Pages

  • Home

travel beauty

Keberlanjutan Lingkungan
Menginspirasi Lewat Konten Positif di Danone Community Engagement Day 2022

Saat ini pengguna internet semakin meningkat dan semakin banyak pula yang berkecimpung menjadi content creator. Apa itu content creator? Well, teman-teman yang belum tau content creator adalah orang yang membuat karya dalam sebuah konten dan menyebarkannya ke sosial media dengan tujuan memberikan manfaat kepada orang lain. Nah, konten apa saja yang bisa bermanfaat agar memotivasi dan menginspirasi orang-orang yang membaca ataupun melihat? Tentu saja konten positif yang bisa menggerakkan orang lain menjadi lebih baik. 


Ngomongin konten yang bermanfaat, 1 September 2022 lalu Danone Indonesia mengadakan Danone Community Engagement Day 2022. Ini merupakan salah satu program yang mempertemukan seluruh angkatan Danone Academy dan dilakukan secara online melalui Zoom. Kegiatan yang diberi nama KIAT (Kelas Intensif Membuat Konten) ini beneran ilmu daging bagi saya dan teman-teman konten kreator lain yakni Bloggers dan Vloggers. Danone Indonesia mengadakan acara ini dengan harapan agar para content creator kedepannya bisa membuat konten yang terkait dengan isu keberlanjutan lingkungan dan masyarakat.


Keberlanjutan Lingkungan
Content creator diharapakan bisa mengajak masyarakat pentingnya penerapan kehidupan berkelanjutan dalam dunia bisnis dan kehidupan sehari-hari

Tema yang diangkat dalam KIAT di #DanoneCommunityEngagementDay2022 adalah “Mengenal Penerapan Bisnis Berkelanjutan untuk Indonesia Lestari”, menghadirkan Content Creator Gerald Vincent, Agriculture Manager Danone Indonesia, Budi Rahardjo; Downstream Packaging Manager Danone Indonesia, Annie Wahyuni. 


Keberlanjutan Lingkungan
Narasumber


Danone Community Engagement Day 2022 benar-benar seru! Selain dapat banyak ilmu dan insight dari para narasumber juga jadi semakin bertambah pula keinginan untuk bikin konten-konten positif mengenai pentingnya kesadaran dan kepedulian tentang keberlanjutan lingkungan. Saya ingat banget yang dikatakan Pak Budi Rahardjo kalau saat ini banyak orang bertanam atau bertani tapi tidak merawat dan menjaga ekosistem, masih menggunakan asupan kimiawi berlebih, masih menanam dengan sistem monokultur tidak beraneka ragam. Pak Budi berpesan sebaiknya saat ini kita memanfaatkan lahan dan menanaminya dengan beraneka ragam tanaman. Maka dari itu Danone Indonesia menerapkan prinsip-prinsip Regenerative Agriculture, yakni sebuah gerakan paradigma pertanian dan praktek bertanam.


Prinsip-Prinsip Regenerative Agriculture:

  1. Minim Olah Lahan. Pengolahan lahan yang dilakukan seperlunya saja sesuai kebutuhan tanam, karena pengolahan tanah berlebihan bisa mematikan microorganisme, melepas kandungan C dalam tanah, juga makan biaya.

  2. Soil Protection (Konservasi Tanah). Memakai pupuk organik bisa dengan membuat pupuk sendiri, terasering, strip planting, dll.

  3. Melindungi Air. Kawasan pertanian menjadi kawasan resapan air.

  4. Meningkatkan Biodiversitas. Budidaya beragam tanaman pada suatu kawasan akan menjadikan kawasan pertanian menjadi ekosistem alam yang potensial mendatangkan income bagi para petani.

  5. Keterpaduan Pertanian dan Peternakan. Praktek penggembalaan yang baik akan memicu perbaikan pertumbuhan tanaman, meningkatkan karbon dalam tanah, dan meningkatkan produktivitas lahan penggembalaan, meningkatkan kesuburan tanah dan keanekaragaman hayati.


Pertanian Berkelanjutan
Pentingnya penerapan pertanian berkelanjutan

Jujurly tanpa bermaksud pamer hehe beberapa bulan ini saya juga di rumah sudah mulai menerapkan menanam tanaman di sela-sela media tanam yang masih ada space. Misal di pot bunga besar di sela-selanya saya tanam daun kari yang termasuk susah didapat kalau lagi ke pasar. Kemudian di sekitar pohon mangga saya tanam jahe dan kunyit yang Alhamdulillah kalau mau masak atau bikin bandrek bisa langsung diambil. Ada juga tanaman sereh yang saya tanam di tanah bekas pohon jambu yang sudah mati. Tinggal buat kontennya nih lagi di edit pemirsah.


Pertanian Berkelanjutan
Memanfaatkan lahan di sekitar rumah

Berdasarkan data BPS tahun 2018, sektor di lingkungan untuk pengelolaan sampah dimana masyarakat paling tidak peduli. Masih banyak masyarakat yang belum bijak mengelola sampah rumahnya sendiri, seperti memisahkan mana sampah organik, sampah plastik, sampah kertas, sampah botol. Kita semua pasti tau lah ya gimana sampah rumah tangga. Banyak kemasan seperti kemasan minyak makan, shampo, sabun, botol plastik, dll. Penting sekali untuk kita peduli bahwa sampahku tanggung jawabku.


Danone mengajak masyarakat untuk berperan aktif dalam menciptakan ekonomi sirkular melalui gerakan #BijakBerplastik yang sudah dijalankan sejak 2018. Menurut Annie Wahyuni, untuk menjaga kesehatan masyarakat dibutuhkan fokus dari berbagai aspek. Nggak hanya aspek bahan pangan saja tapi juga kemasan yang ramah lingkungan dan aman bagi konsumen. Kemasan memiliki diperlukan untuk melindungi manfaat gizi dan kualitas produk Danone dan memungkinkan mereka untuk disimpan, diangkut, dan digunakan dengan aman. Maka dari itu Danone bekerja mendukung pergeseran sistemik dari linear ke ekonomi sirkular.


#BijakBerplastik
#BijakBerplastik

Selanjutnya materi yang paling saya tunggu-tunggu dari Gerald Vincent adalah bagaimana menjadi content creator yang bermanfaat dan tetap konsisten. Gerald sendiri ternyata pernah sampai 9 bulan kehabisan ide membuat konten dan sama sekali tak ada pemasukan alias penghasilan dari kontennya. Dari sini Gerald menyentil para content creator bahwa inti dari membuat konten adalah value. So, sampai saat ini masih terngiang-ngiang quotenya Gerald “Jadilah content creator yang memiliki value bukan hanya mengejar kekayaan semata”. 


Konten Positif
Jadi catatan banget nih!

Semoga ya kita semua bisa jadi content creator yang bisa menyampaikan konten yang bermanfaat dan menjadi inspirasi bagi orang lain untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat pula. Contohnya menginspirasi masyarakat untuk peduli hidup berkelanjutan baik untuk lingkungan maupun masyarakat itu sendiri. 








Share
Tweet
Pin
Share
2 Comments

Mengikuti Virtual Press Conference "Making The World A Better Home" Bersama Saint-Gobain 

K
amis, 25 Februari 2021 saya mengikuti virtual Press Conference "Making The World A Better Home" yang diadakan oleh Saint-Gobain. Teman-teman yang sering pakai produk-produk nya pasti sudah tau banget dan nggak asing kalau saya sebut Saint-Gobain. Ya, Saint-Gobain Group adalah korporasi internasional dari Perancis yang telah berdiri lebih dari 350 tahun dan merupakan pemimpin dunia di bidang produk konstruksi yang mengedepankan solusi inovatif untuk menyediakan produk yang peduli dan ramah lingkungan. 


Akhir-akhir ini saya kerap menulis artikel seputar lingkungan terutama pembahasan untuk Kehidupan Berkelanjutan. Selain sebagai informasi kepada pembaca blog saya, juga sebagai pengingat diri bahwa bumi semakin kritis. Kita semua harus lebih meningkatkan kepedulian lewat berbagai aksi. Termasuk membagikan informasi bagaimana kepedulian Saint-Gobain untuk Konstruksi Berkelanjutan. 


Press Conference Multi Comfort Student Contest (MCSC) 

Latar belakang Press Conference ini diadakan sebagai informasi bahwa Saint-Gobain telah mengadakan Multi Comfort Student Contest (MCSC). MCSC adalah kompetisi desain arsitektur internasional yang didasarkan pada prinsip-prinsip Program Multi Comfort Saint-Gobain yang bertujuan mengajak para generasi muda bergerak bersama melalui inovasi desain arsitektur. Kompetisi ini diadakan sebagai wujud komitmen Saint-Gobain untuk terus mendukung peran pemuda dalam mendorong konstruksi berkelanjutan (sustainable construction) dan mewujudkan dunia sebagai tempat yang nyaman untuk ditinggali (making the world a better home). 


Program Multi Comfort Saint-Gobain 

Kompetisi MCSC pertama kali diadakan tahun 2004 oleh Saint-Gobain Isover di Serbia dan menjadi kontes arsitektur internasional sejak tahun 2005, persis setahun setelahnya. Sampai saat ini MCSC telah diikuti lebih dari 2.200 siswa di 35 negara. Dan tahun ini Indonesia akan mengirimkan wakilnya juga. Seleksi diadakan mulai 1 Maret - 15 Desember 2020 diikuti 84 partisipan dari berbagai universitas di Indonesia. Para peserta harus melewati seleksi dan penjurian ketat untuk bisa ikut ke ajang internasional. Para juri yang terdiri dari beberapa arsitek kenamaan Indonesia memilih “Re(Bond)ir”, karya mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) sebagai pemenang pertama. Pemenang nasional ini akan mewakili Indonesia ke ajang Internasional Perancis yang direncanakan pada 9-12 Juni 2021.


Pemenang Nasional yang Akan Mewakili Indonesia di Ajang Internasional di Perancis 

Pemenang dari berbagai negara akan mendesain proyek revitalisasi di Saint-Denis, Perancis yang nantinya akan menggunakan produk-produk Saint-Gobain Group. Melalui MCSC, proses inovasi yang berkelanjutan dengan produk Saint-Gobain harapannya dapat memberikan performa dan keamanan sekaligus menjawab tantangan konstruksi yang berkelanjutan, efisiensi sumber daya serta perubahan iklim. 


Menurut Ivana Ijaya, Managing Director Saint-Gobain Indonesia inisiatif yang telah dilakukan Saint-Gobain untuk mendukung konstruksi berkelanjutan merupakan komitmen global yang menjadi DNA perusahaan. Saint-Gobain adalah perusahaan internasional dan multi-lokal yang terintegrasi penuh ke dalam wilayah tempat Saint-Gobain beroperasi untuk mendukung vitalitas bersama dengan semua pemangku kepentingan untuk membantu  mewujudkan dunia yang lebih adil dan lebih berkelanjutan. 


Para Peserta Press Conference dan Narasumber 

Salut deh dengan inisiatif dan inovasi Saint-Gobain. Apalagi Sejak tahun 2015 Saint-Gobain sudah memiliki target ambisi dimana sampai tahun 2025 berusaha mengurangi emisi karbon 20%, mengurangi pemakaian air / menghemat pemakaian air  sampai dengan 80%, dan non recovered waste 50%. Semoga tujuan Saint-Gobain menjadikan dunia lebih indah dan nyaman tercapai. Dan semoga menginspirasi para arsitek untuk menciptakan Sustainable Construction. 


Kita sudah rasakan bersama bagaimana dampak perubahan iklim saat ini. Bencana alam dimana-mana, kebakaran hutan, banjir, tanah longsor, dll. Sebenarnya dengan terjadinya Climate Change menjadi tantangan bagi kita semua bagaimana agar kehidupan kita terus berkelanjutan.





Share
Tweet
Pin
Share
19 Comments

Guys, pernah dengar istilah Circular Economy nggak? Jujur nih saya baru tau istilah ini saat mengikuti SCG Welcoming Circular 2020 Rabu, 22 Januari lalu di The Kasablanka. Ternyata Circular Economy atau konsep ekonomi sirkular merupakan sebuah solusi demi menciptakan kehidupan berkelanjutan (sustainable) untuk masa depan yang lebih baik. 


SCG (Siam Cement Group) Indonesia sebagai perusahaan konglomerasi Indonesia mengajak kita semua termasuk semua pemangku kepentingan untuk berbuat nyata dan saling berkolaborasi. Tujuannya untuk mewujudkan kehidupan berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari dan mempraktekkan langsung konsep ekonomi sirkular. Intinya SCG ingin semua masyarakat sadar dan peduli dengan selalu berperilaku sirkular. Dengan cara memanfaatkan sebesar-besarnya sumber daya dan menekan jumlah sampah atau limbah. 


Memang sih semua orang teriak masalah sampah, tapi apa yang sudah kita lakukan untuk mengurai dan mengurangi sampah juga limbah? Harus dimulai dari SEKARANG mempraktekkan konsep ekonomi sirkular ini. Yups, konsep make - use - return. Circular Economy bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dengan prinsip 5R yakni:


  1. Reduce: mengurangi penggunaan bahan baku dari alam
  2. Reuse: mengoptimalisasi penggunaan bahan yang dapat digunakan kembali.
  3. Recycle: menggunakan hasil dari proses daur ulang
  4. Recovery: proses pemulihan
  5. Repair atau Refurbished: melakukan perbaikan
Sebenarnya kalau praktek recycle, reuse, dll, sudah sering saya dengar dan beberapa kali saya praktekkan untuk lingkungan kecil saja alias dalam rumah. Seperti menggunakan cup bekas ngopi jadi pot tanaman, pakaian yang udah nggak dipakai dibuat jadi keset kaki, memanfaatkan besek keranjang bekas beli makanan jadi tempat bumbu masak seperti bawang, dll, tapi nggak sampai kepada praktek ekonomi sirkular yang bernilai ekonomi, hehe! 


reusable cup bekas ngopi jadi pot tanaman


Di acara SCG Welcoming Circular 2020 kemarin, Presiden Direktur SCG Indonesia - Pathama Sirikul dalam sambutannya mengatakan bahwa Indonesia merupakan negara dengan populasi terbesar di ASEAN dan merupakan negara yang kuat dari sisi politik dan ekonomi. Jadi posisi Indonesia sangat strategis untuk menjadi negara pendorong praktek Circular Economy baik negara ASEAN maupun di dunia. 

Pathama Sirikul 

Sampah jangan cuma dianggap sampah, tapi Sumber Daya bagi yang lain. Konsep ekonomi sirkular melakukan resirkulasi daya dalam rantai nilai untuk meminimalkan penggunaan dan memaksimalkan manfaat sumber daya, produk, suku cadang, dan material untuk menciptakan sistem yang memungkinkan untuk masa pakai yang lama, penggunaan kembali yang optimal, perbaikan & remanufaktur, dan daur ulang. 


Ada yang menarik dari talkshow kemarin yang menghadirkan narasumber: Delicia Aprianne, Environmental Consultant PT SCG Indonesia, Afyan Cholil Asy'ari, Niravle Team, penerima beasiswa SCG  Sharing the Dream dan Dewi Kusmianti, Pelatih Project Niracle di desa Padasuka, Soreang, Bandung.


kiri-kanan: Ibu Dewi Kusmianti - Afyan Cholil Asy'ari - Delicia Aprianne 

Menurut Delicia Aprianne, SCG sendiri memulai konsep ekonomi sirkular dari lingkungan karyawannya sendiri. Dimulai dengan membentuk mindset para karyawan dengan konsep ekonomi sirkular melalui SCG Circular Way yang fokusnya pada peningkatan kesadaran untuk memaksimalkan sumber daya, mengurangi pemakaian plastik sekali pakai, dan mendorong agar karyawan menggunakan produk yang awet atau tahan lama.

Di SCG juga dibiasakan budaya mengolah limbah/sampah, dimana limbah atau sampah yang sudah di sortir bisa menjadi sesuatu yang bernilai dan menciptakan banyak manfaat. Memilah-milah mana sampah organik dan anorganik ketika membuangnya ke tempat sampah. Harapannya perilaku seperti menjadi terbiasa dan dibawa ke rumah dan lingkungan sekitar yang tentunya dapat memengaruhi orang lain untuk berbuat hal yang sama. 


Afyan adalah mahasiswa ITB yang berhasil meraih beasiswa dari SCG. Anyway, selama ini SCG Indonesia rutin memberikan beasiswa melalui program SCG Sharing the Dream pada pelajar SMA sederajat dan universitas yang ada di Indonesia. Program beasiswa ini sudah diadakan sejak tahun 2012. Sampai saat ini ada sekitar 2.072 pelajar yang sudah mendapatkan beasiswa. SCG berharap pelajar yang mendapatkan beasiswa kelak bisa menjadi agent of change. 

bunga yang dipegang Afyan adalah hasil daur ulang perca yang dikerjakan warga Padasuka 

Afyan bersama dengan teman mahasiswa lainnya membuat proyek sosial di Desa Padasuka, Soreang, Bandung. Di desa ini kebanyakan masyarakatnya bermata pencaharian sebagai pekerja konveksi rumahan. Kebayangkan kemana sisa hasil kain yang sudah dipotong atau percanya? Saking banyaknya perca-perca ini mereka bakar dan dibuang ke sungai. Udah bikin polusi udara ditambah lagi polusi aliran sungai.  Berlatar belakang inilah Afyan dan teman-temannya membentuk Team Niracle dan proyek mereka dinamakan Project Niracle. Mereka berinisiatuf mengedukasi warga untuk memanfaatkan limbah perca didaur ulang sehingga menghasilkan sesuatu yang bernilai. 


Salah satu bentuk beasiswa dari SCG adalah dengan menyediakan tenaga ahli untuk membantu melatih warga di Desa Padasuka. Dan Ibu Dewi Kusmianti lah yang berkesempatan menjadi pelatih. Menurut Bu Dewi sampah yang dulunya dibuang sekarang menjadi bernilai ekonomi buat warga sendiri, dan sampai saat ini Bu Dewi bersama dengan Team Niracle terus-menerus memberikan semangat kepada warga Desa Padasuka agar terus bergerak memperbaiki lingkungan dan memperbaiki ekonomi. 

workshop membuat tassel dari sisa potongan kain

Sebelum acara berakhir, saya dan teman-teman juga mendapat kesempatan mengikuti workshop bersama Nike Prima dan Miranti, Founder LivingLoving.net membuat kreasi gantungan berupa tassel untuk tas dengan manfaatkan sisa kain.


kiri-kanan: Nike Prima - Miranti 

Kelihatannya agak ribet membuatnya padahal asik dan nagih pengen buat yang lebih bagus lagi, hehe! Lumayan banget, saya jadi dapat inspirasi dan ide untuk membuat aneka kerajinan lainnya dengan memanfaatkan pakaian bekas di rumah yang sudah tidak terpakai.

yeaay.. ini dia hasilnya, tassel bisa digantung di tas 

Oh ya, acara SCG Welcoming Circular 2020 ini merupakan awal atau penanda akan diadakannya SCG Sustainable Development (SD) Symposium Indonesia 2020: Circular Economy, Collaboration for Action yang akan digelar 22 Februari mendatang. Forum pertemuan para pemimpin global ini adakah pertama kalinya diadakan di Indonesia. Semoga forum pertemuan nanti sekaligus menjalin kolaborasi untuk mewujudkan praktek ekonomi sirkular dalam kehidupan sehari-hari. Dan semoga kita semua bisa jadi agen perubahan minimal di lingkungan kita sendiri, bersyukur lagi kalau bisa jadi pengaruh atau contoh untuk orang lain. 





Share
Tweet
Pin
Share
16 Comments
Older Posts

Hello! I’m Tuty Queen

Hello! I’m Tuty Queen

Follow Me

  • instagram
  • facebook
  • twitter
  • pinterest

Cara Mudah Membuat eBook di Canva

Cara Mudah Membuat eBook di Canva

Seedbacklink

Seedbacklink affiliate

Design Anti Ribet Cuma Pakai Canva

Design Anti Ribet Cuma Pakai Canva

Total Pageviews

Categories

  • Asuransi
  • Canva
  • Dompet Dhuafa
  • Film
  • Food
  • Lingkungan
  • NPD
  • Sport
  • aplikasi
  • beauty
  • ekonomi
  • fashion
  • finance
  • halal lifestyle
  • health
  • hotel
  • kuliner
  • lifestyle
  • teknologi digital

Blog Archive

  • ►  2014 (6)
    • ►  November 2014 (6)
  • ►  2015 (37)
    • ►  March 2015 (1)
    • ►  May 2015 (3)
    • ►  June 2015 (5)
    • ►  October 2015 (3)
    • ►  November 2015 (7)
    • ►  December 2015 (18)
  • ►  2016 (167)
    • ►  January 2016 (11)
    • ►  February 2016 (16)
    • ►  March 2016 (21)
    • ►  April 2016 (15)
    • ►  May 2016 (11)
    • ►  June 2016 (16)
    • ►  July 2016 (6)
    • ►  August 2016 (7)
    • ►  September 2016 (10)
    • ►  October 2016 (20)
    • ►  November 2016 (18)
    • ►  December 2016 (16)
  • ►  2017 (176)
    • ►  January 2017 (12)
    • ►  February 2017 (14)
    • ►  March 2017 (11)
    • ►  April 2017 (16)
    • ►  May 2017 (14)
    • ►  June 2017 (14)
    • ►  July 2017 (6)
    • ►  August 2017 (21)
    • ►  September 2017 (10)
    • ►  October 2017 (20)
    • ►  November 2017 (15)
    • ►  December 2017 (23)
  • ►  2018 (171)
    • ►  January 2018 (9)
    • ►  February 2018 (13)
    • ►  March 2018 (17)
    • ►  April 2018 (18)
    • ►  May 2018 (16)
    • ►  June 2018 (9)
    • ►  July 2018 (6)
    • ►  August 2018 (18)
    • ►  September 2018 (13)
    • ►  October 2018 (17)
    • ►  November 2018 (13)
    • ►  December 2018 (22)
  • ►  2019 (108)
    • ►  January 2019 (11)
    • ►  February 2019 (3)
    • ►  March 2019 (5)
    • ►  April 2019 (1)
    • ►  May 2019 (13)
    • ►  June 2019 (6)
    • ►  July 2019 (11)
    • ►  August 2019 (17)
    • ►  September 2019 (10)
    • ►  October 2019 (10)
    • ►  November 2019 (11)
    • ►  December 2019 (10)
  • ►  2020 (64)
    • ►  January 2020 (6)
    • ►  February 2020 (8)
    • ►  March 2020 (8)
    • ►  April 2020 (5)
    • ►  May 2020 (6)
    • ►  June 2020 (1)
    • ►  July 2020 (4)
    • ►  August 2020 (12)
    • ►  September 2020 (5)
    • ►  October 2020 (2)
    • ►  November 2020 (3)
    • ►  December 2020 (4)
  • ►  2021 (63)
    • ►  January 2021 (5)
    • ►  February 2021 (3)
    • ►  March 2021 (5)
    • ►  April 2021 (4)
    • ►  May 2021 (3)
    • ►  June 2021 (1)
    • ►  July 2021 (2)
    • ►  August 2021 (3)
    • ►  September 2021 (4)
    • ►  October 2021 (10)
    • ►  November 2021 (11)
    • ►  December 2021 (12)
  • ►  2022 (67)
    • ►  January 2022 (2)
    • ►  February 2022 (7)
    • ►  March 2022 (10)
    • ►  April 2022 (12)
    • ►  May 2022 (5)
    • ►  June 2022 (5)
    • ►  July 2022 (5)
    • ►  August 2022 (3)
    • ►  September 2022 (5)
    • ►  October 2022 (4)
    • ►  November 2022 (3)
    • ►  December 2022 (6)
  • ►  2023 (49)
    • ►  February 2023 (3)
    • ►  March 2023 (4)
    • ►  April 2023 (2)
    • ►  May 2023 (7)
    • ►  June 2023 (3)
    • ►  July 2023 (7)
    • ►  August 2023 (3)
    • ►  September 2023 (7)
    • ►  October 2023 (4)
    • ►  November 2023 (5)
    • ►  December 2023 (4)
  • ►  2024 (29)
    • ►  January 2024 (1)
    • ►  February 2024 (3)
    • ►  March 2024 (8)
    • ►  April 2024 (2)
    • ►  May 2024 (1)
    • ►  June 2024 (5)
    • ►  July 2024 (2)
    • ►  August 2024 (2)
    • ►  September 2024 (3)
    • ►  October 2024 (1)
    • ►  November 2024 (1)
  • ►  2025 (39)
    • ►  January 2025 (4)
    • ►  February 2025 (3)
    • ►  March 2025 (1)
    • ►  April 2025 (1)
    • ►  May 2025 (2)
    • ►  June 2025 (8)
    • ►  July 2025 (10)
    • ►  August 2025 (7)
    • ►  September 2025 (1)
    • ►  October 2025 (1)
    • ►  December 2025 (1)
  • ▼  2026 (12)
    • ►  January 2026 (1)
    • ►  March 2026 (1)
    • ►  April 2026 (2)
    • ►  June 2026 (2)
    • ►  August 2026 (2)
    • ►  September 2026 (2)
    • ▼  October 2026 (2)
      • Mengenal Skin Longevity Lewat 5 Protokol Wardah Sk...
      • Kenapa Harus Belajar Bahasa Inggris? Ini Manfaatny...

Contact Form

Name

Email *

Message *

Member of

Member of
Seedbacklink



Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates