Mari Kita Bangun Ekosistem Social Entrepreneur di Kota Tangerang Selatan

shareink and presenthink session R abu, 6 April 2016 saya mengikuti talkshow dan diskusi panel...

shareink and presenthink session
Rabu, 6 April 2016 saya mengikuti talkshow dan diskusi panel bertempat di Branda 52, Bintaro Sektor 9 Tangerang Selatan.  Latar belakang acara ini karena berawal dari banyaknya permasalahan yang timbul di masyarakat maupun lingkungan mulai dari pengangguran hingga sampah yang menumpuk maka perlu dibuatkan sebuah solusi jangka panjang yang dapat memecahkan permasalahan yang ada di Kota Tangerang Selatan. Maka dari itu BAPPEDA (Badan Perecanaan Pembangunan Daerah), DKPP (Dinas Kebersihan Pertamanan & Pemakaman) dan Surya University berkolaborasi mengajak masyarakat untuk ikut turun tangan memecahkan masalah tersebut dengan cara membangun ekosistem Social Entrepreneur di kota Tangsel. Acara ini menghadirkan narasumber 1.Dondi Hananto, Founder Kinara 2. Dessy Aliandrina, Head of Technopreuneurship Surya University, 3. Iqbal Hariadi, Storyteller  KitaBisa  4. Hari Sungkari, Deputi BEKRAF.


A photo posted by syafiatuddiniah (@tutyqueen) on

Hari Sungkari selaku Deputi BEKRAF (Badan Ekonomi Kreatif), memaparkan Badan Ekonomi Kreatif yang sebelumnya masih bersatu dengan Pariwisata makanya dulu namanya PAREKRAF, tapi sekarang antara Ekonomi Kreatif dan Pariwisata sudah dipisahkan awal 2015 lalu. Pemisahan ini sangat baik demi kelincahan masing-masing lembaga. BEKRAF lebih fokus kepada inovasi ekonomi kreatif. BEKRAF mempunyai 16 sub sektor yaitu aplikasi dan pengembangan game, arsitektur dan desain interior, desain komunikasi visual, desain produk, fashion, film, animasi video, fotografi, kriya (kerajinan tangan), kuliner, musik, penerbitan, periklanan, seni pertunjukan, seni‎ rupa, televisi dan radio. Dan ada tiga sub sektor yang memberi kontribusi yang besar dalam pertumbuhan ekonomi kreatif saat ini yaitu kuliner, fashion dan kerajinan. Berkaitan dengan munculnya sociopreneur saat ini, BEKRAF menempatkan diri sebagai pendorong sociopreneur yang ada. Pak Hari berharap agar anak muda sekarang lebih giat dan munculkan ide, bila perlu buat komunitas kreatif. Misalnya dalam bidang fashion. Terobosan-terobosan di bidang ini harus lebih diperkenalkan lagi seperti Moslem Fashion. Kemudian pelajari cara pemasarannya, baik itu distribusi, konsumsi, kreasi, produksi dan konservasi.

A photo posted by syafiatuddiniah (@tutyqueen) on
Dondi Hananto selaku Founder Kinara juga Capital Ventura Investment. Selama menjadi entepreneur ia mencatat bahwa pertumbuhan start up sangat pesat, namun menurut survey 90 persen dari para start up ini mengalami kegagalan. Membangun networking dan mencari partner sangat diperlukan dalam menjalankan usaha. Bisnis itu hitungannya bukan sastra kata Dondi tapi angka, munculkan ide dan eksplore, kemudian cari investor. Investor itu tingkatnya beda-beda, angel investor biasanya masuk di tahap awal biasanya 2,5 milliar masih bisa. Beda angel investor dengan venture capital adalah kalau angel investor lebih kepada personal, sedangkan venture capital terdiri dari beberapa investor. Jumlah investor aktif di Indonesia cukup banyak, saking banyaknya investor susah cari enterpreneur yang layak.

Dessy Aliandrina, Head of Technopreuneurship Surya University mengatakan kalau diluar negeri bicara bisnis bicara impact, tetapi kalau di Indonesia bicara bisnis ya bicara profit juga, harapan Dessy dengan adanya ISoC (Indonesia Sociopreneur Challenge) orang jadi mengenal apa itu sociopreneur. Social Entrepreneur adalah sebuah jenis usaha yang tidak hanya memberikan profit, melainkan juga dampak bagi lingkungan sekitar baik masyarakat hingga alam. Diharapkan dengan banyaknya pelaku usaha dibidang sosial ini maka akan masalah yang bisa dipecahkan mulai dari pengangguran, sampah dan isu sosial lainnya. Tindakan nyata mereka telah dilakukan tahun lalu, dimana mereka membuat sebuah lomba yang disebut Indonesia Sociopreneur Challenge atau yang disebut dengan IsoC. Diharapkan dengan adanya program ini dapat memancing masyarakat untuk turut serta memberikan solusi bagi permasalahan sosial yang ada di Indonesia tidak hanya di kota Tangsel.

Tahun ini ISoC diadakan kembali dengan mengangkat tema “Waste Around Us”. Maka dari itu untuk mendukung program ini sekaligus mempromosikan ISoC 2016 BAPPEDA kota Tangsel berinisiatif membuat acara talkshow dan sharing session ini yang membahas cara membangun ekosistem social entrepreneur di kota Tangsel. Tujuannya memberikan inspirasi bagi masyarakat kota Tangerang Selatan mengenai manfaat Social Entrepreneur, dan memberikan informasi bahwasanya social entrepreneur itu memiliki profit yang jelas dan dapat bertahan lama.

Indonesia Sociopreneur Challenge





You Might Also Like

4 komentar