuti rencana di atas kertas. Beberapa kali melamar pekerjaan tidak membawa hasil. Di tengah ketidakpastian itu, ada satu momen yang mengubah segalanya. Handrini menemani ibunya ke acara Asosiasi Makanan dan Minuman (ASMAMI) Bontang. Di sana, dia ditunjuk menjadi sekretaris ASMAMI. Dan Ketua ASMAMI memberinya tantangan sederhana yang powerful: “Jika kamu ingin aktif di organisasi dan dunia usaha, kamu harus punya produk sendiri.”

Kalimat itu seperti percikan. Tiba-tiba amplang bukan lagi usaha ibu itu adalah peluang dan tantangan untuk Handrini sendiri. Dia mulai serius mengembangkan amplang, menciptakan formula yang lebih baik, proses produksi yang lebih konsisten. Dan dari sana, Amplang Kuku Macan Qisbelin lahir.

Disini kita bisa melihat sinergi pertama: sinergi antara generasi tua (ibu dengan pengalaman dan dedikasi) dan generasi muda (Handrini dengan inovasi dan visi baru). Inilah yang dimaksud dengan lintas generasi. Bukan menggantikan, tetapi melanjutkan dan mengembangkan.


Ketika Kail Lebih Berharga dari Ikan: Filosofi YDBA yang Mengubah Qisbelin

Produk ada. Nama brand ada. Tapi Handrini tahu itu tidak cukup. Dia butuh pengetahuan tentang bagaimana menjalankan bisnis yang sesungguhnya, tidak hanya membuat dan menjual, tapi mengelola, berkembang, dan bersaing.

Pada tahun 2018, Handrini mengenal Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) melalui program pembinaan LPB PAMA Bessai Berinta Bontang. Dan di sini, perjalanan transformasi Qisbelin benar-benar dimulai. YDBA memiliki filosofi yang berbeda dari model pembinaan konvensional. Mereka tidak datang dengan uang tunai dan berkata, “Ini untuk kamu, semoga sukses.” Sebaliknya, YDBA bekerja dengan prinsip: “Berikan kail, bukan ikan.”

Filosofi ini bukan sekadar slogan. Ini adalah cara kerja mereka. Dalam pembinaan YDBA, Handrini tidak menerima suntikan modal besar atau peralatan gratis. Yang dia terima adalah pengetahuan, pendampingan, dan sistem bekal untuk menangkap peluang sendiri. Handrini belajar manajemen produksi, keuangan, pemasaran digital, dan branding. Dia belajar memilih ikan tenggiri yang tepat, takaran adonan yang konsisten, proses penggorengan yang menghasilkan amplang sempurna. Dia belajar tentang packaging yang menarik, storytelling produk, dan cara berkomunikasi dengan konsumen.

Penerapan 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin) di area produksi bukan sekadar teori. Handrini benar-benar menerapkannya. Hasilnya? Area produksi lebih efisien, kualitas terjaga, sistem lebih rapi. Untuk usaha kuliner seperti Qisbelin, ini sangat penting. Konsumen memang melihat amplang yang dikemas rapi, tapi yang tidak terlihat adalah proses di belakangnya yang dijaga ketat agar produk tetap berkualitas dan konsisten.

Branding juga berkembang. Sebelumnya, amplang hanya “camilan lokal” tanpa identitas kuat. Tapi dengan bimbingan YDBA, amplang menjadi “Amplang Kuku Macan Qisbelin” produk dengan cerita, identitas visual, dan sesuatu yang membuat konsumen ingat.

Berikan kail bukan ikan bukan memberikan solusi instan, tapi memberikan kemampuan untuk menemukan solusi sendiri. Ini adalah bentuk sinergi kedua: sinergi antara UMKM dan institusi pembinaan yang percaya pada proses pertumbuhan yang berkelanjutan.


2022: Saat Qisbelin Dinyatakan Sebagai UMKM Mandiri

Proses pembinaan YDBA tidak terjadi dalam semalam. Ada pembelajaran bertahap, ada eksperimen, ada perbaikan. Perjalanan dari usaha rumahan menjadi UMKM yang terkelola dengan baik membutuhkan waktu.

Pada tahun 2022, empat tahun setelah bergabung dengan program pembinaan YDBA, Handrini mengikuti asesmen UMKM PAMA INDO. Hasilnya? Qisbelin dinyatakan naik kelas menjadi UMKM Mandiri. Status UMKM Mandiri bukan hanya label administratif. Ini adalah pengakuan bahwa Handrini sudah memiliki kemampuan untuk mengelola bisnis dengan standar yang tepat, mulai dari manajemen produksi, keuangan, SDM, pemasaran, hingga lingkungan dan CSR.

Yang lebih penting, menjadi mandiri bukan berarti berjalan sendiri tanpa dukungan. Ini berarti memiliki kemampuan untuk terus berjalan meski pendampingan suatu saat berakhir. Handrini sudah punya fondasi yang kuat untuk membuat keputusan, menjaga kualitas, mencari pasar, dan mengarahkan bisnisnya sendiri.

Tapi perjalanan tidak berhenti di sini. Justru tantangannya makin besar. Bbagaimana mempertahankan kualitas? Bagaimana memenuhi pesanan dalam jumlah besar? Bagaimana membawa produk lokal tanpa kehilangan identitasnya? Handrini punya satu jawaban sederhana: “dengan terus melangkah.”


Dari Bontang ke Italia, Australia, dan California

Perlahan tapi pasti, Amplang Kuku Macan Qisbelin mulai menjelajahi pasar di luar Bontang. Pada akhir 2023, produk ini dikirim ke Italia. Kemudian November 2024, sekitar 80 kilogram dikirim ke Australia. Dan pada 18 Februari 2025, 1.000 pcs Amplang Kuku Macan dikirim ke California, Amerika Serikat.

Menembus pasar internasional bukan sekadar soal “produk enak.” Di baliknya ada persiapan usaha yang dibangun sedikit demi sedikit, menjaga kualitas, memperbaiki kemasan, memenuhi kebutuhan produksi, memahami pasar, dan terus belajar. Handrini membuktikan bahwa produk dari daerah punya kesempatan untuk menjelajah jauh dan tetap membawa identitas dari tempat asalnya.

Bahkan pada TEI 2025, Qisbelin menjadi satu dari 23 UMKM unggulan yang dipilih dari seluruh Indonesia. Ini bukan kebetulan. Ini adalah hasil dari kerja keras, konsistensi, dan ekosistem yang tepat.


Sinergi Yang Mengubah Segalanya: Peran YDBA Dibalik Sukses Qisbelin

Sinergi Lintas Generasi Bersama YDBA
Owner Qisbelin menandatangani MoU, Amplang Kuku Macan siap ekspor ke Amerika

Jika saya hanya menghitung angka omzet, jumlah ekspor, penghargaan, cerita Qisbelin mungkin terlihat seperti kisah sukses yang sudah selesai. Tapi yang lebih penting adalah memahami ekosistem di baliknya.

Ada pelaku usaha yang mau belajar. Ada institusi pembinaan yang memberikan pengetahuan tanpa membuat ketergantungan. Ada komunitas UMKM yang saling membuka jaringan. Ada pameran yang mempertemukan produk dengan pasar. Semuanya tidak berdiri sendiri, itulah mengapa kata “sinergi” terasa begitu penting.

Pada 2025, YDBA mencatat 2.030 UMKM aktif dibina, menciptakan 4.674 tenaga kerja, dengan fasilitasi pembiayaan mencapai Rp684 miliar dan fasilitasi pemasaran mencapai Rp4,9 triliun. Angka itu besar, tapi yang lebih besar adalah cerita di baliknya. Berapa banyak pemilik usaha yang akhirnya berani mengambil keputusan? Berapa banyak yang berani mencari pasar lebih luas? Berapa banyak yang memahami bahwa mengelola usaha bukan hanya membuat produk?

Dalam kasus Qisbelin, Handrini tidak hanya menerima pembinaan, dia juga menjadi instruktur bagi UMKM lain, mengajarkan strategi pemasaran dan teknik produksi amplang. Siklus sinergi lintas generasi ini terus berlanjut: dari UMKM yang dibina, menjadi UMKM mandiri, lalu mentor bagi UMKM berikutnya. Ini adalah akselerasi yang sesungguhnya.


Dari Sebungkus Amplang, Saya Belajar Arti Sinergi 

Sinergi Lintas Generasi Bersama YDBA
Saya dan Amplang Kuku Macan Qisbelin 

Sebelum bertemu Handrini, saya hanya mengenal Amplang Kuku Macan sebagai camilan khas Kalimantan. Sekarang, setiap kali mendengar nama Qisbelin, yang terbayang adalah perjalanan lengkapnya: seorang perempuan yang menemukan jalannya sendiri, usaha keluarga yang berkembang menjadi brand, proses pembinaan yang berkelanjutan, filosofi “berikan kail bukan ikan” yang hidup, hingga pasar Italia, Australia, dan California.

Itulah wajah UMKM Indonesia yang sebenarnya. Tidak selalu dimulai dengan sesuatu yang besar. Kadang dimulai dari dapur rumah, resep keluarga, keberanian mencoba, satu produk. Lalu perlahan berkembang karena ada kesempatan untuk belajar dan ada ekosistem yang mendukung.

Qisbelin mengingatkan saya bahwa menjadi mandiri bukan berarti tidak membutuhkan siapa-siapa. Justru dengan sinergi yang tepat, sebuah UMKM bisa mendapatkan bekal untuk kemudian berdiri lebih kuat dengan kakinya sendiri. Dan ketika sudah berdiri, perjalanan itu tidak harus berhenti. Bisa diteruskan, bisa dibagikan, bisa menjadi inspirasi bagi yang lain.

Selama 46 tahun, YDBA telah membuktikan bahwa sinergi lintas generasi antara usaha keluarga, generasi muda, institusi pembinaan, dan komunitas UMKM adalah kunci untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif. Kisah Qisbelin adalah salah satu dari ribuan kisah yang lahir dari komitmen YDBA untuk memberdayakan UMKM Indonesia. Di setiap cerita sukses seperti ini, kita melihat visi YDBA yang nyata: UMKM Indonesia yang mandiri, berkembang, dan siap bersaing di tingkat global.

Terima kasih, Handrini. Terima kasih, Qisbelin. Terima kasih, YDBA. Kalian telah menunjukkan bahwa dengan kail yang tepat, UMKM Indonesia bisa menangkap peluang yang jauh lebih besar dari yang pernah dibayangkan. 







Share
Tweet
Pin
Share
2 Comments
Older Posts

Hello! I’m Tuty Queen

Hello! I’m Tuty Queen

Follow Me

  • instagram
  • facebook
  • twitter
  • pinterest

Cara Mudah Membuat eBook di Canva

Cara Mudah Membuat eBook di Canva

Seedbacklink

Seedbacklink affiliate

Design Anti Ribet Cuma Pakai Canva

Design Anti Ribet Cuma Pakai Canva

Total Pageviews

Categories

  • Asuransi
  • Canva
  • Dompet Dhuafa
  • Film
  • Food
  • Lingkungan
  • NPD
  • Sport
  • aplikasi
  • beauty
  • ekonomi
  • fashion
  • finance
  • halal lifestyle
  • health
  • hotel
  • kuliner
  • lifestyle
  • teknologi digital

Blog Archive

  • ►  2014 (6)
    • ►  November 2014 (6)
  • ►  2015 (37)
    • ►  March 2015 (1)
    • ►  May 2015 (3)
    • ►  June 2015 (5)
    • ►  October 2015 (3)
    • ►  November 2015 (7)
    • ►  December 2015 (18)
  • ►  2016 (167)
    • ►  January 2016 (11)
    • ►  February 2016 (16)
    • ►  March 2016 (21)
    • ►  April 2016 (15)
    • ►  May 2016 (11)
    • ►  June 2016 (16)
    • ►  July 2016 (6)
    • ►  August 2016 (7)
    • ►  September 2016 (10)
    • ►  October 2016 (20)
    • ►  November 2016 (18)
    • ►  December 2016 (16)
  • ►  2017 (176)
    • ►  January 2017 (12)
    • ►  February 2017 (14)
    • ►  March 2017 (11)
    • ►  April 2017 (16)
    • ►  May 2017 (14)
    • ►  June 2017 (14)
    • ►  July 2017 (6)
    • ►  August 2017 (21)
    • ►  September 2017 (10)
    • ►  October 2017 (20)
    • ►  November 2017 (15)
    • ►  December 2017 (23)
  • ►  2018 (171)
    • ►  January 2018 (9)
    • ►  February 2018 (13)
    • ►  March 2018 (17)
    • ►  April 2018 (18)
    • ►  May 2018 (16)
    • ►  June 2018 (9)
    • ►  July 2018 (6)
    • ►  August 2018 (18)
    • ►  September 2018 (13)
    • ►  October 2018 (17)
    • ►  November 2018 (13)
    • ►  December 2018 (22)
  • ►  2019 (108)
    • ►  January 2019 (11)
    • ►  February 2019 (3)
    • ►  March 2019 (5)
    • ►  April 2019 (1)
    • ►  May 2019 (13)
    • ►  June 2019 (6)
    • ►  July 2019 (11)
    • ►  August 2019 (17)
    • ►  September 2019 (10)
    • ►  October 2019 (10)
    • ►  November 2019 (11)
    • ►  December 2019 (10)
  • ►  2020 (64)
    • ►  January 2020 (6)
    • ►  February 2020 (8)
    • ►  March 2020 (8)
    • ►  April 2020 (5)
    • ►  May 2020 (6)
    • ►  June 2020 (1)
    • ►  July 2020 (4)
    • ►  August 2020 (12)
    • ►  September 2020 (5)
    • ►  October 2020 (2)
    • ►  November 2020 (3)
    • ►  December 2020 (4)
  • ►  2021 (63)
    • ►  January 2021 (5)
    • ►  February 2021 (3)
    • ►  March 2021 (5)
    • ►  April 2021 (4)
    • ►  May 2021 (3)
    • ►  June 2021 (1)
    • ►  July 2021 (2)
    • ►  August 2021 (3)
    • ►  September 2021 (4)
    • ►  October 2021 (10)
    • ►  November 2021 (11)
    • ►  December 2021 (12)
  • ►  2022 (67)
    • ►  January 2022 (2)
    • ►  February 2022 (7)
    • ►  March 2022 (10)
    • ►  April 2022 (12)
    • ►  May 2022 (5)
    • ►  June 2022 (5)
    • ►  July 2022 (5)
    • ►  August 2022 (3)
    • ►  September 2022 (5)
    • ►  October 2022 (4)
    • ►  November 2022 (3)
    • ►  December 2022 (6)
  • ►  2023 (49)
    • ►  February 2023 (3)
    • ►  March 2023 (4)
    • ►  April 2023 (2)
    • ►  May 2023 (7)
    • ►  June 2023 (3)
    • ►  July 2023 (7)
    • ►  August 2023 (3)
    • ►  September 2023 (7)
    • ►  October 2023 (4)
    • ►  November 2023 (5)
    • ►  December 2023 (4)
  • ►  2024 (29)
    • ►  January 2024 (1)
    • ►  February 2024 (3)
    • ►  March 2024 (8)
    • ►  April 2024 (2)
    • ►  May 2024 (1)
    • ►  June 2024 (5)
    • ►  July 2024 (2)
    • ►  August 2024 (2)
    • ►  September 2024 (3)
    • ►  October 2024 (1)
    • ►  November 2024 (1)
  • ►  2025 (39)
    • ►  January 2025 (4)
    • ►  February 2025 (3)
    • ►  March 2025 (1)
    • ►  April 2025 (1)
    • ►  May 2025 (2)
    • ►  June 2025 (8)
    • ►  July 2025 (10)
    • ►  August 2025 (7)
    • ►  September 2025 (1)
    • ►  October 2025 (1)
    • ►  December 2025 (1)
  • ▼  2026 (11)
    • ►  January 2026 (1)
    • ►  March 2026 (1)
    • ►  April 2026 (2)
    • ►  June 2026 (2)
    • ►  August 2026 (2)
    • ►  September 2026 (2)
    • ▼  October 2026 (1)
      • Mengenal Skin Longevity Lewat 5 Protokol Wardah Sk...

Contact Form

Name

Email *

Message *

Member of

Member of
Seedbacklink



Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates