Mengenal Obat dan Ahli Obat Sang Apoteker

Hati-hati gunakan obat, yuk...tanya Apoteker P ernah baca kalimat di atas kan? Lantas apakah kita sering menanyakan ke apoteker a...



Hati-hati gunakan obat, yuk...tanya Apoteker


Pernah baca kalimat di atas kan? Lantas apakah kita sering menanyakan ke apoteker apakah obat yang kita beli di apotek kandungan nya sudah tepat untuk kita konsumsi? Saya yakin banyak dari kita yang nggak tahu dan tidak paham siapa sebenarnya orang yang tepat kita tanyai seputar obat. Selama ini kita cuma tahu berobat ke dokter dan mempercayakan sepenuhnya obat yang diberikan oleh dokter. Tapi sebagai pasien kita harus kritis mencari tahu kandungan, kegunaan, bagaimana dengan dosisnya, dll. 

Beberapa kali saya menemukan kasus ada orang yang tubuhnya merah lebam dan terkelupas, bahkan ada yang sampai gosong. Mirisnya lagi nih di kampung saya pernah seorang anak meninggal karena sakit dan badannya gosong kulit mengelupas. Tahu nggak apa reaksi para tetangga? Mereka bilang ini klenik, ini karena ada orang yang mentransfer ilmu hitam. My God, hari gini masih saja orang menyimpulkan kalau reaksi tubuh yang ditimbulkan seperti itu karena ghaib. Dan tak ada satupun yang mencari tahu apa penyebabnya. Miriskan? Ada juga tetangga adik saya di lain kota yang kasusnya sama, terkena stroke diberi obat dan tubuhnya merah lebam dan mengelupas. Padahal bukan obat beli sendiri loh, semua obat atas resep dokter. 

Ok, sebelum saya membahas mengenai Mengenal Obat dan Ahli Obat saya pengin bilang kalau saya sangat bersyukur dengan profesi saya sebagai blogger saat ini. Banyak sekali ilmu yang saya dapatkan. Dan ilmu-ilmu ini sangat luar biasa, membuat saya merasa betapa bodohnya saya selama ini. Termasuk insight yang saya dapatkan seputar kesehatan termasuk didalamnya bijak menggunakan obat. Salah satunya penggunaan antibiotik. Sadar nggak sih kalau kita selama ini sakit sedikit diberikan antibiotik. Demam, batuk, pilek kebanyakan dokter memberikan antibiotik. Saya salut dengan sedikit dokter yang tak memberi antibiotik sama sekali itu. Kalau ingat ini rasanya kesal banget ya, tapi bagaimanapun kita sebagai pasien juga lah yang harus kritis. 


Beberapa waktu lalu saya mengikuti Peringatan Hari Apoteker Sedunia 2018 yang diperingati setiap tanggal 25 September di kantor Sekretariat PP IAI , Jl. Wijayakusuma No.17 Tomang, Jakarta Barat. Acara dalam bentuk gathering bersama blogger dan jurnalis ini diinisiasi oleh PP Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) dengan tema "Be Smart and Fun with Pharmacists" tanggal 29 September 2018. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mensosialisasikan profesi Apoteker kepada publik, sekaligus melakukan komunikasi, edukasi dan informasi tentang penggunaan obat secara benar dan DAGUSIBU dengan harapan blogger dan jurnalis bisa menyebarkan nya kembali ke masyarakat lewat tulisan.

Kegiatan peringatan World Pharmacists Day kemarin menghadirkan narasumber Bapak Noffendri Roestam, S.Si, Apt, Sekjen PP IAI dan Ibu Indri Mulyani Bunyamin, S. Farm, Apt, Ketua HISFARKESMAS. Acara ini juga bekerjasama dengan Indonesian Young Pharmacists Group (IYPG) dan GeMa CerMat Kemenkes RI. Dalam kegiatan ini selain dijelaskan bagaimana menggunakan obat secara benar, kami semua juga mengikuti praktek edukasi dan diskusi interaktif berkelompok dengan metode CBIA (Cara Belajar Insan Aktif). Pastinya saya benar-benar dapat pengetahuan mengenai obat dan kepada siapa nantinya saya bertanya mengenai obat.


Yuk, Kenali Ahli Obat Kita (Apoteker)

Teman-teman, selama ini kalau menebus resep ke Apotek atau beli obat bebas ke Apotek pernah nanya ke petugas Apotek kegunaan obat? Jarang kan ya? Saya pun awalnya begitu. Beli obat, bayar, langsung pulang. Sampai rumah bingung, ini obat sebaiknya di konsumsi berapa kali, sebaiknya di minum sehabis atau sebelum makan, apakah dikunyah terlebih dahulu atau langsung ditelan, dsb. Saya yakin banyak yang kurang peduli dengan penggunaan obat. Maka dari itu pada peringatan World Pharmacists Day tahun ini International Pharmaceutical Federation (FIP) juga menyelenggarakan kegiatan mempromosikan dan mengadvokasi peran apoteker dalam meningkatkan kesehatan di seluruh dunia. Menurut Presiden FIP, Dr. Carmen Pena tahun ini FIP fokus pada keahlian luas yang dimiliki Apoteker dan digunakan setiap hari untuk memastikan kesehatan pasien menjadi lebih baik. 

Apoteker lah sesungguhnya sumber pengetahuan dan saran yang terpercaya, nggak cuma untuk pasien saja tapi juga untuk profesional kesehatan lainnya. Apoteker juga lah seharusnya yang memastikan saat pasien masuk ke Apotek kemudian memastikan bahwa obat yang diberikan sudah tepat, begitu juga dengan dosis dan formulasinya. Jadi kalau teman-teman ke Apotek tanyakan ke petugasnya apakah ada Apotekernya, karena kita berhak menanyakan mengenai obat dan Apoteker memiliki kewajiban untuk memberikan penjelasan cara menggunakan obat dengan benar.

Noffrendi Roestam

Menurut penjelasan Bapak Noffrendi Roestam mengenai pekerjaan Apoteker, bahwa sebenarnya pekerjaan Apoteker itu praktik kefarmasian yang meliputi pembuatan termasuk pengendalian mutu sediaan farmasi, pengamanan, pengadaan, pemyimpanan dan pendistribusian obat, pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan informasi obat serta pengembangan obat, bahan obat dan obat tradisional harus dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan sesuai dengan peraturan perundang-undangan (UU No.36/2009). Sedangkan Pekerjaan Apoteker itu sendiri sebagai berikut:

  1. Pekerjaan Kefarmasian dan Pengadaan Sediaan Farmasi (Instalasi Farmasi Kab/Kota)
  2. Pekerjaan Kefarmasian dan Produksi Sediaan Farmasi (Industri: Obat, Obat Tradisional, Kosmetika)
  3. Pekerjaan Kefarmasian dalam Distribusi atau Penyaluran Sediaan Farmasi (PBF dan Inst. farmasi Kab/Kota)
  4. Pekerjaan Kefarmasian dalam Pelayanan Sediaan Farmasi (RS, Apotek, Klinik, Puskesmas)
Jadi dalam menjaga kualitas, khasiat dan keamanan obat adalah tugas Apoteker. Obat yang beredar di Indonesia harus berstandar BPOM dan Apoteker lah yang menjamin kualitasnya. Bisa saja pasien yang sakit tapi tak kunjung sembuh karena penggunaan obat yang tidak benar dan cara penyimpanannya yang salah.  Oh ya, Apoteker juga memiliki kewenangan seandainya obat yang diresepkan oleh dokter tidak ada di Apotek, selama obat tersebut kandungannya sama hanya beda merek saja.

Setiap Apotek diwajibkan oleh pemerintah untuk memasang papan praktik Apoteker yang berisikan nama Apoteker, NIP, dan waktu praktik. Bukan dokter saja yang punya waktu praktik, Apoteker juga punya jadwal praktik agar konsumen percaya dan mengetahui jadwal praktiknya. Seorang Apoteker harus memiliki dokumen legal seperti Sertifikasi Kompetensi, Surat Tanda Registrasi Apoteker (STRA), dan Surat Izin Praktik Apoteker (SIPA). Dan sejak tahun 2014 apoteker menggunakan jas putih sebagai identitasnya. Apoteker juga memiliki organisasi yakni IAI (Ikatan Apoteker Indonesia).

apoteker dan jas putih

Tentang Ikatan Apoteker Indonesia (IAI)

IAI (Ikatan Apoteker Indonesia) merupakan satu-satunya organisasi profesi Apoteker di Indonesia yang diakui oleh pemerintah. Pertama kali dibentuk pada 18 Juni 1955 dengan nama IKA (Ikatan Apoteker Indonesia) yang diketuai oleh Drs. E. Lohoo. Melalui Kongres VII pada tanggal 26 Februari 1965 ditetapkan perubahan nama organisasi menjadi Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia (ISFI), kemudian melalui Kongres XVIII tanggal 7-9 Desember 2009 ditetapkan perubahan nama organisasi menjadi Ikatan Apoteker Indonesia (IAI).

Ikatan ini mempunyai maksud untuk mewujudkan Apoteker yang profesional, sehingga mampu meningkatkan kualitas hidup sehaat bagi semua manusia. IAI juga memiliki tujuan sebagai berikut:


  1. Menyiapkan Apoteker sebagai tenaga kesehatan yang berbudi luhur, profesional, memiliki semangat kesejawatan yang tinggi dan inovatif serta berorientasi ke masa depan.
  2. Membina, menjaga, dan meningkatkan profesionalisme Apoteker sehingga mampu menjalankan praktik kefarmasian secara bertanggung jawab.
  3. Memperjuangkan dan melindungi kepentingan anggota dalam menjalankan praktik profesinya.
  4. Mengembangkan kerjasama dengan organisasi profesi lainnya baik nasional maupun internasional.

So, jadi sedikit banyaknya kita jadi tahu kalau ahli obat itu sebenarnya adalah Apoteker. Sering kita lihat  dokter praktik merangkap Apoteker bahkan beberapa dokter ada yang meracik obat sendiri, padahal itu bukan tugasnya dan tentu saja dokter bukan ahlinya, karena dokter tidak diajarkan mendistribusikan obat. Jadi meracik obat adalah tugasnya Apoteker karena memang mereka ahlinya.


Cara Cerdas Gunakan Obat dengan DAGUSIBU

Pernah dengar istilah DAGUSIBU? DAGUSIBU adalah singkatan DAPATKAN GUNAKAN SIMPAN BUANG. DAGUSIBU adalah program IAI yang bertujuan memberikan informasi kepada masyarakat tentang cara mendapatkan, menggunakan, menyimpan, dan membuang obat dengan cara yang benar.


DAPATKAN

Belilah obat di tempat yang paling terjamin yaitu Apotek. Penyimpanan obat di Apotek lebih terjamin sehingga sampai ditangan pasien dalam kondisi yang baik (keadaan fisik dan kandungan kimianya belum berubah). Patikan Apotek yang dikunjungi memiliki izin dan memiliki Apoteker yang siap membantu pasien setiap saat.

GUNAKAN 

Gunakan obat dengan benar. Penggunaan obat harus sesuai dengan aturan yang tertera pada wadah atau etiket. Obat jenis antibiotik harus dikonsumsi sampai habis. pastikan Apoteker memberitahukan  cara pemakaian obat yang diberikan dengan jelas khususnya untuk obat dengan sediaan yang tidak terlalu dikenal oleh masyarakat umum.

SIMPAN

Supaya obat yang kita pakai tidak rusak maka kita perlu, menyimpan obat dengan benar, sesuai dengan  petunjuk pemakaian yang ada didalam kemasan. Kebanyakan obat tidak boleh terpapar sinar matahari secara langsung, untuk itu obat disimpan dalam tempat yang tertutup dan kering. Selain itu simpan obat di tempat yang sulit di jangkau anak-anak.

BUANG

Bila obat telah kedaluarsa atau rusak maka obat tidak boleh diminum, untuk itu obat perlu dibuang. Obat jangan dibuang secara sembarangan agar tidak disalahgunakan. Obat dapat dibuang dengan terlebih dahulu dibuka kemasannya, direndam dalam air, lalu dipendam dalam tanah.

Menurut bu Indri 50% obat di dunia digunakan dengan tidak tepat. Banyak malpraktik, anak-anak meninggal setelah minum obat. Sama nih kasusnya dengan tulisan saya di paragraf awal. Bu Indri berpesan agar kita jangan sembarangan minum obat, karena minum obat itu ada aturannya. Obat sendiri ada yang efek sampingnya langsung terlihat dan ada yang efeknya sampai jangka panjang. Yang paling membahayakan efek jangka panjang bisa merusak hati, ginjal, dan lainnya.

Indri Mulyani Bunyamin
Obat itu banyak macamnya, dan obat tradisional pun termasuk obat. Kenali obat apakah itu obat paten, obat generik, maupun obat generik bermerek. Paling aman beli obat di apotek dan tanyakan apakah apotek tersebut ada apotekernya. Kalau apotek nggak ada apotekernya mending cari apotek lain saja. Karena justru apotek itu harus ada apoteker bukan asisten apoteker. Kemudian ketika mendapatkan obat tanyakan Lima O. Apa itu Lima O?

  1. Obat ini apa kandungannya : kandungan sama dengan komposisi
  2. Obat ini apa khasiatnya: khasiat sama dengan indikasi obat
  3. Obat ini berapa dosisnya; dosis merupakan takaran untuk menghasilkan khasiat
  4. Obat ini bagaimana cara menggunakannya: aturan pakai disesuaikan dengan sediaan obat
  5. Obat ini apa efek sampingnya: efek samping adalah setiap kemungkinan efek tambahan obat yang dapat merugikan.

Obat sendiri ada tiga jenis berdasarkan tingkat keamanannya, yaitu: Obat Bebas, Obat Terbatas dan Obat Keras. 



Lingkaran hitam dengan latar hijau : Obat-obatan ini termasuk obat bebas. Artinya dapat diperoleh tanpa resep dokter dan bisa dibeli di Apotek, pedagang eceran, atau toko obat.

Lingkaran hitam dengan latar biru Obat ini termasuk obat bebas terbatas. Artinya obat ini bisa diperoleh tanpa resep dokter dan dapat dibeli di Apotek, pedagang eceran, atau toko obat, tapi harus memperhatikan informasi obat pada kemasan. Biasanya obat yang masuk dalam golongan ini disertai dengan peringatan yang diberi latar belakang hitam dengan tulisan :
P. No. 1 Awas! Obat keras, bacalah aturan pakainya!
P. No. 2 Awas! Obat keras. Hanya untuk dikumur, jangan ditelan
P. No. 3 Awas! Obat keras. Hanya untuk bagian luar badan
P. No. 4 Awas! Obat keras. Hanya untuk dibakar
P. No. 5 Awas! Obat keras. Tidak boleh ditelan
P. No. 6 Awas! Obat keras. Obat wasir, jangan ditelan

Lingkaran hitam dengan latar berwarna merah dan huruf K berwarna hitam Obat-obatan ini termasuk obat keras. Tidak dijual bebas. Untuk memperolehnya harus dengan resep dokter dan memperhatikan aturan tertentu. Biasanya dengan tulisan besar yang berbunyi : Harus dengan resep dokter.


Banyak sekali wawasan dan imu yang saya dapatkan saat mengikuti kegiatan ini, apalagi mengikuti CBIA (Cara Belajar Insan Aktif), saya jadi tahu kandungan obat, indikasi, efek samping, dan aturan pakai obat dengan jelas. Bahwa kenyataannya terkadang kita mengonsumsi dua obat sekaligus saat sakit padahal dua obat tersebut kandungannya sama. Apa yang terjadi? Kita bisa kelebihan dosis. Mulai sekarang kita harus lebih peduli lagi dan bijak gunakan obat ya teman-teman. Setidaknya kita jadi perpanjangan tangan juga buat orang lain.




You Might Also Like

27 comments

  1. Kenbetulan bunda lagi bongkar2, termasuk obat2 yg tersisa .Buang buang, tanpakecuali sisa2 onat bunda gunting tanpa ampun biar gak fiambil pemulung fan dijual ke tukang obst eceran.

    ReplyDelete
  2. Untuk flu aku biasanya banyakin istirahat dan makan minum yang anget2, cepat sembuhnya.
    Btw ternyata obat nggak boleh asal buang ya, harus dipendam dalam tanah. Noted! Makasih infonya.

    ReplyDelete
  3. Aku paling gk suka minum obat kak karena pahit dan susah nelen obatnya, apa ada alternatif lain yah?

    ReplyDelete
  4. Iyah, zaman sekarang mahdikit-dikit antibiotik, makanya jadi kebal nih, kayak aku kalau kena radang tenggorokan, kalau belum dikasih antibiotik lama sembuhnya

    ReplyDelete
  5. saya kalo flu dan batuk biasanya gak langsung minum obat, Mba. Nanti kalo udah beberapa hari gak sembuh, baru deh minum obat

    ReplyDelete
  6. Harusnya yang kerja di apotek ya emang apoteker. Karena tuh ada yang memang hanya kerja gak peduli lulusan apa. Pas ditanya obat2 eh dia gak paham. Kan sebel

    ReplyDelete
  7. program DAGASIBU amazing , memang perlu banget ada inih
    dan kalau bisa sosialisasi juga ke masyarakat

    ReplyDelete
  8. mulai sekarang harus semakin selektif memilih tempat membeli obat gak boleh sembarangan di warung ya karna memang kadang kita gak terlalu faham takarannya tapi mirisnya antiobiotik yang seharusnya ditebus dengan resep dokter pun bisa dibeli secara bebas di warung warung huhu

    ReplyDelete
  9. Semenjak kenal dagusibu udah ga pernah lagi koleksi obat. Kira2 nggak terpakai langsung dibuang dg cara yg baik :)

    ReplyDelete
  10. Aku termasuk orang yang nggak berani buang obat sembarangan, mba. Biasanya aku hancurkan dulu kalau tablet. Sedangkan kalau yang sirup, aku buang tuang dulu cairannya dan botolnya aku buang terpisah. Tulisan d botol ya aku sobek sobek

    ReplyDelete
  11. DAGUSIBU dan 5-O nya saya catat ya mba.. TFS, jadi lebih perhatian dg obat2an yg kita terima..

    ReplyDelete
  12. Kadang ak seriung curhat m apoteker dan minta masukan, apa lagi soal vitamin-vitamin anak jadi curhat dgn orang 6ang tau betul

    ReplyDelete
  13. Aku selalu punya "ritual" usai menerima obat dari seorang apoteker yaitu mengulang lagi informasi yang tertera di kemasan seperti dosis, apakah harus dihabiskan, sebelum atau sesudah makan, efek samping dan lain-lain.

    Terutama jika informasi yang sebelumnya aku dapat dari dokter tidak sesuai dengan penjelasan apoteker.

    Bisa dipastikan aku akan meminta apoteker mengkonfirmasi lagi ke dokter, yang mana nih yang benar.

    Aku baru tahu kalau flu dan pilek itu tak perlu antibiotik.
    Kami sekeluarga sering banget mengkonsumsi antibiotik yang diresepkan dokter, terutama jika flu dan pilek tak kunjung sembuh dalam waktu lebih dari 3 hari.







    ReplyDelete
  14. bener bangeeet mba...kita harus paham dan mengenal obat yang kita konsumsi. Apoteker adalah orang yang tepat untuk membantu kita mendapat informasi yang benar.

    ReplyDelete
  15. Aku suka kesel sama dokter2 yang dikit2 antibiotik untuk anak...

    Btw, aku baru tau cara buang obat seprti itu. Duh! :(

    ReplyDelete
  16. Iya, aku ngeri banget beli obat asal cuma lihat manfaatnya dari label tanpa konsultasi ahlinya

    ReplyDelete
  17. Saya termasuk yang jarang memberikan obat pada anak atau suami kalau sedang kurang sehat.
    Berikhtiar dulu menggunakan obat alami.
    karena di dekat rumah kebetulan ada toko herbal yang lumayan besar.

    Namun jika sangat terpaksa, tentu saya berikan dengan dosis sesuai anjuran dokter.
    Tapi lagi-lagi, dokter adalah manusia.

    Sekeras apapun perjuangan kita, sembuh atau tidak, kembalikan lagi dengan Sang Pemilik Kehidupan.

    ReplyDelete
  18. Aku sekarang usahain banget ga minum obat, lebih memilih iatirahat terartur kalau kerjanya mulai berasa keras banget

    ReplyDelete
  19. Klo sekarang ada Adik sepupu yg kuliah di Farmasi. Nah suka tanya2 itu klo dapat obat. Yaah sekalian dia juga belajar ngejelasin manfaat dll.
    Doi jg selalu pesan, utk obat yg harus dengan resep dokter jgn dibeli bebas, walau ada jg kan tu yg masih menjual bebas, padahal udah ada label merah dan K nya :D

    ReplyDelete
  20. DAGUSIBU

    Dulu waktu kecil memang anti sama logo merah paling kanan. Jadi nggak sembarang sentuh obat.

    ReplyDelete
  21. Nah iniii, ternyata pengetahuan kita masih terbatas ttg obat dan penyakit yg bisa diobati dengan obat ya mba. Mengkonsultasikan dulu sblm membeli obat perlu ya. Noted mba.

    ReplyDelete
  22. Hihi...kalo aku suka nanya-nanya ke apotekernya. Btw sering liat juga sih, apotekernya welcome atau nggak, kadang ada yang kurang ramah XD

    ReplyDelete
  23. Aku respect banget jika jumpa apoteker yg informatif. Tapi ya itu suamiku pernah ke apotek terkenal buat belikan aku obat malah hanya diarahkan ke obat yg mahal banget. Jadi yang dikejar penjualannya. Sedihdeh

    ReplyDelete
  24. DAGUSIBU penting banget nih, sering2 cek obat juga buat dibuang kalau sudah kadaluarsa ya

    ReplyDelete
  25. Saya punya teman apoteker jadi suka nanya2 deh hehe, alhamdulillah

    ReplyDelete
  26. Kalau beli obat harus ke apotik ya dan tanya ke apotekernya. Aku juga gitu

    ReplyDelete
  27. Aih lengkap banget ya. Aku Apoteker juga nih Mbak. Jangan ragu untuk bertanya pada Apoteker mengenai obat dan resep teman-teman ya. Jika memiliki masalah terkait obat, minta solusilah pada apoteker

    ReplyDelete