Pages

  • Home

travel beauty


Lebaran tinggal hitungan hari. By the way sudah menyiapkan baju baru untuk lebaran belum? Biasanya menjelang lebaran begini yang namanya pusat perbelanjaan ramai dikunjungi, selain belanja untuk persiapan lebaran, beli baju baru, juga mencari bingkisan lebaran. Kalau masuk ke supermarket kita bakal melihat banyaknya berbagai ragam parsel lebaran. Yups, lebaran dan hari besar keagamaan identik banget dengan parsel. Ada kebahagiaan tersendiri bisa memberi bingkisan lebaran kepada kolega, teman-teman, dan sanak saudara. Begitu juga sebaliknya saya juga senang kalau ada yang mengirimkan bingkisan lebaran.

Saya ingat banget zaman Ayah masih aktif kerja alias belum pensiun setiap menjelang lebaran banyak banget dapat parsel lebaran. Tapi beda banget jenis parselnya dengan yang sekarang. Kalau dulu bingkisan lebaran yang dikirim ke Ayah kebanyakan tea set,  keramik, dan produk rumah tangga lainnya. Kalau sekarang kebanyakan berupa pangan dan makanan olahan, seperti kue kering, sirup, makanan kaleng, juga minuman kaleng. Mungkin isi bingkisan yang seperti sekarang ini memang lebih dibutuhkan karena bisa dikonsumsi. Tapi sebagai konsumen kita harus cerdas, berhati-hati dan lebih teliti. Mengingat banyaknya permintaan parsel murah menjelang lebaran, produk yang dibuat untuk bingkisan pun jadi asal-asalan, asal ada dan asal murah. Padahal belum tentu parsel yang murah produknya berkualitas, aman dan bermutu. 

parcel zaman now lebih banyak makanan dan minuman kemasan



Berlatarbelakang setiap menjelang lebaran parsel menjamur dijual baik oleh ritel maupun warung juga permintaan dari konsumen ke produsen yang membludak, Kepala BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) menginstruksikan Balai Besar POM seluruh Indonesia untuk meningkatkan intensifikasi pengawasan pangan baik yang ada di ritel maupun yang ada di gudang, dan wajib memberikan laporan mingguan. 

Pembahasan mengenai #PanganAmanLebaran ini saya ikuti saat diadakannya Talkshow Pangan Aman Lebaran bersama Kepala BPOM  Selasa 5 Juni 2018 lalu di Atrium Pejaten Village, Jakarta Selatan. Acara ini dihadiri oleh Kepala BPOM Ir. Penny K Lukito, Deputi III Bidang Pengawasan pangan Olahan BPOM Drs. Suratman MP, Ketua GAPMMI Adhi S Lukman dan Ketua APRINDO Roy Nicholas Mandey. 

Peran Asosiasi Produsen Makanan dan Minuman

Adhi Lukman dalam sambutannya mengatakan kita perlu memberikan apresiasi kepada BPOM karena saat ini BPOM mulai turun ke lapangan agar lebih dekat dengan konsumen, BPOM akan menemui konsumen langsung di mall-mall seperti di mall Pejaten Village. Tujuannya agar pangan yang dikonsumsi oleh konsumen dan masyarakat Indonesia aman.  Dengan begitu BPOM bisa memahami dan melihat apa yang terjadi di lapangan, bagaimana produk dipasarkan, bagaimana konsumen memilih pangan itu sendiri, dan bagaimana konsumen memahami pangan yang ada.

Asosiasi Produsen Makanan dan Minuman sendiri harapannya konsumen sekarang harus menjadi konsumen cerdas. Konsumen harus tahu apa yang dibeli dan harus tahu apa yang akan dikonsumsi. Setiap membeli produk pangan apalagi yang memakai kemasan konsumen harus memahami bagaimana komposisi, apakah sesuai dengan yang dikeluarkan oleh BPOM, bagaimana saran penyajiannya, dsb, dimana secara keseluruhan konsumen benar-benar memahami. Dengan demikian konsumen membantu produsen meningkatkan kepedulian terhadap keamanan pangan. Karena kalau konsumen acuh tak acuh produsen akan memproduksi sesuatu tidak sesuai dengan ketentuan yang ada.

Adhi S Lukman (kanan)

Produsen juga melakukan pengawasan pasar, distributor, ritel, toko-toko. Pengawasan ini tidak bisa 100% dilakukan produsen, maka dari itu diperlukan bantuan konsumen. Misalnya pada kemasan produk biasanya tercantum Hotline Konsumen atau Customer Service. Konsumen bisa melaporkan hal-hal yang dirasa janggal dengan produk yang dibeli, dengan begitu produsen jadi tahu dan produk yang rusak bisa diatasi dan dicegah agar nggak dikonsumsi oleh konsumen. Istilah bekennya Pengawasan 360 atau pengawasan menyeluruh. Jadi nggak cuma berharap dari pemerintah dan industri saja, konsumen cerdas itu penting agar produsen juga bisa improve untuk meningkatkan pelayanan dan mutunya.

Terkait parsel lebaran produsen dihimbau untuk melihat dan mengecek terlebih dahulu parsel yang akan mereka jual lagi ke konsumen. Jangan cari barang murah tapi pada kenyataannya barang tersebut kondisinya sudah kedaluwarsa. Sering ditemukan produk-produk yang mendekati masa kedaluwarsa di impor karena murah. Konsumen juga kalau bisa jangan mencari barang murah saja tapi juga memiliki value. Beli murah tapi efeknya justru buat kita sakit dan biaya berobat mahal berarti kita merugi.



"Mudah-mudahan BPOM bisa lebih mengelaborasi apa yang harus diketahui konsumen", ujar Adhi S Lukman. Ini juga menjadi concern APMMI kepada produsen, dimana mengedukasi produsen agar mematuhi ketentuan-ketentuan yang ada. Produsen dan konsumen sama-sama memahami dan melihat apa yang dikonsumsi menjadi lebih baik dan berguna. Harapannya produksi pangan di Indonesia menjadi lebih baik lagi dari segi mutu maupun dari segi keamanan pangan, dan juga membantu pemerintah dalam hal pengawasan makanan.  Kalau ini semua bisa berjalan dengan baik, secara ideal tugas BPOM akan lebih ringan, sehingga BPOM bisa lebih memikirkan bagaimana membantu produsen dan konsumen untuk bisa terus tumbuh dan berkembang.


BPOM Lakukan Intensifikasi Pengawasan Pangan

Drs. Suratmono, MP dalam intensifikasi pengawasan pangan target-target yang dipetakan di awal pemeriksaan bukan hanya ritel tetapi juga gudang, terutama gudang importir karena tahun ini temuan pelanggaran yang paling besar adalah gudang baik itu gudang importir mau pun gudang distributor. Temuan kecurangan-kecurangan yang terjadi mencapai 28 Milyar.  Temuan terbesar sekitar 23 Milyar ada di gudang sedangkan sisanya ditemukan di ritel, warung, dan agen kecil.

Drs. Suratmono, MP (tengah)

Ada 3 temuan utama, yakni penemuan produk tanpa memiliki nomor izin edar terutama di ritel banyak sekali produk tanpa izin edar, temuan produk kedaluwarsa di gudang distributor, dan temuan produk dengan kemasan rusak. Inilah gunanya intensifikasi pengawasan pangan ditingkatkan. Karena pada saat jelang Ramadhan dan lebaran permintaan meningkat. BPOM melakukan pengawasan bukan hanya menjelang lebaran saja tetapi temuan rutin. Seperti baru-baru ini ada temuan obat untuk kecantikan di Semarang dengan nilai lebih dari 3 Milyar, belum lagi temuan-temuan lain.

Peran serta masyarakat terkait beredarnya produk obat, kosmetik, maupun pangan sangat dibutuhkan. Makanya masyarakat harus menjadi konsumen cerdas. "Dalam regulasi peran masyarakat itu penting, makanya BPOM mencanangkan Pengawasan Semesta", ujar Drs. Suratmono. Dimana pengawasan tidak hanya dilakukan BPOM sendiri tetapi juga melibatkan masyarakat. Contohnya BPOM bekerjasama dengan Pramuka lewat Aplikasi Pramuka SAPA (Sadar Pangan) android terkait 3 hal, jika Pramuka menemukan produk kedaluwarsa, menemukan produk tanpa izin edar, dan jika menemukan produk yang rusak maka mereka bisa mengupload laporannya melalui aplikasi yang tersedia.

Ir. Penny K Lukito  (kedua dari kiri) - Roy Nicholas Mandey (kanan)



Kepala BPOM Penny K. Lukito mengatakan risiko yang lebih besar menjelang lebaran adalah keamanan pangan dan mutu pangan yang dikonsumsi. Banyak orang-orang yang tidak bertanggungjawab memanfaatkan momen ini, seperti menjual produk-produk kedaluwarsa dan nggak ada izin edar yang merugikan masyarakat. "Pangan olahan harus ada izin BPOM", ujar bu Penny. Produk aman dan bermutu untuk dikonsumsi masyarakat juga menjadi tanggungjawab produsen, BPOM memfasilitasi dan memastikan sebelum produk diedarkan sesuai ketentuan yang ada.

Menjelang lebaran BPOM menghimbau agar Balai Kesehatan melakuan edukasi dan pengawasan di tempat umum, terminal, stasiun, atau bandara, setidaknya melalui mobil keliling. Selain melakukan edukasi juga mengambil sampel makanan yang dijual untuk berbuka puasa. Seperti yang dipaparkan Kepala Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) DKI Jakarta Sukriadi Darma bahwa dalam bulan Ramadhan ini dilakukan pengujian dan pengawasan di Jakarta dan ditemukan beberapa temuan seperti di Sumarecon Jakarta Utara ditemukan mie yang berformalin, di Bendungan Hilir ditemukan takjil yang mengandung formalin dan Rodhamin B zat pewarna sintetis yang seharusnya digunakan untuk pewarna pakaian, di Jalan Sabang mie yang terkenal dan banyak pembeli ternyata mie nya mengandung formalin.

Sukriadi Darma
Terkait dengan pangan segar seperti buah, sayur ini kewenangannya ada pada Kementrian Pertanian begitu juga dengan babi, ayam, dan hewan ternak lain. Tetapi untuk produk segar seperti ikan segar wewenangnya ada pada Kementrian Laut dan perikanan. 



Pilih #PanganAmanLebaran dengan CEK KLIK

Nggak mau dong tertipu dengan produk yang beredar tanpa adanya izin BPOM. Salah satu cara memilih pangan yang aman adalah dengan CEK KLIK, ini adalah program dari BPOM agar konsumen mudah mengecek produk yang akan dikonsumsi. CEK KLIK adalah singkatan dari  Cek Kemasan-Label-Izin Edar-Kedaluwarsa.


Kemasan

Kalau kita beli produk baik itu di supermarket, warung, atau dimanapun coba cek kemasannya. Kalau kemasan terbuat dari logam pastikan kemasan tidak menggelembung, tidak karatan, dan tidak penyok. Begitu juga dengan kemasan yang terbuat dari plastik pastikan tidak berlubang, karena kemasan yang penyok dan berlubang bisa menyebabkan produk tercemar atau mengalami kontaminasi sehingga bisa berakibat fatal kalau dikonsumsi.

kemasan penyok

Label

Konsumen harus jeli membaca label misal cara penyimpanannya karena ada produk yang harus disimpan di suhu dingin dan dibiarkan bisa rusak, lihat komposisinya zat-zat apa yang digunakan untuk memproduksi pangan.  Sesuai dengan Undang-Undang No.18 Tahun 2012 tentang pangan, dalam label harus ada izin edar, komposisi, nama produk, jenis produk, kode produksi, dan tanggal kedaluwarsa.

Izin Edar

Izin edar termasuk didalam label. Izin edar adalah nomor yang diberikan pada pangan olahan dalam rangka peredaran pangan yang dikeluarkan oleh BPOM RI. Pangan yang olahan yang memiliki izin edar berarti telah melalui pengawasan BPOM dan memenuhi kriteria keamanan, mutu, dan gizi yang sesuai dengan persyaratan.

  • Pangan produksi dalam negeri keterangannya BPOM RI MD xxxxxxxxxxxx (12 digit angka).
  • Pangan produksi luar negeri keterangannya BPOM RI ML xxxxxxxxxxxx (12 digit angka).
  • Pangan olahan hasil industri Rumah Tangga Pangan izin edar dikeluarkan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dengan keterangan P-IRT NO xxxxxxxxxxxxxxx (15 digit angka).
  • Produk yang mengandung babi izin edarnya dengan ketentuan mencantumkan kata mengandung babi dan ada gambar babi berwarna merah muda.

contoh produk yang nggak ada izin edar nya dan produk tidak ada bahasa Indonesia

Kedaluwarsa

Tanggal kedaluwarsa adalah tanggal dimana suatu produk dijamin keamanan mutunya sepanjang mengikuti aturan penyimpanan yang berlaku. Yang berhak menentukan tanggal kedaluwarsa adalah insdustri masing-masing. Pangan kedaluwarsa didalam Undang-Undang dianggap pangan tercemar. Tanggal kedaluwarsa produk seharusnya tertulis jelas pada kemasan, baik itu EXP DATE, BEST BEFORE, SEBAIKNYA DIGUNAKAN maupun BEST BUY. Aturan yang ada di Indonesia jika produk pangan umur simpannya lebih dari 3 bulan boleh hanya mencantumkan bulan dan tahun, tetapi kalau daya simpannya kurang dari 3 bulan maka harus mencantumkan tanggal, bulan, dan tahun.

 

Games Memilih Parsel yang Aman

Pada saat acara berlangsung para blogger dan awak media diberikan games untuk mengaplikasikan bagaimana cara CEK KLIK pada produk yang ada didalam bingkisan parsel lebaran. Masing-masing peserta ditantang untuk mengenali dan memahami mana produk yang kemasannya tidak layak atau rusak, produk yang tidak ada izin edar, tidak memiliki label berbahasa Indonesia, juga produk yang sudah kedaluwarsa.

Peserta yang bisa berhasil mengenali produk dan berhasil menjawab pertanyaan dari para narasumber mendapatkan hadiah dari BPOM. Seru banget games nya jadi kami para blogger terlatih untuk mengetahui produk pangan aman lebaran.


Visit Swalayan bersama Kepala BPOM

Sebelum acara selesai kami para blogger, Kepala BPOM, Ketua GAPMMI, Ketua APRINDO, Deputi III Bidang Pengawasan Pangan Olahan BPOM, dan seluruh jajaran BPOM yang hadir melakukan kunjungan ke swalayan Hypermart yang ada di Pejaten Village.



Ada beberapa produk yang kemasannya rusak,  dan dihimbau oleh Kepala BPOM RI untuk ditarik karena kemasan kaleng sudah penyok, khawatir terkontaminasi dan merusak kandungan yang ada didalamnya, dan berbahaya apabila dikonsumsi.


Selama melakukan visit menurut bu Penny hanya sedikit ditemukan produk yang kemasannya rusak, selebihnya beberapa produk yang dilihat kondisinya cukup baik. BPOM akan melakukan inspeksi seperti ini secara berkala baik itu harian, mingguan, maupun bulanan tergantung rencana Balai Besar POM masing-masing daerah.

Secara keseluruhan intinya kita harus jadi konsumen cerdas, karena bagaimanapun dalam keseharian kita selalu berkutat dengan produk pangan, jadi kita harus paham dengan yang namanya pangan aman menggunakan metode CEK KLIK.  Untuk mengecek produk yang kita gunakan ataupun konsumsi terdaftar atau tidak terdaftar ataupun menemukan produk yang tampak janggal kita bisa melaporkan dan mendapatkan informasi yang lebih jelas melalui:

Halo BPOM: 1500533
Website: https://www.pom.go.id
Facebook: @bpom.official
Twitter: @bpom_ri
Instagram: @bpom_ri

Oh ya minggu depan BPOM bakal ngadain lomba blog yang hadiahnya lumayan banget, jadi jangan sampai teman-teman ketinggalan infonya ya. Pengumuman lomba blog akan diumumkan di media sosialnya BPOM, so buruan follow semua media sosialnya BPOM dari sekarang ya.



Share
Tweet
Pin
Share
15 Comments
Older Posts

Hello! I’m Tuty Queen

Hello! I’m Tuty Queen

Follow Me

  • instagram
  • facebook
  • twitter
  • pinterest

Cara Mudah Membuat eBook di Canva

Cara Mudah Membuat eBook di Canva

Seedbacklink

Seedbacklink affiliate

Design Anti Ribet Cuma Pakai Canva

Design Anti Ribet Cuma Pakai Canva

Total Pageviews

Categories

  • Asuransi
  • Canva
  • Dompet Dhuafa
  • Film
  • Food
  • Lingkungan
  • NPD
  • Sport
  • aplikasi
  • beauty
  • ekonomi
  • fashion
  • finance
  • halal lifestyle
  • health
  • hotel
  • kuliner
  • lifestyle
  • teknologi digital

Blog Archive

  • ►  2014 (6)
    • ►  November 2014 (6)
  • ►  2015 (37)
    • ►  March 2015 (1)
    • ►  May 2015 (3)
    • ►  June 2015 (5)
    • ►  October 2015 (3)
    • ►  November 2015 (7)
    • ►  December 2015 (18)
  • ►  2016 (167)
    • ►  January 2016 (11)
    • ►  February 2016 (16)
    • ►  March 2016 (21)
    • ►  April 2016 (15)
    • ►  May 2016 (11)
    • ►  June 2016 (16)
    • ►  July 2016 (6)
    • ►  August 2016 (7)
    • ►  September 2016 (10)
    • ►  October 2016 (20)
    • ►  November 2016 (18)
    • ►  December 2016 (16)
  • ►  2017 (176)
    • ►  January 2017 (12)
    • ►  February 2017 (14)
    • ►  March 2017 (11)
    • ►  April 2017 (16)
    • ►  May 2017 (14)
    • ►  June 2017 (14)
    • ►  July 2017 (6)
    • ►  August 2017 (21)
    • ►  September 2017 (10)
    • ►  October 2017 (20)
    • ►  November 2017 (15)
    • ►  December 2017 (23)
  • ►  2018 (171)
    • ►  January 2018 (9)
    • ►  February 2018 (13)
    • ►  March 2018 (17)
    • ►  April 2018 (18)
    • ►  May 2018 (16)
    • ►  June 2018 (9)
    • ►  July 2018 (6)
    • ►  August 2018 (18)
    • ►  September 2018 (13)
    • ►  October 2018 (17)
    • ►  November 2018 (13)
    • ►  December 2018 (22)
  • ►  2019 (108)
    • ►  January 2019 (11)
    • ►  February 2019 (3)
    • ►  March 2019 (5)
    • ►  April 2019 (1)
    • ►  May 2019 (13)
    • ►  June 2019 (6)
    • ►  July 2019 (11)
    • ►  August 2019 (17)
    • ►  September 2019 (10)
    • ►  October 2019 (10)
    • ►  November 2019 (11)
    • ►  December 2019 (10)
  • ►  2020 (64)
    • ►  January 2020 (6)
    • ►  February 2020 (8)
    • ►  March 2020 (8)
    • ►  April 2020 (5)
    • ►  May 2020 (6)
    • ►  June 2020 (1)
    • ►  July 2020 (4)
    • ►  August 2020 (12)
    • ►  September 2020 (5)
    • ►  October 2020 (2)
    • ►  November 2020 (3)
    • ►  December 2020 (4)
  • ►  2021 (63)
    • ►  January 2021 (5)
    • ►  February 2021 (3)
    • ►  March 2021 (5)
    • ►  April 2021 (4)
    • ►  May 2021 (3)
    • ►  June 2021 (1)
    • ►  July 2021 (2)
    • ►  August 2021 (3)
    • ►  September 2021 (4)
    • ►  October 2021 (10)
    • ►  November 2021 (11)
    • ►  December 2021 (12)
  • ►  2022 (67)
    • ►  January 2022 (2)
    • ►  February 2022 (7)
    • ►  March 2022 (10)
    • ►  April 2022 (12)
    • ►  May 2022 (5)
    • ►  June 2022 (5)
    • ►  July 2022 (5)
    • ►  August 2022 (3)
    • ►  September 2022 (5)
    • ►  October 2022 (4)
    • ►  November 2022 (3)
    • ►  December 2022 (6)
  • ►  2023 (49)
    • ►  February 2023 (3)
    • ►  March 2023 (4)
    • ►  April 2023 (2)
    • ►  May 2023 (7)
    • ►  June 2023 (3)
    • ►  July 2023 (7)
    • ►  August 2023 (3)
    • ►  September 2023 (7)
    • ►  October 2023 (4)
    • ►  November 2023 (5)
    • ►  December 2023 (4)
  • ►  2024 (29)
    • ►  January 2024 (1)
    • ►  February 2024 (3)
    • ►  March 2024 (8)
    • ►  April 2024 (2)
    • ►  May 2024 (1)
    • ►  June 2024 (5)
    • ►  July 2024 (2)
    • ►  August 2024 (2)
    • ►  September 2024 (3)
    • ►  October 2024 (1)
    • ►  November 2024 (1)
  • ►  2025 (39)
    • ►  January 2025 (4)
    • ►  February 2025 (3)
    • ►  March 2025 (1)
    • ►  April 2025 (1)
    • ►  May 2025 (2)
    • ►  June 2025 (8)
    • ►  July 2025 (10)
    • ►  August 2025 (7)
    • ►  September 2025 (1)
    • ►  October 2025 (1)
    • ►  December 2025 (1)
  • ▼  2026 (12)
    • ►  January 2026 (1)
    • ►  March 2026 (1)
    • ►  April 2026 (2)
    • ►  June 2026 (2)
    • ►  August 2026 (2)
    • ►  September 2026 (2)
    • ▼  October 2026 (2)
      • Mengenal Skin Longevity Lewat 5 Protokol Wardah Sk...
      • Kenapa Harus Belajar Bahasa Inggris? Ini Manfaatny...

Contact Form

Name

Email *

Message *

Member of

Member of
Seedbacklink



Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates