Bullying Is A Bad

A khir-akhir ini kita sering mendengar kasus bullying yang dialami oleh seorang pelajar di suatu mall. Mirisnya pelaku bullying ini ad...



Akhir-akhir ini kita sering mendengar kasus bullying yang dialami oleh seorang pelajar di suatu mall. Mirisnya pelaku bullying ini adalah teman-temannya sendiri. Mendengar dan melihat video yang di share di sosial media bikin saya gemes, emosi. Kebayangkan kalau korban bully itu adalah anak kita? Marah sudah pasti, shock, datangin orang tua pelaku bully pun jadi. "Anak gue dibesarin bukan untuk jadi bulan-bulanannya anak elo!!" Kira-kira gitu lah kalau orang tua korban bully merasa sakit hati dengan perlakuan temannya sendiri. Ujung-ujungnya yang bertengkar malah orang tua, ya kan. Orang tua pelaku belum tentu juga percaya kalau anaknya pelaku bully, karena mereka taunya tuh anak di rumah baik-baik saja, nggak pernah ngeselin ortu dan saudaranya. Nah loh.. So, bagaimana sebenarnya yang dimaksud dengan bullying?

Bullying itu adalah menyakiti. Pelaku bullying adalah orang yang menggunakan kekuatannya untuk mendapatkan apa yang dia mau dan untuk menyakiti orang lain. Menurut psikolog Vera Itabiliana Hadiwidjodjo, ada tiga indikator bullying, yaitu: 
1. Menyakiti
2. Disengaja dan potensial berulang, karena si korban atau kita sebut si lemah diam dan tidak mau melawan 
3. Kekuatan yang tidak seimbang, ada si kuat dan ada si lemah.

Bullying sendiri ada beberapa macam, diantaranya:
• Fisik: mendorong, mencubit, menendang, verbal (misal nama kita dipanggil dengan nama bapak kita)
• Relasional: dipukul enggak, diledekin juga enggak, tapi dicuekin dan menebar hasut.
• Cyber Bully: di bully melalui sosial media, ini lagi marak seiring tumbuhnya teknologi digital.
Dari ketiga jenis bully di atas yang paling kejam adalah cyber bully, karena korban bisa di bully kapan saja dan dimana saja. Biasa bully banyak dilakukan di sekolah, nah kalau cyber bully anak kita lagi di rumah juga bisa di bully karena internet online 24 jam.

psikolog Vera Itabiliana Hadiwidjodjo


Jeleknya Efek Bullying

Bullying dampaknya luar biasa negatifnya untuk anak. Ada yang sampai berhenti sekolah karena takut ketemu temannya harga diri dianggap rendah, menyakiti diri sendiri dan menyayat-nyayat tangannya, dan yang paling parah ada anak yang sampai bunuh diri. Ya, ini akibat dari bullying,karena ketika di bully korban dianggap tidak ada harganya dan dianggap lebih rendah oleh pelaku bulying. 

Siapa saja yang terlibat dalam peristiwa bully? Semua orang bisa, siapa saja tanpa pandang bulu. Mau keluarga yang kurang harmonis ataupun keluarga yang harmonis, mau miskin atau kaya, semua bisa terlibat dalam peristiwa bullying. Yang terlibat dalam bullying  biasanya ada korban, pelaku, dan saksi. Secara garis besar anak bisa jadi korban bullying karena anak tersebut kelihatan berbeda. Misal kelihatan terlalu lemah, terlalu cantik, cengeng, dsb. Sayangnya banyak anak yang tidak mau bicara terbuka dengan orang tua nya kalau dia di bully oleh teman-temannya. Ini karena korban takut dengan ancaman temannya, dan korban yakin kalau tidak ada orang yang bakal bisa menolongnya. Akibatnya anak sering mengalami mimpi buruk dan malas untuk sekolah.

Kalau anak kita sudah terlanjur menjadi korban bullying tindakan pertama yang harus kita lakukan sebagai orang tua adalah fokus pada perasaannya atau emosinya, bukan emosi kita orang tua nya. Jangan sekali-kali meremehkan anak atau menyalahkan anak, karena disaat anak mau terbuka saja itu sudah luar biasa. Buat si anak masih mencintai dirinya sendiri. Kemudian fokus ke sekolah anak juga, ajak sekolah berkerjasama untuk menghentikan kasus bullying yang terjadi pada anak kita. Diskusikan caranya seperti apa, karena kita nggak bisa memberi solusi sepihak palagi kita nggak berada di sekolah saat bullying terjadi dan kita nggak berada di situasi itu.


Yang Membuat Anak Jadi Pelaku Bullying dan Bagaimana Kalau Anak Kita Jadi Pelakunya

Biasanya anak bisa menjadi menjadi pelaku karena merasa memiliki popularitas, sense of power, agar dapat perhatian dari teman-temannya, suka iseng karena merasa dia bisa. Dan ciri-ciri pelaku bullying cenderung kasar, selalu menyalahkan orang lain, memiliki rasa harus selalu menang, merasa harus menjadi yang terbaik, dan suka cari perhatian.  

Sering sekali kita temui orang tua pelaku bullying yang tidak percaya kalau anaknya adalah pelaku. Yang ada orang tua tersebut malah menyalahkan anak orang lain, karena anaknya di rumah memiliki perilaku yang baik. Sebagai orang tua kita dituntut untuk objektif, apalagi kalau sekolah sudah menunjukkan bukti. Kasus bullying harus dianggap serius nggak bisa kita biarkan, karena kalau dibiarkan pelaku akan terus menerus merasa leluasa melakukan bully. 

Biasakan anak kita yang menjadi pelaku bullying untuk minta maaf kepada temannya juga orang tua korban. Jelaskan kepada anak bagaimana perasaan orang tua kalau anaknya diperlakukan seperti itu. Bantu pelaku untuk berubah, karena selama ini kita hanya fokus kepada korban saja. Begitu juga dengan saksi. Kadang saksi begitu melihat kejadian mau bantu tapi takut., atau khawatir dianggap tukang ngadu. Saksi harus diberdayakan atau dibuat sadar bahwa tanggung jawab mereka lah untuk menghentikan bullying itu.


Rumah Jadi Tempat Untuk Mengajarkan Anak Kita Manajemen Emosi

Intinya semua kembali ke rumah. Rumah bisa menjadi tempat untuk mengajarkan anak-anak manajemen emosi. Kita sebagai orang tua harus jadi protektor  memberikan proteksi kepada anak, bukan cuma menghindari anak agar tidak jadi korban tapi juga bagaimana agar anak kita tidak jadi pelaku bullying.

Anak perlu diajarkan me-manage emosinya. Sebaiknya sejak kecil anak sudah diajarkan mengelola emosi. Selain diajarkan orang tua juga sebaiknya memberi contoh. Misal kalau kita lagi nyetir dan ada kejadian yang membuat kita kesal dengan pengguna jalan jangan langsung buru-buru buka jendela dan marah-marah, karena secara tidak sadar kita sudah memberi contoh yang tidak baik kepada anak.

Empati. Ajarkan anak bagaiman sih rasanya kalau diperlakukan hal yang sama seperti yang dilakukan anak kepada orang lain. Perlu diingat bahwa anak akan melakukan apa yang dia terima.

Ajarkan anak penyelesaian konflik. Biasanya kita selaku orang tua kalau anak terlibat konflik dengan kakaknya di rumah sering menyuruh kakaknya untuk mengalah. Jangan buru-buru menyalahkan atau menyuruh kakaknya yang mengalah, karena ini justru tidak menyelesaikan konflik.

Sikap Asertif. Biasakan anak mengkomunikasikan apa yang dirasakannya. Misal tidak suka, atau nggak mau, jaga perasaan anak.

Ajarkan anak pentingnya pertemanan. Ajarkan anak untuk main bareng dengan temannya, apalagi kalau anak kita pelaku jelaskan kepada anak kalau bisa berteman baik tanpa harus menyakiti.

Kenalkan pola asuh. Jadi orang tua nggak boleh otoriter, banyak aturan, nggak boleh ini nggak boleh itu, memang anak nurut di rumah tapi di luar rumah justru jadi berontak. Atau sebaliknya kalau anak kebiasaan nurut yang ada anak malah jadi korban bullying.

Permisif. Kemungkinan anak kita jadi pelaku bullying karena selama ini di rumah apapun yang dimintanya selalu di perbolehkan.



So, gimana ya sebaiknya? Menurut mbak Vera sebaiknya di rumah diterapkan sikap demokratis. Yuk moms, kita intropeksi lagi diri kita masing-masing apakah kita sudah mengajarkan anak mengelola emosi di rumah.



You Might Also Like

2 comments

  1. Mba, aku selalu berupaya agar anakku tidak melakukan bullying dan menjadi korban bullying.Menurutku penting jika berkomunikasi dengan anak dilakukan dengan baik ya mba

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak, bagaimanapun korban dan pelaku mesti sama-sama jadi fokus kita semua yaa

      Delete