Pages

  • Home

travel beauty

Ekonomi Sirkular Indonesia
Cara Bank Sampah Induk Bersinar Membangun Ekonomi Sirkular Indonesia
Coba ingat-ingat, jam berapa terakhir kali kamu membuang sampah pagi ini? Mungkin sisa kulit bawang, bungkus kopi sachet, atau botol plastik bekas air mineral. Kita melakukannya nyaris tanpa pikir panjang lempar ke tempat sampah, ikat plastiknya, taruh di depan rumah, selesai. Habis urusan. Padahal, kebiasaan kecil ini justru titik awal dari sesuatu yang jauh lebih besar: ekonomi sirkular Indonesia.

Saya sendiri setiap Kamis dan Minggu pagi mengumpulkan sampah rumah untuk dikutip petugas kebersihan RT komplek rumah.  Kadang saya pun kerap bergumam, ke mana sebenarnya sampah itu pergi? Dan yang lebih penting, apa jadinya kalau ternyata sampah yang kita anggap “selesai urusan” itu justru baru memulai perjalanan menjadi sesuatu yang jauh lebih berharga?

Pertanyaan itu yang menggerakkan saya untuk menulis tentang apa yang sedang dibangun oleh Bank Sampah Induk Bersinar di Bandung. Sebuah gerakan yang menurut saya layak jadi contoh nyata bagaimana ekonomi sirkular Indonesia bisa tumbuh bukan dari kebijakan di atas kertas, tapi dari kebiasaan sehari-hari di rumah tangga.

Dari Tabungan Sampah ke Gerakan Pemberdayaan Masyarakat

Ekonomi Sirkular Indonesia
Menabung Sampah Jadi Uang di Bank Sampah Induk Bersinar (foto: Bank Sampah Induk Bersinar)

Berdiri sejak 2014, Bank Sampah Induk Bersinar awalnya barangkali terdengar sederhana: tempat warga menabung sampah, lalu ditukar jadi uang. Konsep semacam ini sudah cukup umum di banyak daerah. Tapi yang membuat saya tertarik menuliskan ini adalah bagaimana Yayasan Solusi Bersinar Indonesia (YSBI), di bawah kepemimpinan Indari Mastuti, mengubah cara pandang terhadap bank sampah itu sendiri.

Sampah, dalam pandangan mereka, bukan lagi masalah yang harus dibuang secepatnya, melainkan sumber daya yang bisa menggerakkan banyak hal sekaligus: ekonomi keluarga, pendidikan lingkungan, ketahanan pangan, sampai pemberdayaan masyarakat di level akar rumput. Ini bukan cuma soal bank sampah sebagai tempat transaksi, tapi sebagai titik masuk untuk membangun kesadaran kolektif tentang pengelolaan sampah berbasis masyarakat. 

Ekonomi Sirkular Indonesia
Sudah 547 BSU yang Bergabung dalam Jaringan Yayasan Solusi Bersinar Indonesia (foto: Bank Sampah Induk Bersinar)

Dan buktinya bukan cuma wacana. Sampai pertengahan 2026, sudah ada 547 Bank Sampah Unit (BSU) yang bergabung dalam jaringan ini, tersebar di berbagai wilayah Kabupaten dan Kota Bandung. Targetnya makin ambisius: 1.000 BSU aktif. Bayangkan, itu berarti seribu titik di mana warga biasa bukan korporasi besar, bukan pemerintah pusat jadi motor penggerak perubahan.

Oxbow: Kalau Ekonomi Sirkular Punya Ruang Kelas

Bagian yang paling menarik perhatian saya justru rencana jangka panjangnya: kawasan Oxbow di Kabupaten Bandung yang disiapkan menjadi semacam “ruang kelas raksasa” untuk ekonomi sirkular Indonesia. Saya menyebutnya begitu karena konsepnya memang mirip laboratorium hidup tempat orang bisa datang, melihat langsung, dan belajar bagaimana sampah diproses dari titik penerimaan sampai jadi produk baru.

Ekonomi Sirkular Indonesia
Ada Ruang untuk Edukasi Lingkungan dan Pelatihan Warga dalam Mengelola Sampah (foto:Bbank Sampah Induk Bersinar)

Yang membuatnya makin lengkap, kawasan ini tidak berdiri sendiri. Ada tiga elemen yang saling mengunci: Bank Sampah Induk Bersinar sebagai pusat pengelolaan sampah, Local Education sebagai ruang edukasi lingkungan dan pelatihan warga, serta Lumbung Mandiri yang mengolah sisa organik menjadi kompos, pakan ternak, hingga produk pertanian bernilai tambah. Alurnya jadi utuh dari sampah rumah tangga, diproses, lalu kembali lagi ke masyarakat sebagai sampah bernilai ekonomi dalam bentuk yang sama sekali baru.

Konsep ini juga tidak muncul dari ruang hampa. Tim YSBI sempat belajar langsung ke Living Lab Telkom University untuk melihat bagaimana kawasan pendidikan, riset, dan pengabdian masyarakat bisa berjalan beriringan. Menurut saya, langkah ini penting, banyak inisiatif sosial berhenti di semangat baik tanpa mau belajar dari model yang sudah teruji lebih dulu.

Sekolah: Titik Awal yang Sering Terlewat

Satu hal yang menurut saya paling strategis dari gerakan ini adalah masuknya edukasi lingkungan ke sekolah-sekolah. Kita sering berpikir isu sampah itu urusan orang dewasa, padahal kebiasaan memilah sampah dan memahami konsep ekonomi sirkular jauh lebih mudah tertanam kalau dimulai sejak anak-anak masih duduk di bangku sekolah.

Ekonomi Sirkular Indonesia
Anak-anak Harus Dibiasakan Memilah Sampah Sejak Kecil, Karena Sampah Bukan Hanya Urusan Orang Dewasa (foto: Bank Sampah Induk Bersinar)

Rencana membentuk Bank Sampah Unit Sekolah bukan sekadar program tempelan. Kalau berjalan konsisten, sekolah bisa jadi pusat edukasi sekaligus contoh nyata bagi lingkungan sekitarnya. Anak-anak yang terbiasa memilah sampah sejak kecil, besar kemungkinan akan membawa kebiasaan itu pulang ke rumah masing-masing dan pada akhirnya menular ke orang tua mereka juga.

Kolaborasi Lima Arah: Karena Sampah Bukan PR Satu Pihak

YSBI juga menginisiasi apa yang mereka sebut Pentahelix Indonesia Bersinar, yakni kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan media. Gerakan ini merupakan bagian dari upaya membangun Ekonomi Sirkular Indonesia melalui Pentahelix Indonesia Bersinar. Saya pribadi sepakat dengan pendekatan ini. Persoalan sampah di Indonesia terlalu besar untuk diselesaikan satu pihak saja. Butuh regulasi dari pemerintah, riset dari kampus, investasi dari dunia usaha, gerakan dari komunitas, dan penyebaran informasi dari media. Semuanya berjalan bersamaan, bukan sendiri-sendiri.

Jadi, Mulai dari Mana?

Kalau ditanya apa yang bisa kita ambil dari cerita Bank Sampah Induk Bersinar ini, jawabannya sederhana: ekonomi sirkular Indonesia tidak harus dimulai dari proyek besar bernilai miliaran rupiah. Ia bisa dimulai dari kebiasaan memilah sampah organik dan anorganik di dapur rumahmu sendiri, dari keputusan untuk ikut bank sampah di lingkungan RT, atau sekadar mulai bertanya: “sampah ini sebenarnya bisa jadi apa, ya, kalau tidak langsung dibuang?”

Bank Sampah Induk Bersinar sudah membuktikan bahwa dari 547 unit kecil, bisa lahir gerakan pemberdayaan masyarakat yang menyasar ribuan rumah tangga. Dan mungkin, rumah kita bisa jadi salah satu titik berikutnya.





Share
Tweet
Pin
Share
20 Comments

Luminer Cetak 3D Signify 

Climate change. Musim sudah tak bisa di prediksi, bencana alam pun tak terbendung. Kebakaran hutan, banjir, tanah longsor, semuanya terjadi karena dampak perubahan iklim. Tugas kita semua penghuni bumi untuk menekan emisi gas kaca demi kehidupan berkelanjutan. Baik pemerintah, perusahaan, komunitas, maupun individu punya kewajiban yang sama.
 
Saat ini semua perusahaan di seluruh dunia diharapkan turut mengatasi pengurangan emisi gas rumah kaca, dan beberapa perusahaan sudah berkomitmen dengan ekonomi sirkular. Bahkan beberapa perusahaan juga sudah menerapkan green concepts. Yakni dengan mengelola penggunaan energi, mulai dari penggunaan air tanah agar lebih stabil, sirkulasi udara, penggunaan air tanah, material bangunan, penghematan pemakaian listrik, juga pengelolaan sampah. 

Salah satu perusahaan yang berpartisipasi dalam mengurangi emisi gas rumah kaca adalah Signify Indonesia, dengan kontribusinya menghadirkan Luminer Cetak 3D yang dapat mengurangi jejak karbon dan limbah material. Teman-teman sudah  familiar kan dengan Signify? Ini adalah nama perusahaan Philips Lighting saat ini. Nah, pasti teman-teman langsung teringat lampu Philips ya kan? 

Kontribusi Signify untuk Kehidupan Berkelanjutan dengan Menghadirkan Luminer Cetak 3D 

Kontribusi Signify untuk Kehidupan Berkelanjutan 
S
ignify adalah pemimpin dunia di bidang pencahayaan bagi para profesional dan konsumen serta pencahayaan untuk Internet of Things. Signify menjadi produsen pencahayaan besar pertama yang memproduksi Luminer Cetak 3D dalam skala industri. Produk ini menggunakan bahan baku polikarbonat yang 100% dapat didaur ulang, jadi Luminer bisa di desain sesuai kebutuhan pelanggan. 

Karena pada akhir pemakaian Luminer bisa didaur ulang, Signify dapat menggunakan kembali seluruh bahan baku. Keren nih jadi minim limbah. Ya, karena sudah menjadi komitmen Signify terhadap konsumsi dan produksi bertanggung jawab atau Sustainable Development Goal 12 (SDG12). Dimana produk-produk yang digunakan dapat dicetak ulang, diperbarui, digunakan kembali, atau didaur ulang. 

Menggunakan Luminer Cetak 3D Dukung Kehidupan Berkelanjutan dan Ekonomi Sirkular 

Luminer Cetak 3D Signify 
S
ebagai pengguna lampu hemat energi alias LED semakin komplit kalau kita juga menggunakan lampu gantung dengan cangkang dekoratif seperti Luminer Cetak 3D. Keren sih Luminer ini, kita bisa order sesuai dengan design yang kita inginkan alias bisa custom. Misal kita bisa custom warna, ukuran, juga bentuk yang disesuaikan dengan ruangan kita. 

Luminer Cetak 3D cocok banget nih untuk rumah bahkan perkantoran. Secara tidak langsung dengan menggunakan Luminer Cetak 3D kita turut menerapkan prinsip ekonomi sirkular yang menekankan prinsip daur ulang untuk membuat model bisnis yang berkelanjutan. Selain itu dengan menggunakan Luminer Cetak 3D kita juga ikut berkontribusi terhadap penurunan jejak karbon, lebih ramah lingkungan. 








Share
Tweet
Pin
Share
1 Comments

Guys, pernah dengar istilah Circular Economy nggak? Jujur nih saya baru tau istilah ini saat mengikuti SCG Welcoming Circular 2020 Rabu, 22 Januari lalu di The Kasablanka. Ternyata Circular Economy atau konsep ekonomi sirkular merupakan sebuah solusi demi menciptakan kehidupan berkelanjutan (sustainable) untuk masa depan yang lebih baik. 


SCG (Siam Cement Group) Indonesia sebagai perusahaan konglomerasi Indonesia mengajak kita semua termasuk semua pemangku kepentingan untuk berbuat nyata dan saling berkolaborasi. Tujuannya untuk mewujudkan kehidupan berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari dan mempraktekkan langsung konsep ekonomi sirkular. Intinya SCG ingin semua masyarakat sadar dan peduli dengan selalu berperilaku sirkular. Dengan cara memanfaatkan sebesar-besarnya sumber daya dan menekan jumlah sampah atau limbah. 


Memang sih semua orang teriak masalah sampah, tapi apa yang sudah kita lakukan untuk mengurai dan mengurangi sampah juga limbah? Harus dimulai dari SEKARANG mempraktekkan konsep ekonomi sirkular ini. Yups, konsep make - use - return. Circular Economy bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dengan prinsip 5R yakni:


  1. Reduce: mengurangi penggunaan bahan baku dari alam
  2. Reuse: mengoptimalisasi penggunaan bahan yang dapat digunakan kembali.
  3. Recycle: menggunakan hasil dari proses daur ulang
  4. Recovery: proses pemulihan
  5. Repair atau Refurbished: melakukan perbaikan
Sebenarnya kalau praktek recycle, reuse, dll, sudah sering saya dengar dan beberapa kali saya praktekkan untuk lingkungan kecil saja alias dalam rumah. Seperti menggunakan cup bekas ngopi jadi pot tanaman, pakaian yang udah nggak dipakai dibuat jadi keset kaki, memanfaatkan besek keranjang bekas beli makanan jadi tempat bumbu masak seperti bawang, dll, tapi nggak sampai kepada praktek ekonomi sirkular yang bernilai ekonomi, hehe! 


reusable cup bekas ngopi jadi pot tanaman


Di acara SCG Welcoming Circular 2020 kemarin, Presiden Direktur SCG Indonesia - Pathama Sirikul dalam sambutannya mengatakan bahwa Indonesia merupakan negara dengan populasi terbesar di ASEAN dan merupakan negara yang kuat dari sisi politik dan ekonomi. Jadi posisi Indonesia sangat strategis untuk menjadi negara pendorong praktek Circular Economy baik negara ASEAN maupun di dunia. 

Pathama Sirikul 

Sampah jangan cuma dianggap sampah, tapi Sumber Daya bagi yang lain. Konsep ekonomi sirkular melakukan resirkulasi daya dalam rantai nilai untuk meminimalkan penggunaan dan memaksimalkan manfaat sumber daya, produk, suku cadang, dan material untuk menciptakan sistem yang memungkinkan untuk masa pakai yang lama, penggunaan kembali yang optimal, perbaikan & remanufaktur, dan daur ulang. 


Ada yang menarik dari talkshow kemarin yang menghadirkan narasumber: Delicia Aprianne, Environmental Consultant PT SCG Indonesia, Afyan Cholil Asy'ari, Niravle Team, penerima beasiswa SCG  Sharing the Dream dan Dewi Kusmianti, Pelatih Project Niracle di desa Padasuka, Soreang, Bandung.


kiri-kanan: Ibu Dewi Kusmianti - Afyan Cholil Asy'ari - Delicia Aprianne 

Menurut Delicia Aprianne, SCG sendiri memulai konsep ekonomi sirkular dari lingkungan karyawannya sendiri. Dimulai dengan membentuk mindset para karyawan dengan konsep ekonomi sirkular melalui SCG Circular Way yang fokusnya pada peningkatan kesadaran untuk memaksimalkan sumber daya, mengurangi pemakaian plastik sekali pakai, dan mendorong agar karyawan menggunakan produk yang awet atau tahan lama.

Di SCG juga dibiasakan budaya mengolah limbah/sampah, dimana limbah atau sampah yang sudah di sortir bisa menjadi sesuatu yang bernilai dan menciptakan banyak manfaat. Memilah-milah mana sampah organik dan anorganik ketika membuangnya ke tempat sampah. Harapannya perilaku seperti menjadi terbiasa dan dibawa ke rumah dan lingkungan sekitar yang tentunya dapat memengaruhi orang lain untuk berbuat hal yang sama. 


Afyan adalah mahasiswa ITB yang berhasil meraih beasiswa dari SCG. Anyway, selama ini SCG Indonesia rutin memberikan beasiswa melalui program SCG Sharing the Dream pada pelajar SMA sederajat dan universitas yang ada di Indonesia. Program beasiswa ini sudah diadakan sejak tahun 2012. Sampai saat ini ada sekitar 2.072 pelajar yang sudah mendapatkan beasiswa. SCG berharap pelajar yang mendapatkan beasiswa kelak bisa menjadi agent of change. 

bunga yang dipegang Afyan adalah hasil daur ulang perca yang dikerjakan warga Padasuka 

Afyan bersama dengan teman mahasiswa lainnya membuat proyek sosial di Desa Padasuka, Soreang, Bandung. Di desa ini kebanyakan masyarakatnya bermata pencaharian sebagai pekerja konveksi rumahan. Kebayangkan kemana sisa hasil kain yang sudah dipotong atau percanya? Saking banyaknya perca-perca ini mereka bakar dan dibuang ke sungai. Udah bikin polusi udara ditambah lagi polusi aliran sungai.  Berlatar belakang inilah Afyan dan teman-temannya membentuk Team Niracle dan proyek mereka dinamakan Project Niracle. Mereka berinisiatuf mengedukasi warga untuk memanfaatkan limbah perca didaur ulang sehingga menghasilkan sesuatu yang bernilai. 


Salah satu bentuk beasiswa dari SCG adalah dengan menyediakan tenaga ahli untuk membantu melatih warga di Desa Padasuka. Dan Ibu Dewi Kusmianti lah yang berkesempatan menjadi pelatih. Menurut Bu Dewi sampah yang dulunya dibuang sekarang menjadi bernilai ekonomi buat warga sendiri, dan sampai saat ini Bu Dewi bersama dengan Team Niracle terus-menerus memberikan semangat kepada warga Desa Padasuka agar terus bergerak memperbaiki lingkungan dan memperbaiki ekonomi. 

workshop membuat tassel dari sisa potongan kain

Sebelum acara berakhir, saya dan teman-teman juga mendapat kesempatan mengikuti workshop bersama Nike Prima dan Miranti, Founder LivingLoving.net membuat kreasi gantungan berupa tassel untuk tas dengan manfaatkan sisa kain.


kiri-kanan: Nike Prima - Miranti 

Kelihatannya agak ribet membuatnya padahal asik dan nagih pengen buat yang lebih bagus lagi, hehe! Lumayan banget, saya jadi dapat inspirasi dan ide untuk membuat aneka kerajinan lainnya dengan memanfaatkan pakaian bekas di rumah yang sudah tidak terpakai.

yeaay.. ini dia hasilnya, tassel bisa digantung di tas 

Oh ya, acara SCG Welcoming Circular 2020 ini merupakan awal atau penanda akan diadakannya SCG Sustainable Development (SD) Symposium Indonesia 2020: Circular Economy, Collaboration for Action yang akan digelar 22 Februari mendatang. Forum pertemuan para pemimpin global ini adakah pertama kalinya diadakan di Indonesia. Semoga forum pertemuan nanti sekaligus menjalin kolaborasi untuk mewujudkan praktek ekonomi sirkular dalam kehidupan sehari-hari. Dan semoga kita semua bisa jadi agen perubahan minimal di lingkungan kita sendiri, bersyukur lagi kalau bisa jadi pengaruh atau contoh untuk orang lain. 





Share
Tweet
Pin
Share
16 Comments
Older Posts

Hello! I’m Tuty Queen

Hello! I’m Tuty Queen

Follow Me

  • instagram
  • facebook
  • twitter
  • pinterest

Cara Mudah Membuat eBook di Canva

Cara Mudah Membuat eBook di Canva

Seedbacklink

Seedbacklink affiliate

Design Anti Ribet Cuma Pakai Canva

Design Anti Ribet Cuma Pakai Canva

Total Pageviews

Categories

  • Asuransi
  • Canva
  • Dompet Dhuafa
  • Film
  • Food
  • Lingkungan
  • NPD
  • Sport
  • aplikasi
  • beauty
  • ekonomi
  • fashion
  • finance
  • halal lifestyle
  • health
  • hotel
  • kuliner
  • lifestyle
  • teknologi digital

Blog Archive

  • ►  2014 (6)
    • ►  November 2014 (6)
  • ►  2015 (37)
    • ►  March 2015 (1)
    • ►  May 2015 (3)
    • ►  June 2015 (5)
    • ►  October 2015 (3)
    • ►  November 2015 (7)
    • ►  December 2015 (18)
  • ►  2016 (167)
    • ►  January 2016 (11)
    • ►  February 2016 (16)
    • ►  March 2016 (21)
    • ►  April 2016 (15)
    • ►  May 2016 (11)
    • ►  June 2016 (16)
    • ►  July 2016 (6)
    • ►  August 2016 (7)
    • ►  September 2016 (10)
    • ►  October 2016 (20)
    • ►  November 2016 (18)
    • ►  December 2016 (16)
  • ►  2017 (176)
    • ►  January 2017 (12)
    • ►  February 2017 (14)
    • ►  March 2017 (11)
    • ►  April 2017 (16)
    • ►  May 2017 (14)
    • ►  June 2017 (14)
    • ►  July 2017 (6)
    • ►  August 2017 (21)
    • ►  September 2017 (10)
    • ►  October 2017 (20)
    • ►  November 2017 (15)
    • ►  December 2017 (23)
  • ►  2018 (171)
    • ►  January 2018 (9)
    • ►  February 2018 (13)
    • ►  March 2018 (17)
    • ►  April 2018 (18)
    • ►  May 2018 (16)
    • ►  June 2018 (9)
    • ►  July 2018 (6)
    • ►  August 2018 (18)
    • ►  September 2018 (13)
    • ►  October 2018 (17)
    • ►  November 2018 (13)
    • ►  December 2018 (22)
  • ►  2019 (108)
    • ►  January 2019 (11)
    • ►  February 2019 (3)
    • ►  March 2019 (5)
    • ►  April 2019 (1)
    • ►  May 2019 (13)
    • ►  June 2019 (6)
    • ►  July 2019 (11)
    • ►  August 2019 (17)
    • ►  September 2019 (10)
    • ►  October 2019 (10)
    • ►  November 2019 (11)
    • ►  December 2019 (10)
  • ►  2020 (64)
    • ►  January 2020 (6)
    • ►  February 2020 (8)
    • ►  March 2020 (8)
    • ►  April 2020 (5)
    • ►  May 2020 (6)
    • ►  June 2020 (1)
    • ►  July 2020 (4)
    • ►  August 2020 (12)
    • ►  September 2020 (5)
    • ►  October 2020 (2)
    • ►  November 2020 (3)
    • ►  December 2020 (4)
  • ►  2021 (63)
    • ►  January 2021 (5)
    • ►  February 2021 (3)
    • ►  March 2021 (5)
    • ►  April 2021 (4)
    • ►  May 2021 (3)
    • ►  June 2021 (1)
    • ►  July 2021 (2)
    • ►  August 2021 (3)
    • ►  September 2021 (4)
    • ►  October 2021 (10)
    • ►  November 2021 (11)
    • ►  December 2021 (12)
  • ►  2022 (67)
    • ►  January 2022 (2)
    • ►  February 2022 (7)
    • ►  March 2022 (10)
    • ►  April 2022 (12)
    • ►  May 2022 (5)
    • ►  June 2022 (5)
    • ►  July 2022 (5)
    • ►  August 2022 (3)
    • ►  September 2022 (5)
    • ►  October 2022 (4)
    • ►  November 2022 (3)
    • ►  December 2022 (6)
  • ►  2023 (49)
    • ►  February 2023 (3)
    • ►  March 2023 (4)
    • ►  April 2023 (2)
    • ►  May 2023 (7)
    • ►  June 2023 (3)
    • ►  July 2023 (7)
    • ►  August 2023 (3)
    • ►  September 2023 (7)
    • ►  October 2023 (4)
    • ►  November 2023 (5)
    • ►  December 2023 (4)
  • ►  2024 (29)
    • ►  January 2024 (1)
    • ►  February 2024 (3)
    • ►  March 2024 (8)
    • ►  April 2024 (2)
    • ►  May 2024 (1)
    • ►  June 2024 (5)
    • ►  July 2024 (2)
    • ►  August 2024 (2)
    • ►  September 2024 (3)
    • ►  October 2024 (1)
    • ►  November 2024 (1)
  • ►  2025 (39)
    • ►  January 2025 (4)
    • ►  February 2025 (3)
    • ►  March 2025 (1)
    • ►  April 2025 (1)
    • ►  May 2025 (2)
    • ►  June 2025 (8)
    • ►  July 2025 (10)
    • ►  August 2025 (7)
    • ►  September 2025 (1)
    • ►  October 2025 (1)
    • ►  December 2025 (1)
  • ▼  2026 (12)
    • ►  January 2026 (1)
    • ►  March 2026 (1)
    • ►  April 2026 (2)
    • ►  June 2026 (2)
    • ►  August 2026 (2)
    • ►  September 2026 (2)
    • ▼  October 2026 (2)
      • Mengenal Skin Longevity Lewat 5 Protokol Wardah Sk...
      • Kenapa Harus Belajar Bahasa Inggris? Ini Manfaatny...

Contact Form

Name

Email *

Message *

Member of

Member of
Seedbacklink



Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates