Bijak Menggunakan Obat

H ampir semua orang pernah mengkonsumsi obat. Ada yang sekadar dikonsumsi saat benar-benar saki...


Hampir semua orang pernah mengkonsumsi obat. Ada yang sekadar dikonsumsi saat benar-benar sakit dan ada pula sebagian orang yang harus mengkonsumsi obat dalam jangka waktu tertentu. Bahkan ada juga beberapa orang terdekat saya makan obat udah kayak makan permen saja tanpa aturan. Memang pengaruhnya untuk tubuh tidak langsung kita rasakan sekarang tapi beberapa tahun yang akan datang. Coba kita perhatikan orang-orang yang beberapa tahun belakangan sering mengkonsumsi obat tanpa aturan pasti kita sering melihat atau mendengar dari cerita-cerita orang si ini sakit lever, si itu sakit ginjal dan sebagainya. Ini dampak dari kurang cermat nya kita tentang kegunaan obat itu sendiri.

Apa itu Obat?  Obat ialah suatu bahan atau paduan bahan-bahan yang dimaksudkan untuk digunakan dalam menetapkan diagnosis,mencegah,mengurangkan,menghilangkan,menyembuhkan penyakit atau gejala penyakit,luka atau kelainan badaniah dan rohaniah pada manusia atau hewan dan untuk memperelok atau memperindah badan atau bagian badan manusia. "Kep. MenKes RI No. 193/Kab/B.VII/71"

Pernahkah kita teliti dengan tanda lingkaran yang ada dikemasan obat?Atau setidak nya membaca beberapa keterangan yang ada dikemasan obat misal indikasi, komposisi, kontra indikasi. Tentunya tidak semua orang yang langsung ngeh dengan keterangan obat yang dikonsumsi apalagi kalau lagi merasakan sakit referensi yang di pakai cuma kata orang pakai obat ini tanpa menyadari belum tentu obat yang kita konsumsi kegunaannya sama. Seringkali kita tidak tahu kenapa obat yang satu bisa kita beli dengan bebas di apotek, sementara obat yang lain harus dengan resep dokter. Pada dasarnya semua golongan obat yang beredar di apotek memiliki golongan masing-masing. Ada golongan obat bebas, obat bebas terbatas dan obat keras.


Lingkaran hitam dengan latar hijau : Obat-obatan ini termasuk obat bebas. Artinya dapat diperoleh tanpa resep dokter dan bisa dibeli di apotek, pedagang eceran, atau toko obat.
Lingkaran hitam dengan latar biru
Obat ini termasuk obat bebas terbatas. Artinya obat ini bisa diperoleh tanpa resep dokter dan dapat dibeli di apotek, pedagang eceran, atau toko obat, tapi harus memperhatikan informasi obat pada kemasan. Biasanya obat yang masuk dalam golongan ini disertai dengan peringatan yang diberi latar belakang hitam dengan tulisan :
P. No. 1 Awas! Obat keras, bacalah aturan pakainya!
P. No. 2 Awas! Obat keras. Hanya untuk dikumur, jangan ditelan
P. No. 3 Awas! Obat keras. Hanya untuk bagian luar badan
P. No. 4 Awas! Obat keras. Hanya untuk dibakar
P. No. 5 Awas! Obat keras. Tidak boleh ditelan
P. No. 6 Awas! Obat keras. Obat wasir, jangan ditelan.
Lingkaran hitam dengan latar berwarna merah dan huruf K berwarna hitam : Obat-obatan ini termasuk obat keras. Tidak dijual bebas. Untuk memperolehnya harus dengan resep dokter dan memperhatikan aturan tertentu. Biasanya dengan tulisan besar yang berbunyi : Harus dengan resep dokter.
Saya sangat senang ketika dapat mengikuti Sosialisasi Pencanangan Gerakan Masyarakat Cerdas Menggunakan Obat (GeMa CerMat) Pada Stake Holder tanggal 27 November 2015 yang dibuka secara resmi oleh Menteri Kesehatan Republik Indonesia Prof. Dr. Dr Nila Djuwita F. Moeloek, SpM (K). Dalam sambutannya Mentri Kesehatan sangat mengharapkan partisipasi seluruh komponen masyarakat untuk mendukung GeMa CerMat. Tanpa dukungan dari seluruh pihak Kemenkes mengatakan akan sulit terwujudnya gerakan ini. Kegiatan yang dilakukan salah satu nya Edukasi Masyarakat Tentang Penggunaan Obat Dengan Metode CBIA.


Apa itu CBIA?  CBIA adalah Cara Belajar Insan Aktif merupakan suatu metode yang dipakai untuk mengedukasi masyarakat dalam menggunakan obat. Metode CBIA ini mengutamakan swamedikasi yaitu upaya yang dilakukan masyarakat untuk mengatasi keluhan atau gejala penyakit, sebelum memutuskan mencari pertolongan ke fasilitas layanan kesehatan. Lebih dari 60% masyarakat melakukan swamedikasi dan lebih dari 80% diantarnaya mengandalkan obat modern. CBIA ini sangat efektif dilakukan bisa di komunitas, sambil kopi darat dengan teman-teman,tempat pengajian, arisan dan sebagainya. CBIA ini bukan sebagai penyuluhan tetapi self learning, dengan belajar sendiri justru tingkat kepuasan tinggi, juga bertujuan menumbuhkan sikap dan mengubah perilaku.

Dalam kegiatan CBIA ini setiap peserta diharapkan nantinya mampu memahami informasi obat yang diperoleh dari kemasan/package insert nya, mengenali berbagai nama dagang obat yang sebenarnya mempunyai kadungan yang sama atau hampir sama, mencari informasi mengenai kandungan bahan aktif, indikasi,cara pemakaian, efek samping dan kontra indikasi, menelaah informasi obat secara kritis.

Beberapa informasi obat yang wajib kita ketahui:
  • Komposisi : merupakan informasi tentang zat aktif yang terkandung di dalam sediaan obat. komposisi dapat berupa zat tunggal (contoh: parasetamol, vitamin C) dan kombinasi dari berbagai macam zat aktif dan bahan tambahan lain (contoh: obat flu - fenilpropanolamin + klorfeniramin maleat + parasetamol + salisilamid)
  • Indikasi : merupakan informasi mengenai khasiat obat. Contoh parasetamol memiliki indikasi/khasiat sebagai penurun panas dan penghilang rasa sakit.
  • Aturan Pakai : merupakan informasi mengenai cara penggunaan obat, yang meliputi waktu dan berapa kali obat tersebut digunakan dalam sehari. Contoh: - 2 x 1 tablet/kapsul/sendok takar ini berarti di minum setiap 12jam sekali, -3 x 1 tablet/kapsul/sendok takar berarti obat diminum setiap 8 jam sekali.
  • Waktu minum obat: obat harus diminum sesuai dengan waktu terapi terbaik. Misal : vitamin, diuretik di minum pagi hari, antikolesterol (simvastatin), anticemas (alprazolam) diminum malam hari, obat maag (antasida) dan obat anti mual diminum 1/2-1 jam sebelum makan, obat diabetes (glimepiride) dikonsumsi bersama dengan makanan, obat penghilang rasa sakit (asam mefenamat) dikonsumsi segera setelah makan sampai dengan 1/2-1jam sesudah makan.
  • Efek samping adalah efek obat yang merugikan dan tidak diharapkan yang terjadi karena penggunaan obat pada dosis yang dianjurkan.
  • Kontra Indikasi yaitu kondisi tertentu yang menyebabkan penggunaan obat tersebut tidak dianjurkan atau dilarang karena dapat meningkatkan risiko terhadap pasien. Contoh: penderita dengan gangguan hati yang berat tidak boleh minum parasetamol, ibu hamil tidak dan menyusui tidak  boleh minum obat cacing, penderita dengan gangguan jantung dan ginjal.
  • Nomor Izin Edar (NIE) atau Nomor Registrasi yaitu tanda yang menunjukkan obat telah mendapatkan izin dari pemerintah untuk diedarkan di Indonesia sehingga obat dijamin aman, berkhasiat dan bermutu.
  • Expired Date/masa kadaluarsa yaitu waktu yang menunjukkan batas akhir obat masih berkhasiat dan aman digunakan. Penulisan dapat berupa tanggal,bulan, tahun atau hanya bulan dan tahun.
K e t i k a  A n t i b i o t i k  S u d a h  
T i d a k  B e r g u n a

Setelah kegiatan simulasi CBIA selesai dilanjutkan talkshow dengan narasumber Dr. Hari Paraton, SpOG selaku Ketua Komita Pengendalian Resistensi Antimikroba (KPRA). Dr. Hari memaparkan mengenai antibiotik. Antibiotik sudah diproduksi kira-kira tahun 1940an dimana pada saat itu antibiotik mampu menyembuhkan miliaran manusia. Antibiotik gunanya membunuh bakteri atau bio (sesuatu yang hidup) di tubuh kita. Bakteri ada 2 jenis yaitu :
  1. Bakteri baik ( Normal Flora) berguna untuk:
    • Memecah protein
    • Mencerna makanan
    • Stimulasi pembentukan antibodi
    • Menghambat pertumbuhan bakteri jahat dan jamur
    • Membentuk vitamin B dan vitamin K
  2. Bakteri Jahat (Phatogen) : bakteri jahat memakan dan merusak sel dalam tubuh. 
Salah satu jenis bakteri jahat yang paling sulit dibunuh adalah Acinetobacter bakteri ini termasuk kuman yang paling resisten. Bahkan bakteri ini menyebabkan kematian meningkat. Permasalahan resistensi antimikroba ini telah menjadi permasalahan sangat serius di tingkat global, dan menjadi salah satu tantangan terbesar dunia kesehatan. Di Indonesia sendiri potensi kematian yang diakibatkan sekitar 150rb penduduk/ tahun. Sebenarnya penyebab utama kejadian resistensi adalah karena penggunaan antibiotik yang tidak bijak baik pada manusia dan hewan. Pada hewan contohnya pada daging ayam potong didalam daging ayam 40% mengandung antibiotik, susu sapi dan telur juga didapati residu antibiotik.
Resistensi antibiotik menyebabkan penurunan kemampuan antibiotik dalam mengobati infeksi dan penyakit pada manusia. Sejak tahun 2000 tidak ada lagi jenis antibiotik yang baru jadi sampai sekarang masih menggunakan antibiotik seadanya. Akibat penurunan kemampuan antibiotik pengobatan akan menjadi lebih sulit dan membutuhkan biaya yang tinggi.Resistensi antimikroba menyebabkan kerugian baik dari segi kesehatan maupun ekonomi.
Menurut Dr. Hari terjadinya resistensi antibiotik ini, bisa disebabkan oleh banyak hal. Namun, yang paling sering terjadi  adalah konsumsi antibiotik yang tidak bijak dan berlebihan. Jadi kalau tidak perlu minum antibiotik JANGAN DIMINUM ini untuk mencegah terjadinya resistensi. Kemudian Dr. Hari menghimbau agar jangan membeli antibiotik secara bebas tanpa mengetahui indikasi. 
Penyakit-penyakit akibat infeksi kuman dan bakteri, seperti typhus, disentri karena amuba itu diobati dengan antibiotik. Tapi kalau akibat virus, seperti batuk dan pilek tidak usah karena batuk merupakan mekanisme tubuh refleks mengeluarkan karena dahak yang tersimpan jadi sebaiknya jangan minum obat batuk, kalau minum obat batuk justru akan menghentikan dan menyebabkan bakteri tertinggal didalam tubuh. Tumor juga bukan infeksi jadi tidak perlu antibiotik kata Dr. Hari. Penyakit akibat virus cukup diatasi dengan parasetamol atau dibiarkan hingga sembuh tidak usah antibiotik karena nanti malah terjadi proses inisiasi kuman yang resisten terhadap obat di dalam tubuh.
Mendengar penjelasan Dr. Hari saya sangat bersyukur jujur saja selama ini saya paling tidak sabar dengan batuk, penyakit yang satu ini kadang bikin gak nyaman. Bayangin aja lagi di tempat umum uhuk uhuk, lagi enak tidur uhuk uhuk kesalnya minta ampun ya langsung di basmi dengan obat batuk ternyata kita minum obat batuk bakteri nya happy happy di dalam tubuh.
Yuk kita mulai menggunakan obat dan antibiotik yang bijak , jangan lupa untuk mencuci tangan sesering mungkin gunanya mencegah penyebaran bakteri resisten dari pasien yang sudah terinfeksi.





You Might Also Like

8 komentar

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Waah.. bagus sekali, Mas/Pak.

    Lengkap dan informatif. Semoga bisa semakin membantu masyarakat ya.
    Terima kasih sudah datang dan berbagi. Keep it up.

    Salam,
    Nelly

    BalasHapus
  3. Ijin untuk share di fanpage Cerdas Gunakan Obat dan akun Fb GeMa CerMat ya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. siaap ibu dengan senang hati ..saya justru bersyukur sudah mendapat kesempatan ikutan CBIA jadi nambah pengetahuan, terima kasih juga khususnya kpd ibu nelly nih yang udh memandu kita para blogger selama acara :-)

      Hapus
    2. Sama-sama Mbak. Saya juga seneng banget, gak sia-sia ngundang blogger. Ilmunya dapat banget dan bisa dibagi ke masyarakat luas.
      Bahkan ada yang buat video di you tube segala. Kami sangat mengapresiasi semuanya. Terima kasih sekali lagi krn sudah mendukung upaya mencerdaskan masyarakat ya.

      Hapus
  4. TFS mbak :)
    ternyata obat bisa menjadi racun jika tidak digunakan dengan baik yah..

    BalasHapus
    Balasan
    1. benar mbak Irawati Hamid..dengan pemakaian yang kurang tepat justru akan menimbulkan efek yang lebih besar

      Hapus