Penyakit Lambung Karena Psikosomatis atau Psikosomatis Karena Penyakit Lambung?

S ering merasa cemas, jantung berdebar, keringat dingin, merasa takut ditinggal sendiri, sering berilusi seolah-olah ketemu setan, takut ...

Sering merasa cemas, jantung berdebar, keringat dingin, merasa takut ditinggal sendiri, sering berilusi seolah-olah ketemu setan, takut mati, dan masih banyak lagi gangguan kesehatan yang diakibatkan oleh penyakit lambung. Teman-teman, kali ini saya akan menuliskan kisah nyata yang dialami Ibu saya. Selama 3 bulan ini terbaring sakit, diagnosa dokter pun berubah-ubah. 

Awalnya keluhan yang dirasakan Ibu saya adalah sakit kepala dan kaki agak bengkak. Padahal biasanya Ibu sama sekali nggak pernah punya keluhan sakit kepala selama ini. Bisa dibilang Ibu keluhannya paling perut kembung. Ke dokter yang pertama keluhan sakit kepala ibu karena kolesterol kata pak dokter. Ibu pun dikasi obat kolesterol dan obat anti nyeri dan obat untuk mengempiskan bengkak di kaki, juga dikasi obat maag dan kembung karena perut rada kembung. Sepulang dari dokter obat yang dianjurkan dokter pun diminum, reaksinya Ibu saya malah nyeri ulu hati dan drop lemas hampir pingsan.

credit: halodoc
Malam hari karena Ibu lemas terus kami membawa Ibu ke Rumah Sakit dan langsung ditangani di UGD. Darah Ibu diambil malam itu juga untuk di cek di laboratorium. Hasil darah bagus, nggak ada tanda-tanda luka dalam atau infeksi. Dokter bilang Ibu psikosomatis, karena Ibu juga susah banget tidur malam. Dokter menyarankan agar Ibu jangan terlalu banyak pikiran, harus rileks. Ibu dikasi semacam obat tidur juga malam itu dengan syarat dikonsumsi kalau memang benar-benar diperlukan. Malam itu juga Ibu diperbolehkan pulang tanpa harus opname. Dan dokter menyarankan puasa untuk diambil darah keesokan paginya untuk diperiksa lebih lanjut. Hasilnya kolesterol, gula juga termasuk kategori normal. 

Oke, setelah diperiksa semua normal jadi gangguan nya cuma lambung saja. Dokter spesialis yang menangani Ibu saat kontrol menyatakan jenis penyakit lambung ibu dispepsia, dan sudah kena saraf kepala, kuping juga mendengung. Makanya serba salah semua, tidur pun kurang nyaman. Dokter spesialispun mengatakan kemungkinan gula ibu agak tinggi padahal dokter yang pertama menyatakan masih kategori normal. Well, dokter spesialis pun memberikan obat gula. Sampai di rumah kami pun memberi Ibu obat yang diresepkan dokter spesialis. Ibu rada enakan? ENGGAK. Yang ada ibu malah drop lemas dan pingsan. Langsung bawa RS lagi dan opname selama seminggu. Drop yang kedua kalinya ini malah parah ibu nggak kuat jalan lagi.

Selama dirawat di RS sudah ada 4 dokter yang menangani. Dokter yang satu bilangnya begini yang satunya begono. Ibu juga semakin sering lemas tiba-tiba gampang capek. Malam pun selama di RS nggak bisa tidur. Lima hari dirawat Ibu minta pulang karena udah nggak betah di RS. Dokter mengizinkan karena kondisi ibu dianggap sudah bisa pulang tapi tetap harus berobat jalan. Baru dua hari di rumah Ibu drop lagi, lemas, malah suka nangis karena nggak bisa tidur, perut panas dan sakit, nggak bisa buang air besar juga. Langsung Ibu dibawa lagi ke RS dan lagi-lagi harus dirawat. 

Malamnya saat dirawat tepat jam 11 malam tiba-tiba masuk perawat nyodorin suntik insulin, malah suntik langsung dibuka dan bilang Ibu suntik insulin ya. Shock dong saya. Langsung saya menolak dengan alasan ibu saya nggak punya riwayat gula. Suntik insulin pun dibatalkan. Besok nya masuk dong dokter yang lain lagi dan saya tanya kenapa ibu saya harus suntik insulin. Dokter ini malah bilang nggak perlu suntik insulin karena gula ibu tiba-tiba tinggi karena gula sesaat. Nah loh! Bingung kan? Jadi kalau orangtua atau saudara kita ada yang di opname harus dijaga terus. INGAT!

Sejak Ibu drop diberi obat gula tidur semakin susah, tambah sering lemas selama di RS. Saya bilang ke dokter kalau Ibu semakin sering lemas karena konsumsi obat gula. Dokter menyarankan hentikan pemberian obat gula, dokter spesialis tetap kekeuh obat gula diberikan. Yowis keputusan ada di saya karena saya yang jaga akhirnya obat gula yang dikasi tidak saya minumkan ke Ibu. Opname yang ke tiga kalinya ini beneran deh semakin nggak karuan. Ibu semakin susah tidur sampai nangis. Dua malam berturut-turut akhirnya dikasi obat tidur dan bisa tertidur pulas. Malam ketiga begitu lagi eh obat tidur nggak mempan. Yang jaga mulai ikutan stres. Selain nggak bisa tidur perut mulai panas menjalar sampai dada. Panggil dokter dong kebetulan dokter nya perempuan cuma bilang ini perut ibu gasnya banyak sekali seperti air mendidih ((AIR MENDIDIH DIDALAM PERUT)).  Solusinya cuma dikasi obat sirup untuk lambung. Nggak mempan juga euy. Tidur enggak, perut sakit yang ada Ibu nangis terus. Besok malamnya gitu lagi sampai tengah malam dokter yang beda lagi masuk dan bilang lambungnya sebenarnya nggak parah atau lambung fungsional nggak ada luka sama sekali. Ini karena psikosomatis, Ibu ada yang dipikirkan membuat asam lambung naik. Jadi sakit lambung ini bakal kambuh selain karena pola makan juga pikiran. 

Menurut Reza Gunawan psikosomatis berasal dari kata psicho (batin) dan soma (badan). Psikosomatis itu problem yang ada di batin dan akhirnya muncul di badan dalam bentuk keluhan fisik seperti sakit kepala, asam lambung naik, jantung berdebar-debar, sesak nafas, bahu tegang, susah tidur, gangguan hormonal, dsb. Ini semua disebabkan oleh pikiran atau batin.

mengelola psikosomatis dengan Acces Bars
Saya pun sempat terkejut sewaktu dokter menyatakan Ibu psikosomatis. Saya juga bingung, lambung yang menyebabkan Ibu saya jadi terganggu pikirannya atau psikosomatis yang membuat Ibu sakit lambung. Ternyata ya dua-duanya. Selama ini tubuh Ibu sudah memberi sinyal kalau perut sudah mulai sering kembung tapi diabaikan karena oles minyak angin sembuh. Ditambah lagi Ibu merasa kesepian di rumah karena jauh dari anak-anak, cuma berdua aja sama Ayah di rumah, selebihnya nggak tahu mikirin apa. Kalau ditanya Ibu mikirin apa jawabnya nggak tahu, nggak ada mikir apa-apa, dan kadang jawabnya namanya orang hidup ya pasti punya pikiran. 

Ternyata selama opname di RS 70 persen pasien yang di opname karena penyakit lambung. Ada yang lambungnya luka sampai muntah darah, ada yang tulangnya sampai ngilu-ngilu, dll. Keadaan Ibu Alhamdulillah keluhan di kepala dan kuping sudah nggak ada, tapi keluhan perut panas, ditambah tulang ngilu, dan sekarang malah syaraf kejepit. Kebanyakan penderita lambung yang saya temui dan saya tanya kebanyakan bilang memang sakit lambung seperti itu, lemas, cemas, takut, gelisah, sensitif, pokoknya nggak enak banget. Gangguan lambung memang gangguan psikosomatik yang sering dialami. Jadi masalah lambung harus dilihat juga aspek biopsikososialnya apalagi gejala-gejala kecemasan yang dialami. 

Intinya selalu jaga kesehatan terutama pola makan dan pikiran. Jangan lupa membahagiakan diri sendiri karena bahagia bukan dicari tapi diciptakan dari diri sendiri. Karena terlalu berharap orang lain membahagiakan diri kita yang justru kita gampang kecewa kalau tak sesuai harapan dan yang ada malah menyakiti diri sendiri. Salam sehat ya teman-teman!





You Might Also Like

0 comments