Pages

  • Home

travel beauty

Peran Serat
Peran Serat untuk Kesehatan Saluran Cerna dan Alergi pada Anak

Ibu mana yang nggak khawatir ketika melihat si Kecil alergi. Kulit bentol-bentol, muncul kemerahan pada kulit bahkan muntah dan sesak nafas. Saya juga deg-degan kalau lihat ponakan alergi makanan sampai sesak nafas. Beneran deh, saya yang kalut dan super panik jadinya. Buru-buru dibawa ke dokter dan akhirnya harus di nebu. Kondisi yang berulang ini tentu saja bikin over thinking, cemas. Alhasil orangtua pun jadi ikutan sakit mikirin apa nih penyebab anak jadi alergian kayak gini.

Senang sekali saya bisa mengikuti webinar mengenai Peran Serat terhadap Kesehatan Saluran Cerna dan Alergi pada Anak yang diadakan oleh Danone Indonesia pada tanggal 23 Agustus 2023 lalu. Di acara ini saya jadi banyak dapat wawasan mengenai pentingnya kecukupan gizi anak dan peran serat terhadap saluran cernanya juga bagaimana alergi bisa terjadi pada anak.


Peran Serat
Para narasumber webinar Peran Serat terhadap Kesehatan Saluran Cerna dan Alergi pada Anak

Soal alergi, kalau kita bedah ternyata banyak sekali akar masalahnya. Dan salah satunya terkait dengan kecukupan serat. Berdasarkan data riset kesehatan dasar tahun 2018, ternyata 95,5% penduduk Indonesia yang berusia diatas 5 tahun masih kurang konsumsi seratnya. Padahal serat merupakan salah satu zat gizi yang penting untuk dikonsumsi terutama pada anak agar sistem pencernaannya bisa bekerja dengan optimal. Karena 70% dari komponen sistem daya tahan tubuh terdapat dalam pencernaan dan merupakan poin penting untuk mendukung tumbuh kembang anak serta kesehatan yang holistik atau keseluruhan pada anak. Hal inilah yang membuat konsumsi makanan berserat pada anak harus terus didorong agar kita sebagai orangtua bisa paham bagaimana pemenuhan serat harian untuk tumbuh kembang yang optimal bagi anak, terutama untuk anak-anak yang mengalami kondisi alergi.


Peran Serat untuk Saluran Cerna
Penguatan sistem imum pada anak dibangun sejak masa golden period

Berdasarkan penelitian, pola makan yang rendah asupan serat ternyata berhubungan erat dengan alergi pada anak. Untuk itu perlu sekali pembangunan kesehatan pada anak, penguatan sistem imun pada anak dibangun sejak kecil terutama di masa golden periodnya. Ini penting sekali untuk bisa memberikan kesehatan yang optimal pada anak. Caranya di masa golden period harus ada dukungan golden nutrition atau nutrisi yang tepat termasuk dengan terkait asupan serat serta adanya golden stimulation atau stimulasi yang tepat sehingga dapat mendukung kesehatan dan tumbuh kembang optimal bagi anak.


Arif Mujahidin, Corporate Communication Director Danone Indonesia memaparkan bahwa Danone merupakan perusahaan yang memiliki visi makanan sebagai sumber gizi itu sangat penting untuk mendukung tumbuh kembang anak. Isu yang dihadapi saat ini bahwa setiap anak berbeda-beda kebutuhan gizinya. Kehebatan seorang anak perlu dibangun sejak masa golden periodnya melalui dukungan golden nutrition termasuk melalui asupan serat serta golden stimulation sehingga dapat mendukung kesehatan holistik dan tumbuh kembang optimal si Kecil khususnya anak dengan kondisi alergi. 


Peran serat mencegah alergi pada anak
Visi Danone Indonesia

Berdasarkan penelitian 9 dari 10 anak masih mengalami kekurangan serat dimana rata-rata anak Indonesia usia 1-3 tahun hanya memenuhi ¼ atau rata-rata 4,7 gram per hari dari total kebutuhan hariannya atau setara dengan sepotong buah dan 2 mangkuk kecil sayur. Ini masih jauh dibawah angka kecukupan gizi yang direkomendasikan yaitu 19 gram serat setiap hari atau setara dengan 8 buah jeruk atau 10 buah apel. Melihat kondisi ini penting bagi kita para orangtua di Indonesia agar dapat membiasakan makan serat pada anak sejak dini. 


dr. Endah Citraresmi, Sp.A(K),  Konsultan Alergi dan Imunologi Anak mengatakan kunci pemenuhan nutrisi anak adalah gizi seimbang. Asupan makanan berserat sangat diperlukan oleh anak dan tidak bisa diremehkan. Selain dapat membantu optimalisasi kesehatan saluran cerna yang krusial bagi tumbuh kembang dan kesehatannya, asupan serat harian yang tidak cukup juga dapat mempengaruhi terjadinya gangguan kesehatan, salah satunya kejadian alergi pada anak. Menurut penelitian pola makan rendah asupan serat menjadi salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya alergi. 


Peran Serat
Jangan remehkan asupan makanan berserat

Sebagai orangtua kita perlu memiliki pengetahuan yang cukup dalam memilih dan memberikan asupan nutrisi yang sesuai dengan kondisi anak, memiliki gizi yang seimbang serta juga kaya kandungan serat agar dapat mendukung mengoptimalkan tumbuh kembang anak, khususnya bagi anak yang memiliki kondisi alergi. Anak itu meniru apa yang dikonsumsi oleh orangtuanya jadi orangtuanya dulu yang mencontohkan makan buah sayur agar anak juga suka. Dengan mulai memperkenalkan makanan serat secara terus menerus sejak dini, mudah-mudahan kebiasaan yang baik ini terus berlanjut hingga anak dewasa.

 

“Dengan mengonsumsi serat dalam jumlah cukup, bisa memberikan sejumlah manfaat bagi kesehatan anak, seperti memperbaiki keseimbangan sistem imunitas tubuh, mengurangi inflamasi akibat alergi, dan bermanfaat bagi mikrobiota di dalam saluran cerna yang akan membuat nutrisi makanan terserap dengan optimal. Kondisi disbiosis atau ketidakseimbangan komposisi dan fungsi mikrobiota saluran cerna dapat berhubungan dengan kejadian alergi pada anak. Bagi anak yang menderita alergi memiliki jumlah dan keberagaman mikrobiota saluran cerna yang lebih sedikit dibandingkan anak yang tidak mengalami alergi. Untuk itu, pada anak yang memiliki alergi, orangtua harus dapat memilih jenis makanan yang tepat dan tidak mengandung zat-zat yang menyebabkan alergi, menjaga asupan gizinya tetap seimbang dan juga bisa diberikan makanan atau minuman yang difortifikasi serat,” jelas dr. Endah Citraresmi, Sp.A(K).


Alergi makanan secara signifikan mempengaruhi tumbuh kembang dan kualitas hidup. Selain mempengaruhi kesehatan dan fisik anak, alergi makanan juga dapat mempengaruhi kualitas hidup anak seperti nggak bisa sembarangan beli makanan makanan di luar rumah dan di sekolah karena khawatir bisa timbul reaksi alergi jika tidak sengaja mengkonsumsi makanan tersebut, dan ini berisiko mengalami bullying di sekolah.


Menurut Psikolog anak, Anastasia Satriyo M.Psi, anak yang mengalami alergi nggak hanya mempengaruhi kesehatan fisik, tapi juga dapat mempengaruhi kondisi psikologi anak dan orangtuanya. Dampak psikologis dari alergi makanan seringkali membuat orangtua memikirkan dan mengkhawatirkannya serta menjadi cemas, terkadang lebih serius daripada alergi makanan itu sendiri. Ini bisa dilihat dalam sebuah penelitian yang menunjukkan bahwa 41% orang tua yang memiliki anak dengan kondisi alergi melaporkan dampak yang signifikan pada tingkat stres mereka. Oleh karena itu, alergi bukan hanya dapat memengaruhi pada psikologis anak, namun orangtua akan turut merasakan efeknya secara langsung.


Peran Serat
Anak alergi tak hanya mempengaruhi psikologis anak tapi juga orangtua

Kondisi psikologis yang berpeluang terjadi oleh anak-anak dengan kondisi alergi seperti gangguan daya ingat, kesulitan bicara, konsentrasi berkurang, hiperaktif dan lemas, sehingga anak akan menjadi cenderung kurang percaya diri saat bersosialisasi dengan teman sebayanya. Penting sekali untuk diperhatikan oleh para orangtua agar tidak panik saat reaksi alergi pada anak muncul. Segera konsultasikan pada dokter ahli untuk mengetahui apa penyebab alergi pada anak sehingga kita bisa menekan risiko dampak buruk tidak terjadi. 

 

Oktavia Sari Wijayanti seorang ibu yang memiliki anak dengan kondisi alergi, mengatakan bahwa sebagai seorang ibu  yang memiliki anak dengan kondisi alergi makanan beliau dituntut untuk ekstra dalam menangani gejala akibat alergi dengan menghindari faktor pemicunya. Selain harus diperhatikan asupan nutrisinya  dan memastikan asupan serat harian anak tercukupi untuk memastikan si kecil tetap sehat dan gejala yang muncul akibat alerginya berkurang.  


Peran Seraat
Orangtua dengan anak alergi dituntut ekstra menangani gejala alergi pada anak 

Jadi dari pengalaman ibu Oktavia, para orangtua lain yang memiliki anak dengan kondisi alergi tidak perlu  khawatir dan jangan ragu ya untuk berkonsultasi dengan dokter agar anak kita bisa mendapatkan penanganan yang tepat. Dengan begitu tumbuh kembang anak tetap optimal dan tumbuh menjadi anak hebat.









 


Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
Tumbuh kembang anak
Solusi yang harus dioptimalkan keluarga di masa transisi

 
Pandemi berdampak pada setiap aspek kehidupan. Dua tahun pandemi melanda, kita dibatasi dengan jarak baik fisik maupun sosial. Tak bisa beraktivitas di luar rumah seperti biasanya. Otomatis kita pun harus beradaptasi menerima kenyataan yang terjadi. Bekerja dari rumah, begitu juga dengan anak-anak harus belajar dari rumah. Ya, kita harus beradaptasi dengan kebiasaan baru yang tentu saja mempengaruhi emosional, mental, dan perkembangan anak. Anak-anak yang biasa bermain dan berinteraksi dengan teman-temannya mendadak seperti dihukum yang tak boleh kemana-mana dan harus di rumah saja. 

Ini dirasakan banget oleh ponakan saya. Saat pertama kali kegiatan sekolah ditiadakan ponakan saya baru enam bulan duduk di bangku Sekolah Dasar. Bisa dibilang hari-harinya penuh drama karena sedih, marah, semuanya campur aduk. Lagi semangat-semangatnya sekolah dengan pelajaran baru dan bertemu teman baru kemudian dihentikan. Setiap hari pertanyaannya kapan bisa sekolah dan kapan bisa main. Saya benar-benar terharu dengan kondisi mental dan emosionalnya. 

Sekarang kita memasuki masa pasca pandemi atau masa transisi. Di satu sisi senang karena perlahan-lahan kita kembali ke kehidupan normal seperti dua tahun yang lalu, tapi ini juga membutuhkan adaptasi lagi. Tak hanya orang dewasa, anak-anak pun harus beradaptasi lagi dengan masa transisi. Tak seperti yang saya bayangkan para ponakan bakal senang karena bisa sekolah dan bermain lagi. Justru mereka malas sekolah dan pengennya di rumah saja. Alasannya nggak mau bertemu teman dan gurunya karena malu dan nggak mau ketemu orang. Kami para orangtuanya jadi bingung, tapi disinilah pentingnya peran keluarga untuk saling menguatkan agar anak-anak kembali percaya diri untuk berinteraksi dengan lingkungan sosialnya.

Menyambut Hari Keluarga Nasional (HARGANAS) yang diperingati setiap tanggal 29 Juni, Danone Indonesia mengadakan webinar #BicaraGizi dengan tema Kiat Keluarga Indonesia Optimalkan Tumbuh Kembang Anak di Masa Transisi dengan menghadirkan pembicara dr. Irma Ardiana, MAPS Direktur Bina Keluarga Balita dan Anak, Dokter Spesialis Tumbuh Kembang Anak Dr.dr. Bernie Endyarni Medise, Sp.A (K), MPH, dan Ibu Inspiratif Founder Joyful Parenting 101 Cici Desri. 

Arif Mujahidin

Dalam sambutannya Corporate Communications Director Danone Indonesia Arif Mujahidin memaparkan bahwa tumbuh kembang anak usia dini menjadi tantangan tersendiri bagi orangtua, dan perkembangan sosial emosionalnya menjadi faktor penting. Dua tahun terakhir di masa pandemi anak lebih sering bersama keluarganya di rumah. Di masa transisi ini pasti banyak yang berubah. Anak usia dini sangat rentan sosial emosionalnya karena selama ini sangat bergantung kepada dewasa untuk memenuhi kebutuhannya. Anak membutuhkan pengasuhan yang supportif. Untuk itu Danone Indonesia senantiasa berusaha sebagai perusahaan yang  family friendly, banyak program yang difasilitasi agar orangtua dan anak bisa optimal seperti memberikan cuti melahirkan 6 bulan bagi para ibu dan 10 hari bagi ayah. Danone Indonesia juga aktif memberikan edukasi seputar kesehatan dan nutrisi untuk publik seperti webinar Bicara Gizi.  Kolaborasi orangtua sangat diperlukan untuk aspek tumbuh kembang anak, terutama aspek sosial emosionalnya.

Keluarga adalah tempat utama dan pertama bagi tumbuh kembang dan pendidikan anak. Saat berkeluarga para orangtua harus tau apa peran masing-masing, baik sebagai suami dan ayah juga sebagai istri dan ibu. Dokter Spesialis Tumbuh Kembang Anak MAPS Direktur Bina Keluarga Balita dan Anak dr. Irma Ardiana menjelaskan pola asuh anak harus disesuaikan dengan zamannya. Gaya pengasuhan mempengaruhi perkembangan kognitif, emosional, dan sosial anak. Kolaborasi antar ibu dan ayah memiliki peranan penting dalam memberikan dukungan, nutrisi, dan akses ke aktivitas untuk membantu anak memenuhi milestone aspek perkembangan.

Optimasi tumbuh kembang anak
dr. Irma Ardiana

Mengenai pola asuh, survei BKBN menyatakan bahwa selama pandemi Covid-19 71,5% pasangan suami istri telah melakukan pola asuh kolaboratif, 21,7% mengatakan istri dominan, dan 5% hanya istri saja. Sedangkan menurut data UNICEF menyebutkan bahwa selama pandemi orangtua mengalami tingkat stress dan depresi yang lebih tinggi dan beberapa memberikan penilaian bahwa pengasuhan anak di rumah saja memiliki risiko tersendiri. Kondisi ini tentu saja dapat menghambat kemampuan orangtua untuk mengatasi emosi dan kebutuhan psikologis anak. 

Menurut Dr. dr. Bernie Endyarni Dokter Spesialis Tumbuh Kembang Anak, perkembangan emosi dan sosial berkaitan erat dengan kecerdasan otak dan sistem pencernaan yang sehat. Ketiganya saling berkait dan berpengaruh nyata terhadap tumbuh kembang anak agar anak tumbuh menjadi anak yang hebat. Perkembangan anak bukan berdasarkan satu faktor saja tapi beberepa faktor diantaranya faktor genetik, nutrisi, dan lingkungan. Faktor lingkungan sendiri berupa pola asuh, simulasi, dan proteksi. Bagaimana dengan perkembangan sosial emosional? Perkembangan sosial emosional sudah ada sejak anak dilahirkan. Seiring bertambahnya usia anak akan sering berinteraksi dengan ibu dan ayahnya. Ia akan mulai mengenal bagaimana suara ibu dan suara ayah, juga mengenal bagaimana bau ibu dan ayah.


Optimasi tumbuh kembang anak
Dr.dr. Bernie Endyarni Medise, Sp.A(K), MPH

Menstimulasi dan mengoptimalkan dengan mengadopsi pengasuhan kolaboratif, ini yang dilakukan Cici Desri Founder Joyful Parenting 101. Kunci utama ketersediaan dan keterikatan membangun hubungan positif. Jadi berbagi peran untuk si kecil, anak bisa berekspresi dan bereksplorasi. Khususnya masa transisi seperti saat ini jadi tantangan untuk kembali bersosialisasi dengan dunia luar. Proses adaptasinya juga tidak mudah, ketemu orang baru anak bisa frustasi, minder, dan takut. 

Cici Desri Founder Joyful Parenting 101

Solusinya menurut Cici, kita sebagai orangtua berusaha mendorong si kecil untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya secara verbal. Selain itu orangtua juga memeberikan kebebasan dengan batasan, kebebasan berpendapat, juga mengekspresikan perasaan. Selain stimulasi perlu juga rasa cinta dan mendapat nutrisi yang tepat. Kalau ingin menumbuhkan rasa percaya diri dan kemandirian harus dari peran aktif ayah. Cici menambahkan, bahwa bahasa kasih atau bahasa cinta kepada anak bisa kita berikan lewat sentuhan, pelukan, pujian, hadiah dan hanya kita sebagai orang tua yang tau. Yang terpenting jangan abaikan komunikasi karena komunikasi adalah kunci.



Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
Older Posts

Hello! I’m Tuty Queen

Hello! I’m Tuty Queen

Follow Me

  • instagram
  • facebook
  • twitter
  • pinterest

Cara Mudah Membuat eBook di Canva

Cara Mudah Membuat eBook di Canva

Seedbacklink

Seedbacklink affiliate

Design Anti Ribet Cuma Pakai Canva

Design Anti Ribet Cuma Pakai Canva

Total Pageviews

Categories

  • Asuransi
  • Canva
  • Dompet Dhuafa
  • Film
  • Food
  • Lingkungan
  • NPD
  • Sport
  • aplikasi
  • beauty
  • ekonomi
  • fashion
  • finance
  • halal lifestyle
  • health
  • hotel
  • kuliner
  • lifestyle
  • teknologi digital

Blog Archive

  • ►  2014 (6)
    • ►  November 2014 (6)
  • ►  2015 (37)
    • ►  March 2015 (1)
    • ►  May 2015 (3)
    • ►  June 2015 (5)
    • ►  October 2015 (3)
    • ►  November 2015 (7)
    • ►  December 2015 (18)
  • ►  2016 (167)
    • ►  January 2016 (11)
    • ►  February 2016 (16)
    • ►  March 2016 (21)
    • ►  April 2016 (15)
    • ►  May 2016 (11)
    • ►  June 2016 (16)
    • ►  July 2016 (6)
    • ►  August 2016 (7)
    • ►  September 2016 (10)
    • ►  October 2016 (20)
    • ►  November 2016 (18)
    • ►  December 2016 (16)
  • ►  2017 (176)
    • ►  January 2017 (12)
    • ►  February 2017 (14)
    • ►  March 2017 (11)
    • ►  April 2017 (16)
    • ►  May 2017 (14)
    • ►  June 2017 (14)
    • ►  July 2017 (6)
    • ►  August 2017 (21)
    • ►  September 2017 (10)
    • ►  October 2017 (20)
    • ►  November 2017 (15)
    • ►  December 2017 (23)
  • ►  2018 (171)
    • ►  January 2018 (9)
    • ►  February 2018 (13)
    • ►  March 2018 (17)
    • ►  April 2018 (18)
    • ►  May 2018 (16)
    • ►  June 2018 (9)
    • ►  July 2018 (6)
    • ►  August 2018 (18)
    • ►  September 2018 (13)
    • ►  October 2018 (17)
    • ►  November 2018 (13)
    • ►  December 2018 (22)
  • ►  2019 (108)
    • ►  January 2019 (11)
    • ►  February 2019 (3)
    • ►  March 2019 (5)
    • ►  April 2019 (1)
    • ►  May 2019 (13)
    • ►  June 2019 (6)
    • ►  July 2019 (11)
    • ►  August 2019 (17)
    • ►  September 2019 (10)
    • ►  October 2019 (10)
    • ►  November 2019 (11)
    • ►  December 2019 (10)
  • ►  2020 (64)
    • ►  January 2020 (6)
    • ►  February 2020 (8)
    • ►  March 2020 (8)
    • ►  April 2020 (5)
    • ►  May 2020 (6)
    • ►  June 2020 (1)
    • ►  July 2020 (4)
    • ►  August 2020 (12)
    • ►  September 2020 (5)
    • ►  October 2020 (2)
    • ►  November 2020 (3)
    • ►  December 2020 (4)
  • ►  2021 (63)
    • ►  January 2021 (5)
    • ►  February 2021 (3)
    • ►  March 2021 (5)
    • ►  April 2021 (4)
    • ►  May 2021 (3)
    • ►  June 2021 (1)
    • ►  July 2021 (2)
    • ►  August 2021 (3)
    • ►  September 2021 (4)
    • ►  October 2021 (10)
    • ►  November 2021 (11)
    • ►  December 2021 (12)
  • ►  2022 (67)
    • ►  January 2022 (2)
    • ►  February 2022 (7)
    • ►  March 2022 (10)
    • ►  April 2022 (12)
    • ►  May 2022 (5)
    • ►  June 2022 (5)
    • ►  July 2022 (5)
    • ►  August 2022 (3)
    • ►  September 2022 (5)
    • ►  October 2022 (4)
    • ►  November 2022 (3)
    • ►  December 2022 (6)
  • ►  2023 (49)
    • ►  February 2023 (3)
    • ►  March 2023 (4)
    • ►  April 2023 (2)
    • ►  May 2023 (7)
    • ►  June 2023 (3)
    • ►  July 2023 (7)
    • ►  August 2023 (3)
    • ►  September 2023 (7)
    • ►  October 2023 (4)
    • ►  November 2023 (5)
    • ►  December 2023 (4)
  • ►  2024 (29)
    • ►  January 2024 (1)
    • ►  February 2024 (3)
    • ►  March 2024 (8)
    • ►  April 2024 (2)
    • ►  May 2024 (1)
    • ►  June 2024 (5)
    • ►  July 2024 (2)
    • ►  August 2024 (2)
    • ►  September 2024 (3)
    • ►  October 2024 (1)
    • ►  November 2024 (1)
  • ►  2025 (39)
    • ►  January 2025 (4)
    • ►  February 2025 (3)
    • ►  March 2025 (1)
    • ►  April 2025 (1)
    • ►  May 2025 (2)
    • ►  June 2025 (8)
    • ►  July 2025 (10)
    • ►  August 2025 (7)
    • ►  September 2025 (1)
    • ►  October 2025 (1)
    • ►  December 2025 (1)
  • ▼  2026 (7)
    • ►  January 2026 (1)
    • ►  March 2026 (1)
    • ►  April 2026 (2)
    • ►  June 2026 (2)
    • ▼  August 2026 (1)
      • Sampah Bernilai Ekonomi: Cara Bank Sampah Induk Be...

Contact Form

Name

Email *

Message *

Member of

Member of
Seedbacklink



Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates