Pages

  • Home

travel beauty

Financial
Kartini modern melek digital & finansial

Dari Takut Angka hingga Merasa Cukup, Saatnya Perempuan Indonesia Benar-Benar Melek Finansial

Jujur, ada momen di mana saya merasa sudah cukup kok dengan cara mengelola keuangan saya selama ini. Gaji masuk, bayar ini-itu, sisanya ditabung. Selesai. Tapi entah kenapa, ada perasaan yang mengganggu di sudut hati feeling bahwa ada yang kurang, ada yang salah, tapi saya memilih untuk mengabaikannya. Denial? Mungkin iya.

Sampai kemarin, 21 April 2026 tepat di Hari Kartini, saya mengikuti webinar "Literasi Tinggi, Risiko Rendah: Kartini Modern, Melek Finansial" yang diselenggarakan oleh Female Digest bersama para sponsor yang sudah mendukung acara yang insightful yakni Tropicana Slim, Nutrifood, Wardah Beauty, dan Paragon Corp. Webinar selama dua jam bersama Kak Dedek Gunawan (Financial Planner & Founder PBP), Kak Diana Anggraini (Dosen LSPR), dan Kak Ruth Ninajanty (Community Development Manager Female Digest) yang benar-benar membuka mata dan mengubah mindset.

Literasi Finansial
Webinar "Literasi Tinggi, Risiko Rendah"

Mengapa Perempuan Wajib Melek Finansial?

Ini bukan sekadar tren. Ini soal survival. Kak Dedek membuka sesi dengan data yang cukup mengejutkan sekaligus bikin saya manggut-manggut karena memang relate banget. Ternyata, ada tujuh alasan mendasar mengapa perempuan justru lebih butuh literasi keuangan dibanding siapapun.

Pertama, biaya hidup perempuan lebih tinggi dari lelaki. Pernah dengar istilah pink tax ? Pink tax merupakan fenomena di mana produk-produk untuk perempuan sengaja dibanderol lebih mahal dari produk serupa untuk laki-laki. Shampoo, alat cukur, bahkan pakaian. Biaya hidup kita memang lebih tinggi, bukan karena gaya hidup mewah, tapi karena sistem yang memang begitu.

Melek Finansial
Kak Dedek
Kedua, biaya hidup makin meningkat, kenaikan gaji kita kalah lari dari inflasi. Merasa gajinya naik tapi kok makin nggak cukup? Ya, itu bukan perasaanmu saja. Perlu banget sadari apa yang menjadi kebutuhan bukan keinginan, meskipun keinginan membeli yang nilainya receh tapi kalau terus berulang bisa mengganggu keuangan.

Ketiga, dan ini yang paling menohok.  Karir perempuan itu sering on-off. Ada yang berhenti saat hamil, ada yang cuti panjang karena mengurus anak atau orang tua. Lalu ketika ingin kembali ke dunia kerja, usianya sudah tidak semuda dulu dan lapangan kerja semakin sempit.

Keempat, gaji terhenti sebelum pensiun jadi sulit cari kerja lagi. Ini realita yang jarang dibicarakan tapi sering dialami. Banyak perempuan yang terpaksa berhenti bekerja di usia produktif, entah karena ikut suami pindah kota atau prioritas keluarga lainnya.

Kelima, berhenti bekerja tidak ada penghasilan. Berbeda dengan laki-laki yang umumnya memiliki karir yang lebih linear, perempuan sering kali menghadapi momen dimana ia harus memilih karir atau keluarga. Dan ketika pilihan jatuh pada keluarga, penghasilan pun ikut terhenti.

Keenam, mayoritas perempuan yang mengelola keuangan keluarga. Mulai dari belanja dapur sampai biaya sekolah anak hingga keputusan menabung semuanya sering kali ada di tangan kita. Ironinya justru perempuan yang paling jarang dapat edukasi finansial yang memadai.

Ketujuh, tingkat harapan hidup perempuan lebih tinggi daripada lelaki. Secara statistik, tingkat harapan hidup perempuan lebih tinggi dibanding laki-laki. Artinya, hidup lebih lama berarti kita butuh dana yang lebih besar untuk masa tua. Siap? Yakinlah, tanpa perencanaan keuangan sejak dini , masa tua yang panjang bisa berubah jadi berkah bukan beban.

Inilah mengapa perempuan tidak bisa menunda literasi finansial sedetikpun. Karena perempuan yang sudah membangun fondasi finansial sejak dini tidak akan panik.

6 Kesalahan Keuangan yang Tanpa Sadar Sering Kita Lakukan

Setelah mendengar poin-poin itu, Kak Dedek lanjut membahas kesalahan umum dalam mengelola keuangan. Dan saya? Saya diam-diam menghitung sudah berapa banyak yang saya lakukan. Ternyata... lebih dari yang saya mau akui.

1. Takut Angka
Banyak dari kita yang merasa keuangan itu rumit, penuh rumus, dan bikin pusing. Lalu akhirnya memilih untuk tidak tahu daripada pusing memikirkannya. Padahal literasi finansial bukan soal jago matematika, ini soal kebiasaan dan mindset. Kalau kamu bisa belanja bulanan dan menghitung kembalian, kamu sudah punya bekal dasarnya.

2. Nanti Aja Kalau Udah Ada Uangnya
Ini jebakan paling klasik sekaligus paling banyak memakan korban. Menunggu momen yang tepat untuk mulai menabung atau investasi, padahal momen itu tidak akan pernah datang kalau kita tidak menciptakannya sendiri. Mulai dari Rp10.000 pun, yang penting mulai.

3. Terlalu Perfeksionis
Mau mulai investasi tapi nunggu paham dulu semua istilahnya? Nunggu kondisi market yang ideal? Nunggu gaji naik dulu? Akibatnya, tidak pernah mulai sama sekali. Perfeksionisme dalam finansial bukan kehati-hatian, itu penundaan yang berbiaya mahal.

Kesalahan keuangan yang sering kita lakukan

4. Takut Investasi
Trauma dengan cerita investasi bodong, takut rugi, takut salah pilih instrumen, semua itu wajar. Tapi ketakutan yang tidak dikelola justru membuat uang kita diam di tempat dan nilainya terus tergerus. Kuncinya: mulai dari instrumen yang paling rendah risikonya, kenali dulu sebelum masuk lebih dalam.

5. Merasa Menabung Saja Sudah Cukup
Ini yang paling banyak dilakukan, termasuk aku dulu. Merasa sudah bertanggung jawab karena rajin menabung. Padahal uang yang hanya disimpan di rekening tabungan biasa, nilainya justru tergerus inflasi setiap tahun. Menabung itu perlu, tapi tidak cukup untuk masa depan yang kita impikan.

6. Tidak Punya Perencanaan Keuangan
Hidup mengalir begitu saja tanpa tahu uang pergi ke mana, tanpa target yang jelas, tanpa strategi. Kak Dedek mengingatkan bahwa melek finansial artinya perencanaan keuangan. Mau ke mana uang kita? Bagaimana caranya? Kapan targetnya? Tiga pertanyaan sederhana yang jawabannya bisa mengubah hidup kita.

Fondasi Dulu, Investasi Kemudian

Sebelum bicara investasi, ada dua fondasi yang wajib dipunya, yaitu: dana darurat, dan asuransi. Dua hal ini adalah jaring pengaman supaya ketika hal tak terduga terjadi, kita tidak harus menjual investasi kita di harga yang rugi.

Dan satu pesan yang saya catat dengan huruf besar: JANGAN IKUT-IKUTAN. Kalau kita punya teman memiliki investasi di saham lagi cuan, bukan berarti itu cocok untuk kita saat ini. Harus mengenal profil risiko terlebih dahulu.

3 Tombol Kendali yang Wajib Kamu Pegang

Nah, ini bagian yang paling saya suka dari sesi Kak Diana. Sebagai akademisi komunikasi, beliau melihat literasi keuangan dari sudut yang berbeda bahwa di era digital ini, godaan finansial datang dari mana-mana, dan kita butuh kendali yang konkret, bukan sekadar niat.

Paylater
Kak Diana
Kak Diana menyebutnya tiga tombol kendali literasi digital. Tiga kebiasaan sederhana yang kalau konsisten dilakukan, bisa menyelamatkan dompet sekaligus ketenangan pikiran kita.

Tombol Pertama: Tahan 24 Jam Sebelum Membeli. 
Ketemu barang lucu di marketplace jam 11 malam, langsung mau checkout? Tahan dulu. Tunggu 24 jam. Karena sebagian besar pembelian impulsif kita lahir dari emosi sesaat bosan, stres, atau tergoda flash sale. Setelah 24 jam, kalau masih mau beli, berarti memang butuh. Kalau sudah lupa, berarti itu hanya keinginan yang lewat. Sesederhana itu, tapi efeknya luar biasa untuk cashflow bulanan.

Tombol Kedua: Sistem Pisah Rekening.
Ini bukan hal baru, tapi banyak yang belum melakukannya secara konsisten. Kak Diana menyarankan untuk memisahkan rekening berdasarkan fungsinya: rekening untuk kebutuhan sehari-hari, rekening tabungan yang tidak boleh diusik, dan rekening untuk investasi. Ketika uang sudah dipisahkan sejak awal, kita tidak perlu bergantung pada willpower untuk tidak menghabiskannya. Sistemnya yang bekerja untuk kita.

Tombol Ketiga: Kunci Tautan Mencurigakan.
Di sinilah angle digital literacy Kak Diana benar-benar terasa. Di era sekarang, kejahatan finansial tidak selalu datang dalam bentuk penipuan konvensional. Phishing, link palsu berkedok promo investasi, hingga aplikasi bodong yang mencuri data perbankan. Semuanya mengancam lewat layar ponsel. Kak Diana mengingatkan untuk tidak sembarangan mengklik tautan, apalagi yang datang dari nomor tidak dikenal atau beriming-iming hadiah fantastis. Karena kehilangan akses ke rekening bisa jauh lebih menyakitkan dari sekadar impuls belanja.

Tombol Kendali Literasi Digital
Tiga tombol ini terdengar simpel, tapi percayalah dalam praktiknya, butuh kesadaran penuh untuk menekannya setiap hari.

Perempuan sebagai Perisai Keluarga

Ini adalah bagian yang paling membuat saya merinding. Di penghujung sesinya, Kak Diana menutup dengan sebuah pernyataan yang langsung saya catat tebal-tebal di buku catatan saya. "Perempuan yang melek literasi digital adalah perempuan yang berdiri sebagai perisai, melindungi keluarganya dari risiko yang tidak terlihat." Kalimat sederhana, tapi beratnya luar biasa.

Selama ini kita sering membayangkan "pelindung keluarga" dalam gambaran yang fisik dan konvensional. Tapi Kak Diana mengingatkan bahwa di era digital ini, ancaman terbesar justru yang tidak kasat mata alias penipuan online, investasi bodong, kebocoran data, hingga jebakan hutang yang datang dalam kemasan yang tampak menarik. Dan siapa yang paling sering berada di garis terdepan menghadapi semua itu? Perempuan. Ibu yang belanja online untuk kebutuhan keluarga. Istri yang mengelola rekening bersama. Perempuan yang menerima pesan WhatsApp mencurigakan lalu tanpa sadar mengkliknya.

Maka melek literasi digital bukan lagi pilihan. Ini adalah bentuk perlindungan nyata untuk orang-orang yang kita cintai. Ketika kita tahu cara mengenali tautan berbahaya, ketika kita disiplin memisahkan rekening, ketika kita tidak tergesa-gesa dalam keputusan finansial, kita sedang membangun tembok pelindung yang kokoh untuk keluarga kita. Berdiri sebagai perisai. Bukan karena kita kuat tanpa batas, tapi karena kita cukup bijak untuk belajar sebelum bahaya datang menghampiri.

Mulai dari Langkah Terkecil

Pesan penutup dari Kak Dedek yang paling membekas. Investasi itu seperti bayi yang baru belajar makan. Tidak langsung bisa makan nasi goreng, mulai dari yang paling lembut, paling mudah dicerna. Pilih investasi yang risikonya relatif rendah dan sangat cocok untuk pemula, misalnya reksa dana. Yang penting: mau memulai dan konsisten. Dan jangan biarkan hutang konsumtif menghalangi kita untuk memulai berinvestasi.

Kartini modern bukan hanya perempuan yang cerdas dan mandiri secara emosional,  tapi juga perempuan yang berani melek finansial dan digital. Karena di balik setiap keputusan keuangan yang bijak, ada masa depan yang lebih tenang. Dan di balik setiap perempuan yang melek literasi, ada keluarga yang terlindungi.

So, gimana para Kartini modern? In this economy, sudah siap berdiri sebagai perisai untuk keluargamu?





Share
Tweet
Pin
Share
No Comments

Dokterway Klinik Kemang
Beauty is Pain

 “Awalnya cuma pengen ‘refresh’… ternyata kulit saya lagi minta diselamatkan”

Jujur ya… saya tuh termasuk yang ngerawat kulit itu mood-mood-an. Kadang rajin, kadang ya udah yang penting pakai skincare seadanya. Sampai akhirnya saya ngerasa, “kok wajah makin kusam ya?” Dari situ mulai kepikiran…mungkin ini bukan cuma soal capek, tapi kulit memang beneran lagi butuh perhatian.


Akhirnya, saya memutuskan untuk treatment di Dokterway Klinik di Kemang. Kenapa akhirnya saya treatment? Karena jujur aja, skincare harian aja tuh kadang gak cukup. Apalagi kalau masalahnya udah numpuk: kulit kering, warna gak merata, tekstur mulai gak halus.


Dokterway Klinik Kemang
Langsung kupas tuntas masalah kulit dengan dr. Claudia di Dokterway Klinik Kemang

Dan ternyata… feeling saya bener. Ketemu dokter yang “jujur” soal kondisi kulit kita tuh rasanya mak jleb banget. Di Dokterway Klinik Kemang saya konsultasi dengan dr. Claudia. Dan ini bagian yang cukup “nyentil” karena beliau langsung jelasin kondisi kulit saya tanpa basa-basi. Jadi menurut analisa dr. Claudia, kulit saya kering banget, warna kulit tidak merata, kurang kenyal, ada jerawat, dan ada milia. Saya langsung mikir…“oke, ini bukan sekadar butuh skincare… ini benar-benar butuh treatment” 


Akhirnya saya ikutin rangkaian treatment yang direkomendasikan. Dan semuanya ada step-nya nggak asal tindakan.


1. Facial “basic yang sering diremehin”

Ini jadi pembuka, tapi penting banget. Facial membantu membersihkan pori-pori secara mendalam, mengangkat komedo & kotoran, mengurangi penumpukan sel kulit mati. Rasanya tuh kayak kulit “dibersihin total”. Dan ini penting supaya treatment berikutnya bisa lebih maksimal.


Dokterway Klinik Kemang
Facial, pori-pori langsung lega…

2. Pumpkin Peeling, eksfoliasi tapi tetap gentle

Peeling ini pakai kandungan dari pumpkin (labu) yang kaya enzim. Manfaatnya untuk mengangkat sel kulit mati tanpa terlalu harsh, membantu mencerahkan kulit, meratakan tekstur, dan membantu regenerasi kulit. Di tahap ini saya mulai ngerasa kulit lebih halus, tapi masih dalam fase “proses”.


Dokterway Klinik Kemang
Proses peeling pumpkin dan HIFU

3. HIFU, jujur ini deg-degan banget 

Ini pertama kalinya saya coba HIFU (High-Intensity Focused Ultrasound). Jadi, HIFU itu treatment yang menggunakan gelombang ultrasound untuk menstimulasi produksi kolagen di lapisan dalam kulit. Manfaatnya untuk mengencangkan kulit, memberikan efek lifting tanpa operasi, mengurangi garis halus, dan meningkatkan elastisitas. Sensasinya? Ya… ada rasa “cekit-cekit” gitu. Bisa dibilang, beauty is pain moment saya hari itu. Tapi kalau dipikir-pikir, ini kayak investasi jangka panjang sih. Karena kerjanya dari dalam.


4. Skinbooster Yaqoot, glow dari dalam

Nah, ini juga first time banget buat saya. Skinbooster adalah injeksi yang berfungsi untuk memberikan hidrasi intens langsung ke dalam kulit. Manfaatnya untuk melembapkan kulit secara mendalam, membuat kulit lebih glowing & sehat, memperbaiki tekstur, meningkatkan kekenyalan. Setelah treatment ini wajah rada bentol-bentol. Tapi dokter udah bilang itu normal, dan memang cuma sementara. 


Pengalaman Pertama HIFU & Skinbooster
Gini rasanya skinbooster..cekit cekit

After treatment, saya ngobrol lagi dengan dokter kira-kira rangkaian skincare apa yang saat ini cukup untuk saya pakai. Saya disarankan pakai skincare khusus untuk kondisi kulit saya yang kering, yaitu sabun muka, toner, serum untuk dipakai pagi dan malam hari. Siang hari ditambah pakai sunscreen yang wajib di reapply setiap 3-4 jam. Treatment itu cuma “start”, tapi konsistensi di rumah itu kuncinya.


Dalam waktu 3 hari, saya mulai ngerasa perubahan. Kulit lebih cerah, lebih moist (ini kerasa banget!), dan lebih kenyal. Makeup juga jadi lebih nempel. Bukan yang langsung flawless ya, tapi perubahan kecilnya tuh bikin saya merasa “oh, ternyata kulit saya bisa se-improve ini”


Klinik Dokterway Kemang
3 hari setelah treatment kulit wajah berasa banget moist-nya

Oh ya, berapa total biaya yang saya habiskan untuk semua treatment ini? Semuanya 3.198.000. Jadi,  ini worth it nggak? Buat saya ini sih worth it banget. Bukan cuma karena hasilnya, tapi karena saya jadi lebih paham kondisi kulit saya sendiri. Kadang kita ngerasa udah “cukup ngerawat” padahal sebenarnya belum sesuai kebutuhan kulit kita.


Yang akhirnya saya sadari, merawat kulit itu bukan soal ikut tren. Bukan juga soal harus selalu treatment mahal. Tapi soal aware sama kondisi diri sendiri. Mulai dari hal kecil. Rutin skincare, minum air cukup, tidur cukup, dan jaga gaya hidup. Karena percuma treatment mahal, kalau sehari-harinya nggak dijaga.


Sekarang saya jadi mikir, kalau dulu saya bisa lebih aware sama kulit wajah mungkin nggak perlu PR sebanyak ini. Tapi ya, better late than never ya kan…








Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
Newer Posts
Older Posts

Hello! I’m Tuty Queen

Hello! I’m Tuty Queen

Follow Me

  • instagram
  • facebook
  • twitter
  • pinterest

Cara Mudah Membuat eBook di Canva

Cara Mudah Membuat eBook di Canva

Seedbacklink

Seedbacklink affiliate

Design Anti Ribet Cuma Pakai Canva

Design Anti Ribet Cuma Pakai Canva

Total Pageviews

Categories

  • Asuransi
  • Canva
  • Dompet Dhuafa
  • Film
  • Food
  • Lingkungan
  • NPD
  • Sport
  • aplikasi
  • beauty
  • ekonomi
  • fashion
  • finance
  • halal lifestyle
  • health
  • hotel
  • kuliner
  • lifestyle
  • teknologi digital

Blog Archive

  • ►  2014 (6)
    • ►  November 2014 (6)
  • ►  2015 (37)
    • ►  March 2015 (1)
    • ►  May 2015 (3)
    • ►  June 2015 (5)
    • ►  October 2015 (3)
    • ►  November 2015 (7)
    • ►  December 2015 (18)
  • ►  2016 (167)
    • ►  January 2016 (11)
    • ►  February 2016 (16)
    • ►  March 2016 (21)
    • ►  April 2016 (15)
    • ►  May 2016 (11)
    • ►  June 2016 (16)
    • ►  July 2016 (6)
    • ►  August 2016 (7)
    • ►  September 2016 (10)
    • ►  October 2016 (20)
    • ►  November 2016 (18)
    • ►  December 2016 (16)
  • ►  2017 (176)
    • ►  January 2017 (12)
    • ►  February 2017 (14)
    • ►  March 2017 (11)
    • ►  April 2017 (16)
    • ►  May 2017 (14)
    • ►  June 2017 (14)
    • ►  July 2017 (6)
    • ►  August 2017 (21)
    • ►  September 2017 (10)
    • ►  October 2017 (20)
    • ►  November 2017 (15)
    • ►  December 2017 (23)
  • ►  2018 (171)
    • ►  January 2018 (9)
    • ►  February 2018 (13)
    • ►  March 2018 (17)
    • ►  April 2018 (18)
    • ►  May 2018 (16)
    • ►  June 2018 (9)
    • ►  July 2018 (6)
    • ►  August 2018 (18)
    • ►  September 2018 (13)
    • ►  October 2018 (17)
    • ►  November 2018 (13)
    • ►  December 2018 (22)
  • ►  2019 (108)
    • ►  January 2019 (11)
    • ►  February 2019 (3)
    • ►  March 2019 (5)
    • ►  April 2019 (1)
    • ►  May 2019 (13)
    • ►  June 2019 (6)
    • ►  July 2019 (11)
    • ►  August 2019 (17)
    • ►  September 2019 (10)
    • ►  October 2019 (10)
    • ►  November 2019 (11)
    • ►  December 2019 (10)
  • ►  2020 (64)
    • ►  January 2020 (6)
    • ►  February 2020 (8)
    • ►  March 2020 (8)
    • ►  April 2020 (5)
    • ►  May 2020 (6)
    • ►  June 2020 (1)
    • ►  July 2020 (4)
    • ►  August 2020 (12)
    • ►  September 2020 (5)
    • ►  October 2020 (2)
    • ►  November 2020 (3)
    • ►  December 2020 (4)
  • ►  2021 (63)
    • ►  January 2021 (5)
    • ►  February 2021 (3)
    • ►  March 2021 (5)
    • ►  April 2021 (4)
    • ►  May 2021 (3)
    • ►  June 2021 (1)
    • ►  July 2021 (2)
    • ►  August 2021 (3)
    • ►  September 2021 (4)
    • ►  October 2021 (10)
    • ►  November 2021 (11)
    • ►  December 2021 (12)
  • ►  2022 (67)
    • ►  January 2022 (2)
    • ►  February 2022 (7)
    • ►  March 2022 (10)
    • ►  April 2022 (12)
    • ►  May 2022 (5)
    • ►  June 2022 (5)
    • ►  July 2022 (5)
    • ►  August 2022 (3)
    • ►  September 2022 (5)
    • ►  October 2022 (4)
    • ►  November 2022 (3)
    • ►  December 2022 (6)
  • ►  2023 (49)
    • ►  February 2023 (3)
    • ►  March 2023 (4)
    • ►  April 2023 (2)
    • ►  May 2023 (7)
    • ►  June 2023 (3)
    • ►  July 2023 (7)
    • ►  August 2023 (3)
    • ►  September 2023 (7)
    • ►  October 2023 (4)
    • ►  November 2023 (5)
    • ►  December 2023 (4)
  • ►  2024 (29)
    • ►  January 2024 (1)
    • ►  February 2024 (3)
    • ►  March 2024 (8)
    • ►  April 2024 (2)
    • ►  May 2024 (1)
    • ►  June 2024 (5)
    • ►  July 2024 (2)
    • ►  August 2024 (2)
    • ►  September 2024 (3)
    • ►  October 2024 (1)
    • ►  November 2024 (1)
  • ►  2025 (39)
    • ►  January 2025 (4)
    • ►  February 2025 (3)
    • ►  March 2025 (1)
    • ►  April 2025 (1)
    • ►  May 2025 (2)
    • ►  June 2025 (8)
    • ►  July 2025 (10)
    • ►  August 2025 (7)
    • ►  September 2025 (1)
    • ►  October 2025 (1)
    • ►  December 2025 (1)
  • ▼  2026 (4)
    • ►  January 2026 (1)
    • ►  March 2026 (1)
    • ▼  April 2026 (2)
      • Beauty is Pain? Ini Pengalaman Pertama Saya HIFU &...
      • Bukan Salahmu, Tapi Ini 6 Kesalahan Keuangan yang ...

Contact Form

Name

Email *

Message *

Member of

Member of
Seedbacklink



Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates