Wake Up! Wakaf, Siapa Saja Bisa Berwakaf

R abu, 2 Oktober 2019 lalu saya berkesempatan mengunjungi Zona Madina kedua kalinya bersama teman-teman blogger. Kali pertama saat say...


Rabu, 2 Oktober 2019 lalu saya berkesempatan mengunjungi Zona Madina kedua kalinya bersama teman-teman blogger. Kali pertama saat saya mengikuti Tebar Hewan Kurban pada Idul Adha 1440 H lalu, dan kali ini kunjungan saya mengunjungi hasil wakaf produktif di kawasan Zona Madina yang dikelola Dompet Dhuafa. Dalam sambutannya Bapak Yuli Pujihardi Dir. Mobilisasi ZIS Dompet Dhuafa dan Dir. Kawasan Zona Madina Dompet Dhuafa menuturkan bahwa selama ini orang tau wakaf itu hanya untuk Mesjid, Madrasah, dan Makam. Padahal sejatinya wakaf itu bisa dikelola dan bentuknya menjadi produktif.

Kalau kita lihat kawasan Zona Madina kita bisa lihat dan memang terbukti bahwa dana zakat, infaq, sedekah, juga wakaf bisa produktif buat masyarakat. Kawasan ini terdiri dari sekolah Paud sampai SMA. Kemudian kawasan kesehatan ada Rumah Sehat Dompet Dhuafa, ada kawasan ekonomi, kawasan budaya, itu semua bersumber dari dana zakat, infaq, sedekah, juga wakaf.  Nggak semua orang tau bahwa ada wakaf yang produktif, dimana wakaf itu sebenarnya bisa bermanfaat untuk banyak orang. Contohnya Rumah Sakit yang dikelola oleh Dompet Dhuafa banyak melayani pasien dhuafa. Pak Yuli Pujihardi berharap para blogger bisa menyebarkan informasi mengenai wakaf terutama wakaf produktif yang bermanfaat untuk orang banyak dan perlu digarisbawahi bahwa siapa saja bisa ikutan wakaf. 

Yuli Pujihardi, Direktur Mobilisasi ZIS Dompet Dhuafa dan Direktur Kawasan Zona Madina

Pada kesempatan yang sama MC yang memandu acara selama kami berada di kawasan Zona Madina, Putri Mounda , turut menginformasikan bahwa Dompet Dhuafa memiliki 5 pilar, yakni pendidikan, ekonomi, sosial, kesehatan, budaya dan dakwah. Putri sendiri adalah Penerima Manfaat Beasiswa Aktifis Nusantara Dompet Dhuafa. Beasiswa aktifis nusantara adalah beasiswa yang diberikan kepada mahasiswa-mahasiswa terpilih dari perguruan tinggi seluruh Indonesia. Mahasiswa-mahasiswa ini nggak cuma di support secara materi tapi juga pengembangan karakter yang disiapkan untuk menjadi pemimpin-pemimpin di masa depan. Jadi Putri menerima manfaat melalui Pilar Pendidikan Dompet Dhuafa.

Wake Up! Wakaf

By the way Dompet Dhuafa saat ini sedang membuat program Wake Up! Wakaf. Wake Up! Wakaf merupakan program yang memudahkan orang utnuk berwakaf melalui wadah digital tabungwakaf.com. Dengan wadah digital ini siapapun bisa berzakat termasuk para millenial yang jumlahnya lebih banyak saat ini. Keren kan kalau millenial sudah mulai berwakaf sejak dini.

Berikut awal mulanya kenapa program ini dibuat. Menurut  Boby P. Manulang GM. Wakaf Dompet Dhuafa saat ini wakaf masih terpaku pada mindset 3 M tadi Mesjid, Madrasah, dan Makam. Sehingga wakaf diidentikkan sebagai sebuah donasi yang diperuntukkan untuk menunjang sarana ibadah. Masyarakat Indonesia pada saat ini masih punya 3 anggapan mengenai wakaf, yaitu:
  1. Wakaf itu identik dengan ibadahnya orang kaya
  2. Wakaf itu cuma lazim dikerjakan dalam bilangan-bilangan besar. Jadi masih merasa malu kalau mendonasikan uang dalam jumlah kecil untuk wakaf
  3. Wakaf nggak perlu segera ditunaikan, yang wajib-wajib saja terlebih dahulu seperti zakat dan sedekah
Kiri-Kanan: Dr. Muhamad Zakaria Pimpinan RS Rumah Sehat Terpadu Dompet Dhuafa - Boby P.Manullang General Manager Wakaf Dompet Dhuafa - Ustadz Syafii Direktur DD Pendidikan

Karena persepsi masyarakat seperti ini akhirnya wakaf di Indonesia yang sudah berpuluh-puluh tahun bahkan beratus-ratus tahun itu seolah-olah tidur, maka dari itu Dompet Dhuafa berupaya ingin membangunkan kembali masyarakat Indonesia dengan program yang bertajuk Wake Up! Wakaf. Adapun tujuan Wake Up! Wakaf adalah sebagai berikut:

Tujuan Wake Up! Wakaf:
  1. Pengembangan Literasi. Agar masyarakat tau wakaf itu seperti apa. Karena wakaf kalau tidak tau manfaatnya dan keutamaannya orang jadi malas. Padahal wakaf itu seindah sedekah dan zakat. Wakaf tidak perlu menunggu kita kaya atau tidak perlu menunggu uang kita terkumpul puluhan juta bahkan ratusan juta baru berwakaf. Punya uang 10 ribu rupiah pun kita bisa berwakaf. 
  2. Agar masyarakat mulai menyalurkan wakaf produktif bukan wakaf melalui aset sosial saja (wakaf tidak bergerak) 
  3. Masih rendahnya pertumbuhan pengusaha yang bisa membantu mengembangkan wakaf produktif.
Jadi saat ini masih kurang edukasi dan sosialisasi tentang wakaf produktif. Padahal wakaf produktif sendiri sudah dilakukan oleh para sahabat di masa Rasulullah.

Sejarah Wakaf

Sebenarnya tonggak sejarah wakaf adalah berawal dari kisah Sayyidina Umar bin Khattab dan Sayyidina Utsman bin Affan. Sayyidina Umar bin Khattab ingin menyedekahkan tanahnya di Khaibar, tapi kata Rasulullah "Tidak perlu disedekahkan ke saya tapi kamu manfaatkan, kamu kelola sendiri, jangan pernah diperjualbelikan, jangan pernah dipindahtangankan, tapi apa-apa yang tumbuh di atasnya itu kamu salurkan kepada kaum kerabat yang lain". 

Begitu pula dengan sejarah wakaf Ustman bin Affan. Saat itu Madinah dilanda kekeringan dan semua sumur kering sehingga penduduk kekurangan air bersih. Satu-satunya sumur yang masih menampung air bersih adalah sumur yang dimiliki oleh seorang Yahudi yaitu sumur Raumah.  Penduduk pun mengantri dan membeli air bersih. Melihat ini semua Nabi pun bersabda “Wahai Sahabatku, siapa saja diantara kalian yang menyumbangkan hartanya untuk dapat membebaskan sumur itu, lalu menyumbangkannya untuk umat, maka akan mendapat surga-Nya Allah Ta’ala” (HR. Muslim). Ustman bin Affan pun menawarkan diri untuk membeli sunur tersebut dan membebaskan umat mengambil air sumur tanpa harus membeli. Dalam perjalanannya selama 1500 tahun sampai dengan saat ini, nasir nya mengelola mulai dari sumur sampai kebun kurma, kemudian commercial estate, bahkan sekarang ada satu hotel yang dikelola oleh Sheraton Group. Hotel ini dan aset-aset yang lain menghasilkan keuntungan 150 Milyar setiap tahun, artinya setiap tahun Sayyidina Utsman bin Affan berwakaf senilai 150 Milyar. Kalau kita percaya sedekah jariyah bisa menerangkan kubur kita, bayangkan betapa terangnya dan lapangnya kubur Sayyidina Utsman. Masya Allah.

Yang dilakukan Umar bin Khattab dan Ustman bin Affan menjadi salah satu bukti bahwa para sahabat nabi sudah menjalankan wakaf produktif. Wakaf yang memberdayakan masyarakat, dengan pokoknya tetap terpelihara dan terkelola, sedangkan hasilnya diberikan untuk kepentingan umat.

Program dan Pengelolaan Wakaf di Dompet Dhuafa

Dompet Dhuafa adalah lembaga filantropi Islam yang bersumber dari dana zakat, infak, sedekah dan wakaf (ZISWAF), serta dana halal lainnya. Dompet Dhuafa juga berkhidmat dalam pemberdayaan kaum dhuafa dengan pendekatan budaya melalui kegiatan filantropis (humanitarian) dan wirausaha sosial profetik (prophetic socio-technopreneurship). Dompet Dhuafa memiliki tujuan untuk mewujudkan masyarakat berdaya yang bertumpu pada sumber daya lokal melalui sistem yang berkeadilan.

Sejak tahun 1993 Dompet Dhuafa telah memberikan kontribusi berupa layanan untuk perkembangan umat, baik dalam bidang kesehatan, ekonomi, pendidikan, sosial, budaya dan dakwah. Dompet Dhuafa telah mengembangkan program berbasis wakaf produktif dan telah dikukuhkan sebagai nazhir wakaf sejak 16 Juni 2017. Hingga saat ini Wakaf Dompet Dhuafa sudah memiliki beberapa aset wakaf produktif diantaranya: Rumah Sakit Sehat Terpadu Parung Bogor yang melayani lebih dari 15ribu dhuafa per bulan, Sekolah SMART Ekselensia Parung Bogor, Sekolah SMART Cibinong, Bumi Pengembangan Insani, Khadijah Learning Center merupakan lembaga pendidikan non formal yang memiliki misi meningkatkan kompetensi kaum perempuan, Kampung Agroindustri di Kebun Indonesia Berdaya, Subang, Jawa Barat mengolah lahan seluas 8,5 hektar yang ditanami dengan aneka tanaman buah diantaranya buah naga, nanas, pepaya, jambu kristal, dan alpukat.


Siswa SMART Ekselensia, Parung Bogor

Dan saat ini sedang dalam tahap pembangunan Pesantren Hafidz Village di Lido, Sukabumi Jawa Barat berada di atas lahan wakaf seluas 2 hektar. Pesantren ini adalah program mahakarya Dompet Dhuafa dalam pendidikan Tahfidz untuk melahirkan generasi muslim yang hafidzh quran dan memiliki kompetensi kepemimpinan dan ilmu pengetahuan teknologi terkini.


Dompet Dhuafa juga memiliki program Indonesia Berdaya Dompet Dhuafa di Desa Cirangkong Subang, Jawa Barat dengan mengolah lahan seluas 8,5 hektar yang ditanami dengan aneka tanaman buah diantaranya buah naga, nanas, pepaya, jambu kristal, dan alpukat.  Dan masih banyak lagi aset wakaf yang dimiliki oleh Dompet Dhuaga. Semua aset wakaf dikelola secara produktif surplus wakafnya digunakan untuk mauquf alaihi/penerima manfaat pada program pendidikan, kesehatan, ekonomi dan sosial umum Dompet Dhuafa.

Potensi wakaf tunai di Indonesia diperkirakan mencapai Rp180 triliun per tahun. Menurut data Badan Wakaf Indonesia (BWI), Indonesia telah merealisasikan sebanyak Rp400 miliar. Bagaimana dengan potensi lainnya? Disinilah diperlukan wakaf produktif yang nantinya bisa menjadi pemerata ekonomi.

Saya senang sekali bisa ikutan Wake Up! Wakaf Blogger Meet Up Waqf Productive Sagring Session & Visit Zona Madina. Honestly, saya jadi tau apa itu wakaf produktif dan banyak lagi insight yang saya dapatkan seputar wakaf. Ditambah lagi adanya program Wake Up! Wakaf yang bikin saya melek, bahwa jangan merasa malu untuk berwakaf dengan 10ribu rupiah manfaatnya bisa dirasakan bersama. Wakaf itu ibarat pohon, 10ribu itu ibarat akarnya. Semakin banyak akar semakin kuatlah pohon dan semakin rimbun untuk menaungi sekitarnya.


Satu lagi nih, setelah event ini jugalah ide untuk Gerakan Wakaf Sepuluh Ribu dari Blogger (Gaspoler) terbentuk atas ide awal teman blogger Moh Suharsono kemudian disambut baik teman-teman blogger lain. Teman-teman juga bisa ikutan berwakaf melalui campaign ini di https://www.bawaberkah.org/campaign/gaspoler. Semoga menjadi jalan pahala bagi kita semua. Takkan habis harta yang kita keluarkan untuk wakaf produktif, untuk pemberdayaan masyarakat, untuk mengentaskan kemiskinan, dan untuk anak cucu kita kelak. Yuk, Wake Up! Wakaf.



You Might Also Like

0 comments