Pages

  • Home

travel beauty

PediaSure Formula Baru Solusi Nutrisi Anak. Tidak bisa dipungkiri, saat ini masih banyak anak-anak yang lamban tumbuh kembangnya akibat kekurangan nutrisi. Bahkan 1 dari 4 anak di Indonesia menderita stunting. Moms mungkin sudah sering mendengar tentang stunting. Ya, stunting merupakan masalah gizi kronis yang dialami oleh anak dan ini disebabkan sang anak kurang mendapatkan asupan gizi dalam jangka waktu lama sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak. Ditandai dengan tinggi badan anak menjadi lebih rendah atau pendek dari standar usia semestinya.


Pediasure Formula Baru
Webinar Peluncuran Pediasure Formula Baru 14 Oktober 2021


Stunting adalah keadaan tubuh yang sangat pendek , dilihat dengan standar baku WHO-MGRS (multicentre growth reference study)

 

Pandemi Covid-19 juga mengancam bertambahnya anak stunting. Menurut data PBB hampir 7 juta anak terancam stunting di dunia. Demikian juga dengan anak-anak di Indonesia. Menurut data Menko PMK (Kementrian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan) angka stunting di Indonesia tahun 2019 sekitar 27,6% dan diperkirakan naik pada 2020 akibat pandemi Covid-19. 

Permasalahan stunting, wasting, underweight, jika tidak segera ditangani sejak dini daya tahan tubuh anak menjadi lemah, pertumbuhan terhambat, dan perkembangan kognitif anak tidak optimal di masa depan. Untuk membantu mengatasi masalah pertumbuhan ini Abbott menyediakan berbagai sumber informasi dan penunjang bagi para orang tua, guru, dan jasa penyedia jasa kesehatan, diantaranya:
  • GrowthPedia: alat pengukur tinggi badan dengan saran nutrisi online dengan tujuan membantu moms mengidentifikasi resiko masalah pertumbuhan pada anak dan intervensi nutrisi sejak dini
  • Webinar mengenai nutrisi dan pertumbuhan. Tujuannya untuk mengedukai lebih dari 10ribu orang tua dan guru sekolah hingga akhir tahun 2021 serta menyediakan alat ukur dan informasi untuk membantu anak-anak mencapai potensi pertumbuhan mereka.
  • Pelatihan online khusus untuk tenaga kesehatan untuk mengenali tanda-tanda malnutrisi
 
Nutrisi berperan penting sekali untuk pertumbuhan anak. Kebanyakan anak-anak yang kurang nutrisi atau mengalami kelaparan sepenuhnya bukan karena kondisi hidup susah atau penghasilan orangtua yang rendah. Tapi kebanyakan karena anak memakan makanan yang tidak ada gizinya alias makan jajanan atau makanan instan. Sehingga anak menjadi terbiasa dengan pola makan yang tidak sehat, dan yang bikin miris anak jadi susah makan atau picky eater.

Pada peluncuran Pediasure Formula Baru 14 Oktober 2021, dr. Cut Nurul Afifah Spesial Anak Konsultan Nutrisi dan Penyakit Metabolik menjelaskan kalau 1000 HPK (Hari Pertama Kehidupan) adalah periode rentan karena terjadi pertumbuhan dan perkembangan yang sangat cepat. Untuk itu para ibu dianjurkan untuk memanfaatkan momen tumbuh kembang anak ini dengan memberikan asupan nutrisi yang tepat. Dan saat usia anak 6-9 bulan sebaiknya ibu mengenalkan semua jenis makanan kepada anak, karena begitu anak memasuki usia 1 tahun anak akan menolak makanan yang belum pernah dicobanya. Inilah yang menjadi penyebab kenapa anak memilih-milih makanannya atau picky etaer. 

PediaSure Formula Baru

Moms, siapa nih yang anak-anaknya mengonsumsi PediaSure? Kabar baik nih buat mom semua. Sekarang PediaSure hadir dengan formula baru. Peluncuran PediaSure Formula Baru: Dukung Pertumbuhan Nyata Anak Indonesia diadakan secara virtual melalui webinar Zoom pada tanggal 14 Oktober 2021 dengan menghadirkan Dr. Jose Rodolfo Dimaano, Jr  Medical Director for Abbott Nutrition Business in Pacific Asia, Sherina Munaf PediaSure Brand Ambassador, Duma Riris Silalahi Puteri Indonesia Lingkungan 2007 juga istri penyanyi ternama di Indonesia yakni Judika dan dr. Cut Nururl Afifah, Sp.A. 

PediaSure Formula Baru diluncurkan sebagai komitmen dari Abbott dalam mendukung pertumbuhan nyata dan mengoptimalkan potensi pertumbuhan anak-anak Indonesia. Kekurangan nutrisi atau Undernutrition merupakan masalah umum dan ini akan memberikan dampak kesehatan jangka pendek maupun jangka panjang pada anak. Kekurangan nutrisi dampaknya nggak hanya stunting seperti yang saya bahas diatas. Tapi juga masih ada beberapa permasalahan lain perihal pertumbuhan anak, yaitu berat bedan kurang atau underweight, berat badan rendah jika dibandingkan dengan tinggi badan atau wasting. 


PediaSure Formula Baru
Pediasure Formula Baru dengan Arginin dan Vitamin K2

PediaSure pertamakali diperkenalkan di Indonesia oleh Abbott pada tahun 1996 dan selalu berinovasi dengan meluncurkan formula baru untuk menyesuaikan dengan kebutuhan nutrisi anak-anak di Indonesia. Abbott adalah pemimpin global dalam bidang healthcare yang membantu banyak orang agar dapat menjalani kualitas hidup yang lebih baik di semua fase kehidupan. Formula baru yang diluncurkan saat ini merupakan formula yang dirancang secara ilmiah dengan nutrisi lengkap dan seimbang yang telah terbukti klinis dapat meningkatkan pertumbuhan tinggi badan, berat badan, dan meningkatkan daya tahan tubuh anak-anak. 

PediaSure Formula Baru diperkaya dengan triple protein complex, tinggi kalsium dan 14 vitamin & 9 mineral, AA dan DHA, dan mengandung Arginin dan dan Vitamin K2. Menurut Dr. Jose Dimaano Jr dua nutrisi yang ditambahkan ini terbukti secara klinis mendukung pertumbuhan tulang yang lebih panjang dan kuat. Arginin adalah asam amino yang penting memainkan peran dalam pertumbuhan tinggi badan. Arginin memicu multiplikasi sel pada lempeng pertumbuhan tulang untuk membantu tulang tumbuh lebih panjang. Sedangkan Vitamin K2 adalah nutrisi penting yang membantu menyalurkan dan mengikat kalsium ke tulang dan pada akhirnya memicu pertumbuhan tulang yang kuat. PediaSure Formula Baru dengan Arginin dan Vitamin K2 merupakan inovasi terbaru untuk mendukung kesehatan dan pertumbuhan anak serta solusi bagi permasalahan pertumbuhan di Indonesia.

Nah, moms kita harus aware banget nih dengan pertumbuhan si kecil. Sering-sering cek tinggi badan dan berat badan si kecil secara berkala, dan yang terpenting asupan nutrisi si kecil apakah sudah mencukupi untuk anak seusianya. Karena nutrisi yang didapatkan si kecil saat ini menjadi penentu masa depan anak. Jadi jangan ada lagi anggapan kalau tinggi badan anak pengaruh genetika, karena kemungkinan ini sangat kecil. Nutrisi dan faktor lingkungan lah yang berperan lebih besar, seperti memperhatikan kebersihan juga berolahraga.



  


Share
Tweet
Pin
Share
24 Comments

Moms, saat si kecil memasuki usia 3 atau 4 tahun pasti udah mulai berontak pengin main ke luar rumah. Main di dalam rumah dianggap area yang kurang menarik karena di usia segitu mereka ingin berkesplorasi. Di luar rumah mereka senang main di taman, main bebatuan, lari-larian bareng teman sesusianya, rasa ingin tahu atau kepo nya semakin tinggi. Ya, itu karena anak-anak sudah mulai punya keinginan untuk bersosialisai, punya teman main, bahkan sudah mulai nggak mau ditemani bermain oleh ibu nya selama ia bermain bersama teman.

Saat anak belum bersekolah aktivitas bermain mungkin lebih sering dan waktunya lebih banyak. Bagaimana dengan anak-anak yang sudah bersekolah? Terkadang jam pelajaran yang cukup panjang di sekolah belum lagi kalau ada peer yang harus dikerjakan saat di rumah membuat waktu bermain sangat terbatas. Padahal banyak sekali manfaat yang bisa didapatkan anak saat bermain di luar rumah, tapi tetap ya moms kita harus mengawasi anak selama bermain.

Tau nggak moms, bermain dapat menimbulkan efek keceriaan bagi anak. Berlatar belakang karena banyak manfaat yang diperoleh anak dengan aktivitas belajar sambil bermain diluar rumah, maka lahirlah Kampanye Global Belajar di Luar Kelas atau Outdoor Classroom Day (OCD). Mungkin moms atau teman-teman pernah dengar ya gerakan Belajar di Luar Kelas ini, atau bisa jadi sudah ada diantara teman-teman yang anaknya sekolah di sekolah alam atau Sekolah Ramah Anak lainnya.

Belajar di Luar Kelas/Outdoor Classroom Day (OCD)

Belajar di Luar Kelas merupakan Kampanye Global untuk menginspirasi aktivitas belajar dan bermain di luar kelas, minimal 90 menit setiap hari. Lebih dari 20 negara di seluruh dunia melakukan Belajar di Luar Kelas, antara lain: Inggris, Australia, India, Colombia, Saudi Arabia, dan Amerika. Jutaan anak dari ribuan sekolah turut mengambil bagian dalam kampanye ini. Belajar di Luar Kelas dilakukan dengan mengintegrasikannya ke dalam proses pembelajaran dengan mengusung berbagai tema, di antaranya: climate change (adaptasi perubahan iklim) perilaku hidup bersih dan sehat, sarapan sehat setiap hari, pendidikan karakter, cinta tanah air, serta pelestarian permainan tradisional.
Keceriaan siswa-siswi SLBN Balikpapan yang berpartisipasi pada kampanye global Hari Belajar di Luar Kelas/OCDay yang secara serempak dilaksanakan di Indonesia dan di dunia
Belajar di Luar Kelas adalah hari untuk menginspirasi pembelajaran di luar kelas. Indonesia telah memulai OCDay sejak tahun 2017, yang diawali dengan kerjasama antara Deputi Menteri KPPPA Bidang Tumbuh Kembang Anak dengan Ketua OCDay Global yang berpusat di London yang disepakati pada saat pertemuan Child in the City Conference pada November 2016 di Belgia. Pada saat pertama kali berpartispasi, Indonesia menjadi kategori terbaik kedua setelah Inggris. Hal ini tercapai karena jumlah sekolah yang mengikuti dan melaksanakan OCDay di Indonesia semarak dengan berbagai tema. Indonesia sendiri merespon Kampanye Global tersebut sekaligus sebagai upaya mempercepat terwujudnya Sekolah Ramah Anak (SRA). Belajar di Luar Kelas dilakukan di Indonesia secara serentak pada tanggal 1 November 2018 selama 3 jam (jam 7-10 waktu setempat).

Kegiatan OCDay ini terselenggara atas kerjasama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA), dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Kementerian Agama, serta didukung oleh Perkumpulan Kerlip (Keluarga Peduli Pendidikan) dan FGII (Federasi Guru Independen Indonesia). Pelaksanaan OCDay ini selaras dengan amanat yang disampaikan oleh Presiden Joko Widodo agar setiap sekolah melakukan proses pembelajaran di luar kelas lebih banyak dengan persentase 60% daripada belajar di dalam kelas. Hal ini dimaksudkan agar proses pembelajaran menjadi menyenangkan, tidak membosankan, sekaligus memberi tantangan yang berbeda bagi anak-anak. Belajar di Luar Kelas juga terselenggara dengan dukungan pemerintah daerah, antara lain: Papua, Halmahera Barat, Ambon, Sumba Barat Daya, Maros, Lombok, Surabaya, Malang, Bojonegoro, Brebes, Garut, Kota Bandung, Jawa Barat, DKI Jakarta, Cilegon, Banten, Metro, Pringsewu, Pekanbaru, Riau, Deli Serdang, Balikpapan, dll.

Penandatanganan Deklarasi Sekolah Ramah Anak (SRA) yang merupakan bagian dari OCDay oleh wali siswa-siswi SLBN Balikpapan, yang menunjukkan bahwa orang tua memiliki peran penting dalam kegiatan OCDay melalui Sekolah Ramah Anak
OCDay 1 November 2018 kemarin tercatat 3.464.843 anak-anak di 27.819 sekolah di seluruh dunia terlibat dalam OCDay. Sebanyak 927.395 adalah partisipan anak-anak di seluruh Indonesia yang mewakili 3.907 sekolah/madrasah di Indonesia. Mereka semua merayakan kegembiraan belajar di luar kelas pada, dan sekitar 1 juta anak ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini, yang berasal dari lebih dari 10 ribu satuan Pendidikan di seluruh pelosok tanah air. Kampanye Global di Luar Kelas di Indonesia tahun ini serentak dipusatkan sekolah yang tersebar di beberapa lokasi di Indonesia, yaitu SMAN 2 Puspitek Serpong Tangerang, SDN 2 Bukittinggi, SLB Balikpapan, SMA Advent Manado, SDN 2 Lateri Ambon, dan YPK Kristus Jayapura.

Deputi Menteri PPPA Bidang Tumbuh Kembang Anak, Lenny N. Rosalin, menyatakan bahwa pelaksanaan OCDay melalui SRA merupakan salah satu upaya memenuhi hak anak dan melindungi mereka dari berbagai kekerasan, eksploitasi dan diskriminasi selama berada di sekolah. Saat menghadiri kegiatan OCDay di SMAN 2 Tangerang Selatan Lenny N Rosalin menjelaskan bahwa salah satu indikator terbentuknya Sekolah Ramah Anak adalah kegiatan belajar di luar kelas. Sekolah Ramah Anak membantu mewujudkan kondisi aman, nyaman, serta dan menyenangkan, selama anak di sekolah. Karena itu, belajar di luar kelas sangat dibutuhkan untuk menunjang proses belajar ramah anak. Dengan demikian diharapkan kesehatan mental dan fisik anak-anak kita semakin baik. Membuat mereka semakin banyak melakukan aktivitas yang juga baik untuk tumbuh kembangnya. Sekolah Ramah Anak ini juga sudah luar biasa membantu menciptakan suasana belajar yang membangun karakter positif anak yang penuh persaudaraan dan keakraban. 

Siswa-siswi SLBN Balikpapan melakukan senam  Germas, yang merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Hari Belajar di Luar Kelas/OCDay pada hari Kamis 1 Nov 2018
Asisten Deputi Pemenuhan Hak Sipil, Informasi dan Partisipasi Anak KPPPA RI, Lies Rosdianty, pada OCDay di SLBN Balikpapan menyatakan bahwa belajar di luar kelas akan memberikan pengalaman yang baik untuk anak-anak. Dengan belajar di luar kelas, anak-anak dapat bersosialisasi dengan lingkungan di sekitarnya. Mereka belajar untuk bekerjasama, saling mendukung dan toleransi. Hal tersebut penting untuk bekal anak-anak di masa depan.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI, Yohana Yembise, yang menghadiri OCDay di SD Negeri 2 Lateri Ambon, berharap semakin banyak satuan pendidikan yang ikut berpatisipasi dalam OCDay. Diharapkan pula, aktivitas ini tak hanya dilakukan satu tahun sekali dengan inovasi beragam yang dilakukan oleh sekolah. Kampanye global ini perlu direspon secara positif. Saya berharap kegiatan ini akan semakin mendorong percepatan pembentukan dan pengembangan sekolah ramah anak agar semakin banyak anak yang terlindungi di sekolah.
(Kiri-Kanan) Kepala Dinas PPPA Balikpapan, Sri Wahjuningsih - Kepala Sekolah SLBN Balikpapan, Mulyono - Asisten Deputi Pemenuhan Hak Sipil Informasi dan partisipasi Anak KPPPA Ri, Lies  Rosdianty - Kepala Bidang Pemenuhan Hak Asasi Anak atas Pendidikan KPPPA RI, Indrawati pada saat serah terima piagam penghargaan dari KPPPA RI untuk SLBN Balikpapan yang telah berpartisipasi dalam kegiatan OCDay dan menjadi Sekolah Ramah Anak






Anak Memiliki Hak untuk Bermain

Bermain merupakan salah satu hak anak dimana selama bermain anak-anak belajar keterampilan dalam kehidupan seperti daya tahan, kerja sama, dan kreativitas. Dengan bermain, orang tua juga bisa melihat perkembangan anak. Sayangnya masih banyak yang mengabaikan dan menganggap anak bermain nggak ada manfaatnya. Padahal bermain itu naluri alamiah anak. Banyak orang tua yang khawatir kalau anaknya main takut jatuh, takut baju nya kotor, takut dipukul orang, takut jadi malas belajar, takut sakit, dan banyak ketakutan-ketakuan lainnya.

Saya senang sekali ada Kampanye Global di Luar Sekolah, apalagi saat ini kurikulum belajar anak sepertinya tambah berat. Saya melihat anak yang masih umur 7 tahun sekolah dari pagi sampai siang kemudian harus nyambung lagi belajar di masdrasah, saya mikir kapan mainnya nih anak. Belum lagi harus mengerjakan tugas dari sekolah. Seharusnya belajar itu menyenangkan bagi anak, jangan jadi beban.

So, buat kita semua para orang tua jangan lupa ya penuhi hak anak dalam bermain, karena kalau terlalu banyak larangan dan ketakutan anak bermain justru berdampak anak kurang bersosialisasi nantinya dan menghambat kemampuannya untuk mandiri juga membuat anak tidak peka terhadap lingkungan sekitar. 





Share
Tweet
Pin
Share
35 Comments

Anak berhak mendapatkan hak nya untuk tumbuh dan berkembang, melalui peran keluarga hak anak dapat terpenuhi hingga anak dapat menggapai masa depan yang lebih baik. 

Teman-teman apakah yang bisa kita lakukan untuk membuat anak-anak kita menjadi lebih baik? Sudahkah hak anak terpenuhi? Menurut data dari kemendagri.go.id di Indonesia kita memiliki hampir 70 ribu kepala keluarga yang mestinya harus memenuhi hak anaknya masing-masing. Tapi pada kenyataannya masih banyak kasus yang kita temui berupa pelanggaran terhadap anak, seperti pelecehan, perkawinan anak di bawah umur, gizi kurang, dsb. Parahnya lagi banyak anak dibawah umur yang sudah menjadi korban trafficking, bekerja menjadi pembantu di luar negeri hanya dengan memanipulasi umur atau memalsukan akta kelahiran. Miris banget kan! Anak bukannya sekolah tapi malah disuruh kerja.

Deputi Menteri Bidang Tumbuh Kembang Anak, Lenny N. Rosalin saat acara Media Gathering "Media Menginspirasi: Media Mengedukasi Keluarga Wujudkan Indonesia Layak Anak (IDOLA) 2030" pada tanggal 17 Juli 2018 di Penang Bistro Kebon Sirih menjelaskan bahwa Indonesia memiliki tujuan akhir pada tahun 2030 yakni menjadi Indonesia Layak Anak (IDOLA) 2030 melalui berbagai upaya. Semakin banyak masalah-masalah yang dihadapi anak-anak kita, juga korban-korban yang merasakan dampaknya. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) berharap media bisa turut aktif melakukan edukasi sebagaimana tercantum dalam Pasal 27 ayat (5) UU Nomor 35 Tahun 2014, media memiliki peran dalam perlindungan anak. Media juga memiliki peran dan fungsi yang telah diatur pada UU Nomor 40 Tahun 1999, pasal 3 tentang Pers, bahwa pers nasional mempunyai fungsi sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, dan kontrol sosial. Melalui media, masyarakat bisa mengetahui segala sesuatu yang terjadi di sekitarnya.

Lenny N Rosalin
Saat ini KPPPA sedang melakukan berbagai upaya pemenuhan hak anak untuk mewujudkan Indonesia Layak Anak (IDOLA) 2030. Ini dilakukan melalui kebijakan Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA). KLA adalah sistem pembangunan yang berbasis hak anak melalui komitmen yang terintegrasi, yang melibatkan pemerintah, dunia usaha, masyarakat, dan media untuk menjamin pemenuhan hak anak dan perlindungan khusus anak. Di tahun 2018 ini, sebanyak 389 Kabupaten/Kota sedang dikembangkan untuk menjadi KLA. Dari jumlah tersebut, 176 Kabupaten/Kota telah berhasil meraih penghargaan dari berbagai kategori. Penghargaan KLA di tahun ini akan digelar di Kota Surabaya pada tanggal 23 Juli 2018, bertepatan dengan Hari Anak Nasional.


Untuk mendukung terwujudnya Kabupaten/Kota Layak Anak, beberapa hal telah dilakukan, seperti
sosialisasi dan pengembangan program dan fasilitas di tiap daerah seperti adanya PUSPAGA (Pusat Pembelajaran Keluarga), upaya-upaya untuk mencegah perkawinan anak, pengasuhan anak berbasis hak anak dan Ruang Bermain Ramah Anak (RBRA). Di bidang kesehatan anak, dikembangkan fasilitas pelayanan kesehatan yang ramah anak (Puskesmas Ramah Anak), Pengembangan Kampung Anak Sejahtera (KAS) untuk mendukung penurunan stunting dan fasilitas ruang ASI, Sekolah Ramah Anak (SRA), Pusat Kreativitas Anak (PKA) terus ditingkatkan.


Hak Anak Terdapat dalam 5 Klaster

Pengembangan KLA yang sedang dilakukan saat ini mengacu pada 24 indikator pemenuhan hak anak dan perlindungan khusus anak yang secara garis besar terdapat dalam 5 klaster hak anak (Convention of the Rights of  the Child).

1. Hak Sipil dan Kebebasan

Banyaknya kasus trafficking yang terjadi karena hak sipil anak belum terpenuhi. Anak belum memliki akta kelahiran dan belum mempunyai identitas. Dari data KPPPA anak-anak korban trafficking 99% belum memiliki akta kelahiran. Padahal akta kelahiran ini penting sekali untuk masa depan anak masuk sekolah dibutuhkan akta. Akta kelahiran ini menjadi hak yang paling basic. 

2. Lingkungan Keluarga dan Pengasuhan Alternatif

Anak berhak untuk mendapatkan pengasuhan dari keluarga, kalau tidak memiliki keluarga inti setidaknya anak memiliki keluarga extended atau keluarga dari pihak ibu maupun bapaknya, jadi anak juga berhak mendapatkan pengasuhan alternatif.

3. Kesehatan Dasar dan Kesejahteraan 

Anak berhak mendapat hak hidup dan berkembang. Anak berhak mendapatkan ASI, masih banyak loh ibu-ibu yang nggak tahu kalau ASI sangat penting untuk tumbuh kembang anak. Bayangkan saja saat anak butuh ASI masih ada orangtua yang nggak peduli bagaimana dengan gizinya. Makanya kasus gizi buruk masih banyak dialami oleh anak-anak di Indonesia. 

4. Pendidikan, Pemanfaatan Waktu Luang dan Kegiatan Budaya

Indonesia belum terlalu banyak program-program yang dikemas sehingga bisa mengisi waktu luang untuk anak. KPPPA melakukan analisis kalau sebuah daerah memberikan ruang atau melakukan banyak sekali melakukan kegiatan-kegiatan diluar jam belajar anak sekolah ini berkorelasi positif dengan rendahnya angka tawuran, narkoba, merokok ataupun bullying. CRC (Convention of the Rights of  the Child) tegas sekali menyerukan kepada setiap negara, agar memberikan mengisi waktu luang anak pulang sekolah dengan kegiatan yang positif, inovatif, dan kreatif. Ini manfaatnya agar anak-anak nggak mudah terpengaruh dengan ajakan negatif. Anak-anak juga perlu mengisi waktu luang dengan kegiatan budaya secara tidak langsung anak diajak mengenal kebudayaan-kebudayaan lokal yang ada di negaranya.

5. Perlindungan Khusus

Anak-anak dianggap memerlukan perlindungan khusus jika poin 1-4 diatas gagal dilakukan. Perlindungan khusus sebenarnya tidak perlu dilakukan selama setiap individu, keluarga, institusi, saling memperkuat.

Sesuai konvensi hak anak, keluarga adalah tempat yang pertama dan utama. Dalam bangun anak sejak dulu sudah di praktekkan banyak negara kalau keluarga berperan aktif dalam pemenuhan hak anak. Kalau keluarga gagal mengasuh anak maka dampak yang terjadi nggak cuma pada keluarga saja tapi juga berdampak pada negara dan bangsanya. Perlu dibedakan antara keluarga dan orangtua. Memang selama ini anggapan kita yang namanya keluarga sudah pasti kaitannya dengan orangtua. Tapi bagi anak-anak yang tidak memiliki orangtua, maka yang menjadi orangtua nya adalah keluarga extended. Tidak boleh anak tidak ada yang mengasuh. Semua keluarga di seluruh dunia harus memberikan perhatian kepada anak.


Perlindungan Untuk Anak dalam Media Penyiaran 

Bu ibu yang anaknya suka nonton teve sebaiknya jangan dibiarkan nonton sendiri ya. Soalnya kalau anak dilepas nonton sendiri tanpa didampingi orangtua anak bisa meniru peran tokoh dalam film yang ditontonnya. Menurut Dewi Setyarini, 
Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat beberapa kasus anak seperti anak bunuh diri, mem-bully temannya, anak menjadi kasar dan suka memukul itu karena didapat dari apa yang di tontonnya melalui media televisi. 


Dewi Setyarini
Media penyiaran perlu memperhatikan kepentingan terbaik bagi anak pada setiap program siaran, terutama dalam siaran anak, dengan menyiarkan program siaran yang memuat pesan moral, mengandung manfaat dan menggambarkan dunia anak. Di sisi lain, orangtua dan orang dewasa harus melakukan kontrol pula pada media yang dikonsumsi anak.Termasuk penggunaan gawai secara bijak dan isi media yang diperbolehkan.


Peran media untuk menjadi agen perubahan (agent of change) bagi terpenuhinya hak anak Indonesia menuju Indonesia Layak Anak (IDOLA) 2030 sangat diharapkan. Jadi sangat jelas bahwa edukasi seputar pemenuhan hak-hak anak Indonesia membutuhkan dukungan dari banyak pihak. Kolaborasi pilar pembangunan bangsa yaitu pemerintah, dunia usaha, lembaga masyarakat dan media, nyata-nyata berperan penting dalam upaya mendukung pemenuhan hak anak sebagaimana tercantum dalam UU Pasal 28 Ayat 2, yaitu setiap anak memiliki hak atas hidup, dan memperoleh kondisi yang layak untuk tumbuh dan berkembang. 

Sesi diskusi bersama narasumber dan media
Sepertiga dari total penduduk Indonesia adalah anak. Dan sepertiga penduduk Indonesia inilah yang akan menjadi sumber daya manusia kita kedepannya. Anak sebagai next generartion dan menjadi investasi kalau bisa kita kelola dengan positif. Tetapi kalau tidak dikelola dengan positif justru akan menjadi beban atau menjadi masalah. Kalau kita tidak intervensi urusan anak maka di masa yang akan datang anak akan jadi sumber daya manusia yang apa adanya. Maka dari itu harus kita mulai dari sekarang untuk mempersiapkan anak-anak kita generasi emas 2045 agar di usia produktifnya menjadi anak yang berguna bagi keluarga, negara dan bangsanya. 

Mengapa generasi emas 2045? Yups, tahun 2045 nanti Indonesia tepat berusia 100 tahun dan rentang 2020 sampai 2045 sebanyak 70% penduduk Indonesia dalam usia produktif, suatu generasi ideal yang mampu menjadi lokomotif (penggerak/pendorong) pembangunan masyarakat dan bangsa untuk lepas dari kebodohan, kemiskinan, dan keterbelakangan. 







Share
Tweet
Pin
Share
16 Comments

Indonesia memiliki dua masalah sehubungan dengan masalah gizi pada anak-anak, yaitu malnutrisi dan obesitas. Masalah obesitas pada usia dini menjadi penyebab penyakit jantung dan risiko kematian dini, padahal itu semua bisa dicegah dengan pola asuh gizi yang tepat termasuk memberikan sumber gizi terbaik bagi bayi yakni ASI dan mengenalkan si kecil terhadap MPASI. Meskipun saya belum memiliki momongan tapi bukan berarti saya nggak punya perhatian dan keingintahuan soal tumbuh kembang anak, karena saya memiliki keponakan yang usianya masih dibawah 5 tahun dan jujur saja saya justru lebih cerewet ke ibunya soal susu, makanan, sampai soal mainan. Adik saya sampai gemes kalau saya cerewetnya nggak ketulungan, haha! 

Makanya saya senang mengikuti berbagai workshop maupun talkshow seputar parenting, karena selain menambah insight mengenai seputar tumbuh kembang anak informasinya akan saya simpan buat referensi saya seandainya memiliki anak dan saya bagikan juga ke teman-teman, adik, saudara, maupun pembaca blog saya. Ya, saya memang terkesan serakah, tapi serakah menjemput ilmu.

tanya dokter lewat aplikasi

Bicara pola asuh gizi, 13 April lalu saya mengikuti blogger gathering bersama Halodoc di Dailycious Cafe di kawasan Gading Serpong, Tangerang. Acara yang diikuti oleh sekitar 35 orang mom blogger ini membahas tentang 5 Kesalahan Pola Asuh Gizi Pada Anak dengan narasumber dr. Herlina, Sp.A Dokter Spesialis Anak yang saat ini berpraktik di RS Ciputra Citra Garden Jakarta Barat dan menjadi salah satu tim medis Halodoc.

Menurut dr. Herlina masih banyak orangtua yang masih salah menerapkan pola makan kepada anak. Mungkin tanpa orangtua sadari khususnya para ibu maksudnya baik agar anak mau makan tapi sebenarnya tanpa disadari pula yang kita lakukan justru salah kaprah dan justru menyebabkan timbulnya gangguan kesehatan pada anak. So, apa saja kesalahan pola asuh gizi pada anak? Ada 5 kesalahan papar dr. Herlina, kita simak yuk.


5 Kesalahan Pola Asuh Gizi Pada Anak


1. Memaksa Anak untuk Makan

Memaksa anak makan ini seringkali terjadi. Ibu mana yang nggak bingung kalau anak nggak mau makan, timbul kekhawatiran kalau anak sakit. Padahal kalau anak makannya terpaksa justru menyebabkan anak jadi nggak suka dengan aktivitas makan. Biarkan anak menolak dan meminta kembali beberapa waktu dan biarkan anak makan sendiri, ini akan membuat anak memiliki kendali dengan aktivitas ini. Berikan makanan apa saja selama makanan yang diberikan memenuhi unsur gizi seimbang. 

Kemudian usahakan memberi makan secara terjadwal dengan baik pada anak, ini membuat anak makan dengan intensif dan anak bisa mengenali rasa dari lapar ke kenyang. Jadwal ini harus ditentukan orangtua mulai dari makan apa, kapan, dan di mana, anak hanya menentukan kapan dia kenyang.

2. MPASI Sebelum 6 Bulan

Memperkenalkan MPASI pada anak sebaiknya saat berusia 6 bulan. Anak sebaiknya diberi ASI eksklusif bukan MPASI. Karena saat usia 6 bulanlah saluran bayi dipersiapkan menerima perubahan-perubahan pada makanan, mulai dari hanya menelan ASI saja sampai ia merasakan tekstur yang lebih padat. Jadi pemberian MPASI harus bertahap tujuannya agar makanan mudah diserap dan tidak menimbulkan efek samping bayi. Kalau kita memaksakan memberi MPASI sebelum 6 bulan justru akan menimbulkan reaksi gangguan pencernaan seperti kembung, diare, juga alergi.

Para ibu sudah pasti tau lah ya kalau ASI merupakan sumber gizi terbaik, jadi sampai ia berusia 6 bulan usahakan beri ASI secara rutin dan eksklusif untuk meningkatkan tumbuh kembangnya menjadi lebih optimal. Selain mendapatkan manfaat gizi juga memberikan manfaat psikis karena akan tercipta bonding antara ibu dan anak.

KataDokterHaloDoc
dr. Herlina, SP. A (tengah)

3. Makanan Tidak Sesuai Usia

Ini dia nih sering banget saya lihat camilan anak-anak sama dengan camilan orang dewasa. Saya kadang nggak habis fikir kalau lihat anak-anak yang diberi makanan atau camilan yang nggak sesuai dengan usianya, apa karena ibunya kurang kreatif untuk mengkreasikan makanan atau biar lebih irit, atau memang kurang paham mengenai nutrisi pada anak. Padahal camilan untuk anak dan orang dewasa itu beda, bahkan kalau mau lebih teliti lagi pada kemasan jajanan kadang tertulis usia yang cocok untuk mengonsumsinya. Menrut dr. Herlina sekalipun camilan yang diberi berupa jus atau buah tetap saja harus sesuai dengan porsinya. Misal memberikan jus pada balita disarankan hanya maksimal setengah gelas jus 100% buah dalam sehari. Kalau diberikan lebih dari itu akan menyebabkan kelebihan gula dan berakibat anak tidak merasa lapar pada waktu makan. Camilan dengan nutrisi seimbang sangat dianjurkan seperti buah-buahan, sayur-mayur, protein, gandum utuh, atau susu.

4. Pemakaian DOT Terlalu Lama

Pemakaian dot yang terlalu lama pada anak dapat mempengaruhi struktur rahang dan gigi si kecil. Ini benar banget. Ponakan saya sewaktu kecil susah sekali lepas dari dot, bisa ngamuk alias nangis berkepanjangan kalau dotnya dilepas, sempat butuh waktu lama loh ponakan saya lepas dari dot. Sekarang usianya sudah 6 tahun bentuk rahang atasnya jadi agak maju dan giginya juga nggak rapi. Ya, ini karena kebiasaan minum susu dari dot. 

Mengubah kebiasaan menggunakan botol ke gelas memang nggak mudah dan nggak bisa dilakukan secara instan. Oleh karena itu perlu trik dan peralatan tepat untuk menjalani masa transisi itu. Mungkin lebih baik dikenalkan dengan straw cup terlebih dahulu jangan langsung ke gelas.

5. Banyak Makanan Manis

Kadang anak-anak picky eater banget kan ya? Penginnya makanan atau camilan yang manis-manis, parahnya lagi nggak mau nyoba jenis makanan baru. Namanya orangtua daripada anak nggak makan mending nurutin selera anak yang doyan makan manis. Padahal pemberian makanan yang manis pada anak kurang baik, karena menurut WHO kebutuhan gula harian anak tidak boleh melebihi 10% dari total energi yang dikonsumsi. Hal ini untuk menghindari kelebihan energi dalam tubuh anak. Pemberian makanan manis yang terlalu banyak dapat menyebabkan gigi rusak, obesitas, dan anak kehilangan nafsu makan. 

Games merayu anak agar mau makan :)
Senang sekali ikutan gathering bareng Halodoc kali ini, saya jadi tahu banyak mengenai kesalahan pola asuh gizi pada anak. Alih-alih ingin menyenangkan anak dan ingin anak sehat dengan memberinya makanan yang kita anggap tepat justru malah nggak baik untuk tumbuh kembangnya. Jadi harus lebih aware lagi ya moms. 

Tapi kalau masih pengin tahu lebih banyak lagi dan pengin nanya-nanya ke dokter mengenai pola asuh gizi pada anak, atau apapun yang berhubungan dengan tumbuh kembang anak bisa juga lewat Halodoc. By the way sudah pada tahu apa itu Halodoc? Oke, kita bahas ya...


Halodoc Aplikasi Tanya Dokter, Beli Obat dan Cek Lab

Halodoc adalah start-up Indonesia berupa aplikasi kesehatan layaknya kotak P3K berjalan yang selalu ada di genggaman dengan memberikan kemudahan dalam menjaga dan memeriksa kesehatan seluruh anggota keluarga. Dengan aplikasi ini kita bisa tanya dokter, beli obat, dan cek lab. Jadi kalau teman-teman memiliki pertanyaan seputar kesehatan dan ingin tanya langsung ke dokternya bisa melalui aplikasi Halodoc. Sebelumnya harus download dahulu aplikasi Halodoc di App Store atau Google Play. Setelah itu buat akun dengan mengisi data diri seperti nama lengkap, nomor telfon, email, dsb. Kemudian setelah punya akun baru deh kita bisa menggunakan aplikasi Halodoc.

Melalui aplikasi Halodoc kita bisa tanya-tanya seputar kesehatan nggak cuma via chat saja tapi bisa ngobrol langsung melalui voice call maupun video call biar lebih puas nanya ke dokter yang bersangkutan, karena zaman sekarang kita wajib menyaring informasi seputar kesehatan yang beredar yang belum tentu benar informasinya apalalagi yang menyangkut kesehatan buah hati, papar mbak Blessy, Manager Offline Marketing Halodoc.

mbak Blessy menjelaskan mengenai fitur-fitur yang ada di aplikasi Halodoc

Fitur Contact Doctor

Halodoc memiliki tim medis mulai dari dokter umum, spesialis anak, internis, hingga spesialis mata yang kesemuanya online selama 24 jam. Misal kita mau menanyakan seputar nutrisi makanan untuk anak kita bisa bertanya ke dokter spesialis anak yang siap memberikan informasi dan saran setiap saat para ibu menanyakan seputar pengasuhan gizi pada anak. Dengan begitu sebagai ibu kita nggak perlu menebak-nebak jenis makanan apa yang boleh dan tidak boleh diberikan pada anak. Fitur ini memudahkan kita untuk menghubungi dokter dan tentu saja membuat kita jadi tambah smart karena mendapatkan pengetahuan lebih dari para dokter. "Dengan saran dari ahli medis serta tindakan yang benar saat menangani gizi dalam masa perkembangan anak atau ketika anak sakit, anak dapat pulih dalam kondisi yang cepat dan meminimalisir berbagai kejadian yang bersifat fatal," kata dr. Herlina, Sp.A yang juga merupakaan salah satu tim medis Halodoc. #katadokterhalodoc #sehatlebihmudah.

Fitur Pharmacy Delivery

Nggak cuma konsultasi medis, dengan aplikasi Halodoc kita juga bisa membeli kebutuhan medis yang dibutuhkan melalui fitur Pharmacy Delivery yang merupakan fitur layanan Apotik 24 jam. Kita bisa memesan obat secara langsung dengan fitur ini, dan pesanan akan diantar dalam waktu satu jam setelah kita menyelesaikan pemesanan. Ongkir nya FREE loh! 

Fitur Lab Service

Bagi saya fitur yang satu ini benar-benar berbeda Fitur Labs ini bisa kita gunakan manfaatkan moms. Ini adalah fitur layanan pengecekan kesehatan yang bekerjasama dengan Prodia. Fitur ini memungkinkan phlebotomist (petugas lab) untuk datang ke rumah atau kantor dan melakukan pengecekan kesehatan seperti cek darah ataupun urine. Saat ini fitur Labs hanya bisa digunakan oleh pengguna aplikasi Halodoc di sekitar Jakarta Pusat dan Selatan saja.

Aplikasi Kesehatan
aplikasi Halodoc
Komplit banget penjelasan dr. Herlina dan mbak Blessy seputar pola asuh gizi dan aplikasi kesehatan Halodoc. Happy banget bisa menjadi bagian dari mom blogger yang ikut di acara gathering kali ini. Semoga Halodoc sering mengadakan gathering yang bermanfaat seperti ini dengan tema berbeda untuk menambah insight para ibu. Harapan saya semoga aplikasi Halodoc menjadi solusi cerdas buat saya dan pengguna lainnya. Thanks a lot Halodoc.

ekspresi bahagia setelah mengikuti gathering bareng Halodoc




Share
Tweet
Pin
Share
27 Comments
Older Posts

Hello! I’m Tuty Queen

Hello! I’m Tuty Queen

Follow Me

  • instagram
  • facebook
  • twitter
  • pinterest

Cara Mudah Membuat eBook di Canva

Cara Mudah Membuat eBook di Canva

Seedbacklink

Seedbacklink affiliate

Design Anti Ribet Cuma Pakai Canva

Design Anti Ribet Cuma Pakai Canva

Total Pageviews

Categories

  • Asuransi
  • Canva
  • Dompet Dhuafa
  • Film
  • Food
  • Lingkungan
  • NPD
  • Sport
  • aplikasi
  • beauty
  • ekonomi
  • fashion
  • finance
  • halal lifestyle
  • health
  • hotel
  • kuliner
  • lifestyle
  • teknologi digital

Blog Archive

  • ►  2014 (6)
    • ►  November 2014 (6)
  • ►  2015 (37)
    • ►  March 2015 (1)
    • ►  May 2015 (3)
    • ►  June 2015 (5)
    • ►  October 2015 (3)
    • ►  November 2015 (7)
    • ►  December 2015 (18)
  • ►  2016 (167)
    • ►  January 2016 (11)
    • ►  February 2016 (16)
    • ►  March 2016 (21)
    • ►  April 2016 (15)
    • ►  May 2016 (11)
    • ►  June 2016 (16)
    • ►  July 2016 (6)
    • ►  August 2016 (7)
    • ►  September 2016 (10)
    • ►  October 2016 (20)
    • ►  November 2016 (18)
    • ►  December 2016 (16)
  • ►  2017 (176)
    • ►  January 2017 (12)
    • ►  February 2017 (14)
    • ►  March 2017 (11)
    • ►  April 2017 (16)
    • ►  May 2017 (14)
    • ►  June 2017 (14)
    • ►  July 2017 (6)
    • ►  August 2017 (21)
    • ►  September 2017 (10)
    • ►  October 2017 (20)
    • ►  November 2017 (15)
    • ►  December 2017 (23)
  • ►  2018 (171)
    • ►  January 2018 (9)
    • ►  February 2018 (13)
    • ►  March 2018 (17)
    • ►  April 2018 (18)
    • ►  May 2018 (16)
    • ►  June 2018 (9)
    • ►  July 2018 (6)
    • ►  August 2018 (18)
    • ►  September 2018 (13)
    • ►  October 2018 (17)
    • ►  November 2018 (13)
    • ►  December 2018 (22)
  • ►  2019 (108)
    • ►  January 2019 (11)
    • ►  February 2019 (3)
    • ►  March 2019 (5)
    • ►  April 2019 (1)
    • ►  May 2019 (13)
    • ►  June 2019 (6)
    • ►  July 2019 (11)
    • ►  August 2019 (17)
    • ►  September 2019 (10)
    • ►  October 2019 (10)
    • ►  November 2019 (11)
    • ►  December 2019 (10)
  • ►  2020 (64)
    • ►  January 2020 (6)
    • ►  February 2020 (8)
    • ►  March 2020 (8)
    • ►  April 2020 (5)
    • ►  May 2020 (6)
    • ►  June 2020 (1)
    • ►  July 2020 (4)
    • ►  August 2020 (12)
    • ►  September 2020 (5)
    • ►  October 2020 (2)
    • ►  November 2020 (3)
    • ►  December 2020 (4)
  • ►  2021 (63)
    • ►  January 2021 (5)
    • ►  February 2021 (3)
    • ►  March 2021 (5)
    • ►  April 2021 (4)
    • ►  May 2021 (3)
    • ►  June 2021 (1)
    • ►  July 2021 (2)
    • ►  August 2021 (3)
    • ►  September 2021 (4)
    • ►  October 2021 (10)
    • ►  November 2021 (11)
    • ►  December 2021 (12)
  • ►  2022 (67)
    • ►  January 2022 (2)
    • ►  February 2022 (7)
    • ►  March 2022 (10)
    • ►  April 2022 (12)
    • ►  May 2022 (5)
    • ►  June 2022 (5)
    • ►  July 2022 (5)
    • ►  August 2022 (3)
    • ►  September 2022 (5)
    • ►  October 2022 (4)
    • ►  November 2022 (3)
    • ►  December 2022 (6)
  • ►  2023 (49)
    • ►  February 2023 (3)
    • ►  March 2023 (4)
    • ►  April 2023 (2)
    • ►  May 2023 (7)
    • ►  June 2023 (3)
    • ►  July 2023 (7)
    • ►  August 2023 (3)
    • ►  September 2023 (7)
    • ►  October 2023 (4)
    • ►  November 2023 (5)
    • ►  December 2023 (4)
  • ►  2024 (29)
    • ►  January 2024 (1)
    • ►  February 2024 (3)
    • ►  March 2024 (8)
    • ►  April 2024 (2)
    • ►  May 2024 (1)
    • ►  June 2024 (5)
    • ►  July 2024 (2)
    • ►  August 2024 (2)
    • ►  September 2024 (3)
    • ►  October 2024 (1)
    • ►  November 2024 (1)
  • ►  2025 (39)
    • ►  January 2025 (4)
    • ►  February 2025 (3)
    • ►  March 2025 (1)
    • ►  April 2025 (1)
    • ►  May 2025 (2)
    • ►  June 2025 (8)
    • ►  July 2025 (10)
    • ►  August 2025 (7)
    • ►  September 2025 (1)
    • ►  October 2025 (1)
    • ►  December 2025 (1)
  • ▼  2026 (11)
    • ►  January 2026 (1)
    • ►  March 2026 (1)
    • ►  April 2026 (2)
    • ►  June 2026 (2)
    • ►  August 2026 (2)
    • ►  September 2026 (2)
    • ▼  October 2026 (1)
      • Mengenal Skin Longevity Lewat 5 Protokol Wardah Sk...

Contact Form

Name

Email *

Message *

Member of

Member of
Seedbacklink



Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates