Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Cita-cita menjadi seorang guru adalah cita-cita yang mulia, dengan sepenuh hati mencurahkan ilmu untuk anak-anak didik nya. Saya salut sekali dengan guru-guru yang tak hanya mengejar materi, tapi benar-benar tulus menjadikan anak-anak didik nya menjadi pintar dan menyerap ilmu yang diberikan.
Kali ini saya akan bercerita mengenai seorang guru ini yang bernama Tri Harjani. Tri mengajar di SDN 201/VII Penang Belai yang terletak di Kabupaten Tebo di Provinsi Jambi. Kisah hidup seorang guru Tri sangat inspiratif dan layak diteladani oleh siapa pun. Beruntung ia terus bisa melanjutkan kiprahnya yang luar biasa berkat dukungan kegiatan Tanoto Foundation yang didirikan oleh keluarga Sukanto Tanoto.
Ketiadaan
sekolah semakin mengusik hati Tri. Ia berpikir tentang nasib anaknya yang kala
itu masih berumur dua tahun. Bagaimana pendidikannya ketika sang anak tumbuh
besar? Namun,
kala itu, Tri mendadak mendapat tawaran untuk mengajar di sekolah dasar. Ia
menerimanya saja meski tidak punya dasar. Pasalnya, Tri hanya lulus dari
Sekolah Menengah Kejuruan. “Saya hanya mengingat-ingat saja apa yang dilakukan
guru saya. Dari situlah saya mulai mengajar anak-anak,” ucap Tri.
Kondisi
sekolahnya juga jauh dari layak. Tempatnya berpindah-pindah di rumah warga
secara bergantian. Selain itu, balai desa juga sering dipakai menjadi ruang kelas
dadakan. Meski
begitu, semangat Tri tidak pernah luntur. Kiprahnya sebagai guru perintis
akhirnya diketahui oleh pemerintah. Sekolahnya kemudian dibangun dan dinamai
SDN 201/VII Penang Belai. Ia pun diberi beasiswa kuliah diploma guru di
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jambi. Masa-masa
itu dimanfaatkan oleh Tri untuk menggali ilmu pendidikan setinggi mungkin. Saat
itu pula ia mendapatkan dukungan dari keluarga Sukanto Tanoto lewat kegiatan
Tanoto Foundation bertajuk Pelita Pendidikan. Tri diajari cara dan metode untuk mengajar
secara inovatif dan kreatif agar menyenangkan bagi siswa.
Kegiatan
ini sangat krusial bagi Tri. Tinggal di daerah terpencil, ia mesti pintar
mencari cara untuk mengajar di tengah keterbatasan fasilitas. Pelatihan yang
didapatnya sebagai bagian dari kegiatan Tanoto Foundation tersebut sangat
membantunya. “Seandainya
dari dulu saya tahu ada metode belajar aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan
menyenangkan seperti yang diajarkan oleh Tanoto Foundation, tentu saya dengan
senang hati menerapkannya. Metode ini membuat saya lebih menikmati dalam
mengajar dan anak pun tidak mudah bosan,” ujar Tri yang mendapatkan titel
sarjana dari Universitas Terbuka pada 2010.
Semangat
Tri untuk terus mengajar kian menyala. Artinya, tujuan dari kegiatan Tanoto Foundation pun tercapai. Yayasan yang
didukung oleh keluarga Sukanto Tanoto ini memang sangat peduli terhadap
pendidikan di Indonesia. Selain menggelar beragam pelatihan, Tanoto Foundation
juga kerap memberi beasiswa Tanoto Foundation untuk siswa, mahasiswa, hingga guru. Semoga Tanoto Foundation terus mendukung guru-guru di daerah menjadi aktif dan kreatif.



