Pages

  • Home

travel beauty

Personal Presence
Personal Presence

Pernah nggak sih, bertemu seseorang untuk pertama kalinya dan langsung terasa... nyaman? Bukan karena dia cantik, populer, atau berbicara banyak. Tapi ada sesuatu yang membuat kita berpikir, "Orang ini enak diajak ngobrol. Saya senang ketemu dia."

Sebaliknya, saya juga pernah ketemu orang yang sangat pintar, berpengalaman, bahkan berprestasi luar biasa. Tapi entah kenapa, setiap kali interact dengan mereka, saya malah merasa tegang. Bukan karena mereka jahat, cuma ada energi yang nggak klik.

Nah, dari pengalaman-pengalaman kayak gini, saya kerap bertanya pada diri sendiri, "kok bisa ya, emang bedanya apa sih?"  Jawabannya ternyata ada di satu konsep yang sering diabaikan, yakni personal presence.

Presence Bukan Sekadar Cantik atau Pintar

Rabu, 12 Agustus 2026 saya mengikuti workshop yang diadakan oleh Komunitas ISB dengan tema The Power of Presence: Building Confidence Through Personal Grooming and Effective Communication. Workshop diadakan di Nutrihub Jakarta menghadirkan narasumber Mam Dr. Elke Alexandrina dan Mam Latifa Ramonita, M. I. Kom, di moderatori oleh Teh Ani Berta selaku founder Komunitas ISB.  

Personal Branding
Teh Ani Berta (tengah) dan para narasumber 
Personal presence bukan tentang penampilan fisik atau gelar yang kita punya. Kalo itu sih, semua orang cantik, pintar, dan berprestasi udah bisa otomatis membuat orang nyaman. Padahal nggak, kan?

Personal presence adalah kombinasi dari empat hal: gimana kita tampil, gimana kita bersikap, gimana kita berkomunikasi, dan yang paling penting gimana orang lain merasa waktu interact sama kita.

Konsep ini saya dapati dari materi "The Power of Presence" oleh Dr. Elke Alexandrina, M.Sc., yang menjelaskan bagaimana presence adalah perpaduan sempurna antara appearance, attitude, communication, dan confidence.

Dr. Elke Alexandrina
Dr. Elke Alexandrina, M.Sc - Lecturer Of LSPR
Itu dia bedanya. Bukan cuma tentang kita, tapi tentang mereka, dan apa yang mereka rasakan. Konsep ini jadi semakin relevan di era sekarang, karena presence kita nggak cuma ada di dunia nyata. Sebelum bertemu kita secara langsung, orang udah bisa "berkenalan" dengan kita melalui Instagram, LinkedIn, blog, TikTok, atau platform digital lainnya. 

Jadi presence itu sebenarnya... seperti aura yang kita bawa kemana-mana, baik offline maupun online.

Percaya Diri Dimulai dari Clarity, Tahu Apa yang Mau Kita Sampaikan

Banyak orang mengira confident itu berarti berbicara banyak, tidak terlihat gugup, atau selalu punya jawaban untuk setiap pertanyaan. Seperti personality type yang tegas, vocal, dan selalu "on". Honestly? Itu pemahaman yang terlalu sempit.

Saya suka banget dengan materi Mam Latifa yang melihat confidence dari sudut pandang lain, yaitu: clarity, preparation, dan presence.

Clarity berarti kita tahu persis apa yang mau disampaikan. Apa pesan utamanya. Siapa yang mendengarkan. Dan kenapa mereka perlu peduli. Preparation berarti kita udah siap untuk itu. Dan presence berarti kita benar-benar hadir dalam percakapan itu, nggak cuma fisik, tapi mental dan emosional.

Coba tanya diri sendiri sebelum nulis konten atau berbicara:
- Apa pesan utama saya?
- Siapa yang akan mendengarkan?
- Dan kenapa mereka perlu pedulii? 
Tiga pertanyaan ini mencakup apa yang sebut 3C of Confident Communication: Content, Context, dan Connection.

Personal Branding
Suasana workshop di Nutrihub Jakarta 
Bagian yang paling menarik buat saya adalah "connection" . Karena komunikasi bukan hanya tentang apa yang kita katakan. Tapi juga tentang apakah orang lain punya alasan untuk mendengarkan kita. Misalnya, saat saya membuat konten di Instagram atau blog. Saya punya banyak hal yang pengen dibagikan. Tapi kalau semuanya cuma berkutar pada "saya, saya, saya", lama-lama followers juga akan kehilangan alasan untuk stay. Di situ personal branding bermain peran.

Personal Branding Bukan Tentang Self-Promotion

Personal branding itu sering disalahpahami sebagai "terus-menerus promote diri", "showcase achievement setiap hari", atau "create a perfect persona yang sebenarnya bukan kita." Tapi nggak, sih.

Personal branding lebih sederhana dari itu. Ini tentang:
- Apa yang kita perjuangkan
- Apa yang kita ketahui
- Apa yang kita pedulikan
- Bagaimana kita komunikasikan semua itu kepada orang lain

Kalau harus dijelaskan personal branding dengan bahasa paling sederhana, personal branding adalah alasan mengapa orang mengingat kita. Dan alasan itu nggak perlu berupa profesi atau pencapaian gemilang. Bisa karena cara kita berbagi ilmu, cara kita bercerita, sudut pandang unik kita, humor kita, atau bahkan cara kita membuat orang merasa didengarkan. Itu lebih powerful dari seribu achievement yang kita post.

Jangan Takut Bercerita dengan Cara yang Manusiawi

Saya notice bahwa orang nggak selalu terhubung dengan sesuatu yang sempurna. Justru kita lebih mudah relate dengan cerita yang manusiawi yang punya pengalaman nyata, emosi yang genuine, dan pembelajaran yang bisa dibawa pulang.

Jadi waktu kita bikin konten, jangan selalu nunggu cerita yang "wah" atau extraordinary. Pengalaman sederhana bisa menjadi cerita. Kegagalan bisa menjadi cerita. Hal yang dulu kita anggap sepele bisa menjadi pembelajaran yang valuable. Yang penting adalah: apa yang bisa orang pelajari dari cerita itu?

Saat bikin caption atau menulis artikel,  ciba pakai struktur ini:

Hook → Value → Personal Touch → Call-to-Action

Jadi daripada buka dengan:
"Hari ini saya ingin bercerita tentang..."

Lebih baik mulai dengan sesuatu yang bikin orang penasaran:
- Sebuah pertanyaan yang relatable
- Sebuah pengakuan yang mengena
- Sebuah pernyataan yang kontras
- Sebuah pelajaran yang unexpected

Contohnya:
"Saya terlihat produktif. Tapi sebenarnya..."

Satu kalimat aja orang udah pengen tahu lanjutannya, kan?

Presence Bukan Hanya Tentang Kata-Kata, Ini Tentang Apa yang Orang Rasakan

Bayangkan gini: kita udah punya pesan yang bagus, kita tahu siapa audiens kita, kita juga udah belajar storytelling yang menarik. Tapi saat berbicara, kita terlalu cepat, jarang kontak mata, postur tubuh tertutup, atau sibuk memikirkan apa yang mau dikatakan sampai lupa mendengarkan. Pesan yang bagus apapun bisa kehilangan kekuatannya.

Kenapa? Karena komunikasi nggak terjadi cuma lewat kata-kata. Cara kita berdiri, cara kita melihat orang lain, ekspresi wajah, gesture tangan, bahkan nada suara kita semuanya ikut menyampaikan pesan.

Body language sering berbicara lebih dulu daripada mulut kita.

Latifa Ramonita
Latifa Ramonita, M.I.Kom - Lecturer Of LSPR
Saya sendiri merasa yang dipaparkan Mam Latifa ini sangat relevant, terutama saat berbicara di depan orang lain. Kita sering takut ada "jeda" dalam berbicara karena khawatir orang akan berpikir kita nggak tahu apa yang mau dikatakan.

Padahal? Berbicara sedikit lebih lambat, mengambil napas, kemudian melanjutkan itu sebenarnya membuat pesan terdengar lebih jelas dan lebih percaya diri.

Kemampuan Mendengarkan Sama Pentingnya Seperti Berbicara

Ada satu hal yang kadang sering terlupakan, yakni kemampuan mendengarkan. Kita terlalu sibuk ingin terlihat menarik, ingin poin kita didengar, ingin kesan yang bagus sampai lupa bahwa membuat orang lain merasa didengar itu jauh lebih berkesan.

Waktu kita mendengarkan dengan penuh perhatian, tidak memotong percakapan, dan memberikan respons yang menunjukkan bahwa kita benar-benar memahami lawan bicara kita sebenarnya kita sedang membangun sesuatu yang sangat berharga: rasa dihargai dan dipercaya. Itu adalah foundation dari presence yang kuat.

4 Pilar yang Sebenarnya Membentuk Presence Kita

Kalau saya ringkas, personal presence itu dibangun dari empat pilar. Dan interestingnya, keempat pilar ini saling berkaitan bukan berdiri sendiri.

1. Purpose (Tujuan)

Kita perlu tahu siapa diri kita, nilai apa yang kita bawa, dan apa tujuan dari setiap interaksi. Ini adalah fondasi. Orang bisa merasakan kalau kita tahu arah kita.

2. Presentation (Presentasi)

Bagaimana kita menampilkan diri sesuai dengan situasi termasuk bagaimana kita merawat diri, memilih pakaian, postur, dan penampilan keseluruhan. Ini bukan tentang mahal atau fashionable, tapi tentang terlihat rapi, sesuai konteks, dan menunjukkan bahwa kita menghargai diri sendiri dan orang lain.

Saya pribadi percaya bahwa personal grooming adalah bentuk penghargaan. Kita merawat diri bukan hanya untuk aesthetic, tapi karena kita respect sama orang yang akan kita temui.

Cukup tanya: "Hari ini saya akan bertemu siapa? Berada di situasi apa? Dan apa kesan yang ingin saya tinggalkan?"

3. Personality (Kepribadian)

Karakter yang kita tunjukkan kepada dunia. Apakah kita autentik, ramah, sopan, empati, dan menghargai orang lain? Ini yang membuat orang betah dengan kita.

4. Powerful Communication (Komunikasi yang Kuat)

Kemampuan menyampaikan pesan dengan jelas, percaya diri, dan mau mendengarkan. Ini bukan tentang menjadi orator yang hebat. Ini tentang bisa menyampaikan apa yang penting dengan cara yang bisa dimengerti dan dirasakan orang lain.

Kalau dipikir-pikir, keempat pilar ini saling support. Kita bisa berpakaian sangat rapi dan fashionable, tapi kalau cara berbicara kita membuat orang nggak nyaman, presence tetap akan terasa kurang. Atau sebaliknya kita mungkin nggak pakai designer outfit, tapi ketika hadir dengan percaya diri, ramah, mampu mendengarkan, dan tahu apa yang ingin disampaikan, orang bisa merasakan energi positif dari kita.

Presence yang kuat bukan tentang kesempurnaan. Ini tentang konsistensi dan authenticity.

Digital Presence: Aura Kita di Dunia Online

Sekarang, sebelum bertemu seseorang secara langsung, kita udah bisa melihat Instagram mereka, membaca LinkedIn mereka, menonton video mereka, atau baca artikel yang pernah mereka tulis. Artinya, digital presence bisa menjadi pertemuan pertama kita dengan seseorang. Ini penting banget! 

Sebagaimana dijelaskan dalam materi "Effective Communication & Digital Presence" oleh Mam Latifa Ramonita, M. I. Kom., digital presence terbentuk dari apa yang kita katakan, apa yang kita tunjukkan, apa yang kita bagikan, dan bagaimana kita berinteraksi dengan orang lain.

Feed media sosial kita sebenarnya bukan sekadar kumpulan foto dan video random. Caption yang kita tulis, komentar yang kita berikan, cara kita merespons orang lain, topik yang sering kita bahas, bahkan hal-hal yang sengaja kita tidak bagikan, semuanya ikut membentuk persepsi orang terhadap siapa kita.

Personal branding dan personal presence di dunia online dan offline harus punya benang merah yang sama. Bukan berarti semuanya harus terlihat sempurna atau kita harus become someone else.

Justru sebaliknya. Kita hanya perlu tanya sama diri:
- Apa yang ingin saya dikenal karena hal itu?
- Cerita apa yang ingin saya bagikan?
- Nilai apa yang ingin saya bawa?
- Bagaimana saya ingin orang merasa setelah berinteraksi dengan saya?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini akan membentuk cara kita share di social media, cara kita respond ke comments, dan content yang kita buat. 

Confidence Bukan Bawaan Tapi Dibangun

Terakhir, yang paling saya ingat pesan dari oara narasumber: kita nggak harus menjadi orang yang paling percaya diri, paling cantik, paling populer, atau paling sempurna untuk memiliki presence yang kuat.

Confidence bukan sesuatu yang tiba-tiba muncul. Ini dibangun dari:
- Persiapan yang matang
- Latihan berkali-kali
- Keberhasilan-keberhasilan kecil
- Lalu perlahan-lahan, kita semakin berani mencoba hal yang lebih besar

Setiap kali kita berhasil berkomunikasi dengan jelas, setiap kali orang merasa didengarkan oleh kita, setiap kali kita hadir dengan autentik itu adalah brick yang membangun confidence kita. Dan presence yang kuat adalah hasil akumulasi dari brick-brick tersebut.

Nutrihub Jakarta, Community Space yang Mendukung Kegiatan Workshop Personal Presence 

Nutrihub Jakarta adalah community space dari Nutrifood yang dirancang untuk para creator, entrepreneur, dan siapa aja yang punya ide seru untuk dikembangkan bareng. Lokasinya di Jalan Gandaria V dengan fasilitas yang modern dan nyaman, mulai dari pencahayaan bagus, workspace yang spacious, sampai area buat meeting atau podcast recording. Yang paling enak? Kalo kamu ngadain event atau workshop di sini, pihak Nutrihub menyediakan free refreshments dari produk-produk mereka yang berkualitas. Jadi peserta kamu bisa enjoy acara sambil mencoba produk sehat dari Nutrifood.

Nutrifood
Dian Kartika, Area Marketing Executive PT. Nutrifood Indonesia 
Di kesempatan yang sama hadir mba Dian Kartika, Area Marketing Executive PT. Nutrifood Indonesia, yang membedah berbagai mitos seputar kesehatan sekaligus menjelaskan bagaimana Nutrifood berkomitmen dalam mengedukasi masyarakat tentang pentingnya gaya hidup sehat dan asupan nutrisi yang tepat.

Kesimpulannya

Pada akhirnya, presence bukan tentang membuat orang berkata, "Wah, orang ini luar biasa hebat." Presence yang sesungguhnya adalah ketika setelah bertemu atau berinteraksi dengan kita, orang pulang dengan perasaan: "Saya senang pernah bertemu dengannya." Itu dia. Cukup itu. Itu sudah lebih dari cukup.

Di situlah sebenarnya kekuatan sebuah presence bukan pada achievement-nya, tapi pada bagaimana kita membuat orang lain merasa dihargai.

Nutrihub Jakarta
Foto bareng narasumber dan peserta workshop di Nutrihub Jakarta 

Terima kasih banget kepada narasumber yang telah berbagi insights yang mendalam tentang personal presence dan komunikasi digital. Artikel ini adalah interpretasi personal dan pengembangan dari konsep-konsep yang telah saya pelajari, dengan harapan dapat memberikan manfaat kepada teman-teman yang membaca blog saya. 

Bagaimana dengan kamu? Apa yang ingin orang ingat tentang dirimu? Share di kolom komentar, yuk!







 









Share
Tweet
Pin
Share
No Comments

Ekonomi Sirkular Indonesia
Cara Bank Sampah Induk Bersinar Membangun Ekonomi Sirkular Indonesia
Coba ingat-ingat, jam berapa terakhir kali kamu membuang sampah pagi ini? Mungkin sisa kulit bawang, bungkus kopi sachet, atau botol plastik bekas air mineral. Kita melakukannya nyaris tanpa pikir panjang lempar ke tempat sampah, ikat plastiknya, taruh di depan rumah, selesai. Habis urusan. Padahal, kebiasaan kecil ini justru titik awal dari sesuatu yang jauh lebih besar: ekonomi sirkular Indonesia.

Saya sendiri setiap Kamis dan Minggu pagi mengumpulkan sampah rumah untuk dikutip petugas kebersihan RT komplek rumah.  Kadang saya pun kerap bergumam, ke mana sebenarnya sampah itu pergi? Dan yang lebih penting, apa jadinya kalau ternyata sampah yang kita anggap “selesai urusan” itu justru baru memulai perjalanan menjadi sesuatu yang jauh lebih berharga?

Pertanyaan itu yang menggerakkan saya untuk menulis tentang apa yang sedang dibangun oleh Bank Sampah Induk Bersinar di Bandung. Sebuah gerakan yang menurut saya layak jadi contoh nyata bagaimana ekonomi sirkular Indonesia bisa tumbuh bukan dari kebijakan di atas kertas, tapi dari kebiasaan sehari-hari di rumah tangga.

Dari Tabungan Sampah ke Gerakan Pemberdayaan Masyarakat

Ekonomi Sirkular Indonesia
Menabung Sampah Jadi Uang di Bank Sampah Induk Bersinar (foto: Bank Sampah Induk Bersinar)

Berdiri sejak 2014, Bank Sampah Induk Bersinar awalnya barangkali terdengar sederhana: tempat warga menabung sampah, lalu ditukar jadi uang. Konsep semacam ini sudah cukup umum di banyak daerah. Tapi yang membuat saya tertarik menuliskan ini adalah bagaimana Yayasan Solusi Bersinar Indonesia (YSBI), di bawah kepemimpinan Indari Mastuti, mengubah cara pandang terhadap bank sampah itu sendiri.

Sampah, dalam pandangan mereka, bukan lagi masalah yang harus dibuang secepatnya, melainkan sumber daya yang bisa menggerakkan banyak hal sekaligus: ekonomi keluarga, pendidikan lingkungan, ketahanan pangan, sampai pemberdayaan masyarakat di level akar rumput. Ini bukan cuma soal bank sampah sebagai tempat transaksi, tapi sebagai titik masuk untuk membangun kesadaran kolektif tentang pengelolaan sampah berbasis masyarakat. 

Ekonomi Sirkular Indonesia
Sudah 547 BSU yang Bergabung dalam Jaringan Yayasan Solusi Bersinar Indonesia (foto: Bank Sampah Induk Bersinar)

Dan buktinya bukan cuma wacana. Sampai pertengahan 2026, sudah ada 547 Bank Sampah Unit (BSU) yang bergabung dalam jaringan ini, tersebar di berbagai wilayah Kabupaten dan Kota Bandung. Targetnya makin ambisius: 1.000 BSU aktif. Bayangkan, itu berarti seribu titik di mana warga biasa bukan korporasi besar, bukan pemerintah pusat jadi motor penggerak perubahan.

Oxbow: Kalau Ekonomi Sirkular Punya Ruang Kelas

Bagian yang paling menarik perhatian saya justru rencana jangka panjangnya: kawasan Oxbow di Kabupaten Bandung yang disiapkan menjadi semacam “ruang kelas raksasa” untuk ekonomi sirkular Indonesia. Saya menyebutnya begitu karena konsepnya memang mirip laboratorium hidup tempat orang bisa datang, melihat langsung, dan belajar bagaimana sampah diproses dari titik penerimaan sampai jadi produk baru.

Ekonomi Sirkular Indonesia
Ada Ruang untuk Edukasi Lingkungan dan Pelatihan Warga dalam Mengelola Sampah (foto:Bbank Sampah Induk Bersinar)

Yang membuatnya makin lengkap, kawasan ini tidak berdiri sendiri. Ada tiga elemen yang saling mengunci: Bank Sampah Induk Bersinar sebagai pusat pengelolaan sampah, Local Education sebagai ruang edukasi lingkungan dan pelatihan warga, serta Lumbung Mandiri yang mengolah sisa organik menjadi kompos, pakan ternak, hingga produk pertanian bernilai tambah. Alurnya jadi utuh dari sampah rumah tangga, diproses, lalu kembali lagi ke masyarakat sebagai sampah bernilai ekonomi dalam bentuk yang sama sekali baru.

Konsep ini juga tidak muncul dari ruang hampa. Tim YSBI sempat belajar langsung ke Living Lab Telkom University untuk melihat bagaimana kawasan pendidikan, riset, dan pengabdian masyarakat bisa berjalan beriringan. Menurut saya, langkah ini penting, banyak inisiatif sosial berhenti di semangat baik tanpa mau belajar dari model yang sudah teruji lebih dulu.

Sekolah: Titik Awal yang Sering Terlewat

Satu hal yang menurut saya paling strategis dari gerakan ini adalah masuknya edukasi lingkungan ke sekolah-sekolah. Kita sering berpikir isu sampah itu urusan orang dewasa, padahal kebiasaan memilah sampah dan memahami konsep ekonomi sirkular jauh lebih mudah tertanam kalau dimulai sejak anak-anak masih duduk di bangku sekolah.

Ekonomi Sirkular Indonesia
Anak-anak Harus Dibiasakan Memilah Sampah Sejak Kecil, Karena Sampah Bukan Hanya Urusan Orang Dewasa (foto: Bank Sampah Induk Bersinar)

Rencana membentuk Bank Sampah Unit Sekolah bukan sekadar program tempelan. Kalau berjalan konsisten, sekolah bisa jadi pusat edukasi sekaligus contoh nyata bagi lingkungan sekitarnya. Anak-anak yang terbiasa memilah sampah sejak kecil, besar kemungkinan akan membawa kebiasaan itu pulang ke rumah masing-masing dan pada akhirnya menular ke orang tua mereka juga.

Kolaborasi Lima Arah: Karena Sampah Bukan PR Satu Pihak

YSBI juga menginisiasi apa yang mereka sebut Pentahelix Indonesia Bersinar, yakni kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan media. Gerakan ini merupakan bagian dari upaya membangun Ekonomi Sirkular Indonesia melalui Pentahelix Indonesia Bersinar. Saya pribadi sepakat dengan pendekatan ini. Persoalan sampah di Indonesia terlalu besar untuk diselesaikan satu pihak saja. Butuh regulasi dari pemerintah, riset dari kampus, investasi dari dunia usaha, gerakan dari komunitas, dan penyebaran informasi dari media. Semuanya berjalan bersamaan, bukan sendiri-sendiri.

Jadi, Mulai dari Mana?

Kalau ditanya apa yang bisa kita ambil dari cerita Bank Sampah Induk Bersinar ini, jawabannya sederhana: ekonomi sirkular Indonesia tidak harus dimulai dari proyek besar bernilai miliaran rupiah. Ia bisa dimulai dari kebiasaan memilah sampah organik dan anorganik di dapur rumahmu sendiri, dari keputusan untuk ikut bank sampah di lingkungan RT, atau sekadar mulai bertanya: “sampah ini sebenarnya bisa jadi apa, ya, kalau tidak langsung dibuang?”

Bank Sampah Induk Bersinar sudah membuktikan bahwa dari 547 unit kecil, bisa lahir gerakan pemberdayaan masyarakat yang menyasar ribuan rumah tangga. Dan mungkin, rumah kita bisa jadi salah satu titik berikutnya.





Share
Tweet
Pin
Share
20 Comments
Newer Posts
Older Posts

Hello! I’m Tuty Queen

Hello! I’m Tuty Queen

Follow Me

  • instagram
  • facebook
  • twitter
  • pinterest

Cara Mudah Membuat eBook di Canva

Cara Mudah Membuat eBook di Canva

Seedbacklink

Seedbacklink affiliate

Design Anti Ribet Cuma Pakai Canva

Design Anti Ribet Cuma Pakai Canva

Total Pageviews

Categories

  • Asuransi
  • Canva
  • Dompet Dhuafa
  • Film
  • Food
  • Lingkungan
  • NPD
  • Sport
  • aplikasi
  • beauty
  • ekonomi
  • fashion
  • finance
  • halal lifestyle
  • health
  • hotel
  • kuliner
  • lifestyle
  • teknologi digital

Blog Archive

  • ►  2014 (6)
    • ►  November 2014 (6)
  • ►  2015 (37)
    • ►  March 2015 (1)
    • ►  May 2015 (3)
    • ►  June 2015 (5)
    • ►  October 2015 (3)
    • ►  November 2015 (7)
    • ►  December 2015 (18)
  • ►  2016 (167)
    • ►  January 2016 (11)
    • ►  February 2016 (16)
    • ►  March 2016 (21)
    • ►  April 2016 (15)
    • ►  May 2016 (11)
    • ►  June 2016 (16)
    • ►  July 2016 (6)
    • ►  August 2016 (7)
    • ►  September 2016 (10)
    • ►  October 2016 (20)
    • ►  November 2016 (18)
    • ►  December 2016 (16)
  • ►  2017 (176)
    • ►  January 2017 (12)
    • ►  February 2017 (14)
    • ►  March 2017 (11)
    • ►  April 2017 (16)
    • ►  May 2017 (14)
    • ►  June 2017 (14)
    • ►  July 2017 (6)
    • ►  August 2017 (21)
    • ►  September 2017 (10)
    • ►  October 2017 (20)
    • ►  November 2017 (15)
    • ►  December 2017 (23)
  • ►  2018 (171)
    • ►  January 2018 (9)
    • ►  February 2018 (13)
    • ►  March 2018 (17)
    • ►  April 2018 (18)
    • ►  May 2018 (16)
    • ►  June 2018 (9)
    • ►  July 2018 (6)
    • ►  August 2018 (18)
    • ►  September 2018 (13)
    • ►  October 2018 (17)
    • ►  November 2018 (13)
    • ►  December 2018 (22)
  • ►  2019 (108)
    • ►  January 2019 (11)
    • ►  February 2019 (3)
    • ►  March 2019 (5)
    • ►  April 2019 (1)
    • ►  May 2019 (13)
    • ►  June 2019 (6)
    • ►  July 2019 (11)
    • ►  August 2019 (17)
    • ►  September 2019 (10)
    • ►  October 2019 (10)
    • ►  November 2019 (11)
    • ►  December 2019 (10)
  • ►  2020 (64)
    • ►  January 2020 (6)
    • ►  February 2020 (8)
    • ►  March 2020 (8)
    • ►  April 2020 (5)
    • ►  May 2020 (6)
    • ►  June 2020 (1)
    • ►  July 2020 (4)
    • ►  August 2020 (12)
    • ►  September 2020 (5)
    • ►  October 2020 (2)
    • ►  November 2020 (3)
    • ►  December 2020 (4)
  • ►  2021 (63)
    • ►  January 2021 (5)
    • ►  February 2021 (3)
    • ►  March 2021 (5)
    • ►  April 2021 (4)
    • ►  May 2021 (3)
    • ►  June 2021 (1)
    • ►  July 2021 (2)
    • ►  August 2021 (3)
    • ►  September 2021 (4)
    • ►  October 2021 (10)
    • ►  November 2021 (11)
    • ►  December 2021 (12)
  • ►  2022 (67)
    • ►  January 2022 (2)
    • ►  February 2022 (7)
    • ►  March 2022 (10)
    • ►  April 2022 (12)
    • ►  May 2022 (5)
    • ►  June 2022 (5)
    • ►  July 2022 (5)
    • ►  August 2022 (3)
    • ►  September 2022 (5)
    • ►  October 2022 (4)
    • ►  November 2022 (3)
    • ►  December 2022 (6)
  • ►  2023 (49)
    • ►  February 2023 (3)
    • ►  March 2023 (4)
    • ►  April 2023 (2)
    • ►  May 2023 (7)
    • ►  June 2023 (3)
    • ►  July 2023 (7)
    • ►  August 2023 (3)
    • ►  September 2023 (7)
    • ►  October 2023 (4)
    • ►  November 2023 (5)
    • ►  December 2023 (4)
  • ►  2024 (29)
    • ►  January 2024 (1)
    • ►  February 2024 (3)
    • ►  March 2024 (8)
    • ►  April 2024 (2)
    • ►  May 2024 (1)
    • ►  June 2024 (5)
    • ►  July 2024 (2)
    • ►  August 2024 (2)
    • ►  September 2024 (3)
    • ►  October 2024 (1)
    • ►  November 2024 (1)
  • ►  2025 (39)
    • ►  January 2025 (4)
    • ►  February 2025 (3)
    • ►  March 2025 (1)
    • ►  April 2025 (1)
    • ►  May 2025 (2)
    • ►  June 2025 (8)
    • ►  July 2025 (10)
    • ►  August 2025 (7)
    • ►  September 2025 (1)
    • ►  October 2025 (1)
    • ►  December 2025 (1)
  • ▼  2026 (9)
    • ►  January 2026 (1)
    • ►  March 2026 (1)
    • ►  April 2026 (2)
    • ►  June 2026 (2)
    • ▼  August 2026 (2)
      • Sampah Bernilai Ekonomi: Cara Bank Sampah Induk Be...
      • Cara Membangun Personal Presence yang Membuat Oran...
    • ►  September 2026 (1)

Contact Form

Name

Email *

Message *

Member of

Member of
Seedbacklink



Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates