Pages

  • Home

travel beauty

Vaksin DBD
Hati-hati dengan gigitan nyamuk!

Demam berdarah dengue merupakan penyakit yang menakutkan bagi tiap orang. Apalagi bila tanda-tandanya samar dan dikira demam biasa. Padahal penyakit demam berdarah bisa menyebabkan kematian apabila penanganannya terlambat. DBD sudah ada di Indonesia sejak tahun 1968, hingga sekarang penyakit demam berdarah dengue masih menjadi perhatian. Menurut data dari Kementerian Kesehatan RI, dari awal tahun sampai dengan minggu ke-33 tahun 2023 , kasus demam berdarah dengue mencapai 57.884 kasus dengan catatan 422 kematian. Lantas apa penyebab demam berdarah dengue? 



Penyebab Demam Berdarah Dengue (DBD)

Demam berdarah disebabkan oleh infeksi virus dengue yang ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti berjenis kelamin betina. Nyamuk ini memiliki ciri-ciri bertubuh kecil, berwarna hitam dengan belang putih di seluruh tubuhnya. Kasus demam berdarah dengue terjadi karena perilaku yang kurang aware menjaga lingkungan.


Mengingat Indonesia yang merupakan negara tropis dengan curah hujan yang tinggi, maka nyamuk Aedes Aegypti dapat dengan mudahnya berkembang biak di lingkungan yang ia sukai seperti di genangan air bersih, di tempat yang lembab dan minim cahaya. Oleh sebab itu, semua orang di Indonesia berisiko terkena demam berdarah tanpa melihat umur, di mana mereka tinggal, dan gaya hidup. 


Vaksin DBD
Nyamuk Aedes Aegypty Penyebab Demam Berdarah

Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, sebanyak 143.266 kasus demam berdarah yang tercatat sepanjang tahun 2022, 39% nya merupakan golongan produktif dari rentang umur 15-44 tahun. So, tetap berhati- hati ya. Penyakit ini tak hanya menyerang anak-anak saja lho, semua orang berisiko terkena Demam Berdarah Dengue (DBD) jadi jangan sepelekan gigitan nyamuk. Apalagi kalau sampai infeksi demam berdarah berulang, ini sangat berbahaya. Karena infeksi berulang dapat meningkatkan risiko sindrom dengue berat (Severe Dengue) yang dapat menyebabkan komplikasi yang mengancam nyawa.



Gejala Demam Berdarah Dengue

Terkadang saat sakit terutama demam kita suka menganggap demam biasa akibat kelelahan ataupun karena flu. Padahal salah satu ciri-ciri terkena DBD adalah tiba-tiba demam tinggi. Agar lebih waspada, simak yuk gejala Demam Berdarah Dengue yaitu: 


  • Terasa nyeri pada sendi atau tulang
  • Nyeri daerah perut, otot, punggung, bagian belakang mata
  • Suhu tubuh panas tinggi
  • Kehilangan selera makan
  • Terasa kelelahan atau panas dingin
  • Mual atau muntah
  • Kulit tampak bintik merah atau ruam
  • Kulit mudah memar
  • Pendarahan
  • Sakit kepala
  • Sakit tenggorokan 


Dari gejala-gejala di atas biasanya orang-orang menandai kalau kulit tampak bintik merah adalah gejala demam berdarah. Ternyata gejalanya banyak, kita harus lebih aware lagi dengan segera memeriksakan diri ke dokter agar lebih cepat diberikan pengobatan.



Cegah Demam Berdarah dengan 3M Plus

Seperti kata pepatah "sedia payung sebelum hujan" yang maksudnya lebih baik berjaga-jaga sebelum terjadi. Agar terhindar dari gigitan nyamuk Aedes Aegypti ada baiknya setiap orang mencegah perkembangbiakan nyamuk tersebut di lingkungan masing-masing dengan tindakan 3M plus, yaitu: 

  • Menutup rapat tempat penyimpanan air
  • Menguras tempat penampungan air secara rutin, setidaknya seminggu sekali
  • Mendaur ulang barang bekas yang dapat menyebabkan genangan air

Vaksin DBD
Bersih-bersih lingkungan sekiar jangan sampai ada genangan air!

Kadang kita merasa sudah bersih-bersih dengan melakukan 3M Plus, tapi nyamuk masih saja bertebaran. Kemungkinan ini karena lingkungan di luar rumah yang tak terkendali seperti genangan air, atau saluran air yang tersumbat. Selain itu nyamuk menyukai tempat-tempat tersembunyi seperti lipatan gorden, belakang lemari, dan tempat-tempat yang tidak terjangkau. Kemudian kebiasaan kita yang tidak menutup pintu atau tidak menggunakan pintu dengan kawat nyamuk, juga genangan air karena pengaruh musim dan cuaca. Bahkan saat cuaca panas pun nyamuk semakin merajalela.


Vaksin DBD
Fogging

Maka dari itu diperlukan 3M Plus. Untuk plusnya, tindakan yang bisa dilakukan adalah bergotong royong membersihkan lingkungan, memasang obat nyamuk, menaburkan bubuk larvasida pada tempat penampungan air dan lain-lain. 


Tindakan lain yang bisa kita lakukan untuk melengkapi perlindungan dari DBD adalah dengan melakukan vaksin DBD, konsultasikan ke dokter terlebih dahulu untuk informasi lebih lanjut.




Kampanye #Ayo3MplusVaksinDBD

Rabu, 27 September 2023 diadakan Peluncuran Kampanye #Ayo3MplusVaksinDBD sebuah kolaborasi antara Kementerian Kesehatan Republik Indonesia berkolaborasi dan Takeda. Kerja sama antara keduanya meliputi peningkatan peran serta masyarakat atau pemberdayaan masyarakat; peningkatan kapasitas tenaga kesehatan; penyusunan dan pelaksanaan terkait program koalisi bersama masyarakat menuju nol kematian akibat dengue (zero dengue death 2030); pendekatan terpadu untuk pencegahan dan pengendalian dengue; sinkronisasi data (bridging) dengan SIARVI (Sistem Informasi Arbovirosis); serta peningkatan peran dan kerja sama penentu kebijakan di pusat dan daerah. 


#Ayo3MplusVaksinDBD
Peluncuran Kampanye #Ayo3MplusVaksinDBD

Dr. dr. Maxi Rein Rondonuwu, DHSM., MARS, Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menuturkan “Penanggulangan DBD di Indonesia merupakan tantangan yang kompleks. Namun, pemerintah telah berkomitmen untuk mencapai nol kematian akibat infeksi dengue pada tahun 2030 melalui Strategi Nasional Penanggulangan Dengue 2021-2025. Kami menghimbau masyarakat untuk bersama-sama, dengan prinsip-prinsip 3M plus dan vaksin mandiri DBD dalam mengatasi tantangan ini dan melindungi masa depan generasi mendatang," 


Dr. dr. Sukamto Koesnoe, Sp.PD-KAI, FINASIM, Ketua Satgas Imunisasi Dewasa, Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia memaparkan, “Selain anak-anak, orang dewasa juga terancam terkena demam berdarah dengue. Karena terbukti manfaatnya, Perhimpunan Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) telah merekomendasikan vaksinasi demam berdarah juga diberikan pada orang dewasa sampai umur 45 tahun. Saat ini vaksinasi demam berdarah dengue dapat diberikan pada setiap orang pada rentang umur 6-45 tahun sesuai dengan anjuran dari dokter”.


#Ayo3MplusVaksinDBD
Selepas penandatanganan perjanjian kerjasama Kementrian Kesehatan RI dan PT. Takeda Innovative Medicines

Vaksin tidak hanya bekerja dengan merangsang sistem imun untuk membentuk antibodi atau kekebalan tubuh saja, tapi vaksin juga dapat mengurangi risiko demam berdarah berat. Bisa dibilang vaksinasi merupakan pencegahan inovatif.


Jangan sepelekan virus DBD. Virus ini menyerang tubuh manusia dengan cepat, bahkan tanpa disadari. Yuk, dukung upaya pencegahan demam berdarah dengan mendukung gerakan  #Ayo3MplusVaksinDBD. Dengan vaksin DBD kita sudah memberikan perlindungan tambahan bagi diri kita sendiri dan orang-orang tercinta di sekitar kita, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter jika ingin melakukan vaksin.


C-ANPROM/ID/QDE/0239 | Oct 2023










Share
Tweet
Pin
Share
No Comments

Menghadiri Konferensi Pers Pentingnya Vaksinasi Influenza Quadrivalent Bagi Tenaga Kesehatan dan Kelompok Rentan

Alhamdulillah, happy banget begitu mendengar pernyataan dari WHO tanggal 5 Mei 2023 kemarin bahwa darurat Covid-19 berakhir. Setelah 3 tahun hidup dengan perasaan was was dan cemas karena virus yang banyak menyebabkan nyawa melayang ini, akhirnya kita bisa sedikit bernafas lega bisa bebas beraktivitas lagi seperti sedia kala. Ingin rasanya mengatakan kepada teman-teman atau saudara-saudara yang sudah berpulang karena Covid-19 kalau saat ini kita sudah terlepas dari ketakutan akan virus yang sangat horor ini, sembari mendoakan ketenangan mereka di alam sana.

Benarkah kita 100 persen bebas dari Covid-19? Mari kita cermati lagi pernyataan WHO bahwa yang berakhir itu masa daruratnya saja, tetapi virus ini tetap ada dan juga bisa mematikan, jadi upaya untuk terus melakukan terus dilakukan. Jadi jangan buru-buru membuat kesimpulan bahwa kita sepenuhnya aman dari virus ini. Karena bagaimanapun pencegahan penyebaran virus ini harus sama-sama kita lakukan, yaitu wajib vaksin bagi teman-teman yang belum vaksin dan tetap menerapkan protokol kesehatan menjadi habit atau kebiasaan sehari-hari. Seperti tetap mencuci tangan dengan sabun dan selalu menggunakan masker. Karena virus yang paling ditakuti bukan hanya Covid-19 saja tapi masih banyak virus-virus lain yang bisa menyerang kapan saja jika daya tahan tubuh kita lemah, salah satunya virus influenza.


Kamis, 11 May lalu saya menghadiri Konferensi Pers “Pentingnya Vaksinasi Influenza Quadrivalent Bagi Tenaga Kesehatan dan Kelompok Rentan” di Aula RSUD Pasar Minggu, DKI Jakarta. Dalam rangka menyambut Hari Imunisasi Sedunia 2023 ini, PT Kalventis Sinergi Farma dan Dinas Kesehatan DKI Jakarta bekerjasama untuk menghadirkan program vaksinasi influenza kepada lebih dari 600 tenaga kesehatan yang menangani pasien lanjut usia serta diabetes di DKI Jakarta. 


Kiri-Kanan: Bapak Ridwan Ong - Prof. Dr.dr. Ketut Suastika - Prof. Dr.dr. Samsuridjal Djauzi - dr. Dwi Oktaviani M.Epid

Bapak Ridwan Ong, Presiden Direktur Kalventis mengatakan kegiatan Konferensi Pers - World Immunization Week bahwa Kalventis ingin memberikan kontribusinya dengan menghadirkan program vaksinasi influenza kepada lebih dari 600 tenaga kesehatan (nakes). Ini merupakan bentuk komitmen Kalventis untuk mendukung upaya pencegahan penyebaran penyakit menular, serta edukasi pentingnya vaksinasi kepada masyarakat Indonesia. Ke depannya, Kalventis akan melanjutkan komitmen dalam mengedukasi pentingnya vaksinasi serta meningkatkan cangkupan vaksinasi di Indonesia baik untuk berbagai pihak, termasuk masyarakat umum melalui media sosial @kenapaharusvaksin, serta beragam kegiatan edukasi lainnya.


Banyak sekali insight yang saya dapatkan setelah mengikuti acara ini, antara lain pentingnya menjaga imunitas tubuh dan betapa pentingnya pemberian vaksin untuk orang-orang yang rentan terkena virus influenza. Mengapa kita harus aware dengan virus influenza, siapa saja yang rentan terkena, dan kenapa harus vaksin? Semua akan saya bahas disini.

Apakah Influenza Flu Biasa?

Masih ingatkah dengan Flu Spanyol? Membaca sejarah Flu Spanyol yang terjadi Maret 1918 sampai Juni 1920 benar-benar bikin bulu kuduk berdiri. Horor? Iya! Flu mematikan yang menginfeksi 500 juta orang ini adalah pandemi global yang disebabkan oleh virus influenza H1N1. Gejala yang dirasakan penderita Flu Spanyol saat itu adalah demam tinggi, batuk, nyeri tubuh, dan juga menyebabkan gagal napas parah, yang menyebabkan kematian dalam beberapa kasus. Ngeri banget kan? Kalau melihat gejalanya seperti flu biasa saja, tapi influenza ini bukan flu biasa malah luar biasa menginfeksi ratusan orang dan mengakibatkan kematian.


Sekarang Flu Spanyol menjadi endemi sama seperti Covid-19 karena sudah ditemukan vaksin dan meningkatnya kekebalan tubuh masyarakat melawan virus. Vaksin mencegah virus agar tidak berdampak lebih luas karena vaksin yang dibuat sudah mengenal karakter virus. Tetapi virus ini bukan hilang begitu saja. Virus-virus ini tetap ada tetapi tidak berbahaya seperti pertama kali muncul. Ya, kecanggihan dunia kedokteran berbanding lurus dengan imunitas tubuh manusia yang membuat semuanya menjadi biasa saja tidak berdampak efek domino yang luas. Dari sejarah Flu Spanyol kita bisa mengambil pelajaran bahwa virus influenza yang pernah mematikan 1 abad yang lalu ini bukan lah flu biasa. 


Perbedaan Salesma dan Influenza

Prof. Dr. dr. Samsuridjal Djauzi, SpPD, K-AI, Penasihat Satgas Imunisasi Dewasa PAPDI memaparkan bahwa influenza bukan sekadar batuk pilek biasa atau yang seringkali dikenal dengan common cold, gejala influenza lebih berat dan dapat menyebabkan komplikasi serius pada sistem organ lainnya. Masih banyak saja orang yang menganggap influenza adalah flu yang ringan. Padahal influenza dapat memicu serangan jantung dan stroke, dan memperburuk kondisi komorbid yang sudah ada seperti diabetes dan penyakit kronik lainnya. Penyakit flu yang disebabkan virus influenza umumnya menyerang saluran pernapasan dengan insiden setiap tahunnya mencapai 1 miliar kasus di seluruh dunia. Kasus influenza berat setiap tahunnya dapat mencapai 5 juta kasus dan angka kematian hingga 650.000 kasus. 


Mendengar penjelasan Prof Samsuridjal saya jadi flashback lagi masa-masa pandemi Covid-19 dimana orang-orang yang memiliki komorbid sangat berisiko jika terinfeksi, dan bahkan dapat memperburuk kesehatan. Kita perlu waspada nih. 

Kenapa Harus Vaksin?

Dari paparan Prof Samsuridjal sangat jelas bahwa influenza bukan flu biasa. Kita harus aware dengan virus yang satu ini. Pencegahan agar tidak terinfeksi dan penularannya harus diatasi. Respon dan kerjasama antar pihak termasuk kita masyarakat sangat diperlukan. Inilah latar belakang kenapa harus vaksin. 


Mitos dan Fakta Vaksin Influenza

Virus influenza di alam bebas terus berubah, data epidemiologi terkini menunjukkan empat strain virus Influenza bersirkulasi secara bersamaan, yaitu: Influenza A/H1N1, A/H3N2, B/Victoria, dan B/Yamagata. Vaksinasi Influenza Quadrivalent memberikan perlindungan lebih luas terhadap virus flu yang beredar karena mencakup dua strain influenza A dan dua lineage influenza B. Oleh karena itu, vaksinasi Influenza Quadrivalent tahunan sangat penting terutama bagi orang-orang yang berisiko tinggi, salah satunya tenaga kesehatan yang berinteraksi langsung dengan pasien.


Yang Perlu Mendapatkan Vaksin Berdasarkan Rekomendasi WHO dan CDC


Saat ini, berbagai organisasi profesi internasional (WHO dan CDC) dan Indonesia (Satgas Imunisasi Dewasa PB PAPDI) merekomendasikan semua tenaga kesehatan melakukan vaksinasi influenza tahunan karena beberapa alasan, diantaranya:

  • risiko tertular di tempat kerja yang lebih tinggi

  • mengurangi risiko tenaga kesehatan menularkan influenza ke pasien rentan 

  • mempertahankan citra dan etika rumah sakit yang berkomitmen untuk mengutamakan patient-safety

  • mengurangi ketidakhadiran kerja para tenaga kesehatan spesialis yang sulit digantikan sehingga keberlangsungan pelayanan kesehatan tetap terjaga


CSR Simbolisasi Pemberian Vaksin Kepada Nakes Kerjasama Kalventis dan RSUD Pasar Minggu

Plt. Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, drg. Ani Ruspitawati, MM, mengatakan bahwa Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta mengapresiasi semua pihak yang telah ikut berperan aktif dalam mendukung upaya pencegahan penyebaran penyakit menular dan melakukan edukasi pentingnya vaksinasi kepada masyarakat di DKI Jakarta. Kita harus mampu bersama-sama mengenal risiko penularan virus influenza sehingga tidak menjadi masalah bagi kesehatan diri sendiri, keluarga, dan masyarakat. Salah satu pencegahan yang dapat dilakukan di antaranya adalah melakukan upaya peningkatan pemahaman terkait Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. Selain itu, pencegahan terkait virus influenza ini juga terdapat pilihan yang sangat dianjurkan oleh para Ahli Penyakit Dalam yaitu imunisasi influenza.


Prof. Dr. dr. Ketut Suastika, SpPD-KEMD, Ketua Umum PB PERKENI, dalam paparannya turut menambahkan, menurut data International Diabetes Federation (IDF) 2021, Indonesia masuk dalam lima besar peringkat untuk penderita diabetes di dunia dan diperkirakan jumlahnya akan terus meningkat setiap tahunnya. Penderita diabetes lebih rentan terkena infeksi karena adanya gangguan sistem kekebalan tubuh. Maka dari itu, ketika penderita diabetes terkena infeksi influenza dampaknya menjadi lebih berat, terjadi peningkatan risiko rawat inap naik hingga 3-6 kali lipat, risiko masuk ICU hingga 4 kali lipat, dan risiko kematian hingga 6 kali lipat dibandingkan dengan orang tanpa diabetes. Prof. Ketut juga menambahkan bahwa saat ini awareness masyarakat Indonesia terhadap diabetes masih kurang.


Pemberian vaksinasi influenza pada pasien diabetes terbukti dapat menurunkan angka rawat inap dan kematian. Respons imun yang dihasilkan vaksin influenza pada penderita diabetes secara umum sebanding dengan dewasa sehat lainnya. Data menunjukkan vaksinasi influenza menurunkan angka kejadian rawat inap yang disebabkan kejadian kardiovaskular pada pasien diabetes tipe 2, termasuk serangan jantung, gagal jantung, dan stroke.


Para Nakes Yang Sudah Mendapatkan Vaksin Akan Mendapat Kartu Vaksin

Pasien diabetes ternyata lebih rentan terkena infeksi virus influenza, jika sudah terinfeksi akan mengalami gejala lebih berat dibanding orang sehat pada umumnya . Semoga ya kita dapat melindungi keluarga kita terutama kelompok rentan dari virus influenza dengan memberikan vaksin influenza quadrivalent untuk menurunkan risiko terinfeksi, penularan hingga kematian juga biaya rawat inap. Bagi teman-teman yang ingin mendapatkan vaksin influenza silahkan mengunjungi Rumah Sakit atau klinik terdekat yang melayani vaksin ya.











Share
Tweet
Pin
Share
2 Comments
Kesehatan adalah aset, tubuh sehat adalah investasi. Harga sebuah kesehatan menjadi begitu mahal ketika kita yang biasa produktif dan suatu waktu harus tebaring di rumah sakit. Kampanye yang sering digaungkan untuk hidup sehat tidak ada artinya jika tidak dimulai dengan adanya kesadaran dari diri sendiri. Memang, seharusnya gaya hidup sehat menjadi bagian dari keseharian kita. Seperti pola makan yang sehat, olah raga teratur, istirahat yang berkualitas. Selain itu dalam tubuh yang sehat harus terdapat jiwa yang sehat pula, untuk itu kita harus memiliki pola pikir positif. Kalau kita sudah menjalani gaya hidup sehat, itu berarti kita punya niat untuk berinvestasi dalam kesehatan diri sendiri.

Informasi mengenai kesehatan bisa kita dapatkan dari berbagai sumber resmi, baik itu lewat majalah, media sosial maupun melalui website kesehatan. Selain membaca dan mencari informasi mengenai kesehatan hal penting lain yang mesti kita lakukan adalah rutin mengecek kesehatan, agar kita tahu bagaimana sebenarnya kondisi kesehatan tubuh kita, ini sebagai salah satu upaya pencegahan terhadap penyakit yang menyerang pada tubuh. Seandainya setelah dilakukan pengecekan dan ternyata terdapat kelainan pada tubuh, tentunya bisa ditangani dengan segera. Meskipun ada juga sebagian dari kita berpendapat dengan melakukan cek kesehatan dianggap mencari-cari penyakit. Pola pikir seperti ini yang seharusnya kita rubah. Karena mencegah itu lebih baik dari pada mengobati.

Begitu banyak kejadian yang tidak diinginkan didunia dan ternyata sebanyak itu pulalah cara pencegahan, semua tergantung kita, mau perduli atau tidak. Saya jadi ingin berbagi mengenai penyakit yang diderita uwak (sebutan untuk abang dari ibu) saya. Penyakit yang awalnya hanya bentolan kecil seperti habis digigit nyamuk, karena dianggap biasa jadi dibiarkan saja. Lama kelamaan muncul bercak merah kecil dan ini juga masih dianggap biasa karena tidak mempengaruhi aktivitas dan tidak menyakitkan. Karena sudah hampir sebulan bercak ini tidak berkurang dan malah bertambah uwak memutuskan untuk berobat ke puskesmas. Dokter di puskesmas tempat uwak tinggal di Tanjung Pura, Sumatera Utara hanya mengatakan ini karena pengaruh cuaca dan penyakit kulit biasa. Dan obat yang diberi juga obat oles untuk kulit dan obat untuk diminum yaitu antibiotik dan anti gatal. Uwak jadi tenang karena dokter mengatakan tidak perlu khawatir, ikuti saja petunjuk dokter dengan teratur minum obat dan teratur mengoleskan salap sesuai petunjuk pemakaian. Uwak hanya manut saja, tanpa bertanya lebih jauh mengenai penyebab penyakit, makanan apa saja yang tidak boleh dikonsumsi, dan apa saja kegunaan obat yang sudah diberikan dokter. Saya sangat faham, uwak tipe orang yang tidak banyak omong, apalagi waktu itu uwak belum berumah tangga, jadi nggak terlalu ambil pusing dengan sakitnya.

Bukannya kesembuhan yang didapat, justru reaksi yang tidak diduga pada kulit uwak setelah mengonsumsi obat semakin parah. Bercak-bercak merah dikulit uwak semakin melebar dan seperti melepuh. Kulit terasa panas, dan uwak mulai merasakan sakit pada seluruh tubuhnya. Kemudian uwak kembali ke puskesmas dimana dokter pernah memberi resep. Uwak menanyakan mengapa setelah meminum obat dan mengoleskan salap, justru kulit uwak bertambah parah. Akhirnya dokter mereferensikan uwak ke rumah sakit di Medan. Di rumah sakit ini uwak ditangani oleh dokter spesialis. Dokter melakukan beberapa pemeriksaan dan tes darah, lagi-lagi dokter mengatakan ini tidak berbahaya. Penyakit uwak semakin parah dan tak kunjung sembuh setelah dari rumah sakit yang satu ke rumah sakit yang lain. Kulit uwak menjadi belang berwarna coklat keputihan, rambut halus di seluruh badan habis, pori-pori dikulit tidak kelihatan, mata membengkak, dahi juga bengkak seperti berisi cairan. Saya hampir tidak sanggup melihat keadaan uwak saat itu. Uwak juga di vonis kanker kulit oleh dokter yang terakhir kali ditemui. Tapi memang uwak saya ini orangnya tenang dan nggak gampang stres, mungkin ini juga yang membuat uwak bertahan saat itu.

Penyakit yang diderita uwak tidak serta merta membuat keluarga menyerah meskipun dokter memvonis ini kanker kulit. Saat saya bertemu seorang profesor di Tangerang untuk melakukan konsultasi kesehatan, saya menanyakan perihal penyakit uwak saya dengan membawa hasil lab dan surat keterangan dokter yang menyatakan ini kanker kulit, saya juga menunjukkan foto uwak. Ternyata menurut si profesor ini adalah penyakit dermatomikosis angioneurotic. Penyakit ini awalnya disebabkan allergen sejenis alergi yang tidak bisa dideteksi. Memang gejala ini biasanya dijumpai pada orang dewasa ditandai dengan flu dan batuk. Penyakit ini menyerang kulit bawah seperti leher, telinga, hidung. Kulit bibir juga mengalami pengelupasan, kulit seluruh tubuh juga sama, terkelupas. Ini termasuk penyakit langka yang obatnya juga belum diketahui jenis formulanya. 
Pemberian obat yang tidak tepat seperti antibiotik dosis tinggi justru yang membuat kulit uwak melepuh. Profesor yang saya temui menyarankan agar uwak sering berjemur dibawah sinar matahari dan memberi beberapa obat yang saya lupa namanya. Seminggu setelah uwak mengonsumsi obat dari profesor ini alhamdulillah tampak perubahan, bagian mata mulai kempes dan lendir-lendir yang terkumpul di hidung dan leher mulai keluar. Tapi karena jarak yang jauh antara Medan dan Tangerang, uwak nggak rutin mengonsumsi obat dan memang Tuhan berkehendak lain, uwak harus pergi untuk selamanya.


Kesimpulan yang bisa saya ambil dari penyakit yang diderita uwak adalah jangan pernah menyepelekan gejala-gejala seperti flu, batuk ataupu gatal di kulit. Karena flu dan batuk yang kita alami belum tentu itu flu biasa atau batuk biasa, bisa jadi itu allergen. Pencegahan itu besar nilainya dibanding membiarkan. Pencegahan harus diperjuangkan bukan didapatkan. Sejak dini harus membangun pertahanan tubuh. Selain gaya hidup sehat dan mengelola stres, dengan banyaknya jenis penyakit yang sukar dideteksi, konsultasi juga ke dokter mengenai pertahanan tubuh bila perlu lakukan vaksinasi demi pencegahan dan demi masa depan.



info lengkap mengenai vaksin klik gambar ini

Share
Tweet
Pin
Share
20 Comments
Older Posts

Hello! I’m Tuty Queen

Hello! I’m Tuty Queen

Follow Me

  • instagram
  • facebook
  • twitter
  • pinterest

Cara Mudah Membuat eBook di Canva

Cara Mudah Membuat eBook di Canva

Seedbacklink

Seedbacklink affiliate

Design Anti Ribet Cuma Pakai Canva

Design Anti Ribet Cuma Pakai Canva

Total Pageviews

Categories

  • Asuransi
  • Canva
  • Dompet Dhuafa
  • Film
  • Food
  • Lingkungan
  • NPD
  • Sport
  • aplikasi
  • beauty
  • ekonomi
  • fashion
  • finance
  • halal lifestyle
  • health
  • hotel
  • kuliner
  • lifestyle
  • teknologi digital

Blog Archive

  • ►  2014 (6)
    • ►  November 2014 (6)
  • ►  2015 (37)
    • ►  March 2015 (1)
    • ►  May 2015 (3)
    • ►  June 2015 (5)
    • ►  October 2015 (3)
    • ►  November 2015 (7)
    • ►  December 2015 (18)
  • ►  2016 (167)
    • ►  January 2016 (11)
    • ►  February 2016 (16)
    • ►  March 2016 (21)
    • ►  April 2016 (15)
    • ►  May 2016 (11)
    • ►  June 2016 (16)
    • ►  July 2016 (6)
    • ►  August 2016 (7)
    • ►  September 2016 (10)
    • ►  October 2016 (20)
    • ►  November 2016 (18)
    • ►  December 2016 (16)
  • ►  2017 (176)
    • ►  January 2017 (12)
    • ►  February 2017 (14)
    • ►  March 2017 (11)
    • ►  April 2017 (16)
    • ►  May 2017 (14)
    • ►  June 2017 (14)
    • ►  July 2017 (6)
    • ►  August 2017 (21)
    • ►  September 2017 (10)
    • ►  October 2017 (20)
    • ►  November 2017 (15)
    • ►  December 2017 (23)
  • ►  2018 (171)
    • ►  January 2018 (9)
    • ►  February 2018 (13)
    • ►  March 2018 (17)
    • ►  April 2018 (18)
    • ►  May 2018 (16)
    • ►  June 2018 (9)
    • ►  July 2018 (6)
    • ►  August 2018 (18)
    • ►  September 2018 (13)
    • ►  October 2018 (17)
    • ►  November 2018 (13)
    • ►  December 2018 (22)
  • ►  2019 (108)
    • ►  January 2019 (11)
    • ►  February 2019 (3)
    • ►  March 2019 (5)
    • ►  April 2019 (1)
    • ►  May 2019 (13)
    • ►  June 2019 (6)
    • ►  July 2019 (11)
    • ►  August 2019 (17)
    • ►  September 2019 (10)
    • ►  October 2019 (10)
    • ►  November 2019 (11)
    • ►  December 2019 (10)
  • ►  2020 (64)
    • ►  January 2020 (6)
    • ►  February 2020 (8)
    • ►  March 2020 (8)
    • ►  April 2020 (5)
    • ►  May 2020 (6)
    • ►  June 2020 (1)
    • ►  July 2020 (4)
    • ►  August 2020 (12)
    • ►  September 2020 (5)
    • ►  October 2020 (2)
    • ►  November 2020 (3)
    • ►  December 2020 (4)
  • ►  2021 (63)
    • ►  January 2021 (5)
    • ►  February 2021 (3)
    • ►  March 2021 (5)
    • ►  April 2021 (4)
    • ►  May 2021 (3)
    • ►  June 2021 (1)
    • ►  July 2021 (2)
    • ►  August 2021 (3)
    • ►  September 2021 (4)
    • ►  October 2021 (10)
    • ►  November 2021 (11)
    • ►  December 2021 (12)
  • ►  2022 (67)
    • ►  January 2022 (2)
    • ►  February 2022 (7)
    • ►  March 2022 (10)
    • ►  April 2022 (12)
    • ►  May 2022 (5)
    • ►  June 2022 (5)
    • ►  July 2022 (5)
    • ►  August 2022 (3)
    • ►  September 2022 (5)
    • ►  October 2022 (4)
    • ►  November 2022 (3)
    • ►  December 2022 (6)
  • ►  2023 (49)
    • ►  February 2023 (3)
    • ►  March 2023 (4)
    • ►  April 2023 (2)
    • ►  May 2023 (7)
    • ►  June 2023 (3)
    • ►  July 2023 (7)
    • ►  August 2023 (3)
    • ►  September 2023 (7)
    • ►  October 2023 (4)
    • ►  November 2023 (5)
    • ►  December 2023 (4)
  • ►  2024 (29)
    • ►  January 2024 (1)
    • ►  February 2024 (3)
    • ►  March 2024 (8)
    • ►  April 2024 (2)
    • ►  May 2024 (1)
    • ►  June 2024 (5)
    • ►  July 2024 (2)
    • ►  August 2024 (2)
    • ►  September 2024 (3)
    • ►  October 2024 (1)
    • ►  November 2024 (1)
  • ►  2025 (39)
    • ►  January 2025 (4)
    • ►  February 2025 (3)
    • ►  March 2025 (1)
    • ►  April 2025 (1)
    • ►  May 2025 (2)
    • ►  June 2025 (8)
    • ►  July 2025 (10)
    • ►  August 2025 (7)
    • ►  September 2025 (1)
    • ►  October 2025 (1)
    • ►  December 2025 (1)
  • ▼  2026 (9)
    • ►  January 2026 (1)
    • ►  March 2026 (1)
    • ►  April 2026 (2)
    • ►  June 2026 (2)
    • ►  August 2026 (2)
    • ▼  September 2026 (1)
      • Kucing Lahap Makan Belum Tentu Sehat! Ini 7 Tanda ...

Contact Form

Name

Email *

Message *

Member of

Member of
Seedbacklink



Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates