Pages

  • Home

travel beauty

Ekonomi Sirkular Indonesia
Cara Bank Sampah Induk Bersinar Membangun Ekonomi Sirkular Indonesia
Coba ingat-ingat, jam berapa terakhir kali kamu membuang sampah pagi ini? Mungkin sisa kulit bawang, bungkus kopi sachet, atau botol plastik bekas air mineral. Kita melakukannya nyaris tanpa pikir panjang lempar ke tempat sampah, ikat plastiknya, taruh di depan rumah, selesai. Habis urusan. Padahal, kebiasaan kecil ini justru titik awal dari sesuatu yang jauh lebih besar: ekonomi sirkular Indonesia.

Saya sendiri setiap Kamis dan Minggu pagi mengumpulkan sampah rumah untuk dikutip petugas kebersihan RT komplek rumah.  Kadang saya pun kerap bergumam, ke mana sebenarnya sampah itu pergi? Dan yang lebih penting, apa jadinya kalau ternyata sampah yang kita anggap “selesai urusan” itu justru baru memulai perjalanan menjadi sesuatu yang jauh lebih berharga?

Pertanyaan itu yang menggerakkan saya untuk menulis tentang apa yang sedang dibangun oleh Bank Sampah Induk Bersinar di Bandung. Sebuah gerakan yang menurut saya layak jadi contoh nyata bagaimana ekonomi sirkular Indonesia bisa tumbuh bukan dari kebijakan di atas kertas, tapi dari kebiasaan sehari-hari di rumah tangga.

Dari Tabungan Sampah ke Gerakan Pemberdayaan Masyarakat

Ekonomi Sirkular Indonesia
Menabung Sampah Jadi Uang di Bank Sampah Induk Bersinar (foto: Bank Sampah Induk Bersinar)

Berdiri sejak 2014, Bank Sampah Induk Bersinar awalnya barangkali terdengar sederhana: tempat warga menabung sampah, lalu ditukar jadi uang. Konsep semacam ini sudah cukup umum di banyak daerah. Tapi yang membuat saya tertarik menuliskan ini adalah bagaimana Yayasan Solusi Bersinar Indonesia (YSBI), di bawah kepemimpinan Indari Mastuti, mengubah cara pandang terhadap bank sampah itu sendiri.

Sampah, dalam pandangan mereka, bukan lagi masalah yang harus dibuang secepatnya, melainkan sumber daya yang bisa menggerakkan banyak hal sekaligus: ekonomi keluarga, pendidikan lingkungan, ketahanan pangan, sampai pemberdayaan masyarakat di level akar rumput. Ini bukan cuma soal bank sampah sebagai tempat transaksi, tapi sebagai titik masuk untuk membangun kesadaran kolektif tentang pengelolaan sampah berbasis masyarakat. 

Ekonomi Sirkular Indonesia
Sudah 547 BSU yang Bergabung dalam Jaringan Yayasan Solusi Bersinar Indonesia (foto: Bank Sampah Induk Bersinar)

Dan buktinya bukan cuma wacana. Sampai pertengahan 2026, sudah ada 547 Bank Sampah Unit (BSU) yang bergabung dalam jaringan ini, tersebar di berbagai wilayah Kabupaten dan Kota Bandung. Targetnya makin ambisius: 1.000 BSU aktif. Bayangkan, itu berarti seribu titik di mana warga biasa bukan korporasi besar, bukan pemerintah pusat jadi motor penggerak perubahan.

Oxbow: Kalau Ekonomi Sirkular Punya Ruang Kelas

Bagian yang paling menarik perhatian saya justru rencana jangka panjangnya: kawasan Oxbow di Kabupaten Bandung yang disiapkan menjadi semacam “ruang kelas raksasa” untuk ekonomi sirkular Indonesia. Saya menyebutnya begitu karena konsepnya memang mirip laboratorium hidup tempat orang bisa datang, melihat langsung, dan belajar bagaimana sampah diproses dari titik penerimaan sampai jadi produk baru.

Ekonomi Sirkular Indonesia
Ada Ruang untuk Edukasi Lingkungan dan Pelatihan Warga dalam Mengelola Sampah (foto:Bbank Sampah Induk Bersinar)

Yang membuatnya makin lengkap, kawasan ini tidak berdiri sendiri. Ada tiga elemen yang saling mengunci: Bank Sampah Induk Bersinar sebagai pusat pengelolaan sampah, Local Education sebagai ruang edukasi lingkungan dan pelatihan warga, serta Lumbung Mandiri yang mengolah sisa organik menjadi kompos, pakan ternak, hingga produk pertanian bernilai tambah. Alurnya jadi utuh dari sampah rumah tangga, diproses, lalu kembali lagi ke masyarakat sebagai sampah bernilai ekonomi dalam bentuk yang sama sekali baru.

Konsep ini juga tidak muncul dari ruang hampa. Tim YSBI sempat belajar langsung ke Living Lab Telkom University untuk melihat bagaimana kawasan pendidikan, riset, dan pengabdian masyarakat bisa berjalan beriringan. Menurut saya, langkah ini penting, banyak inisiatif sosial berhenti di semangat baik tanpa mau belajar dari model yang sudah teruji lebih dulu.

Sekolah: Titik Awal yang Sering Terlewat

Satu hal yang menurut saya paling strategis dari gerakan ini adalah masuknya edukasi lingkungan ke sekolah-sekolah. Kita sering berpikir isu sampah itu urusan orang dewasa, padahal kebiasaan memilah sampah dan memahami konsep ekonomi sirkular jauh lebih mudah tertanam kalau dimulai sejak anak-anak masih duduk di bangku sekolah.

Ekonomi Sirkular Indonesia
Anak-anak Harus Dibiasakan Memilah Sampah Sejak Kecil, Karena Sampah Bukan Hanya Urusan Orang Dewasa (foto: Bank Sampah Induk Bersinar)

Rencana membentuk Bank Sampah Unit Sekolah bukan sekadar program tempelan. Kalau berjalan konsisten, sekolah bisa jadi pusat edukasi sekaligus contoh nyata bagi lingkungan sekitarnya. Anak-anak yang terbiasa memilah sampah sejak kecil, besar kemungkinan akan membawa kebiasaan itu pulang ke rumah masing-masing dan pada akhirnya menular ke orang tua mereka juga.

Kolaborasi Lima Arah: Karena Sampah Bukan PR Satu Pihak

YSBI juga menginisiasi apa yang mereka sebut Pentahelix Indonesia Bersinar, yakni kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan media. Gerakan ini merupakan bagian dari upaya membangun Ekonomi Sirkular Indonesia melalui Pentahelix Indonesia Bersinar. Saya pribadi sepakat dengan pendekatan ini. Persoalan sampah di Indonesia terlalu besar untuk diselesaikan satu pihak saja. Butuh regulasi dari pemerintah, riset dari kampus, investasi dari dunia usaha, gerakan dari komunitas, dan penyebaran informasi dari media. Semuanya berjalan bersamaan, bukan sendiri-sendiri.

Jadi, Mulai dari Mana?

Kalau ditanya apa yang bisa kita ambil dari cerita Bank Sampah Induk Bersinar ini, jawabannya sederhana: ekonomi sirkular Indonesia tidak harus dimulai dari proyek besar bernilai miliaran rupiah. Ia bisa dimulai dari kebiasaan memilah sampah organik dan anorganik di dapur rumahmu sendiri, dari keputusan untuk ikut bank sampah di lingkungan RT, atau sekadar mulai bertanya: “sampah ini sebenarnya bisa jadi apa, ya, kalau tidak langsung dibuang?”

Bank Sampah Induk Bersinar sudah membuktikan bahwa dari 547 unit kecil, bisa lahir gerakan pemberdayaan masyarakat yang menyasar ribuan rumah tangga. Dan mungkin, rumah kita bisa jadi salah satu titik berikutnya.





Share
Tweet
Pin
Share
20 Comments

Era digital anak muda harus siap dengan perubahan karena perubahan bukan ancaman tapi merupakan tantangan. Saya ingat sekali kalimat ini diucapkan Rhenald Kasali sewaktu saya mengikuti workshop mengenai era digital. Memang benar, anak muda yang lahir di era digital seperti sekarang ini harus siap menghadapi perubahan, termasuk dengan semakin canggihnya teknologi. Juga harus siap dengan persaingan di dunia bisnis atau wirausaha. Sebagai generasi millenial kita dituntut untuk memiliki ide kreatif dengan melihat peluang dan permasalahan yang ada disekitar kita. 

Atas dasar inilah Citi Indonesia (Citibank) melalui Citi PeKa (Peduli dan BerKarya) bersama dengan mitra pelaksana Prestasi Junior Indonesia (PJI) berinisiatif mengadakan program Youth Sociopreneurship Initiative. Dalam program ini Citi bersama PJI menargetkan pelajar SMA/SMK mendapatkan gagasan kewirausahaan segar atau social entrepreneurship yang membawa manfaat berkelanjutan. Citibank memiliki kepedulian besar memiliki kepedulian besar terhadap masa depan generasi muda Indonesia.

Di program ini para pelajar mendapatkan pendidikan kewirausahaan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap untuk memulai bisnis mereka nantinya. Selain itu mereka akan mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam lagi akan pentingnya membangun sebuah bisnis yang  bertanggungjawab jawab dan berkelanjutan. Sasaran dari program ini lebih kepada mengajak dan membangun kesadaran generasi muda bahwa kewirausahaan adalah sarana untuk mencapai kesejahteraan yang lebih baik bagi diri mereka sendiri, juga keluarga dan masyarakat. 

Para pelajar dibina untuk mendirikan dan mengoperasikan sebuah perusahaan di sekolah yang diberi nama SC-Student Company. Disini mereka diajarkan bagaimana menciptakan ide produk, merencanakan srategi bisnis, melakukan penjualan produk, hingga likuidasi perusahaan. Selama program berlangsung, para pelajar juga mendapatkan pendampingan bisnis secara intensif dari mentor PJI dan karyawan Citibank yang tergabung dalam Citi Volunteers. Youth Sociopreneurship Initiative sudah berlangsung selama lima tahun dan sukses memberikan manfaat melalui edukasi kewirausahaan kepada lebih dari 46.000 pelajar dari 138 SMA dan SMK di enam kota di Indonesia, yakni Jakarta, Bandung, Medan, Semarang, Surabaya, dan Denpasar.


Sociopreneur Talks: Be A Changemaker with Social Entreprise

Guna mengoptimalkan implementasi program Youth Sociopreneurship Initiative dan agar lebih banyak lagi generasi muda menyadari pentingnya kewirausahaan sosial, Citibank dan PJI mengadakan Socipreneur Talks dengan tema Be A Changemaker with Social Entreprise. Acara ini diadakan Rabu, 18 September 2019 di @America, Pacific Place Lantai 3, Jakarta Selatan. Di event ini Citibank menghadirkan para narasumber inspiratif diantaranya: 
1. Batara Sianturi, Chief Executive Officer Citi Indonesia
2. Elvera N. Makki, Director, Country Head of Corporate Affairs Citi Indonesia
3. Robert Gardiner, Co-Founder & Academic Advisor Prestasi Junior Indonesia
4. EMI Student Company – SMAN 2 Denpasar, pemenang Indonesia Student Company Competition 2019
5. Hana Nur Aulina - Business Development Waste4Change

Batara Sianturi
Para pelajar yang hadir di Socipreneur Talks mendapatkan insight bagaimana seorang pengusaha mengembangkan bisnis yang sukses secara individu juga bagaimana seorang entrepreneur yang mengembangkan bisnis berbasis sosial untuk menjadi pemimpin agen perubahan. Batara Sianturi, Chief Executive Officer Citi Indonesia yang sudah 31 tahun bekerja di Citibank dan sudah berganti-ganti bidang juga sudah beradaptasi dengan Citibank di berbagai negara, dalam paparannya beliau mengatakan bahwa Citibank percaya kalau kewirausahaan sosial inilah yang mampu membuat perubahan. Makanya penting sekali menularkan inspirasi sociopreneurship pada generasi Indonesia untuk mewujudkan sosok-sosok pebisnis sosial baru yang kompeten dan bisa menjadi changemaker leader.

Citibank sendiri adalah bank global yang sudah beroperasi di 160 negara. Citibank sangat menghargai keberagaman. Disini baik laki-laki maupun perempuan mempunyai kesempatan menjadi CEO apapun background nya. Selama ini Citibank cukup bangga menjadi tolak ukur dunia perbankan Indonesia, hampir semua CEO bank di Indonesia merupakan alumni Citibank. Dan alumni lainnya juga memiliki karier diluar perbankan baik itu di sektor swasta maupun sektor publik. 

Elvera N. Makki
Social Entrepreneurship merupakan satu langkah untuk mencapai kesuksesan, dengan menghadirkan solusi untuk menghadapi permasalahan sosial dan memberikan dampak positif masyarakat. Menurut Elvera N. Makki berdasarkan temuan Global Entrepreneurship Index (GEI) 2018 di Indonesia skor Startup Skills baru sebesar 29% dan Human Capital hanya mencapai 16%,ini mengindikasikan masih kurangnya pengetahuan dan keterampilan sumber daya manusia Indonesia dalam memulai bisnis. Inilah yang mendorong optimisme Citibank untuk gencar merangkul generasi muda Indonesia untuk mewujudkan masa depan mereka terutama sebagai sociopreneurs.

Robert Gardiner menjelaskan bahwa semangat dan potensi kewirausahaan sosial harus dipupuk sejak remaja. Mengingat demografi penduduk dimana para generasi muda yang akan mendominasi komposisi penduduk Indonesia, Prestasi Junior Indonesia (PJI) dan Citibank secara berkesinambungan berusaha menumbuhkan kapasitas kewirausahaan sosial kepada generasi muda Tanah Air. Harapannya semoga generasi muda kita jeli menangkap peluang dan mereka juga bermanfaat untuk lingkungan sekitar.

Robert Gardiner
Ajang adu gagasan dan keterampilan bisnis antar perusahaan siswa (Student Company Competition) 2019 yang baru usai Agustus lalu, EMI SC dari SMAN 2 Denpasar berhasil menjadi pemenang pertama. Mereka fokus pada kategori fashion, produk Versatile Jacket kreasi mereka terpilih menjadi The Most Innovatie Product. Ide membuat produk ini berawal dari kekhawatiran mereka terhadap permasalahan sampah plastik di Indonesia. Versatile Jacket yang mereka produksi bisa bertransformasi menjadi tas dan memiliki banyak fitur fungsional seperti multi saku, dudukan earphone, bantal tiup, penutup mata dan penutup kepala. Semoga EMI SC terus berkembang dan menjadi inspirasi kaum muda lainnya untuk berani memulai langkah menjadi wirausahawan sosial.

Siswa EMI Student Company - SMAN 2 Denpasar
Teman-teman pasti sudah pada tau dengan Waste4Change kan? Nah, pada Socipreneur Talks Hana Nur Aina yang mewakili Wate4Change turut sharing bagaimana ide awal lahirnya Waste4Change. Semua berawal dari permasalahan sampah. Yups, ingat sampah pasti teman-teman ingat TPA Bantargebang. Miris banget kalau ingat bagaimana TPA ini beberapa kali longsor. Longsoran sampah ini sangat merugikan warga sekitar. Waste4Change merupakan komunitas kewirausahaan sosial yang ingin memberikan solusi terhadap permasalahan sampah di Bantargebang saat itu dengan berprinsip perubahan perilaku dan pengelolaan sampah yang bertanggung jawab. Misi dari Waste4Change adalah mewujudkan masyarakat Indonesia yang bertanggung jawab atas sampahnya. Aktivitas utamanya adalah melakukan kegiatan konsultasi (consult), edukasi atau kampanye (campaign), pengumpulan sampah (collect), dan menciptakan sesuatu yang bernilai (create).

Hana Nur Aina

Be Wise with Your Waste

Ngomongin sampah, berapa banyak sampah rumah tangga yang sudah kita hasilkan? Berapa banyak kita menyumbangkan sampah di Bantargebang? Guys, sampah adalah masalah kita bersama. Kalian yang level top maupun level bawah sekalipun tetaplah penyumbang sampah. Jadi level kita bukanlah parameter siapa yang paling banyak menyumbang sampah. Permasalahan sampah adalah menyangkut hajat hidup orang banyak. 

"Di Indonesia banyak sekali kaum muda yang bisa membawa perubahan", ujar Elvera N Makki.  Untuk itu Citibank berharap semakin banyak pelajar-pelajar yang ikut serta program Youth Sociopreneur Initiative, semakin baik pula hasilnya dan bisa menjadi Waste4Change lainnya. Citibank sendiri telah memberikan modal kepada institusi-institusi lain di seluruh dunia yang ingin berbuat baik untuk mengatasi masalah sampah. Sebagai seorang leader sudah saatnya kita menjadi changemaker. 

Terkait dengan lingkungan, Citibank memperkenalkan kampanye Be Wise with Your Waste dan ini menjadi tema dalam kegiatan tahunan Global Community Day 2019 beberapa waktu lalu. Melalui kampanye ini Citibank bersama dengan seluruh karyawan melakukan perubahan sikap dan perilaku dalam mengelola sampah secara bijaksana. Serangkaian kegiatan edukatif pun dilakukan untuk mengajak karyawan Citibank sebagai Green Champion. Serangkaian inisiatif korporasi dari Citibank juga dilakukan guna mendukung gerakan ramah lingkungan dan pengelolaan sampah,
antara lain:

  1. Citibank telah menempati gedung bersertifikasi standar internasional yaitu LEED Platinum Grade, yang merupakan standar internasional tertinggi dalam hal enviromental protection dan sustainability development
  2. Menghemat energi di setiap lantai melalui lampu sensor gerak
  3. Penerapan waste segregation disetiap lantai
  4. Pengaturan debit air dalam hal penggunaan air
  5. Default printing dua sisi
  6. Paperless initiative untuk nasabah dalam e-statement serta aplikasi paperless baik melalui Citi Mobile maupun CitiDirect.


So, sekali lagi nih guys sekaligus peringatan untuk kita bersama, bahwa sampah bukan masalah pemerintah tapi masalah kita semua. Untuk itu disaat kita protes dan mengeluh dengan masalah sampah, coba deh tunjuk diri masing-masing apakah kita sendiri sudah bertanggung jawab dan peduli dengan sampah kita sendiri? Semoga kita bisa ambil bagian untuk menjadi changemaker.























Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
Older Posts

Hello! I’m Tuty Queen

Hello! I’m Tuty Queen

Follow Me

  • instagram
  • facebook
  • twitter
  • pinterest

Cara Mudah Membuat eBook di Canva

Cara Mudah Membuat eBook di Canva

Seedbacklink

Seedbacklink affiliate

Design Anti Ribet Cuma Pakai Canva

Design Anti Ribet Cuma Pakai Canva

Total Pageviews

Categories

  • Asuransi
  • Canva
  • Dompet Dhuafa
  • Film
  • Food
  • Lingkungan
  • NPD
  • Sport
  • aplikasi
  • beauty
  • ekonomi
  • fashion
  • finance
  • halal lifestyle
  • health
  • hotel
  • kuliner
  • lifestyle
  • teknologi digital

Blog Archive

  • ►  2014 (6)
    • ►  November 2014 (6)
  • ►  2015 (37)
    • ►  March 2015 (1)
    • ►  May 2015 (3)
    • ►  June 2015 (5)
    • ►  October 2015 (3)
    • ►  November 2015 (7)
    • ►  December 2015 (18)
  • ►  2016 (167)
    • ►  January 2016 (11)
    • ►  February 2016 (16)
    • ►  March 2016 (21)
    • ►  April 2016 (15)
    • ►  May 2016 (11)
    • ►  June 2016 (16)
    • ►  July 2016 (6)
    • ►  August 2016 (7)
    • ►  September 2016 (10)
    • ►  October 2016 (20)
    • ►  November 2016 (18)
    • ►  December 2016 (16)
  • ►  2017 (176)
    • ►  January 2017 (12)
    • ►  February 2017 (14)
    • ►  March 2017 (11)
    • ►  April 2017 (16)
    • ►  May 2017 (14)
    • ►  June 2017 (14)
    • ►  July 2017 (6)
    • ►  August 2017 (21)
    • ►  September 2017 (10)
    • ►  October 2017 (20)
    • ►  November 2017 (15)
    • ►  December 2017 (23)
  • ►  2018 (171)
    • ►  January 2018 (9)
    • ►  February 2018 (13)
    • ►  March 2018 (17)
    • ►  April 2018 (18)
    • ►  May 2018 (16)
    • ►  June 2018 (9)
    • ►  July 2018 (6)
    • ►  August 2018 (18)
    • ►  September 2018 (13)
    • ►  October 2018 (17)
    • ►  November 2018 (13)
    • ►  December 2018 (22)
  • ►  2019 (108)
    • ►  January 2019 (11)
    • ►  February 2019 (3)
    • ►  March 2019 (5)
    • ►  April 2019 (1)
    • ►  May 2019 (13)
    • ►  June 2019 (6)
    • ►  July 2019 (11)
    • ►  August 2019 (17)
    • ►  September 2019 (10)
    • ►  October 2019 (10)
    • ►  November 2019 (11)
    • ►  December 2019 (10)
  • ►  2020 (64)
    • ►  January 2020 (6)
    • ►  February 2020 (8)
    • ►  March 2020 (8)
    • ►  April 2020 (5)
    • ►  May 2020 (6)
    • ►  June 2020 (1)
    • ►  July 2020 (4)
    • ►  August 2020 (12)
    • ►  September 2020 (5)
    • ►  October 2020 (2)
    • ►  November 2020 (3)
    • ►  December 2020 (4)
  • ►  2021 (63)
    • ►  January 2021 (5)
    • ►  February 2021 (3)
    • ►  March 2021 (5)
    • ►  April 2021 (4)
    • ►  May 2021 (3)
    • ►  June 2021 (1)
    • ►  July 2021 (2)
    • ►  August 2021 (3)
    • ►  September 2021 (4)
    • ►  October 2021 (10)
    • ►  November 2021 (11)
    • ►  December 2021 (12)
  • ►  2022 (67)
    • ►  January 2022 (2)
    • ►  February 2022 (7)
    • ►  March 2022 (10)
    • ►  April 2022 (12)
    • ►  May 2022 (5)
    • ►  June 2022 (5)
    • ►  July 2022 (5)
    • ►  August 2022 (3)
    • ►  September 2022 (5)
    • ►  October 2022 (4)
    • ►  November 2022 (3)
    • ►  December 2022 (6)
  • ►  2023 (49)
    • ►  February 2023 (3)
    • ►  March 2023 (4)
    • ►  April 2023 (2)
    • ►  May 2023 (7)
    • ►  June 2023 (3)
    • ►  July 2023 (7)
    • ►  August 2023 (3)
    • ►  September 2023 (7)
    • ►  October 2023 (4)
    • ►  November 2023 (5)
    • ►  December 2023 (4)
  • ►  2024 (29)
    • ►  January 2024 (1)
    • ►  February 2024 (3)
    • ►  March 2024 (8)
    • ►  April 2024 (2)
    • ►  May 2024 (1)
    • ►  June 2024 (5)
    • ►  July 2024 (2)
    • ►  August 2024 (2)
    • ►  September 2024 (3)
    • ►  October 2024 (1)
    • ►  November 2024 (1)
  • ►  2025 (39)
    • ►  January 2025 (4)
    • ►  February 2025 (3)
    • ►  March 2025 (1)
    • ►  April 2025 (1)
    • ►  May 2025 (2)
    • ►  June 2025 (8)
    • ►  July 2025 (10)
    • ►  August 2025 (7)
    • ►  September 2025 (1)
    • ►  October 2025 (1)
    • ►  December 2025 (1)
  • ▼  2026 (9)
    • ►  January 2026 (1)
    • ►  March 2026 (1)
    • ►  April 2026 (2)
    • ►  June 2026 (2)
    • ►  August 2026 (2)
    • ▼  September 2026 (1)
      • Kucing Lahap Makan Belum Tentu Sehat! Ini 7 Tanda ...

Contact Form

Name

Email *

Message *

Member of

Member of
Seedbacklink



Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates