![]() |
| Perjalanan Qisbelin dari Bontang Hingga Mendunia |
Memori masa kecil saya penuh dengan aroma ikan goreng dan kuah rujak yang menggugah selera. Tempat tinggal saya dekat laut, jadi seafood adalah bagian dari kehidupan sehari-hari. Ibu saya selalu menyediakan kerupuk ikan di rumah. Mulai dari berbagai bentuk, berbagai rasa. Saya dan saudara-saudara langsung senang makan kerupuk ikan yang gurih dan renyah, disiram kuah rujak. Perpaduan gurih, pedas, dan nagih membuat camilan ini selalu ludes tak bersisa.
Itulah mengapa ketika saya mencoba Amplang Kuku Macan Qisbelin untuk pertama kali, memori itu langsung kembali. Rasanya familiar, tapi ada sesuatu yang berbeda, yakni ada kualitas, ada cerita dibaliknya. Dan ini membuat saya ingin tahu lebih dalam tentang produk dari Bontang, Kalimantan Timur, ini.
Kesempatan itu datang saat Trade Expo Indonesia 2025 berlangsung di ICE BSD Tangerang, Oktober lalu. Saya datang dengan tujuan melihat bagaimana produk UMKM Indonesia dibawa ke panggung yang lebih besar, dari lokal hingga internasional. Dan di booth Qisbelin, saya bertemu langsung dengan Handrini Rahayuningtyas, pemilik dan pendiri Qisbelin. Dalam percakapan singkat kami, saya menyadari bahwa cerita Qisbelin adalah lebih dari sekadar kisah sukses satu UMKM. Ini adalah cerita tentang sinergi lintas generasi bagaimana ibu, anak muda, institusi pembinaan, dan komunitas UMKM bersinergi untuk mengakselerasi pertumbuhan UMKM dari lokal hingga global.
Nama Qisbelin: Cerita Pribadi Dibalik Sebuah Brand
Pertanyaan pertama saya bukan tentang omzet atau penjualan. Saya bertanya tentang nama. Karena bagi saya nama bukan sekadar label, tapi nama punya makna dan punya cerita.
“Qisbelin adalah perpaduan nama Qis dan Abelian,” Handrini menjelaskan dengan hangat. “Qis adalah panggilan sayang untuk ayah saya, dan Abelian adalah nama angkatan saat saya kuliah.” Handrini melanjutkan dengan mata yang berbinar, "Ayah saya adalah seorang wartawan. Di setiap akhir beritanya, selalu ada 'kis'. Itu adalah signature ayah saya. Sebagai anak perempuan, saya sangat mengagumi ayah. Saya ingin Qisbelin juga melanglang buana seperti berita yang dibuat ayah saya menjangkau banyak orang, membawa pesan, memiliki dampak." Aspirasi itu tercermin dalam setiap elemen Qisbelin, bahkan dalam logonya. Di logo Qisbelin, ada lambang mata pena yang mewakili wartawan, warisan dari ayah saya. Dan ada lambang kurva tak hingga di balik huruf 'b', melambangkan harapan saya bahwa mulai dari produknya, penjualannya, inovasinya, semuanya tak terhingga. Qisbelin harus mendunia. Itulah mengapa brand saya tetap bernama Qisbelin, sementara perusahaannya adalah PT Qisbelian Snack Indonesia. Nama itu adalah doa, mimpi, dan legacy yang ingin saya teruskan", ungkap Handrini.
Jadi nama ini bukan sekadar kreasi di atas kertas. Ini adalah perpaduan memori keluarga dengan ambisi masa depan. Handrini membawa nama ayahnya, membawa kenangan masa kuliah, dan membuatnya menjadi identitas bisnis yang personal dan unik.
![]() |
| Handrini Rahayuningtyas, owner Qisbelin |
“Lalu mengapa Amplang Kuku Macan?” saya tanya lagi. Handrini tersenyum. “Karena bentuk amplangnya memang menyerupai kuku macan, tajam dan melengkung. Nama ini membuat produk mudah diingat.” Dan benar, ketika orang mendengar “Amplang,” yang terlintas adalah “Amplang Kuku Macan Qisbelin,” bukan sekadar amplang biasa. Itu adalah kekuatan branding yang ternyata Handrini pelajari dalam perjalanan bisnisnya.
Dari percakapan singkat tentang nama ini, saya semakin yakin bahwa dibalik satu produk lokal ada banyak cerita: cerita keluarga, cerita daerah, cerita aspirasi, dan cerita perjalanan panjang orang yang membuatnya.
Dari Impian Karyawan Hingga Menemukan Peluang Sendiri
Cerita Handrini dimulai dari tempat yang tidak terduga. Dia adalah lulusan Matematika, punya gelar, punya ilmu, punya rencana hidup yang jelas. Dia ingin bekerja di perusahaan besar, mendapat gaji tetap, kehidupan yang terukur. Membantu usaha amplang ibu? Itu hanya sambil menunggu lamaran kerja diterima.
Tapi hidup tidak selalu mengikuti rencana di atas kertas. Beberapa kali melamar pekerjaan tidak membawa hasil. Di tengah ketidakpastian itu, ada satu momen yang mengubah segalanya. Handrini menemani ibunya ke acara Asosiasi Makanan dan Minuman (ASMAMI) Bontang. Di sana, dia ditunjuk menjadi sekretaris ASMAMI. Dan Ketua ASMAMI memberinya tantangan sederhana yang powerful: “Jika kamu ingin aktif di organisasi dan dunia usaha, kamu harus punya produk sendiri.”
Kalimat itu seperti percikan. Tiba-tiba amplang bukan lagi usaha ibu itu adalah peluang dan tantangan untuk Handrini sendiri. Dia mulai serius mengembangkan amplang, menciptakan formula yang lebih baik, proses produksi yang lebih konsisten. Dan dari sana, Amplang Kuku Macan Qisbelin lahir.
Disini kita bisa melihat sinergi pertama: sinergi antara generasi tua (ibu dengan pengalaman dan dedikasi) dan generasi muda (Handrini dengan inovasi dan visi baru). Inilah yang dimaksud dengan lintas generasi. Bukan menggantikan, tetapi melanjutkan dan mengembangkan.
Ketika Kail Lebih Berharga dari Ikan: Filosofi YDBA yang Mengubah Qisbelin
Produk ada. Nama brand ada. Tapi Handrini tahu itu tidak cukup. Dia butuh pengetahuan tentang bagaimana menjalankan bisnis yang sesungguhnya, tidak hanya membuat dan menjual, tapi mengelola, berkembang, dan bersaing.
Pada tahun 2018, Handrini mengenal Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) melalui program pembinaan LPB PAMA Bessai Berinta Bontang. Dan di sini, perjalanan transformasi Qisbelin benar-benar dimulai. YDBA memiliki filosofi yang berbeda dari model pembinaan konvensional. Mereka tidak datang dengan uang tunai dan berkata, “Ini untuk kamu, semoga sukses.” Sebaliknya, YDBA bekerja dengan prinsip: “Berikan kail, bukan ikan.”
Filosofi ini bukan sekadar slogan. Ini adalah cara kerja mereka. Dalam pembinaan YDBA, Handrini tidak menerima suntikan modal besar atau peralatan gratis. Yang dia terima adalah pengetahuan, pendampingan, dan sistem bekal untuk menangkap peluang sendiri. Handrini belajar manajemen produksi, keuangan, pemasaran digital, dan branding. Dia belajar memilih ikan tenggiri yang tepat, takaran adonan yang konsisten, proses penggorengan yang menghasilkan amplang sempurna. Dia belajar tentang packaging yang menarik, storytelling produk, dan cara berkomunikasi dengan konsumen.
Penerapan 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin) di area produksi bukan sekadar teori. Handrini benar-benar menerapkannya. Hasilnya? Area produksi lebih efisien, kualitas terjaga, sistem lebih rapi. Untuk usaha kuliner seperti Qisbelin, ini sangat penting. Konsumen memang melihat amplang yang dikemas rapi, tapi yang tidak terlihat adalah proses di belakangnya yang dijaga ketat agar produk tetap berkualitas dan konsisten.
Branding juga berkembang. Sebelumnya, amplang hanya “camilan lokal” tanpa identitas kuat. Tapi dengan bimbingan YDBA, amplang menjadi “Amplang Kuku Macan Qisbelin” produk dengan cerita, identitas visual, dan sesuatu yang membuat konsumen ingat.
Berikan kail bukan ikan bukan memberikan solusi instan, tapi memberikan kemampuan untuk menemukan solusi sendiri. Ini adalah bentuk sinergi kedua: sinergi antara UMKM dan institusi pembinaan yang percaya pada proses pertumbuhan yang berkelanjutan.
2022: Saat Qisbelin Dinyatakan Sebagai UMKM Mandiri
Proses pembinaan YDBA tidak terjadi dalam semalam. Ada pembelajaran bertahap, ada eksperimen, ada perbaikan. Perjalanan dari usaha rumahan menjadi UMKM yang terkelola dengan baik membutuhkan waktu.
Pada tahun 2022, empat tahun setelah bergabung dengan program pembinaan YDBA, Handrini mengikuti asesmen UMKM PAMA INDO. Hasilnya? Qisbelin dinyatakan naik kelas menjadi UMKM Mandiri. Status UMKM Mandiri bukan hanya label administratif. Ini adalah pengakuan bahwa Handrini sudah memiliki kemampuan untuk mengelola bisnis dengan standar yang tepat, mulai dari manajemen produksi, keuangan, SDM, pemasaran, hingga lingkungan dan CSR.
Yang lebih penting, menjadi mandiri bukan berarti berjalan sendiri tanpa dukungan. Ini berarti memiliki kemampuan untuk terus berjalan meski pendampingan suatu saat berakhir. Handrini sudah punya fondasi yang kuat untuk membuat keputusan, menjaga kualitas, mencari pasar, dan mengarahkan bisnisnya sendiri.
Tapi perjalanan tidak berhenti di sini. Justru tantangannya makin besar. Bbagaimana mempertahankan kualitas? Bagaimana memenuhi pesanan dalam jumlah besar? Bagaimana membawa produk lokal tanpa kehilangan identitasnya? Handrini punya satu jawaban sederhana: “dengan terus melangkah.”
Dari Bontang ke Italia, Australia, dan California
Perlahan tapi pasti, Amplang Kuku Macan Qisbelin mulai menjelajahi pasar di luar Bontang. Pada akhir 2023, produk ini dikirim ke Italia. Kemudian November 2024, sekitar 80 kilogram dikirim ke Australia. Dan pada 18 Februari 2025, 1.000 pcs Amplang Kuku Macan dikirim ke California, Amerika Serikat.
Menembus pasar internasional bukan sekadar soal “produk enak.” Di baliknya ada persiapan usaha yang dibangun sedikit demi sedikit, menjaga kualitas, memperbaiki kemasan, memenuhi kebutuhan produksi, memahami pasar, dan terus belajar. Handrini membuktikan bahwa produk dari daerah punya kesempatan untuk menjelajah jauh dan tetap membawa identitas dari tempat asalnya.
Bahkan pada TEI 2025, Qisbelin menjadi satu dari 23 UMKM unggulan yang dipilih dari seluruh Indonesia. Ini bukan kebetulan. Ini adalah hasil dari kerja keras, konsistensi, dan ekosistem yang tepat.
Sinergi Yang Mengubah Segalanya: Peran YDBA Dibalik Sukses Qisbelin
![]() |
| Owner Qisbelin menandatangani MoU, Amplang Kuku Macan siap ekspor ke Amerika |
Jika saya hanya menghitung angka omzet, jumlah ekspor, penghargaan, cerita Qisbelin mungkin terlihat seperti kisah sukses yang sudah selesai. Tapi yang lebih penting adalah memahami ekosistem di baliknya.
Ada pelaku usaha yang mau belajar. Ada institusi pembinaan yang memberikan pengetahuan tanpa membuat ketergantungan. Ada komunitas UMKM yang saling membuka jaringan. Ada pameran yang mempertemukan produk dengan pasar. Semuanya tidak berdiri sendiri, itulah mengapa kata “sinergi” terasa begitu penting.
Pada 2025, YDBA mencatat 2.030 UMKM aktif dibina, menciptakan 4.674 tenaga kerja, dengan fasilitasi pembiayaan mencapai Rp684 miliar dan fasilitasi pemasaran mencapai Rp4,9 triliun. Angka itu besar, tapi yang lebih besar adalah cerita di baliknya. Berapa banyak pemilik usaha yang akhirnya berani mengambil keputusan? Berapa banyak yang berani mencari pasar lebih luas? Berapa banyak yang memahami bahwa mengelola usaha bukan hanya membuat produk?
Dalam kasus Qisbelin, Handrini tidak hanya menerima pembinaan, dia juga menjadi instruktur bagi UMKM lain, mengajarkan strategi pemasaran dan teknik produksi amplang. Siklus sinergi lintas generasi ini terus berlanjut: dari UMKM yang dibina, menjadi UMKM mandiri, lalu mentor bagi UMKM berikutnya. Ini adalah akselerasi yang sesungguhnya.
Dari Sebungkus Amplang, Saya Belajar Arti Sinergi
![]() |
| Saya dan Amplang Kuku Macan Qisbelin |
Sebelum bertemu Handrini, saya hanya mengenal Amplang Kuku Macan sebagai camilan khas Kalimantan. Sekarang, setiap kali mendengar nama Qisbelin, yang terbayang adalah perjalanan lengkapnya: seorang perempuan yang menemukan jalannya sendiri, usaha keluarga yang berkembang menjadi brand, proses pembinaan yang berkelanjutan, filosofi “berikan kail bukan ikan” yang hidup, hingga pasar Italia, Australia, dan California.
Itulah wajah UMKM Indonesia yang sebenarnya. Tidak selalu dimulai dengan sesuatu yang besar. Kadang dimulai dari dapur rumah, resep keluarga, keberanian mencoba, satu produk. Lalu perlahan berkembang karena ada kesempatan untuk belajar dan ada ekosistem yang mendukung.
Qisbelin mengingatkan saya bahwa menjadi mandiri bukan berarti tidak membutuhkan siapa-siapa. Justru dengan sinergi yang tepat, sebuah UMKM bisa mendapatkan bekal untuk kemudian berdiri lebih kuat dengan kakinya sendiri. Dan ketika sudah berdiri, perjalanan itu tidak harus berhenti. Bisa diteruskan, bisa dibagikan, bisa menjadi inspirasi bagi yang lain.
Selama 46 tahun, YDBA telah membuktikan bahwa sinergi lintas generasi antara usaha keluarga, generasi muda, institusi pembinaan, dan komunitas UMKM adalah kunci untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif. Kisah Qisbelin adalah salah satu dari ribuan kisah yang lahir dari komitmen YDBA untuk memberdayakan UMKM Indonesia. Di setiap cerita sukses seperti ini, kita melihat visi YDBA yang nyata: UMKM Indonesia yang mandiri, berkembang, dan siap bersaing di tingkat global.
Terima kasih, Handrini. Terima kasih, Qisbelin. Terima kasih, YDBA. Kalian telah menunjukkan bahwa dengan kail yang tepat, UMKM Indonesia bisa menangkap peluang yang jauh lebih besar dari yang pernah dibayangkan.






