Pages

  • Home

travel beauty

Era Digital
Inspirasi Cek Rim Kupi Aceh Bersama Indibiz
Sebagai seorang entrepreneur, saya punya kebiasaan kecil yang mungkin terdengar sederhana yaitu memperhatikan bagaimana bisnis lain tumbuh. Kadang lewat obrolan santai, kadang dari artikel, dan seringnya dari konten singkat di media sosial. Dari situ saya belajar banyak hal bahwa dunia usaha selalu penuh ide, penuh inspirasi.

Belum lama ini, saya menonton sebuah Reels dari akun Instagram @indibiz.id. Kontennya membahas tentang sebuah warung kopi di Banda Aceh bernama Cek Rim Kupi Aceh. Sekilas, terdengar biasa saja. Tapi semakin saya ikuti ceritanya, semakin saya merasa wah, ini menarik sekali! Karena ternyata, warung kopi ini sudah terdigitalisasi dengan layanan Indibiz Ruko dan WiFi Manage Service dari Telkom.

Sejujurnya, saya tidak pernah membayangkan bahwa sebuah warung kopi yang identik dengan obrolan hangat, kursi kayu, dan aroma minuman herbal akan berpadu dengan teknologi digital. Tapi nyatanya, justru itulah yang membuat Cek Rim Kupi semakin relevan di mata pelanggan.


Cerita Awal Cek Rim Kupi Aceh

Menurut cerita Imam Akmal, perwakilan dari owner Cek Rim Kupi, usaha ini lahir dari dukungan rekan-rekan yang ingin membangun sebuah tempat nongkrong khas Aceh. Kalau kita bicara tentang Aceh, tentu tidak bisa dilepaskan dari budaya ngopi. Di sana, warung kopi adalah lebih dari sekadar tempat minum. Ia adalah ruang sosial: tempat ide besar dibicarakan, keputusan dibuat, hingga persahabatan dijalin.

Indibiz
Imam Akmal, perwakilan dari owner Cek Rim Kupi Aceh. Sumber: Instagram @indibiz@id

Nah, yang menarik, Cek Rim Kupi hadir dengan ciri khasnya sendiri. Mereka bukan hanya menjual kopi, tapi juga menghadirkan minuman sehat berbahan alami, seperti sereh dan jahe. Bayangkan, minuman yang menenangkan, menyehatkan, sekaligus cocok untuk dinikmati sambil ngobrol panjang.

Namun Imam dan timnya tidak berhenti di situ. Mereka sadar, zaman sudah berubah. Nongkrong hari ini bukan hanya tentang duduk bersama, tapi juga tentang tetap terkoneksi dengan dunia digital. Orang ingin ngobrol, tapi juga ingin online. Orang ingin rileks, tapi juga tetap produktif.


Digitalisasi yang Membuat Pelanggan Betah

Di sinilah peran Indibiz masuk. Cek Rim Kupi kini menggunakan Indibiz Ruko dengan layanan WiFi Manage Service. Jadi, pengunjung bisa duduk santai sambil tetap online dengan jaringan yang stabil.

Saya bisa membayangkan suasananya seorang mahasiswa yang mengerjakan tugas dengan laptop, sambil sesekali menyeruput minuman sereh hangat. Atau sekelompok teman yang nongkrong berjam-jam, sambil update status dan membagikan foto kebersamaan mereka. Semua itu mungkin, karena internetnya cepat dan stabil.

Indibiz
Cek Rim Kupi Aceh. Sumber: Instagram @indibiz.id
Dari sisi bisnis, tentu ini bukan hal sepele. Dengan adanya internet yang bisa diandalkan, pelanggan merasa lebih nyaman. Mereka betah lebih lama, memesan lebih banyak, dan yang tak kalah penting membagikan pengalaman mereka di media sosial. Sebuah promosi gratis yang nilainya tidak ternilai.

Bukan hanya pelanggan, staf warung pun ikut terbantu. Layanan WiFi Manage Service membantu meningkatkan efektivitas kerja mereka. Tidak ada lagi drama soal koneksi lambat atau gangguan yang mengganggu ritme kerja. Semua bisa berjalan lebih lancar.


Mengapa Memilih Indibiz?

Imalm bercerita bahwa alasan memilih layanan internet dari Indibiz, khususnya WiFi.id, adalah karena reputasinya. WiFi.id sudah lama dikenal, bahkan menjadi penyedia internet pertama di Aceh. Reputasi itu yang membuat mereka percaya bahwa jaringan akan aman, stabil, dan bisa diandalkan.

Dan benar saja. Selama pemakaian, internet di Cek Rim Kupi terbukti cepat dan stabil. Bahkan yang membuat saya kagum, pelayanan dari Indibiz pun patut diacungi jempol. Kalau ada masalah, timnya langsung merespons cepat. Sebagai entrepreneur, saya tahu betapa pentingnya hal ini. Karena satu jam saja internet mati, bisa berpengaruh besar pada bisnis.


Apa yang Bisa Kita Pelajari?

Dari kisah Cek Rim Kupi, saya menangkap satu hal penting bahwa digitalisasi bukan soal besar kecilnya bisnis, tapi soal kemauan pemilik usaha untuk memberi nilai tambah bagi pelanggan.

Kalau dipikir-pikir, apa yang membuat pelanggan ingin datang kembali ke sebuah tempat? Bukan hanya produk yang enak atau harga yang terjangkau, tapi juga pengalaman.

Cek Rim Kupi tidak hanya menjual minuman sehat. Mereka menjual pengalaman nongkrong yang relevan dengan gaya hidup sekarang. Di mana kita bisa merasa santai, terhubung, dan produktif sekaligus.

Sebagai entrepreneur, saya jadi berkaca. Kadang kita terlalu fokus pada apa yang kita jual, sampai lupa bahwa pelanggan datang bukan hanya untuk membeli, tapi juga untuk merasakan. Dan seringkali, pengalaman itu bisa tercipta lewat sentuhan teknologi sederhana seperti jaringan WiFi yang stabil.


Mau Seperti Cek Rim Kupi?

Jujur, setelah mendengar cerita ini, saya jadi semakin yakin bahwa digitalisasi adalah langkah yang tidak bisa ditunda lagi. Kalau sebuah warung kopi di Banda Aceh bisa naik level dengan teknologi, kenapa usaha lain tidak bisa?

Indibiz lewat produk Indibiz Ruko dan WiFi Manage Service jelas menjadi solusi yang bisa diandalkan. Dengan dukungan internet yang stabil, pelanggan nyaman, staf terbantu, dan bisnis pun makin berkembang.

Dan yang paling saya suka, caranya pun mudah. Kalau kamu tertarik untuk mengikuti jejak Cek Rim Kupi, tinggal pilih jalur yang paling praktis:

  • WhatsApp ke bit.ly/haloindibiz
  • DM Instagram ke @indibizcare
  • atau telepon langsung ke 1500250

Bagi saya pribadi, kisah Cek Rim Kupi ini adalah pengingat. Bahwa kita tidak pernah berhenti belajar sebagai entrepreneur. Kadang inspirasi datang dari bisnis besar, kadang dari warung sederhana. Dan sering kali, yang membedakan bukanlah ukuran bisnisnya, tapi keberanian untuk melangkah ke era baru.

Jadi, kalau suatu hari nanti saya liburan ke Banda Aceh, saya tahu persis ke mana akan melangkahkan kaki. Nongkrong di Cek Rim Kupi, memesan segelas jahe hangat, dan tentu saja… menikmati internet cepat sambil merenungkan langkah bisnis berikutnya.




Share
Tweet
Pin
Share
No Comments

Digitalisasi
Stabilitas internet, kunci digitalisasi pendidikan & bisnis
Ada satu hal yang belakangan ini semakin saya yakini sebagai entrepreneur, fondasi digital yang kuat bukan hanya milik perusahaan raksasa, tapi juga penting bagi lembaga pendidikan, bahkan sekolah kejuruan di daerah. Keyakinan itu makin kuat setelah saya membaca sebuah cerita inspiratif di akun Instagram @indibiz.id tentang SMK Nurul Amaliyah.

Sekolah ini berdiri sejak tahun 1997, didirikan oleh Bapak Dr. Haji Muhammad Supriyanto, dan saat ini berada di bawah naungan Yayasan Pendidikan Nurul Amaliyah dengan ketua Bapak Bambang Irawan, SH. Dari postingan itu, saya bisa melihat bagaimana sebuah yayasan pendidikan pun sudah sadar betul bahwa digitalisasi adalah kebutuhan, bukan sekadar pilihan.


Sekolah yang Berkembang dengan Digitalisasi

Yang menarik perhatian saya bukan hanya usia sekolah yang sudah berdiri sejak 1997, melainkan fasilitas yang mereka siapkan untuk siswanya. Sebagai entrepreneur, saya sering berpikir bagaimana cara sebuah lembaga bisa membekali generasi muda agar siap menghadapi dunia kerja.

Di SMK Nurul Amaliyah, fasilitas itu diwujudkan dalam bentuk laboratorium komputer, bengkel teknik otomotif, bengkel teknik bisnis sepeda motor, hingga mini office untuk praktik administrasi perkantoran. Semua ini jelas bukan investasi kecil. Sekolah sadar, siswa tidak cukup hanya diajarkan teori; mereka butuh praktik nyata sesuai jurusan masing-masing.

Tapi ada satu hal yang jadi penghubung dari semua fasilitas itu: akses internet bisnis yang stabil. Karena tanpa internet, laboratorium komputer hanya jadi ruangan berisi perangkat, dan mini office hanya jadi ruangan simulasi tanpa data yang relevan.


Internet sebagai “Nadi” Sekolah

Dari cerita di Instagram Indibiz, saya tahu bahwa SMK Nurul Amaliyah sudah menggunakan layanan internet Indibiz dari Telkom Indonesia selama tiga tahun terakhir. Dengan kecepatan 100 Mbps, internet itu digunakan bukan hanya oleh guru, tapi juga staf pegawai dan siswa.

Internet Bisnis
Kepala Sekolah SMK Nurul Amaliyah

Bapak Reza Akbar, S.Kom, Kepala Sekolah SMK Nurul Amaliyah, menjelaskan bahwa sejauh ini jaringan Indibiz terbukti stabil, cepat, dan sangat mendukung kegiatan belajar-mengajar. Baik ketika guru menyiapkan materi, staf menjalankan administrasi, maupun siswa melakukan praktik digital.

Kalau dipikir-pikir, digitalisasi pendidikan ini tak jauh berbeda dengan digitalisasi bisnis. Internet bisnis yang andal membuat operasional berjalan lancar, mengurangi hambatan teknis, dan meningkatkan kualitas layanan. Dalam konteks sekolah, “layanan” itu adalah proses belajar-mengajar yang lebih modern dan relevan dengan dunia kerja.


Inspirasi untuk Entrepreneur

Sebagai entrepreneur, saya justru mendapat inspirasi lain dari cerita ini. Kalau sebuah sekolah kejuruan saja bisa memanfaatkan internet stabil untuk mendukung operasional, bukankah bisnis pun harus melakukan hal yang sama?

Saya jadi teringat bisnis-bisnis kecil yang sering kali menganggap internet sekadar untuk promosi media sosial. Padahal, sama seperti sekolah, bisnis pun punya “kelas belajar” dan “praktik nyata” yang membutuhkan infrastruktur digital.

  • Laboratorium komputer di sekolah mirip dengan ruang kerja digital di bisnis tempat tim mengolah data, membuat desain, hingga mengelola laporan.

  • Bengkel otomotif dan sepeda motor bisa dianalogikan dengan lini produksi usaha tempat proses kerja terjadi dan harus didukung teknologi.

  • Mini office untuk administrasi persis seperti bagian back-office sebuah perusahaan mengurus transaksi, keuangan, dan komunikasi.

Dan semua itu hanya bisa berjalan efisien jika ada internet stabil.


Dari Sekolah ke Dunia Usaha

Saya jadi melihat bahwa kisah SMK Nurul Amaliyah bukan hanya relevan bagi dunia pendidikan, tapi juga memberi pesan universal: digitalisasi membuat sebuah sistem lebih efisien dan terpercaya.

SMK Nurul Amaliyah
SMK Nurul Amaliyah. Sumber: Instagram @indibiz.id

Di sekolah, internet membuat siswa lebih mudah mengakses materi, guru lebih cepat berkolaborasi, dan staf lebih rapi mengelola administrasi. Di bisnis, internet membuat transaksi lebih lancar, komunikasi tim lebih cepat, dan pelayanan ke pelanggan lebih memuaskan.

Keduanya sama-sama membutuhkan stabilitas. Karena ketika internet macet, kelas bisa berhenti, bisnis bisa mandek.


Kolaborasi Teknologi dan Visi

Ada satu hal yang membuat saya makin terkesan. Yayasan Pendidikan Nurul Amaliyah bukan hanya menyediakan fasilitas fisik, tapi juga berpikir jauh ke depan dengan mengadopsi teknologi digital. Ini mengingatkan saya bahwa teknologi tidak bisa berdiri sendiri ia butuh visi dari pemimpin.

Keputusan untuk berinvestasi pada internet bisnis 100 Mbps bukanlah keputusan sepele. Itu adalah bentuk komitmen agar seluruh civitas akademik bisa berkembang sesuai tuntutan zaman. Dan di sinilah saya merasa, entrepreneur maupun lembaga pendidikan sama-sama dituntut punya keberanian untuk berinvestasi pada teknologi.


Refleksi untuk Bisnis Saya

Membaca kisah ini di Instagram Indibiz membuat saya melakukan refleksi sederhana. Bisnis saya mungkin bukan sekolah, tapi prinsipnya sama. Kalau ingin tumbuh, saya tidak bisa lagi mengandalkan sistem manual atau infrastruktur digital seadanya.

Saya perlu menyiapkan fondasi yang kokoh, sama seperti SMK Nurul Amaliyah menyiapkan laboratorium, bengkel, mini office, dan internet stabil. Karena di dunia bisnis, pelanggan butuh kecepatan dan ketepatan yang hanya bisa didukung oleh teknologi yang handal.

Akhirnya saya sampai pada kesimpulan bahwa cerita SMK Nurul Amaliyah ini bukan sekadar tentang pendidikan. Ini adalah kisah tentang bagaimana sebuah institusi mampu bertahan dan berkembang dengan memanfaatkan teknologi.

Sebagai entrepreneur, saya belajar bahwa digitalisasi bukan sekadar mengikuti tren, tapi soal menciptakan efisiensi yang nyata. Dan kalau sebuah sekolah kejuruan di bawah yayasan bisa melakukannya, mengapa kita sebagai pelaku usaha tidak?

Karena pada akhirnya, baik dunia pendidikan maupun bisnis, punya tujuan yang sama: memberi pelayanan terbaik bagi orang yang mereka layani.

Sumber inspirasi: Instagram @indibiz.id 







Share
Tweet
Pin
Share
No Comments

Era digital anak muda harus siap dengan perubahan karena perubahan bukan ancaman tapi merupakan tantangan. Saya ingat sekali kalimat ini diucapkan Rhenald Kasali sewaktu saya mengikuti workshop mengenai era digital. Memang benar, anak muda yang lahir di era digital seperti sekarang ini harus siap menghadapi perubahan, termasuk dengan semakin canggihnya teknologi. Juga harus siap dengan persaingan di dunia bisnis atau wirausaha. Sebagai generasi millenial kita dituntut untuk memiliki ide kreatif dengan melihat peluang dan permasalahan yang ada disekitar kita. 

Atas dasar inilah Citi Indonesia (Citibank) melalui Citi PeKa (Peduli dan BerKarya) bersama dengan mitra pelaksana Prestasi Junior Indonesia (PJI) berinisiatif mengadakan program Youth Sociopreneurship Initiative. Dalam program ini Citi bersama PJI menargetkan pelajar SMA/SMK mendapatkan gagasan kewirausahaan segar atau social entrepreneurship yang membawa manfaat berkelanjutan. Citibank memiliki kepedulian besar memiliki kepedulian besar terhadap masa depan generasi muda Indonesia.

Di program ini para pelajar mendapatkan pendidikan kewirausahaan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap untuk memulai bisnis mereka nantinya. Selain itu mereka akan mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam lagi akan pentingnya membangun sebuah bisnis yang  bertanggungjawab jawab dan berkelanjutan. Sasaran dari program ini lebih kepada mengajak dan membangun kesadaran generasi muda bahwa kewirausahaan adalah sarana untuk mencapai kesejahteraan yang lebih baik bagi diri mereka sendiri, juga keluarga dan masyarakat. 

Para pelajar dibina untuk mendirikan dan mengoperasikan sebuah perusahaan di sekolah yang diberi nama SC-Student Company. Disini mereka diajarkan bagaimana menciptakan ide produk, merencanakan srategi bisnis, melakukan penjualan produk, hingga likuidasi perusahaan. Selama program berlangsung, para pelajar juga mendapatkan pendampingan bisnis secara intensif dari mentor PJI dan karyawan Citibank yang tergabung dalam Citi Volunteers. Youth Sociopreneurship Initiative sudah berlangsung selama lima tahun dan sukses memberikan manfaat melalui edukasi kewirausahaan kepada lebih dari 46.000 pelajar dari 138 SMA dan SMK di enam kota di Indonesia, yakni Jakarta, Bandung, Medan, Semarang, Surabaya, dan Denpasar.


Sociopreneur Talks: Be A Changemaker with Social Entreprise

Guna mengoptimalkan implementasi program Youth Sociopreneurship Initiative dan agar lebih banyak lagi generasi muda menyadari pentingnya kewirausahaan sosial, Citibank dan PJI mengadakan Socipreneur Talks dengan tema Be A Changemaker with Social Entreprise. Acara ini diadakan Rabu, 18 September 2019 di @America, Pacific Place Lantai 3, Jakarta Selatan. Di event ini Citibank menghadirkan para narasumber inspiratif diantaranya: 
1. Batara Sianturi, Chief Executive Officer Citi Indonesia
2. Elvera N. Makki, Director, Country Head of Corporate Affairs Citi Indonesia
3. Robert Gardiner, Co-Founder & Academic Advisor Prestasi Junior Indonesia
4. EMI Student Company – SMAN 2 Denpasar, pemenang Indonesia Student Company Competition 2019
5. Hana Nur Aulina - Business Development Waste4Change

Batara Sianturi
Para pelajar yang hadir di Socipreneur Talks mendapatkan insight bagaimana seorang pengusaha mengembangkan bisnis yang sukses secara individu juga bagaimana seorang entrepreneur yang mengembangkan bisnis berbasis sosial untuk menjadi pemimpin agen perubahan. Batara Sianturi, Chief Executive Officer Citi Indonesia yang sudah 31 tahun bekerja di Citibank dan sudah berganti-ganti bidang juga sudah beradaptasi dengan Citibank di berbagai negara, dalam paparannya beliau mengatakan bahwa Citibank percaya kalau kewirausahaan sosial inilah yang mampu membuat perubahan. Makanya penting sekali menularkan inspirasi sociopreneurship pada generasi Indonesia untuk mewujudkan sosok-sosok pebisnis sosial baru yang kompeten dan bisa menjadi changemaker leader.

Citibank sendiri adalah bank global yang sudah beroperasi di 160 negara. Citibank sangat menghargai keberagaman. Disini baik laki-laki maupun perempuan mempunyai kesempatan menjadi CEO apapun background nya. Selama ini Citibank cukup bangga menjadi tolak ukur dunia perbankan Indonesia, hampir semua CEO bank di Indonesia merupakan alumni Citibank. Dan alumni lainnya juga memiliki karier diluar perbankan baik itu di sektor swasta maupun sektor publik. 

Elvera N. Makki
Social Entrepreneurship merupakan satu langkah untuk mencapai kesuksesan, dengan menghadirkan solusi untuk menghadapi permasalahan sosial dan memberikan dampak positif masyarakat. Menurut Elvera N. Makki berdasarkan temuan Global Entrepreneurship Index (GEI) 2018 di Indonesia skor Startup Skills baru sebesar 29% dan Human Capital hanya mencapai 16%,ini mengindikasikan masih kurangnya pengetahuan dan keterampilan sumber daya manusia Indonesia dalam memulai bisnis. Inilah yang mendorong optimisme Citibank untuk gencar merangkul generasi muda Indonesia untuk mewujudkan masa depan mereka terutama sebagai sociopreneurs.

Robert Gardiner menjelaskan bahwa semangat dan potensi kewirausahaan sosial harus dipupuk sejak remaja. Mengingat demografi penduduk dimana para generasi muda yang akan mendominasi komposisi penduduk Indonesia, Prestasi Junior Indonesia (PJI) dan Citibank secara berkesinambungan berusaha menumbuhkan kapasitas kewirausahaan sosial kepada generasi muda Tanah Air. Harapannya semoga generasi muda kita jeli menangkap peluang dan mereka juga bermanfaat untuk lingkungan sekitar.

Robert Gardiner
Ajang adu gagasan dan keterampilan bisnis antar perusahaan siswa (Student Company Competition) 2019 yang baru usai Agustus lalu, EMI SC dari SMAN 2 Denpasar berhasil menjadi pemenang pertama. Mereka fokus pada kategori fashion, produk Versatile Jacket kreasi mereka terpilih menjadi The Most Innovatie Product. Ide membuat produk ini berawal dari kekhawatiran mereka terhadap permasalahan sampah plastik di Indonesia. Versatile Jacket yang mereka produksi bisa bertransformasi menjadi tas dan memiliki banyak fitur fungsional seperti multi saku, dudukan earphone, bantal tiup, penutup mata dan penutup kepala. Semoga EMI SC terus berkembang dan menjadi inspirasi kaum muda lainnya untuk berani memulai langkah menjadi wirausahawan sosial.

Siswa EMI Student Company - SMAN 2 Denpasar
Teman-teman pasti sudah pada tau dengan Waste4Change kan? Nah, pada Socipreneur Talks Hana Nur Aina yang mewakili Wate4Change turut sharing bagaimana ide awal lahirnya Waste4Change. Semua berawal dari permasalahan sampah. Yups, ingat sampah pasti teman-teman ingat TPA Bantargebang. Miris banget kalau ingat bagaimana TPA ini beberapa kali longsor. Longsoran sampah ini sangat merugikan warga sekitar. Waste4Change merupakan komunitas kewirausahaan sosial yang ingin memberikan solusi terhadap permasalahan sampah di Bantargebang saat itu dengan berprinsip perubahan perilaku dan pengelolaan sampah yang bertanggung jawab. Misi dari Waste4Change adalah mewujudkan masyarakat Indonesia yang bertanggung jawab atas sampahnya. Aktivitas utamanya adalah melakukan kegiatan konsultasi (consult), edukasi atau kampanye (campaign), pengumpulan sampah (collect), dan menciptakan sesuatu yang bernilai (create).

Hana Nur Aina

Be Wise with Your Waste

Ngomongin sampah, berapa banyak sampah rumah tangga yang sudah kita hasilkan? Berapa banyak kita menyumbangkan sampah di Bantargebang? Guys, sampah adalah masalah kita bersama. Kalian yang level top maupun level bawah sekalipun tetaplah penyumbang sampah. Jadi level kita bukanlah parameter siapa yang paling banyak menyumbang sampah. Permasalahan sampah adalah menyangkut hajat hidup orang banyak. 

"Di Indonesia banyak sekali kaum muda yang bisa membawa perubahan", ujar Elvera N Makki.  Untuk itu Citibank berharap semakin banyak pelajar-pelajar yang ikut serta program Youth Sociopreneur Initiative, semakin baik pula hasilnya dan bisa menjadi Waste4Change lainnya. Citibank sendiri telah memberikan modal kepada institusi-institusi lain di seluruh dunia yang ingin berbuat baik untuk mengatasi masalah sampah. Sebagai seorang leader sudah saatnya kita menjadi changemaker. 

Terkait dengan lingkungan, Citibank memperkenalkan kampanye Be Wise with Your Waste dan ini menjadi tema dalam kegiatan tahunan Global Community Day 2019 beberapa waktu lalu. Melalui kampanye ini Citibank bersama dengan seluruh karyawan melakukan perubahan sikap dan perilaku dalam mengelola sampah secara bijaksana. Serangkaian kegiatan edukatif pun dilakukan untuk mengajak karyawan Citibank sebagai Green Champion. Serangkaian inisiatif korporasi dari Citibank juga dilakukan guna mendukung gerakan ramah lingkungan dan pengelolaan sampah,
antara lain:

  1. Citibank telah menempati gedung bersertifikasi standar internasional yaitu LEED Platinum Grade, yang merupakan standar internasional tertinggi dalam hal enviromental protection dan sustainability development
  2. Menghemat energi di setiap lantai melalui lampu sensor gerak
  3. Penerapan waste segregation disetiap lantai
  4. Pengaturan debit air dalam hal penggunaan air
  5. Default printing dua sisi
  6. Paperless initiative untuk nasabah dalam e-statement serta aplikasi paperless baik melalui Citi Mobile maupun CitiDirect.


So, sekali lagi nih guys sekaligus peringatan untuk kita bersama, bahwa sampah bukan masalah pemerintah tapi masalah kita semua. Untuk itu disaat kita protes dan mengeluh dengan masalah sampah, coba deh tunjuk diri masing-masing apakah kita sendiri sudah bertanggung jawab dan peduli dengan sampah kita sendiri? Semoga kita bisa ambil bagian untuk menjadi changemaker.























Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
Older Posts

Hello! I’m Tuty Queen

Hello! I’m Tuty Queen

Follow Me

  • instagram
  • facebook
  • twitter
  • pinterest

Cara Mudah Membuat eBook di Canva

Cara Mudah Membuat eBook di Canva

Seedbacklink

Seedbacklink affiliate

Design Anti Ribet Cuma Pakai Canva

Design Anti Ribet Cuma Pakai Canva

Total Pageviews

Categories

  • Asuransi
  • Canva
  • Dompet Dhuafa
  • Film
  • Food
  • Lingkungan
  • NPD
  • Sport
  • aplikasi
  • beauty
  • ekonomi
  • fashion
  • finance
  • halal lifestyle
  • health
  • hotel
  • kuliner
  • lifestyle
  • teknologi digital

Blog Archive

  • ►  2014 (6)
    • ►  November 2014 (6)
  • ►  2015 (37)
    • ►  March 2015 (1)
    • ►  May 2015 (3)
    • ►  June 2015 (5)
    • ►  October 2015 (3)
    • ►  November 2015 (7)
    • ►  December 2015 (18)
  • ►  2016 (167)
    • ►  January 2016 (11)
    • ►  February 2016 (16)
    • ►  March 2016 (21)
    • ►  April 2016 (15)
    • ►  May 2016 (11)
    • ►  June 2016 (16)
    • ►  July 2016 (6)
    • ►  August 2016 (7)
    • ►  September 2016 (10)
    • ►  October 2016 (20)
    • ►  November 2016 (18)
    • ►  December 2016 (16)
  • ►  2017 (176)
    • ►  January 2017 (12)
    • ►  February 2017 (14)
    • ►  March 2017 (11)
    • ►  April 2017 (16)
    • ►  May 2017 (14)
    • ►  June 2017 (14)
    • ►  July 2017 (6)
    • ►  August 2017 (21)
    • ►  September 2017 (10)
    • ►  October 2017 (20)
    • ►  November 2017 (15)
    • ►  December 2017 (23)
  • ►  2018 (171)
    • ►  January 2018 (9)
    • ►  February 2018 (13)
    • ►  March 2018 (17)
    • ►  April 2018 (18)
    • ►  May 2018 (16)
    • ►  June 2018 (9)
    • ►  July 2018 (6)
    • ►  August 2018 (18)
    • ►  September 2018 (13)
    • ►  October 2018 (17)
    • ►  November 2018 (13)
    • ►  December 2018 (22)
  • ►  2019 (108)
    • ►  January 2019 (11)
    • ►  February 2019 (3)
    • ►  March 2019 (5)
    • ►  April 2019 (1)
    • ►  May 2019 (13)
    • ►  June 2019 (6)
    • ►  July 2019 (11)
    • ►  August 2019 (17)
    • ►  September 2019 (10)
    • ►  October 2019 (10)
    • ►  November 2019 (11)
    • ►  December 2019 (10)
  • ►  2020 (64)
    • ►  January 2020 (6)
    • ►  February 2020 (8)
    • ►  March 2020 (8)
    • ►  April 2020 (5)
    • ►  May 2020 (6)
    • ►  June 2020 (1)
    • ►  July 2020 (4)
    • ►  August 2020 (12)
    • ►  September 2020 (5)
    • ►  October 2020 (2)
    • ►  November 2020 (3)
    • ►  December 2020 (4)
  • ►  2021 (63)
    • ►  January 2021 (5)
    • ►  February 2021 (3)
    • ►  March 2021 (5)
    • ►  April 2021 (4)
    • ►  May 2021 (3)
    • ►  June 2021 (1)
    • ►  July 2021 (2)
    • ►  August 2021 (3)
    • ►  September 2021 (4)
    • ►  October 2021 (10)
    • ►  November 2021 (11)
    • ►  December 2021 (12)
  • ►  2022 (67)
    • ►  January 2022 (2)
    • ►  February 2022 (7)
    • ►  March 2022 (10)
    • ►  April 2022 (12)
    • ►  May 2022 (5)
    • ►  June 2022 (5)
    • ►  July 2022 (5)
    • ►  August 2022 (3)
    • ►  September 2022 (5)
    • ►  October 2022 (4)
    • ►  November 2022 (3)
    • ►  December 2022 (6)
  • ►  2023 (49)
    • ►  February 2023 (3)
    • ►  March 2023 (4)
    • ►  April 2023 (2)
    • ►  May 2023 (7)
    • ►  June 2023 (3)
    • ►  July 2023 (7)
    • ►  August 2023 (3)
    • ►  September 2023 (7)
    • ►  October 2023 (4)
    • ►  November 2023 (5)
    • ►  December 2023 (4)
  • ►  2024 (29)
    • ►  January 2024 (1)
    • ►  February 2024 (3)
    • ►  March 2024 (8)
    • ►  April 2024 (2)
    • ►  May 2024 (1)
    • ►  June 2024 (5)
    • ►  July 2024 (2)
    • ►  August 2024 (2)
    • ►  September 2024 (3)
    • ►  October 2024 (1)
    • ►  November 2024 (1)
  • ►  2025 (39)
    • ►  January 2025 (4)
    • ►  February 2025 (3)
    • ►  March 2025 (1)
    • ►  April 2025 (1)
    • ►  May 2025 (2)
    • ►  June 2025 (8)
    • ►  July 2025 (10)
    • ►  August 2025 (7)
    • ►  September 2025 (1)
    • ►  October 2025 (1)
    • ►  December 2025 (1)
  • ▼  2026 (9)
    • ►  January 2026 (1)
    • ►  March 2026 (1)
    • ►  April 2026 (2)
    • ►  June 2026 (2)
    • ►  August 2026 (2)
    • ▼  September 2026 (1)
      • Kucing Lahap Makan Belum Tentu Sehat! Ini 7 Tanda ...

Contact Form

Name

Email *

Message *

Member of

Member of
Seedbacklink



Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates