Sebuah Catatan Kebahagiaan

K utipan kata diatas saya temui pada sampul buku   Kebahagiaan Yang Kutahu   y...
















Kutipan kata diatas saya temui pada sampul buku Kebahagiaan Yang Kutahu yang ditulis oleh Datuk Stella Chin. Biasanya kalau dengar gelar Datuk kita mengira ini gelar yang diberikan kepada laki-laki ya. Di Malaysia bagi masyarakat umum jika mereka memiliki suatu kontributor bisa diberikan gelar Datuk. Meskipun lebih banyak pria yang memiliki gelar datuk dan istrinya di beri gelar datin. Tetapi kalau perempuan yang mendapat penghargaan juga akan diberi gelar datuk. Datuk Stella adalah pengusaha sukses, ia mendapat gelar datuk tahun 2007. Ia adalah satu-satunya wanita Malaysia yang meraih penghargaan Hua Gan sebagai 10 Pebisnis Wanita Chinese Terbaik di Dunia. Penghargaan ini adalah penghargaan bergengsi di kalangan wanita pebisnis Chinese di dunia. Tahun 2009 ia mendapat 4 nominator sekaligus di Stevie Award sebagai pebisnis wanita yang paling out standing. Datuk Stella selalu membawa nama Malaysia maju di kancah internasional. Inilah yang membuatnya layak mendapatkan gelar Datuk.




Bagi bawahannya Datuk Stella adalah sosok bos yang mau berbagi kepada bawahan, ia selalu conection emotion dengan beberap stafnya. Datuk Stella sering mengajak bawahannya untuk trip keluarga bersamanya. Ternyata sosoknya di kantor dan di rumah tangga sangat berbeda. Dirumah ia tidak kelihatan seperti bos tetapi lebih memposisikan diri sebagai teman dengan anak-anaknya. Baginya wanita itu di satu titik harus memilih. Keluarga atau karir. Wanita yang sempurna harus bisa sukses di karir dan sukses di keluarga. Bagi bawahannya Datuk Stella tidak hanya sebagai bos tetapi juga sebagai teman juga guru. 

Yang menarik dari buku ini adalah metode yg menyeimbangkan antara keluarga dan pekerjaan. Bukan hanya teori tapi praktek langsung. Trial and error. Mencoba, gagal, mencoba, gagal, semua tertuang di buku ini. Hasil akhirnya Datuk Stella berhasil dalam karir dan bahagia di keluarga, semua diceritakannya di buku ini. Banyak motivator yang pintar dalam teori tapi kehidupan nyatanya tidak  berhasil.


Buku ini belum ditulis dan belum ada sebelum di praktekkan oleh Datuk Stella, ia menjalaninya terlebih dahulu. Ia menuliskan kenapa wanita sering dianggap tidak mampu memimpin? Dan kenapa wanita juga sering dianggap second great class? Ia mulai berfikir, seorang anak bisa maju tergantung ibu. Keluarga bisa utuh juga tergantung ibu. Karena faktor ekonomi wanita juga kadang harus bekerja. Tapi laki-laki yg lebih dianggap memiliki potensi. Ia ingin wanita menyadari. Wanita jangan jadi sosok yang gampang menyerah. Wanita harus out standing. Padahal wanita bisa multitasking, berbeda dengan laki-laki yang tidak bisa mengerjakan dua pekerjaan sekaligus.


Menurut Datuk Stella kalau ingin merubah masa depan, wanita harus memiliki edukasi. Bukan edukasi formal tapi informal. Edukasi bisa membuka wawasan diri. Datuk Stella ingin semua wanita bisa seperti dirinya, really empowering women. Untuk itulah ia mendirikan komunitas Star Ladies, sebuah komunitas yang lebih terstruktur yang terfokus kepada pendidikan. Misi utama nya adalah agar wanita memiliki wawasan dalam hidup baik penampilan luar (kesehatan dan kecantikan), juga personal growth bagaimana wanita harus membangun kharisma, kemudian mengajak wanita berkontribusi kepada gerakan-gerakan sosial. Wanita bisa mempengaruhi seseorang melalui kharisma yang dimiliki. Kharisma tidak dibawa dari lahir tapi dipupuk. 


Datuk Stella sangat terinspirasi dengna sosok ibunya. Ia berasal dari keluarga sederhana. Sejak kecil ia membantu usaha ayahnya yaitu warung buah. Ibunya datang dari keluarga kaya, ayahnya dari keluarga miskin. Beliau melihat bagaimana ayahnya beruang agar bisa berhasil, tetapi selalu diremehkan keluarga ibunya. Meskipun dalam keadaan susah ibunya tidak pernah meminta bantuan sedikitpun dr keluarganya. Ayahnya meninggal diusia muda karena sakit kanker. Saat Datuk Stella duduk di SMP kelas 1 ia tidak pernah mendapat uang saku. Beliau menjadi guru kursus anak kelas 1 SD demi mencari biaya. Begitu juga saat di bangku kuliah. Ia bekerja di tiga perusahaan agar bisa kuliah di malam hari. Setelah lulus kuliah ia mulai merintis karir profesional. 


Usia 20 tahun Datuk Stella menikah. Usia 21 menjadi seorang ibu dan di usia 22 tahun ia bersama suami dan anaknya pindah ke Thailand untuk merintus usaha. Usaha yang dijalankan bersama suami hampir mengalami kebangkrutan karena ditipu oleh mitranya. Ia berjuang agar usahanya tidak bangkrut. Mundur bukanlah pilihan.



Di usia muda ia belajar untuk hidup independen. Wanita tidak boleh bergantng hidup kepada orang lain. Jadi wanita yang lembut tapi tidak lemah. Jadi wanita kuat tapi tidak keras dan egois. Salah satu kunci kesuksesan Datuk Stella adalah ia tidak pernah berhenti melakukan intropeksi diri. Setiap tanggal 20 Desember sampai 10 Januari adalah ritual yang selalu ia lakukan untuk intropeksi.



Tips sukses dan bahagia biasanya lebih banyak dibaca wanita, tetapi buku ini bisa juga dibaca agar pria memahami bagaimana wanita. Suami harus menyenangkan istri. Membaca Bab 4 membuat saya menyadari bahwa setiap orang bisa menemukan kebahagiaan tetapi kebahagiaan yang sempurna itu sulit. Kita harus berhenti membandingkan suami kita dengan suami orang lain, karena orang memiliki jalan hidup masing-masing. Sekali lagi, tidak ada yang sempurna di dunia ini. Fokuslah pada kelebihan suami bukan pada kekurangannya.


Kata-kata yang paling saya suka di buku Kebahagiaan Yang Kutahu cinta layaknya telapak tangan, tidak peduli panas atau dingin asalkan keduanya berpegangan, yang terjadi adalah saling menghangatkan.

You Might Also Like

30 komentar

  1. keren, jadi penasaran dengan buku ini :)
    di gramed pasti ada ya mba ?

    BalasHapus
  2. Kisah hidup sang Datuk luar biasa ternyata, ya. Kayaknya aku harus beli bukunya yang menginspirasi ini. Supaya bisa menyeimbangkan antara keluarga dan aktifitas dengan lebih baik :). *haseeekk

    BalasHapus
  3. Kalimat-kalimat di buku ini menggugah yaaa, jadi ingin baca juga

    BalasHapus
  4. Saya memang tidak terlalu suka mbak dalam membaca buku tapi setelah kemarin saya membaca satu buku cerita jadi ketagihan deh baca buku mungkin buku ini bisa jadi refrensi saya selanjut deh.

    BalasHapus
  5. Kejarlah keutuhan dan keseimbangan :')
    menginspirasi banget ni buku ya Mba.

    BalasHapus
  6. Layak jadi buku bacaan yg jadi koleksi nih, mb

    BalasHapus
  7. Aku juga suka kalimat itu, mba. Cinta itu seperti telapak tangan. Eaaaa. Romantis yaa. Hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha..memang pas banget itu mbak di bab romantis :D

      Hapus
  8. Uwuwuwu... saling menghangatkan, bener bangeettt..

    BalasHapus
  9. Kisah yang inspiratif. Instropeksi diri jadi kuncinya.
    Membaca buku semacam ini memang bisa menyulutkan asa dan membangkitkan semangat.. semoga bisa ketularan hihihi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiin, semoga ketularan suksesnya ya mbaak

      Hapus
  10. makjleb banget ya mba kuotnya, Memang kalau mengejar kesempurnaan susah. dan bisa bikin stress, yang terpenting memang keseimbangan dalam hidup..

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul mbak ira...keseimbangan hidup yang penting

      Hapus
  11. Suka dengan kisah perempuan yag sukses di karir maupun rumahtangga.
    pasti butuh komitmen tinggi untu tetap fit menjalani dua peran.

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul...wanita memang multitasking banget ya

      Hapus
  12. Kutupan kata paling atas keren banget ya mba ,menjadi wanita mandiri ... harus aku miliki nih bukunya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. ayo mbak asyik loh bukunya menambah wawasan

      Hapus
  13. Bener ya mb, standar kebahagiaan tiap orang beda2, jd ya ciptakan kebahagiaan sendiri.

    BalasHapus
  14. Inspiratif sekali kisah hidup Datuk Stella. Beanr-benar wanita tangguh namun lembut. Pengen rasanya bisa seperti Datuk Stella :)

    BalasHapus
  15. Beuh kata-kata terakhirnya romantis banget Mbak. Ngga peduli panas atau dingin...berpegangan saling menghangatkan. Ehm, cakep!

    BalasHapus
  16. Pasti isi bukunya sangat menginspirasi, saya aja takjub dgn last wordnya.cinta layaknya telapak tangan, tidak penting itu panas/dingin asal sama2 saling menghangatkan­čśŐ

    BalasHapus