Pages

  • Home

travel beauty

Satukan Gerak
Dokumentasi drg. Annisa Sabhrina 

Di sebuah sudut Tangerang Selatan, lebih dari enam tahun lalu, seorang dokter gigi muda sedang berjuang menyesuaikan diri dengan kehidupan barunya sebagai ibu, pekerja, dan warga di lingkungan yang belum terlalu ia kenal. Di tengah hiruk pikuk kota dan rutinitas yang padat, drg. Annisa Sabhrina menemukan satu panggilan hati yang kelak mengubah hidupnya dan kehidupan banyak ibu lainnya.

“Saat itu informasi tentang menyusui masih sangat minim. Saya baru pindah ke Tangsel dan tidak punya support system,” kenangnya ketika saya wawancarai. Ya, drg. Annisa yang asal Bekasi ini baru saja pindah ke Tangerang Selatan tahun 2011. Dari kesepian dan keresahan itu, lahirlah GarASI Kita (Gerakan Peduli ASI Tangerang Selatan) pada tahun 2012, sebuah komunitas yang kini menjadi tempat bertumbuhnya ribuan ibu yang ingin memberikan yang terbaik untuk buah hatinya.



Titik Balik dari Sebuah Kekosongan

Momen yang memicu gerakan ini bukan datang dari seminar besar atau dukungan lembaga resmi. Justru lahir dari rasa “tidak punya tempat berbagi”. drg. Annisa, yang kala itu baru menjadi ibu, merasa banyak ibu lain mengalami hal serupa: tidak tahu harus bertanya kepada siapa, dan tidak tahu apakah perjuangannya dalam menyusui adalah hal yang wajar.


Gerakan Peduli ASI
Dokumentasi pribadi drg. Annisa Sabhrina, saat kegiatan sosial GarASI Kita (Gerakan Peduli ASI Tangerang Selatan)

Gerakan Peduli ASI kemudian hadir sebagai ruang hangat tempat para ibu saling menguatkan, bukan menghakimi. “Bukan hanya tentang kesehatan bayi, tapi juga kesehatan ibu. Lama-lama komunitas ini seperti keluarga sendiri, saling mendukung dan menjadi contoh nyata women support women,” ujar drg. Annisa.



Dari Edukasi Sederhana ke Gerakan Sosial

Ketika Gerakan Peduli ASI dimulai, kesadaran masyarakat tentang pentingnya ASI masih terbatas. Banyak yang percaya pada mitos atau merasa menyusui adalah urusan pribadi. Kini, berkat edukasi berkelanjutan dan kampanye di media sosial, situasinya jauh lebih baik. 


Menurut drg. Annisa, media sosial membuat kampanye mereka menjangkau lebih luas dan cepat. Namun, perjalanan membangun kesadaran publik tidaklah mudah. Tantangan datang dari segala arah, mulai dari birokrasi hingga keterbatasan waktu pribadi. “Masih ada gap kolaborasi antara pemerintah, organisasi non-pemerintah, dan masyarakat. Tapi saya mencoba merangkul semua elemen itu,” ujarnya mantap.


Ada masa ketika drg. Annisa hampir menyerah menghadapi kelelahan fisik dan mental. Tanggung jawab sebagai ibu, pekerjaan profesional, dan aktivitas sosial terkadang membuatnya harus memilih antara waktu istirahat dan panggilan misi. “Saya sempat lelah, tapi semangat para ibu untuk belajar dan ingin memberi yang terbaik untuk anaknya membuat saya bertahan,” katanya penuh semangat.



Kisah yang Menyentuh Hati

Salah satu kisah yang paling membekas di benak drg. Annisa adalah tentang seorang ibu yang mengalami baby blues dan hampir mencelakai bayinya.

“Untungnya, ia menemukan kami. Kami bantu dapatkan perlindungan dan pendampingan,” ucap drg. Annisa. Kisah itu menjadi pengingat bahwa gerakan ini bukan sekadar soal ASI, tapi juga tentang kesehatan mental, empati, dan solidaritas antaribu.


Kini, dukungan untuk ibu menyusui tidak lagi datang hanya dari para ibu, tetapi juga dari support system di sekitarnya, seperti suami, nenek, bahkan asisten rumah tangga. “Perubahan itu kini terasa nyata. Ada kesadaran kolektif bahwa menyusui adalah perjuangan bersama,” jelas drg. Annisa.



Ketika Apresiasi Menjadi Titik Penguat: Terpilih Sebagai Penerima Apresiasi SATU Indonesia Awards 

Tahun 2018 menjadi tonggak penting dalam perjalanan Gerakan Peduli ASI. drg. Annisa terpilih sebagai penerima apresiasi SATU Indonesia Awards dari Astra di bidang kesehatan. Penghargaan itu diberikan kepada anak muda yang menggerakkan perubahan sosial di lingkungannya.


“Secara pribadi dan profesional, saya sangat terharu. Apresiasi itu seperti validasi bahwa perjuangan kecil kami diakui,” ungkapnya. drg. Annisa merasa penghargaan tersebut membawa dampak besar. Nama GarASI Kita (Gerakan Peduli ASI Tangerang Selatan) semakin dikenal, jejaring relawan bertambah, dan banyak pihak yang mulai tertarik berkolaborasi. 


“Apalagi komunitas ini aktif membagikan kegiatan mereka di media sosial Instagram @garasikita_community. “Cukup baik untuk membawa nama komunitas. Kami jadi dipercaya sebagai wadah ibu-ibu yang siap menjadi garda terdepan dalam menyusui si kecil,” tambahnya.



Membangun Generasi dari Setetes ASI: Tumbuh Bersama, Beradaptasi Bersama

Enam tahun lebih setelah penghargaan itu, Gerakan Peduli ASI Tangerang Selatan mengikuti perkembangan para anggotanya. “Anak-anak kami sekarang sudah berusia 1 sampai 15 tahun. Jadi pembahasannya makin beragam, tidak hanya soal bayi, tapi juga remaja, gizi, dan kesehatan mental,” jelas drg. Annisa. 


Layaknya seorang anak, gerakan ini juga belajar tumbuh dan beradaptasi. “Kalau diibaratkan, Gerakan Peduli ASI kini seumur anak saya, sedang belajar mandiri dan mencari jati diri,” katanya sambil tersenyum.


Gerakan Peduli ASI
drg. Annisa Sabhrina, penerima SATU Indonesia Awards Astra 2018 bersama komunitas Gerakan Peduli ASI Tangerang Selatan (dokumentasi drg. Annisa Sabhrina)

Visi awal untuk memberikan edukasi menyusui kini meluas menjadi misi pemberdayaan perempuan dan keluarga. Gerakan ini tidak hanya bicara ASI, tapi juga keseimbangan hidup, dukungan emosional, hingga literasi kesehatan bagi masyarakat.



Mimpi yang Lebih Besar

Ketika saya menanyakan impian ideal ke depan, drg. Annisa menjawab tanpa ragu, “Saya ingin Gerakan Peduli ASI punya cabang di banyak daerah, seperti AIMI ASI. Bayangkan jika setiap kota punya komunitas yang bisa jadi rumah bagi para ibu. Itu akan jadi kekuatan besar untuk generasi masa depan.”


Ia percaya bahwa perubahan besar dimulai dari langkah kecil. “Kuncinya adalah kepekaan. Kalau kita melihat ada hal yang bisa kita bantu dan berdampak bagi lingkungan, jangan tunggu orang lain. Mulailah dari diri sendiri,” pesannya menutup wawancara kami.



Menjalin Gerak, Menumbuhkan Dampak

Kisah drg. Annisa Sabhrina mengingatkan kita bahwa gerakan sosial tidak selalu harus spektakuler. Kadang, ia lahir dari keresahan pribadi yang diolah menjadi kepedulian. Dari seorang ibu yang merasa sendiri, kini tumbuh jaringan ribuan perempuan yang saling menopang.


Inilah esensi dari tema “Satukan Gerak, Terus Berdampak.” Bahwa perubahan bukanlah hasil dari satu langkah besar, melainkan ribuan langkah kecil yang berjalan dalam arah yang sama.


Astra, melalui SATU Indonesia Awards, telah menjadi katalis bagi munculnya banyak sosok muda seperti drg. Annisa yang bekerja dalam senyap, namun menciptakan gema panjang bagi kehidupan masyarakat.


Gerakan Peduli ASI bukan hanya tentang menyusui, tetapi tentang keberanian perempuan untuk saling menguatkan, tentang empati yang menjelma menjadi aksi, dan tentang harapan bahwa dari satu tetes kebaikan, bisa lahir ombak perubahan yang luas.


Bagi drg. Annisa menyatukan gerak bukan sekadar slogan, melainkan napas perjuangan yang terus berdampak. Karena setiap tetes ASI adalah wujud cinta yang menyatukan gerak ibu, tenaga kesehatan, dan bangsa menuju masa depan yang lebih sehat.







Share
Tweet
Pin
Share
14 Comments
Dukungan Nyata Astra Melalui YDBA
Bu Erna, Nena Collection & Dukungan Nyata ASTRA Melalui YDBA (Foto: IG @nenacollection.jogja)
Di Indonesia, UMKM bukan sekadar pelaku usaha kecil mereka adalah nadi ekonomi bangsa. Saat ini ada lebih dari 65 juta UMKM yang menyumbang sekitar 61% Produk Domestik Bruto (PDB) dan menyerap hampir 97% tenaga kerja nasional (sumber data: bisnis.com). Angka yang besar ini menunjukkan betapa UMKM menjadi penopang utama perekonomian kita.

Namun, di balik statistik yang sering kita dengar, ada kisah-kisah personal yang jauh lebih menyentuh. Kisah tentang keberanian memulai dari nol, tentang perjuangan menjaga harapan tetap hidup, dan tentang usaha kecil yang tumbuh melampaui batas.


Dari Ruang Tamu ke Mimpi Besar

Salah satunya datang dari Yogyakarta, dari seorang perempuan bernama Bu Erna Zurnimawati. Dari ruang tamu sederhana rumahnya, beliau memulai perjalanan dengan mesin jahit tua dan segenggam keyakinan. Usaha itu dikenal dengan nama Nena Collection sebuah brand  kriya tekstil yang lahir dari kesederhanaan, namun tumbuh menjadi inspirasi bagi banyak orang.

Awalnya, Bu Erna menjahit hanya untuk memenuhi pemintaan kecil dari teman atau tetangga. Kain-kain sederhana disulap menjadi busana dan aksesori yang bernilai. Namun di balik setiap karya, ada perjuangan yang tak semua orang lihat. Malam-malam panjang dihabiskan di depan mesin jahit, ditemani suara berdecit jarum yang menembus kain dan doa lirih agar usahanya terus bertahan.

Seperti kebanyakan pelaku UMKM Indonesia, Bu Erna pernah menghadapi tantangan yang berat dalam menjalani usahanya. Modal terbatas, pasar yang sempit, hingga keterbatasan pengetahuan tentang manajemen usaha membuat langkahnya terseok. Ada masa ketika pesanan sepi, stok menumpuk, dan rasa ragu mulai menyusup.

“Kadang saya bertanya dalam hati, apa saya mampu? Apa saya tidak salah jalan?” kenang Bu Erna. Namun di balik kegamangan itu, selalu ada tekad yang lebih kuat. Baginya, menyerah bukan pilihan. Setiap jahitan adalah langkah maju, sekecil apa pun hasilnya.


Transformasi Nena Collection Bersama Astra YDBA

Titik balik itu hadir pada 2016, saat Nena Collection bergabung dalam program pembinaan Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA). Dari sinilah Bu Erna menemukan ilmu dan networking yang menguatkan langkahnya. Beliau mengikuti berbagai pelatihan melalui program pembinaan:  basic mentality, manajemen 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin), pembukuan sederhana, hingga branding dan packaging.

UMKM Binaan ASTRA Melalui YDBA
Beberapa produk Nena Collection di Booth Yayasan ASTRA YDBA saat perhelatan Trade Expo 2024 di ICE BSD

Sejak itu, wajah Nena Collection berubah. Di balik setiap produk Nena Collection, ada semangat kemandirian yang kuat. Dari ruang kerja sederhana, usaha ini mampu memproduksi beragam kebutuhan rumah tangga dan gaya hidup: mulai dari sarung bantal dan guling, boneka, topi, hingga dekorasi rumah. Kreativitas Bu Erna dan timnya menjadikan kain-kain sederhana bertransformasi menjadi karya bernilai, sekaligus memberi warna baru dalam dunia kriya tekstil Indonesia.

Yang membuat Nena Collection istimewa, bukan hanya produknya, tetapi juga siapa yang terlibat di balik proses pembuatannya. Bu Erna membuka pintu bagi kaum difabel untuk ikut serta sebagai tenaga kerja. Bagi mereka, Nena Collection bukan sekadar tempat mencari nafkah, tapi juga ruang untuk berkarya, berdaya, dan diakui keberadaannya. Inilah bukti bahwa UMKM bisa menjadi agen pemberdayaan sosial yang nyata.

Lebih jauh, Bu Erna percaya bahwa kualitas adalah kunci. Karena itu, ia dan tim selalu melakukan perbaikan berkelanjutan di setiap proses pembuatan produk. Mulai dari pemilihan bahan, teknik jahitan, hingga finishing, semua diperhatikan agar hasil akhir benar-benar rapi dan memuaskan pelanggan. Tidak heran, produk Nena Collection mampu menembus pasar ekspor hingga ke Jepang sebuah pencapaian yang membanggakan sekaligus menegaskan bahwa karya lokal bisa bersaing di kancah internasional.

Prinsip 5R juga diterapkan konsisten, membuat lingkungan kerja lebih ringkas, rapi, resik, rawat, dan rajin. Hasilnya, proses produksi lebih efisien dan kualitas produk tetap terjaga.

Tak berhenti disitu, Nena Collection kini hadir di dunia digital. Dari media sosial, website resmi, hingga marketplace. Kehadiran digital ini bukan hanya memperluas pasar, tetapi juga menjadikan Nena Collection semakin dekat dengan konsumen, baik di dalam negeri maupun luar negeri.

Semua pencapaian itu menjadikan Nena Collection lebih dari sekadar UMKM biasa. Ia adalah cermin dari UMKM mandiri Indonesia yang dibina Astra melalui YDBA. Tangguh, berdaya, dan siap mendunia.

Kini, Nena Collection tak lagi berdiri sebagai usaha rumahan semata, tetapi sebagai brand yang punya visi membangun karya lokal yang berdaya saing, sekaligus membuka peluang kerja bagi masyarakat sekitar.


Nena Collection di Trade Expo 2024

Senang sekali ada booth Nena Collection sewaktu saya berkunjung ke Trade Expo Indonesia 2024 di ICE BSD tahun lalu. Saya pun berkesempatan bertanya-tanya kepada Bu Erna di booth . Momen paling membanggakan bagi Bu Erna adalah ketika Nena Collection mendapat kesempatan tampil di pameran berskala besar seperti Trade Expo. Produk yang dulu hanya dijual dari rumah kini bisa berdiri sejajar dengan brand-brand lain di panggung nasional.

Salah satu koleksi Nena Collection yang saya beli di Trade Expo 2024 yakni “Tas Tenun Stagen”. Di sini Bu Erna memodifikasi kain stagen menjadi tas.

“Rasanya seperti mimpi,” ucapnya. “Dari ruang tamu kecil, kini produk kami bisa dilihat orang dari berbagai daerah. Itu bukan hanya kebanggaan, tapi bukti bahwa kerja keras selalu ada hasilnya.”

Saya juga membeli beberapa produk Nena Collection. Sebuah tas dengan jahitan yang rapi dan desain elegan, pouch praktis yang cocok dibawa ke mana saja, dompet koin mungil bermotif unik yang langsung membuat saya jatuh hati, hingga cooking gloves (cempal) yang bukan hanya berguna di dapur, tapi juga indah dipandang saat digantung di dapur.

Kontribusi ASTRA YDBA
Produk Nena Collection yang saya koleksi hasil hunting di Trade Expo 2024, alhamdulillah sangat bermanfaat 
Bagi saya, membeli produk-produk ini bukan sekadar transaksi. Setiap jahitan membawa cerita, setiap motif menyimpan doa, dan setiap karya mencerminkan semangat Bu Erna serta para ibu yang ikut terlibat dalam produksi Nena Collection.


Astra Melalui YDBA Beraksi untuk UMKM Indonesia

Kisah Nena Collection hanyalah satu dari banyak cerita inspiratif UMKM Indonesia yang tumbuh bersama pendampingan Astra melalui YDBA. Apa yang dilakukan Astra bukan sekadar memberikan pelatihan, tetapi juga membuka jalan, menghubungkan pasar, dan menanamkan keberanian bagi pelaku usaha kecil untuk bermimpi lebih besar. Ini sesuai dengan filosofi Astra melalui YDBA yakni Beri Kail Bukan Ikan.

Bagi Bu Erna, Nena Collection bukan sekadar bisnis. Ini adalah perjalanan hidup, sarana berbagi manfaat, dan bukti nyata bahwa UMKM mampu menjadi tulang punggung ekonomi bangsa jika diberi ruang untuk berkembang.

Di setiap jahitan, ada harapan yang dirajut. Dari ruang tamu sederhana, kini lahir cerita tentang keteguhan hati, kerja keras, dan mimpi yang tak pernah padam.

Dengan dukungan nyata Astra melalui YDBA, Nena Collection telah membuktikan bahwa tidak ada mimpi yang terlalu kecil untuk diwujudkan. Karena pada akhirnya, beraksi untuk UMKM Indonesia berarti beraksi untuk masa depan bangsa.


Nena Collection: Jalan Imogiri Barat KM 8 Sudimoro RT 01 Timbulharjo Sewon Bantul Yogyakarta


Tuty Queen









Share
Tweet
Pin
Share
25 Comments

GIIAS 2025
Jelajah GIIAS 2025

Beberapa hari lalu, saya akhirnya punya kesempatan main ke Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2025. Dari luar, suasananya sudah terasa meriah. Deretan mobil-mobil baru, konsep futuristik, dan booth-booth megah dari berbagai brand otomotif bikin mata susah berkedip. Tapi seperti biasa, kalau saya datang ke event besar seperti ini, insting saya selalu tertarik ke satu hal: UMKM lokal. Rasanya selalu ada yang istimewa dari karya tangan-tangan kreatif yang sering “ngumpet” di balik gemerlap industri besar.

GIIAS 2025
Selalu ada saja gebrakan di GIIAS 2025, serasa lihat etalase masa depan
Langkah kaki saya akhirnya berhenti di salah satu sudut yang menarik perhatian. Coba deh bayangkan, di dalam hall berderet mobil mewah, tapi di booth ini kalian justru akan melihat rangka mobil. Iyaaa..rangka mobil. Bikin penasarankan?. Jadi ini adalah Booth Yayasan Astra - Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA). Tahun ini, mereka mengusung tema “Yayasan Astra Demi UMKM dan IKM Indonesia”, dan itu bukan sekadar slogan. Booth ini benar-benar jadi ruang pameran yang memberi nafas pada cerita, perjuangan, dan pencapaian para pelaku usaha kecil dan menengah yang sudah lama dibina oleh Astra.

Booth Astra YDBA
Beberapa produk UMKM & IKM di Booth Yayasan Astra -YDBA di GIIAS 2025

Booth Yayasan Astra YDBA tahun ini menghadirkan beberapa produk UMKM dan IKM unggulan dari berbagai sektor mulai dari manufaktur, bengkel roda empat, bengkel roda dua, kerajinan tangan, kuliner khas daerah, hingga hasil pertanian yang sudah diolah jadi produk bernilai tambah. Semua tampil percaya diri membawa produk berkualitas tinggi, hasil dari proses panjang pembinaan, pelatihan, dan pendampingan berkelanjutan dari Astra melalui YDBA.

Salah satu yang menarik perhatian saya adalah produk-produk dari sektor IKM manufaktur. Rapi, presisi, dan nggak kalah keren dibanding produk dari perusahaan besar. Produk-produk ini bukan hanya layak jual, tapi juga sudah memenuhi standar industri. Bahkan, Astra turut mendorong mereka untuk masuk dalam rantai pasok industri besar. Nggak main-main pada tahun 2024 saja, tercatat nilai transaksi rantai pasok sebesar Rp 4,5 triliun ke Grup Astra, yang melibatkan IKM binaan YDBA. Sebuah angka yang membuktikan bahwa pelaku usaha kecil pun bisa bersaing di level nasional, bahkan internasional.

Booth Astra YDBA
Rahmat Samulo (Ketua Pengurus Yayasan Astra YDBA, Tonny Sumarsono (Advisor Yayasan Astra YDBA), Emma Poedjiwati Prasetio (Sekretaris Yayasan Astra YDBA) di Booth Astra YDBA

Selain produk manufaktur, booth ini juga menampilkan kerajinan tangan lokal mulai dari anyaman, batik, boneka, juga craft. Nggak cuma estetik, tapi juga punya nilai budaya yang kuat. Dan tentu saja, yang nggak boleh dilewatkan: kuliner UMKM!  

Yang saya suka dari booth ini adalah pendekatan mereka yang nggak sekadar menjual produk, tapi juga membagikan cerita. Setiap produk yang dipamerkan punya narasi. Dari mana mereka berasal, bagaimana proses pembinaannya, hingga dampak yang dirasakan setelah bergabung dalam ekosistem Astra. Semua itu membuat saya makin yakin bahwa pemberdayaan UMKM Indonesia bukan sekadar wacana, tapi betul-betul dijalankan dengan serius.

Booth Astra YDBA
Imron Hanafi, Pemilik Industri Kecil Menengah (IKM) PT Besq Sarana Abadi & Muhammad Orlando, Second Generation PT Noerhayat Berkah Sejahtera di Booth Astra YDBA. Mereka adalah binaan Yayasan Astra YDBA yang pendapatannya meningkat 3-4 x lipat dan mampu membuka lapangan kerja bagi masyarakat sekitar

Melalui partisipasi di GIIAS 2025, Yayasan Astra melalui YDBA bukan hanya memberi panggung bagi UMKM dan IKM untuk tampil, tapi juga membuka peluang jejaring dan akses pasar yang lebih luas. Program pembinaan mereka mencakup berbagai aspek: dari penguatan sistem manajemen, pelatihan digitalisasi, sertifikasi produk, hingga bimbingan finansial dan pemasaran. Pendekatannya menyeluruh, dan hasilnya pun terasa nyata.

Sebagai pengunjung, saya merasa nggak cuma “jalan-jalan lihat mobil,” tapi juga ikut menyaksikan perjalanan besar dari usaha-usaha kecil yang perlahan mulai menembus batas. Melihat produk-produk lokal bisa tampil sejajar di event besar seperti ini itu bikin hati hangat. Karena di balik setiap produk, ada mimpi yang sedang diperjuangkan. Ada keluarga yang dibantu, komunitas yang diberdayakan, dan masa depan yang dibangun.

Kalau kalian mampir ke GIIAS 2025, jangan cuma fokus ke mobil listrik atau kendaraan canggih aja. Luangkan waktu sebentar untuk jalan-jalan ke booth YDBA. Siapa tahu kalian juga jatuh cinta sama karya anak bangsa yang tumbuh dari semangat dan kolaborasi. Dukungan kita semua bisa jadi bagian dari perjalanan mereka ke tingkat yang lebih tinggi.





Share
Tweet
Pin
Share
No Comments

Peresmian LPB Tangerang
Bersama pemilik UMKM Dapur Gumiwang (kiri) dan Aiko (tengah) di Kecamatan Solear 
Beberapa waktu lalu saya berkesempatan menghadiri peresmian LPB di kecamatan Solear, Kabupaten Tangerang. Acara ini dihadiri oleh para UMKM di kecamatan Solear, juga aparat desa dan tim YDBA. Para UMKM yang hadir di peresmian ini tampak antusias, karena LPB memberikan berbagai manfaat bagi pengembangan usaha mereka. Bagi mereka LPB adalah sarana untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan dalam mengelola usaha. Selain itu LPB bisa jadi tempat berkumpul ya para UMKM sehingga bisa memperluas networking, bertukar informasi juga kolaborasi untuk memperluas pasar. Seperti tagline nya YDBA "Siap Beraksi untuk Negeri". 
Filosofi Siap Beraksi untuk Negeri: Para UMKM, Astra, juga para partner harus siap untuk selalu berkolaborasi dan berkontribusi untuk UMKM Indonesia
Kolaborasi antara Astra melalui YDBA (Yayasan Dharma Bakti Astra) dan PT Sarana Multi Infrastruktur (PT SMI) menjadi langkah strategis dalam mendukung pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia. Melalui peresmian Lembaga Pengembangan Bisnis (LPB) di kecamatan Solear Tangerang, kedua perusahaan ini berkomitmen untuk menciptakan ekosistem bisnis yang inklusif dan sustain.

Peresmian LPB Tangerang
Simbolis Peresmian LPB Tangerang kolaborasi Astra melalui YDBA dengan SMI (Kiri-kanan) : Kepala Dusun Cikuya, Zulaeni, S.Holeh-Kasie Pemberdayaan Masyarakat Kecamatan Solear, H. Sudin Wahyudin-Dept. Head Strategic Planning & Sustainability YDBA, Edison Monoarfa - Team Leader Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan PT SMI, Aldy N. Sigit - Kapospol Adiyasa, IPTU Rolling
Lembaga ini kedepannya secara intens akan memberikan pelatihan dan pendampingan kepada para UMKM di kecamatan Solear. Intinya YDBA membantu agar potensi UMKM di Solear berkembang, mandiri, dan naik kelas. 

Adapun program pembinaan yang diberikan diantaranya:

  • Pelatihan Basic Mentality 
  • Manajemen 5 R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin) 
  • Pelatihan dan Pendampingan Pembukuan Sederhana
  • Pelatihan Branding dan Packaging

Apakah YDBA juga memberikan bantuan dana untuk UMKM? YDBA tidak memberikan bantuan dana ya, karena Astra melalui YDBA ingin memberi kail bukan ikan, agar para UMKM memiliki mental pengusaha jangka panjang. Biasanya mental pengusaha jangka panjang memiliki semangat berubah, komitmen, dan konsisten dalam menjalankan pembinaan sehingga menghasilkan produk yang ber QCD (Quality, Cost, Delivery). 

Peresmian LPB Tangerang
UMKM Kecamatan Solear bersama tim YDBA dan PT SMI 

Dengan dukungan jaringan bisnis yang luas dari Astra, LPB diharapkan mampu meningkatkan daya saing UMKM khususnya sektor kuliner dan craft di pasar nasional maupun internasional. Sementara itu, PT SMI turut berkontribusi melalui penyediaan fasilitas pembiayaan yang berkelanjutan, sehingga pelaku usaha dapat lebih mudah mengakses sumber pendanaan yang aman dan terjangkau.

Semoga dengan hadirnya LPB di Solear, diharapkan dapat menjadi katalisator pertumbuhan UMKM yang lebih inovatif, mandiri, dan berdaya saing tinggi.







Share
Tweet
Pin
Share
16 Comments
Older Posts

Hello! I’m Tuty Queen

Hello! I’m Tuty Queen

Follow Me

  • instagram
  • facebook
  • twitter
  • pinterest

Cara Mudah Membuat eBook di Canva

Cara Mudah Membuat eBook di Canva

Seedbacklink

Seedbacklink affiliate

Design Anti Ribet Cuma Pakai Canva

Design Anti Ribet Cuma Pakai Canva

Total Pageviews

Categories

  • Asuransi
  • Canva
  • Dompet Dhuafa
  • Film
  • Food
  • Lingkungan
  • NPD
  • Sport
  • aplikasi
  • beauty
  • ekonomi
  • fashion
  • finance
  • halal lifestyle
  • health
  • hotel
  • kuliner
  • lifestyle
  • teknologi digital

Blog Archive

  • ►  2014 (6)
    • ►  November 2014 (6)
  • ►  2015 (37)
    • ►  March 2015 (1)
    • ►  May 2015 (3)
    • ►  June 2015 (5)
    • ►  October 2015 (3)
    • ►  November 2015 (7)
    • ►  December 2015 (18)
  • ►  2016 (167)
    • ►  January 2016 (11)
    • ►  February 2016 (16)
    • ►  March 2016 (21)
    • ►  April 2016 (15)
    • ►  May 2016 (11)
    • ►  June 2016 (16)
    • ►  July 2016 (6)
    • ►  August 2016 (7)
    • ►  September 2016 (10)
    • ►  October 2016 (20)
    • ►  November 2016 (18)
    • ►  December 2016 (16)
  • ►  2017 (176)
    • ►  January 2017 (12)
    • ►  February 2017 (14)
    • ►  March 2017 (11)
    • ►  April 2017 (16)
    • ►  May 2017 (14)
    • ►  June 2017 (14)
    • ►  July 2017 (6)
    • ►  August 2017 (21)
    • ►  September 2017 (10)
    • ►  October 2017 (20)
    • ►  November 2017 (15)
    • ►  December 2017 (23)
  • ►  2018 (171)
    • ►  January 2018 (9)
    • ►  February 2018 (13)
    • ►  March 2018 (17)
    • ►  April 2018 (18)
    • ►  May 2018 (16)
    • ►  June 2018 (9)
    • ►  July 2018 (6)
    • ►  August 2018 (18)
    • ►  September 2018 (13)
    • ►  October 2018 (17)
    • ►  November 2018 (13)
    • ►  December 2018 (22)
  • ►  2019 (108)
    • ►  January 2019 (11)
    • ►  February 2019 (3)
    • ►  March 2019 (5)
    • ►  April 2019 (1)
    • ►  May 2019 (13)
    • ►  June 2019 (6)
    • ►  July 2019 (11)
    • ►  August 2019 (17)
    • ►  September 2019 (10)
    • ►  October 2019 (10)
    • ►  November 2019 (11)
    • ►  December 2019 (10)
  • ►  2020 (64)
    • ►  January 2020 (6)
    • ►  February 2020 (8)
    • ►  March 2020 (8)
    • ►  April 2020 (5)
    • ►  May 2020 (6)
    • ►  June 2020 (1)
    • ►  July 2020 (4)
    • ►  August 2020 (12)
    • ►  September 2020 (5)
    • ►  October 2020 (2)
    • ►  November 2020 (3)
    • ►  December 2020 (4)
  • ►  2021 (63)
    • ►  January 2021 (5)
    • ►  February 2021 (3)
    • ►  March 2021 (5)
    • ►  April 2021 (4)
    • ►  May 2021 (3)
    • ►  June 2021 (1)
    • ►  July 2021 (2)
    • ►  August 2021 (3)
    • ►  September 2021 (4)
    • ►  October 2021 (10)
    • ►  November 2021 (11)
    • ►  December 2021 (12)
  • ►  2022 (67)
    • ►  January 2022 (2)
    • ►  February 2022 (7)
    • ►  March 2022 (10)
    • ►  April 2022 (12)
    • ►  May 2022 (5)
    • ►  June 2022 (5)
    • ►  July 2022 (5)
    • ►  August 2022 (3)
    • ►  September 2022 (5)
    • ►  October 2022 (4)
    • ►  November 2022 (3)
    • ►  December 2022 (6)
  • ►  2023 (49)
    • ►  February 2023 (3)
    • ►  March 2023 (4)
    • ►  April 2023 (2)
    • ►  May 2023 (7)
    • ►  June 2023 (3)
    • ►  July 2023 (7)
    • ►  August 2023 (3)
    • ►  September 2023 (7)
    • ►  October 2023 (4)
    • ►  November 2023 (5)
    • ►  December 2023 (4)
  • ►  2024 (29)
    • ►  January 2024 (1)
    • ►  February 2024 (3)
    • ►  March 2024 (8)
    • ►  April 2024 (2)
    • ►  May 2024 (1)
    • ►  June 2024 (5)
    • ►  July 2024 (2)
    • ►  August 2024 (2)
    • ►  September 2024 (3)
    • ►  October 2024 (1)
    • ►  November 2024 (1)
  • ►  2025 (39)
    • ►  January 2025 (4)
    • ►  February 2025 (3)
    • ►  March 2025 (1)
    • ►  April 2025 (1)
    • ►  May 2025 (2)
    • ►  June 2025 (8)
    • ►  July 2025 (10)
    • ►  August 2025 (7)
    • ►  September 2025 (1)
    • ►  October 2025 (1)
    • ►  December 2025 (1)
  • ▼  2026 (7)
    • ►  January 2026 (1)
    • ►  March 2026 (1)
    • ►  April 2026 (2)
    • ►  June 2026 (2)
    • ▼  August 2026 (1)
      • Sampah Bernilai Ekonomi: Cara Bank Sampah Induk Be...

Contact Form

Name

Email *

Message *

Member of

Member of
Seedbacklink



Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates