Ngobrol Bareng BKF Soal Keuangan Negara di Fiscal Day 2017

K alau baca judulnya kayaknya berat banget ya. Biasanya tulisan saya soal finansial nggak jauh-jauh dari keuangan keluarga. Kali ini keu...

#BincangBKF

Kalau baca judulnya kayaknya berat banget ya. Biasanya tulisan saya soal finansial nggak jauh-jauh dari keuangan keluarga. Kali ini keuangan negara, hihi. Eh, tapi ini berarti naik kelas dong dapat kesempatan belajar dan jadi tahu bagaimana sih uang negara di kelola? Kira-kira sama nggak dengan cara kita me-manage keuangan keluarga? Kalau keuangan keluarga kan biasanya mengelola pendapatan berapa, pengeluaran berapa, termasuk cicilan juga pos untuk dana darurat. Hmm..ngurusin gini aja kadang emak-emak udah pusing ya, tapi emak-emak pula yang jago soal bagi-bagi uang ya kan. Makanya para suami sering nyebut istrinya mentri keuangan, hehe. Mungkin inilah alasannya kenapa Pak Jokowi memilih menterinya untuk mengelola keuangan dari kalangan emak-emak.

Kata-kata pembuka diatas masih bisa dicerna ya, masih haha hehe. Iya memang awalnya saya mendengarkan penjelasan Pak Hidayat Amir Ph.D, Kepala Pusat Kebijakan APBN, BKF masih bisa dengan senyum, lama-lama muka langsung straight. Berat gaes ngomongin utang negara, APBN, pajak, dll. Padahal ini nggak semuanya dibahas. Obrolan soal keuangan negara ini saya ikuti di event Fiscal Day 2017 Hari ke 2. Fiscal Day diadakan dua hari berturut-turut mulai tanggal 5-6 Oktober 2017. Kegiatan hari pertama terbuka untuk umum, ada beberapa booth yang bisa dikunjungi diantaranya booth Makro Fiskal, booth Regulasi dan Kebijakan, booth Keuangan Internasional, juga Target Asumsi.

Hidayat Amir Ph.D
Seperti kita ketahui Kementrian Keuangan adalah pengelola keuangan terbesar di Republik ini. Nggak tanggung-tanggung uang yang dikelola hitungannya triliunan nggak kayak kita ya yang dihitung masih jutaan aja puyeng, yang bikin puyeng sebenarnya pendapatan dan pengeluaran nggak seimbang jadinya harus ngutang. Ya sama, negara juga punya hutang sama kayak kita yang ngatur keuangan keluarga. Tapi kita sering banget kan dengar beberapa kritikan negara kok hutangnya banyak, kok negara sukanya ngutang? Tambah banyak dong beban anak cucu ke depannya. Duh, jangan sampai ya.

Perekonomian itu sangat kompleks walaupun bisa diterangkan dengan cara yang sangat sederhana. Seperti yang dikatakan Pak Amir, cara kita memandang perekonomian seringkali dengan perspektif kita masing-masing. Masing-masing orang punya pendapat yang berbeda.  Contohnya nih ya si A berpendapat zaman Pak Harto dulu beli beras sekilo masih  dapat seribu rupiah, sekarang sekilo 7rb berasnya nggak bagus lagi! Ini contoh perspektif seseorang yang menganggap perekonomian sekarang lebih buruk dari masa lalu. Contoh lain lagi si B mengatakan zaman dulu jangan kan mobil punya motor aja susah, kalau sekarang beli motor kayak beli kacang goreng ! Kalau ini perspektif seseorang yang menganggap hidup sekarang lebih makmur. Belum lagi soal pengelolaan keuangan yang dianggap belum adil atau masih timpang. Iya sih pak, di rumah aja kalo ortu saya bagi-bagi uang jajannya beda saya sering komplain dan merasa ortu nggak adil, ini di rumah ya yang isinya cuma beberapa kepala, gimana dengan negara ya.


Untuk mengelola keuangan negara harus penuh tanggung jawab pastinya. Untuk itulah Kementrian Keuangan mengeluarkan berbagai produk kebijakan diantaranya kebijakan penerimaan, belanja, pemilihan, sampai dengan manajemen hutang. Produk-produk ini termuat dalam dokumen negara yang dinamakan Kebijakan Ekonomi Makro (KEM) dan Pokok Pokok Kebijakan Fiskal (PPKF). KEM dan PPKF adalah pedoman untuk kebijakan ekonomi kedepan. Sebagian dari kita masih banyak yang nggak paham mengenai kebijakan fiskal, maka dari itu perlu sosialisasi.

APBN merupakan bagian dari cara kita mengelola negara. Kalau nggak ada negara mungkin kita nggak perlu repot-repot mengelola uang negara, masing-masing mengurus pengeluarannya sendiri, kata Pak Amir. Disini Pak Amir mengibaratkan negara seperti RT. Pernahkan ikut rapat RT? Biasanya kalau rapat RT para warga berkesempatan mengemukakan pendapat dan memberi masukan untuk kebaikan warga bersama. Ada yang berpendapat butuh penambahan satpam misalnya, kemudian ada yang usul soal pengelolaan sampah. Dari dua usulan ini berarti akan ada uang yang dikeluarkan, pengeluaran untuk membayar satpam dan iuran sampah, lalu dihitung kebutuhannya.  Jadi ada keingian meningkatkan fasilitas dan bagaimana membiayainya. Begitu juga dengan negara dan APBN.


APBN Adalah Instrumen

Perekonomian biasanya diukur kemakmurannya dengan cara yang di produksi dan yang akan dikonsumsi. Instrumen konsumsi disini maksudnya servis dari pemerintah yang bisa dikonsumsi segenap bangsa Indonesia. Misalnya fungsi investasi, membeli barang, mesin, dimana manfaatnya tak hanya digunakan saat ini tapi juga di masa yang akan datang, seperti membangun fasilitas infrastruktur dan sebagainya. Dari sisi produksinya,semua instrumen produksi termasuk yang dihasilkan oleh industri rumah tangga. APBN didanai dari sebagian masyarakat, perusahaan, masuk dalam perekonomian digunakan untuk belanja pemerintah.  



APBN Bukan Dibuat Pemerintah

APBN bukan dibuat oleh pemerintah sendiri, tapi APBN justru dibuat pemerintah bersama rakyat. Setiap tanggal 16 Agustus Presiden biasanya menyampaikan RAPBN selama setahun kedepan di gedung DPR. APBN itu konsensus politik antara pemerintah dan wakil rakyat, maka dari itu konsensus politik ini dikomunikasikan secara terbuka.



APBN Tidak Bisa Berdiri Sendiri

APBN merupakan dokumen representasi dari rencana pembangunan pemerintah. Yang namanya rencana ada yang jangka panjang, jangka menengah dan jangka pendek. Rencana tahunannya penganggarannya itu dengan APBN. Jadi APBN ini dibuat dalam satu konteks, apa yang mau diraih dan apa kekinian permasalahan yang dihadapi. Misal konteks yang mau diraih mengenai isu pembangunan menjadi level kesejahteraan, isu kemiskinan masih ada, kemudian ketimpangan. Artinya negara harus mendesain instrumen ini menjadi mengungkit agar kemiskinan dan ketimpangan berkurang. 

Masalah bangsa ini adalah kita ketinggalan dalam hal infrastruktur, ada ketimpangan yang sangat panjang antara wilayah Jawa dan luar Jawa, antara kota dan pedesaan. Jadi soal ketimpangan bukan hanya dalam pendapatan saja tapi juga ketimpangan fasilitas dan akses infrastruktur. Produktivitas kita sebagai sebuah bangsa rendah karena infrastrukturnya buruk. Makanya infrastruktur menjadi prioritas. 

Dari sini saya jadi paham kenapa pemerintah mengambil kebijakan untuk ngutang. Sama kayak kita mengambil keputusan ngutang untuk memiliki property misalnya. Kalau kita sewa rumah, kita hanya mengeluarkan uang tapi kedepannya tidak memiliki rumah. Beda kalau kita berhutang atau mencicil rumah, uang yang kita gunakan untuk mencicil tadi hasilnya akan kelihatan di masa yang akan datang atau ada wujud yang bernilai. Begitu juga dengan negara, hutang negara untuk membiayai pembangunan di Indonesia yang nantinya bisa kita nikmati bersama.





You Might Also Like

12 comments

  1. wah iya tuh, apbn ternyata bukan dibuat pemerintah sendiri, tapi bareng wakil rakyat alias DPR. Jangan sampe salah kaprah!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, semoga rakyat pada paham yaa..

      Delete
  2. Seringnya masyarakat enggak ngerti bahwa APBN ini sebenernya dirumuskan oleh pemerintah trus didiskusiin dengan DPR. Yang ada nyalahin pemerintah mulu kalo ada apa-apa..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kadang miris ya kalau lihat orang koar-koar padahal nggak paham dan nggak ngerti bagaimana sebenarnya kebijakan yang dibuat pemerintah.

      Delete
  3. Ngobrol bareng sama BKF ini banyak sekali ilmu yang didapatkan ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya..jadi membuka pikiran dan menambah wawasan. Senang banget bisa duduk bareng dengan para ahlinya yang memang di bidangnya.

      Delete
  4. Yup, APBN memang gak berdiri sendiri harus diaudit pihak-pihak terkait
    Kebijakan fiskal itu manfaatnya luas ternyata ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya teh, kebijakan fiskal sangat luas senang bisa ikutan acara ini jadi banyak info yang didapat.

      Delete
  5. iyaa mbak. Serasa naik kelas yang biasanya bahas keuangan keluarga sekarang keuangan negara. Mumet dikit sih *tempel koyo

    ReplyDelete
    Replies
    1. haha tempel koyo tapi sesudah itu mumet hilang paham pun datang ya kaan.

      Delete
  6. Ngurusin keungan negara emang kompleks banget ya mba, wong yang sekala rumah tangga dan anatar tetangga aja kadang ribet kayak katamu tentang iuran sampah itu. Tapi kalau dishare kayak gini masyarakat jadi paham, dipake apa aja duit negara, ya semoga RAPBN 2018 benar-benar bisa digunakan untuk kebaikan bangsa

    ReplyDelete
    Replies
    1. semoga ya..kita sebagai warga negara nggak cuma memantau tapi juga harus tahu bagaimana sebenarnya RAPBN dibuat.

      Delete