Mengembangkan Diri & Knowledge Dalam Kewirausahaan

2 Maret 2016 saya mengikuti diskusi "Menentukan Arah Kewirausahaan" di Gedung SMESCO....


2 Maret 2016 saya mengikuti diskusi "Menentukan Arah Kewirausahaan" di Gedung SMESCO. Acara dibuka dengan sambutan dari Bapak Ahmad Zabadi selaku Dirut LLP Smesco. Singkat kata Pak Ahmad Zabadi mengatakan SMESCO sangat terbuka bagi para pelaku UKM, SMESCO juga menyambut baik UKM yang ingin memasarkan produk, bisa bekerjasama dengan Galeri Indonesia WOW melalui proses kurasi. Acara dipandu oleh Dedy Gumelar a.k.a Miing Bagito yang pernah menjadi pelawak sekaligus mantan anggota Dewan. Menurut Kang Dedy aspek sumber daya manusia harus dibangun,  akses pembiayaan dan akses pasar harus difikirkan. UKM dan koperasi  bukan semata-mata urusan ekonomi, tapi urusan kultural dan sikap, mesti dibangun etos nya. Mental perlu dibangun apalagi dalam era MEA sekarang ini.

Bapak Prakoso, Deputi Bidang Pengembangan SDM Kemenkop dan UKM mengatakan kuatnya wirausaha bisa percepat pemerataan.  Yang perlu diubah untuk kemajuan UKM adalah mindset atau cara berfikir. Berusaha tidak melulu modal,tapi mentalitas dan keinginan untuk maju itu faktor utama. Dedy Gumelar juga ikut membenarkan, menurutnya yang mejadi kendala utama di Indonesia adalah persoalan mentality. Mental kita ini adalah mental imperior bukan mental superior, karena sejarahnya bangsa kita pernah dijajah jadi rasa minder nya lebih kuat dari rasa percaya diri, padahal minder adalah kekalahan. Memang terkadang kalau mau memulai usaha sering muncul rasa khawatir dagangan kita bakal laku nggak ya? malu-maluin nggak ya?


Kartika Setiawan, gadis muda asal Medan ini adalah pengusaha kue kering sejak 5 tahun lalu tepatnya awal tahun 2011. Usaha ini dilakukan karena meneruskan resep orang tua yang dikembangkan dengan cara dimodifikasi oleh nya. Dengan modal 5 juta, mbak Kartika membeli alat dan bahan yang dibutuhkan untuk usaha kue kering nya. Berawal jualan kue dari kampus ke kampus, dan karena omongan dari mulut ke mulut mengenai kue keringnya akhirnya usaha kue keringnya mulai dikenal dan banyak yang pesan juga beli kue kering mbak Kartika. Kemudian kenal dengan Kementrian Koperasi dan dapat bantuan dana sejak itu usaha nya mulai berkembang  Yang dulunya dengan modal 5 juta, berkat usaha dan promosi yang gencar dilakukannya tanpa rasa malu, sekarang ia sudah mampu meraup omset 350juta per bulan.  Saat ini ia sudah memiliki 15 karyawan yang aktif, terkadang ia juga menambah karyawan musiman bila perlu tambahan apabila banyak pesanan di hari besar misal lebaran, natal, imlek . Mbak Kartika punya harapan kedepannya ia memiliki cabang kue kering di seluruh wilayah di Indonesia. Ia paham betul dengan sasaran market, ini salah satu strategi wirausaha. Berdasarkan paparan Mbak Kartika yang tanpa rasa malu jualan kue kering diusia muda masih kuliah, ia jualan masuk kampus keluar kampus. Itu dilakukannya tanpa mengenal malu. Memang rasa rendah diri adalah musuh mentalitas ujar Kang Dedy Gumelar, kita harus berani menempatkan rasa malu pada tempatnya.

Masdir, pelaku UKM asal Makassar punya usaha sablon yang sekarang mempunyai omset 370 juta perbulan. Masdir ini juga berbisnis sambil kuliah.  Selama  berbisnis ia pernah mengalami jatuh bangun. Tapi ia tetap bangkit lagi untuk mencari peluang bisnis yang lain, ini contoh anak muda yang punya mentalitas. Dewa Ayu, UKM asal Bali yang memiliki usaha rias pengantin.  Dewa Ayu mengakui sebagai gadis kampung ia mempunyai tekad untuk berusaha apa saja. Ia ke Denpasar ke LKP Agung tempat khusus rias pengantin yang merupakan program kementrian UKM. Ia  berfikir harus melakukan sesuatu yang beda agar mendapat hasil yang beda pula. Lama kelamaan ia ditunjuk menjadi instruktur rias pengantin. Muncul keinginan untuk bisa membuat LKP, tapi syarat nya harus memiliki ijazah Sarjana, akhirnya dengan pendapatan yang ada ia menyambung kuliah di Bali. Melihat anak-anak muda yang sukses ini, sebenarnya kuncinya tergantung pada keinginan untuk mengembangkan diri, juga keinginan untuk tetap belajar meningkatkan kewirausahaan. 


Jimmy M. Rifai Gani, Executive Director & CEO IPMI International Bussiness School, sharing pengalamnnya selama berbisnis. Pernah mengalami jatuh bangun dan sudah malang melintang didunia bisnis sejak 12 tahun lalu. Beliau pernah diminta pemerintah mengnakhodai salah satu BUMN yaitu Sarinah tahun 2009 dan belaiu menjabat Dirut pada saat itu. Dan selama di Sarinah beliau berkecimpung didunia ritel yang banyak hubungannya dengan UKM, binaan-binaan dari Sarinah pada waktu itu sekitar ribuan, dan banyak pengusaha UKM yang awalnya naik sepeda menjajakan dagangannya ke Sarinah maju menjadi pengusaha yang hebat, bahkan lebih hebat dari Sarinah. Seperti pemilik POLO, Batik Riana, bahkan ada pengusaha yang sampai ekspor dagannya ke belasan negara. POLO adalah brand asli Indonesia, sekarang brand ini sudah maju dan banyak dikenal. Rifai Gani juga membagi konsep Distruptive Innovation. 

Distruptive Innovation adalah inovasi  yang bisa mengganggu bagaimana bisnis dilakukan saat ini. Kuncinya ada 2 yaitu user friendly dan low cost.  Misalnya transportasi, 3 tahun yang lalu kita mengenal transportasi yang aman, nyaman agak mahal adalah taksi. Tapi masyarakat kita membutuhkan transportasi yang aman, nyaman dan terjangkau atau murah. Konsep ini memang belum terlalu populer di Indonesia, tapi sudah diterapkan oleh Nadiem Makarim CEO Gojek. Nadiem Makarim memahami keinginan masyarakat, makanya tahun 2011 ia meluncurkan Gojek, namun baru berhasil menyebar pada tahun 2014. Ia membuat sesuatu inovasi dengan menggunakan teknologi. Masyarakat bisa memanggil gojek melalui applikasi di smartphone. Konsep ini dipakai untuk melayani masyarakat agar mendapatkan pelayanan transportasi yang kurang lebih sama kualitasnya tapi dengan harga yang jauh lebih terjangkau. Ini merupakan peluang, karena kita mempunyai pondasi yang luar biasa. MEA jangan menjadi momok yang menakutkan.

Ada 3 tren dalam ASEAN sekarang ini yaitu globalisasi, urbanisasi dan digitisasi. 3 hal ini penting sebagai peluang untuk UKM. Globalilasi, peluang UKM kita untuk masuk kepada global value change atau rantai daripada pasokan dunia. Yang dibutuhkan untuk maju adalah knowledge. Urbanisasi, kalau kita lihat 50 persen orang Indonesia sudah tinggal di kota. Ini merubah lifestyle, gaya hidup berubah karena faktor digitisasi (proses konversi informasi ke dalam format digital), orang mau yang serba instan atau segala sesuatunya lebih cepat. Lifestyle ini merupakan peluang. Bagaimana para pelaku UKM memanfaatkan itu. Misalnya didunia fashion, pelaku UKM di kota bisa memasarkan dan membaginya ke daerah-daerah, bisa ke teman atau saudara, ini harus dimanfaatkan. Pengusaha yang jeli ketika gaya hidup berubah kemudian mengambil manfaat dari perubahan itu.

Sebagai penutup, kata-kata mas Jimmy memberi inspirasi bagi saya.







You Might Also Like

0 komentar